NovelToon NovelToon
Unseen Friend

Unseen Friend

Status: sedang berlangsung
Genre:Thriller / Horor / Misteri
Popularitas:53
Nilai: 5
Nama Author: CRZ CREW

Sejak kecil, Josh memiliki teman yang tak bisa dilihat siapa pun. Tiga belas tahun kemudian, teman itu kembali. Bersama Veron, Brandon, dan Gibran, ia mengungkap misteri yang telah terkubur selama puluhan tahun. Namun semakin dekat pada kebenaran, semakin dekat pula mereka pada kematian. Karena... tidak semua teman yang tak terlihat datang dengan niat baik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CRZ CREW, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 — Ketakutan Terbesar

Malam itu terasa lebih dingin dari biasanya, atau mungkin hanya perasaan mereka saja setelah mendengar semua kebenaran yang baru saja terungkap dari mulut Pak Ian. Ketika mereka semua berlari ke jendela mengikuti arah tunjuk Brandon, halaman itu sudah kosong tidak ada siapa pun, tidak ada jejak apa pun di rumput yang basah oleh embun malam. Pak Ian meyakinkan mereka bahwa itu mungkin hanya bayangan pohon yang tertiup angin, namun suaranya sendiri terdengar tidak sepenuhnya yakin dengan penjelasannya sendiri.

Dalam perjalanan pulang malam itu, ketiganya berjalan diam, masing-masing tenggelam dalam pikiran sendiri, memikirkan apa sebenarnya ketakutan terbesar mereka masing-masing yang bisa dimanfaatkan oleh entitas itu.

"Gue takut ditinggalin," Brandon akhirnya buka suara, memecah keheningan yang terasa berat.

"Dari kecil gue selalu takut orang-orang terdekat gue bakal pergi. Makanya gue selalu berusaha jadi orang yang nyenengin, biar nggak ditinggal."

Veron menatapnya dengan simpati, lalu menghela napas panjang.

"Gue takut nggak dipercaya. Selama ini gue nyembunyiin kemampuan gue karena takut orang-orang mikir gue aneh atau gila. Gue takut kalau semua orang tahu, mereka bakal ngejauh."

Kedua sahabatnya menoleh ke arah Josh, menunggu ia membagikan ketakutannya sendiri. Josh terdiam cukup lama sebelum akhirnya menjawab, suaranya pelan namun jujur.

"Gue takut nggak bisa ngelindungin orang yang gue sayang," katanya.

"Gue selalu ngerasa, kalau ada sesuatu yang buruk terjadi ke orang-orang di sekitar gue, itu karena gue nggak cukup kuat buat mencegahnya. Kayak yang mungkin bakal kejadian ke kalian berdua kalau gue nggak bisa ngendaliin kekuatan ini dengan bener."

Mereka berhenti sejenak di persimpangan jalan, saling menatap dalam diam, menyadari betapa rapuhnya masing-masing dari mereka di balik sikap yang biasa mereka tunjukkan sehari-hari.

"Kita harus saling jaga," kata Gibran, yang sejak tadi mendengarkan tanpa banyak bicara.

"Apa pun yang entitas itu coba lakuin buat misahin kalian, kita harus inget kalau kita tim. Gue mungkin nggak punya kekuatan aneh kayak kalian, tapi gue bakal selalu ada buat bantu."

Kata-kata itu memberi sedikit kehangatan di tengah malam yang dingin dan menakutkan. Josh tersenyum tipis, meski hatinya masih diliputi kekhawatiran yang mendalam. Mereka berpisah di persimpangan jalan seperti biasa, masing-masing berjalan menuju rumah mereka sendiri, namun kali ini dengan langkah yang terasa lebih berat, seolah beban yang baru saja mereka bagi bersama tidak sepenuhnya bisa mereka tinggalkan begitu saja di persimpangan itu.

Josh menoleh ke belakang beberapa kali sepanjang perjalanan pulang, memastikan tidak ada yang mengikuti, meski ia tahu betul bahwa ancaman yang mereka hadapi tidak selalu berwujud sesuatu yang bisa dilihat dengan mata telanjang.

Malam itu, sebelum tidur, Josh menerima pesan dari Veron.

"Josh, gue mimpi lagi. Kali ini bukan soal kita bertiga doang. Gue liat wajah entitas itu atau bukan wajah, lebih kayak bayangan tanpa bentuk yang terus berubah-ubah, kadang jadi wajah orang yang kita kenal. Dia bisa nyamar jadi siapa aja, Josh. Itu yang bikin gue takut."

Josh membalas pesan itu dengan tangan gemetar, mencoba menenangkan Veron meski dirinya sendiri jauh dari tenang. Ia meletakkan ponselnya di meja, menatap keluar jendela kamarnya yang gelap, mencoba meyakinkan diri bahwa besok mereka akan menemukan cara untuk menghadapi semua ini bersama-sama.

Ia mencoba membaca beberapa halaman catatan Pak Ian yang baru saja diberikan sore itu, namun matanya terlalu lelah untuk benar-benar memahami rumus-rumus rumit yang tertulis di sana. Ia meletakkan catatan itu di meja, memutuskan untuk melanjutkannya besok pagi dengan pikiran yang lebih segar, sebelum akhirnya merebahkan diri di ranjangnya, mencoba memejamkan mata meski tahu tidur nyenyak adalah sesuatu yang sudah lama tidak ia rasakan.

Namun tepat sebelum ia memejamkan mata, sesuatu di sudut kamarnya bergerak bukan sosok Raka yang selama ini familiar, melainkan bayangan lain yang bentuknya terus berubah, sesaat menyerupai Gibran, lalu berubah menjadi Veron, lalu Brandon, seolah mengejek dengan mengambil wajah orang-orang yang paling ia percaya.

Josh terduduk kaku di ranjangnya, tidak berani bergerak, matanya terpaku pada bayangan yang terus berganti wujud itu, hingga akhirnya bayangan itu berhenti pada satu wajah wajahnya sendiri, tersenyum dengan cara yang tidak pernah Josh lakukan seumur hidupnya, senyum yang penuh dengan sesuatu yang gelap dan lapar.

"Sebentar lagi,"

suara itu berbisik, terdengar seperti suaranya sendiri namun dengan nada yang sama sekali asing.

"Sebentar lagi aku akan jadi kamu, Josh. Dan tidak ada yang bisa membedakan kita."

...****************...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!