Seorang wanita pekerja kantoran yang rasional bertransmigrasi ke dalam novel romansa tragis sebagai Geneviève de Montmirail, seorang putri Duke yang ditakdirkan dieksekusi karena cintanya yang gila dan obsesif kepada Duke muda, Lucien de Vaudémont.
Bertekad untuk mematahkan bendera kematiannya (death flag), Geneviève memutuskan untuk menarik diri sepenuhnya dari kehidupan Lucien dan lingkungan istana yang beracun. Alih-alih mengejar cinta fana, ia menggunakan kecerdasannya dalam administrasi keuangan untuk memajukan wilayahnya dan membuka bisnis perhiasan yang mendobrak tren kekaisaran.
Namun, sikap dingin Geneviève justru memicu retaknya "Sihir Putih" milik Putri Mahkota Camille, sang protagonis asli novel yang tampak suci namun bermuka dua. Saat Lucien mulai mengalami kilasan ingatan yang menyiksa tentang masa lalu yang tak pernah ia ketahui, Geneviève menemukan sebuah perhiasan rahasia peninggalan tubuh aslinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nadnote, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Undangan Mematikan ke Istana
"Sebuah undangan berstempel emas murni dari Istana Soleil, Nona."
Odette meletakkan gulungan perkamen beraroma mawar itu di atas meja rias dengan ekspresi wajah yang sangat tidak bersahabat. Bau mawar yang terlalu manis itu membuat pelayan kecil tersebut mendengus kesal.
Geneviève tidak langsung menjawab. Jari telunjuknya sedang sibuk melipat selembar kertas tua yang ujungnya sedikit hangus. Itu adalah halaman buku harian yang hilang, bukti mutlak dari masa lalu yang dicuri darinya. Dengan gerakan perlahan dan penuh kehati hatian, Geneviève membuka bagian bawah kotak perhiasan peraknya, memasukkan lipatan kertas itu ke dalam sebuah kompartemen rahasia, lalu menguncinya dengan anak kunci kecil yang selalu ia kalungkan di leher.
Kini, matanya tidak lagi memancarkan kebingungan atau penyangkalan. Ada kilat tekad yang sangat tajam, dingin, dan mematikan.
Ia mengambil perkamen berstempel emas itu dan memecahkan segel lilinnya. Matanya membaca deretan kalimat berbasa basi yang ditulis dengan kaligrafi sempurna.
"Putri Mahkota Camille mengundang seluruh bangsawan muda untuk acara perburuan musim panas tahunan di Istana Hutan Fontainebleau akhir pekan ini," baca Geneviève dengan nada datar.
"Tolong katakan bahwa Anda akan membuang undangan itu ke dalam tungku perapian," sahut Odette sambil melipat lengan celemeknya. "Faksi istana baru saja kalah telak di pasar perhiasan, dan Tuan Duke pingsan memuntahkan darah hitam akibat racun istana. Pergi ke acara perburuan mereka sama saja dengan menyerahkan leher Anda ke tiang gantungan."
Geneviève tersenyum tipis. Di masa lalu, tepat setelah ia menyadari dirinya berada di dalam novel romansa tragis, undangan ini akan ia anggap sebagai bendera kematian yang harus dihindari dengan segala cara. Hutan lebat, senjata berburu, dan intrik bangsawan adalah kombinasi sempurna untuk sebuah "kecelakaan fatal".
Namun hari ini, ketakutan itu telah menguap. Ia tidak lagi peduli pada alur cerita picisan tersebut. Ada nyawa yang dipermainkan, kenangan yang dirampas, dan dalang konspirasi yang harus ia temukan.
"Kita akan pergi, Odette," putus Geneviève sembari berdiri. "Ini bukan sekadar acara berburu. Ini adalah panggung observasi terbaik. Aku perlu melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana Camille berinteraksi dengan para menteri dan bangsawan tinggi. Aku harus mencari tahu siapa saja yang memiliki akses ke racun manipulasi ingatan itu."
Odette memutar bola matanya, namun ia tahu berdebat dengan majikannya yang sudah mengambil keputusan adalah hal yang sia sia. Pelayan itu langsung berjalan menuju lemari pakaian raksasa di sudut ruangan dan mulai menarik keluar beberapa gaun.
"Tiga gaun sutra berlapis untuk berburu?" keluh Odette dengan suara lantang sambil melempar gaun gaun mewah itu ke atas ranjang. "Yang Mulia Putri Mahkota pasti berpikir kita akan berdansa dengan beruang hutan. Nona, lupakan payung renda ini. Tolong izinkan saya membawa senapan laras panjang milik Tuan Duke, setidaknya saya bisa menembak babi hutan atau siapa pun yang berani menyentuh teh Anda."
Tawa pelan akhirnya lolos dari bibir Geneviève melihat kepanikan pelayannya yang sangat barbar.
"Kita tidak akan membawa senapan laras panjang ke acara minum teh bangsawan, Odette," tolak Geneviève jenaka. "Namun, aku mengizinkanmu menyembunyikan belati beracun di balik rokmu, serta membawa seluruh kotak obat obatan pertolongan pertama milik kita. Pastikan kau menyiapkan penawar racun dosis tinggi."
Mata Odette seketika berbinar. "Hamba akan mengasah belatinya sampai bisa membelah helai rambut, Nona."
Dua hari kemudian, kereta kuda berlambang keluarga Montmirail memasuki pelataran Istana Hutan Fontainebleau.
Tempat itu sama sekali tidak terlihat seperti kamp perburuan. Padang rumput hijau yang luas di tepi hutan disulap menjadi lautan tenda sutra berwarna warni. Bendera bendera bangsawan berkibar megah di udara. Para pelayan istana hilir mudik membawa nampan perak berisi anggur merah terbaik, daging panggang, dan kue kue manis. Para bangsawan pria dan wanita berdiri berkelompok, memegang gelas kristal alih alih bersiap memegang busur panah. Ini adalah medan perang sosial berbalut kemewahan abad ketujuh belas.
Begitu Geneviève turun dari keretanya, bisik bisik langsung terdengar di sekelilingnya. Penampilannya yang sangat anggun dalam balutan gaun hijau tua yang elegan namun praktis untuk bergerak membuat banyak mata terpukau.
Namun, fokus Geneviève tertuju lurus ke depan, ke arah tenda putih terbesar dengan lambang Dinasti Aurelius.
Putri Mahkota Camille sedang berdiri di sana, dikelilingi oleh para pengikut setianya. Begitu Camille melihat Geneviève, senyum suci layaknya malaikat langsung mengembang di wajah cantiknya. Wanita bergaun putih itu melangkah maju dengan tangan terbuka lebar.
"Geneviève, sayangku! Betapa senangnya hatiku melihatmu bersedia hadir memenuhi undanganku," sapa Camille dengan suara yang sangat lembut dan penuh kasih.
Camille memeluk Geneviève. Pelukan itu terlihat sangat hangat bagi semua bangsawan yang menonton. Namun, bagi Geneviève yang kini memiliki otak detektif, ia bisa mencium aroma kepalsuan yang sangat pekat, serta sedikit aroma herbal aneh yang menempel pada gaun sang Putri Mahkota.
"Kehormatan sepenuhnya ada pada saya, Yang Mulia," balas Geneviève. Ia melepaskan pelukan itu dengan cepat dan melakukan penghormatan bangsawan yang sangat sempurna. Ekspresi wajah Geneviève sedingin es, matanya menatap Camille tanpa setitik pun rasa takut atau tunduk.
Camille mempertahankan senyum lembutnya, namun ujung matanya berkedut menahan kesal. Provokasi kehangatannya sama sekali tidak berhasil meruntuhkan dinding es wanita ini. Geneviève yang dulu pasti sudah memaki maki atau menunjukkan wajah cemburu buta. Sikap dingin Geneviève ini benar benar mengacaukan rencana sosialnya.
"Aku sangat berharap kau bisa menikmati acara perburuan hari ini, Geneviève," ucap Camille dengan nada yang terdengar seperti sebuah ancaman halus. "Hutan ini sangat indah, namun terkadang bisa sangat berbahaya bagi mereka yang tidak berhati hati."
"Saya akan mengingat peringatan Anda, Yang Mulia," jawab Geneviève tenang. "Saya selalu memastikan kaki saya berpijak pada tanah yang rasional."
Sebelum percakapan itu berlanjut menjadi perang kata kata yang lebih tajam, suara derap langkah kuda yang berat menarik perhatian seluruh bangsawan di pelataran tersebut.
Rombongan ksatria Vaudémont tiba.
Di barisan paling depan, Lucien de Vaudémont menunggangi kuda hitam besarnya dengan postur yang luar biasa gagah. Pria itu mengenakan pakaian berburu dari kulit rusa berwarna gelap, membuat aura ketegasannya semakin mendominasi. Gaspard berkuda tepat di belakangnya, wajahnya sama kakunya dengan majikannya.
Saat Lucien turun dari kudanya, kerumunan bangsawan wanita otomatis menahan napas. Namun, mata hijau tua Lucien langsung membelah keramaian dan terkunci tepat pada sosok Geneviève yang berdiri di dekat tenda Putri Mahkota.
Geneviève balas menatap pria itu. Udara di antara mereka mendadak terasa padat.
Ada kecanggungan baru yang sangat kuat di antara mereka berdua. Lucien tahu bahwa Geneviève kini telah membaca halaman buku harian yang hilang itu. Mereka berdua kini berdiri di lapangan yang sama, sama sama menyadari bahwa mereka adalah sepasang kekasih yang ingatannya dirampas paksa. Mereka berbagi satu rahasia besar yang mematikan, namun mereka tidak bisa berbicara secara terbuka karena puluhan mata mata istana mengelilingi mereka.
Lucien melangkah mendekat. Ia menundukkan kepalanya memberi hormat kepada Putri Mahkota terlebih dahulu, meskipun gerakannya terlihat sangat kaku dan dipaksakan.
"Selamat pagi, Yang Mulia," sapa Lucien datar.
"Lucien! Kau datang!" Wajah Camille berseri seri. Ia maju selangkah, berniat menyentuh lengan sang ksatria.
Namun Lucien dengan sangat halus menggeser tubuhnya, menghindari sentuhan itu dan beralih menghadap Geneviève.
"Selamat pagi, Nona Montmirail," sapa Lucien dengan suara bariton yang tiba tiba melembut. "Saya harap Anda membawa perlengkapan berkuda yang memadai. Hutan Fontainebleau memiliki medan yang cukup kasar untuk dilewati."
Mata Geneviève bertemu dengan tatapan pelindung Lucien. Jantungnya berdesir aneh, mengingat tulisan tangan pria ini di atas kertas tua tersebut.
"Anda tidak perlu khawatir, Tuan Duke," jawab Geneviève jenaka, mengembalikan ketenangannya. "Pelayan saya bahkan menyarankan untuk membawa persenjataan berat. Saya rasa saya sangat siap menghadapi segala jenis pemangsa yang bersembunyi di balik semak semak."
Lucien terkekeh pelan. "Itu adalah langkah yang sangat cerdas. Di hutan ini, predator terburuk terkadang tidak berjalan dengan empat kaki."
Mendengar percakapan yang dipenuhi makna ganda tersebut, senyum di wajah Camille perlahan memudar. Kuku kuku lentiknya meremas ujung gaun putihnya. Pria yang selama tiga tahun ini hanya menatapnya dengan penuh pemujaan, kini justru bertukar tawa pelan dengan wanita yang paling ia benci.
"Baiklah, para bangsawan sekalian!" Suara lantang Marquis de Chanteclair memecah ketegangan di antara mereka. Paman Camille itu mengangkat gelas anggurnya tinggi tinggi. "Terompet perburuan akan segera ditiup! Silakan menuju kandang kuda di sebelah timur untuk mengambil kuda tunggangan kalian masing masing."
Kerumunan mulai bergerak. Odette segera merapat ke sisi Geneviève, tangannya menggenggam erat gagang payung yang ujungnya sangat tajam, bersiap menghadapi segala kemungkinan.
Lucien ingin berjalan mendampingi Geneviève, namun Camille dengan cepat menyela dan meminta sang Duke untuk mengawal kereta rombongan istana kerajaan. Dengan berat hati dan tatapan meminta maaf, Lucien terpaksa mengikuti protokol istana dan berjalan menjauh bersama Camille.
Geneviève dan Odette berjalan berdua menuju area kandang kuda yang berbau jerami basah. Di sana, para kepala kandang yang berseragam hijau sibuk menuntun kuda kuda cantik yang sudah disiapkan khusus untuk para bangsawan wanita. Kuda kuda itu kebanyakan adalah kuda betina berwarna putih atau cokelat terang yang sudah terlatih untuk berjalan tenang dan sangat jinak.
"Nona Montmirail?" panggil seorang kepala kandang bertubuh kurus. Pria tua bernama Monsieur Girard itu menundukkan kepalanya, namun matanya terlihat sangat gugup dan terus melirik ke sekeliling.
"Ya, saya sendiri," jawab Geneviève santai.
"Mohon maafkan ketidaknyamanan ini, Nona," ucap Girard dengan suara bergetar. Keringat dingin membasahi pelipisnya. "Kuda betina putih dari wilayah selatan yang seharusnya menjadi tunggangan Anda tiba tiba mengalami masalah pencernaan pagi ini. Kami kehabisan kuda betina yang jinak."
Geneviève mengerutkan keningnya. "Lalu apa solusinya? Apakah saya harus berlari mengejar rusa menggunakan sepatu bot ini?"
"Tentu saja tidak, Nona." Girard menelan ludah. Ia memberi isyarat kepada dua orang asistennya di bagian belakang kandang. "Kami... kami menyiapkan satu satunya kuda yang tersisa untuk Anda."
Dua asisten itu berjalan keluar dari kegelapan kandang dengan susah payah. Mereka menarik tali kekang seekor kuda jantan berukuran raksasa. Kuda itu berwarna hitam pekat. Otot ototnya menonjol liar, napasnya mendengus sangat kasar hingga mengeluarkan sedikit busa dari sudut mulutnya. Kaki depannya terus menerus menendang tanah dengan beringas, seolah ia siap menginjak siapa pun yang berani mendekatinya.
Kuda itu benar benar seekor monster yang sedang mengamuk.
Odette langsung melangkah maju, memposisikan dirinya di depan Geneviève. "Apakah Anda sudah gila?!" teriak Odette murka kepada Girard. "Kuda beringas ini akan membunuh majikan saya dalam hitungan detik! Berikan kuda lain sekarang juga!"
"Tolong mengerti, Nona," cicit Girard ketakutan, mundur selangkah dari amukan Odette. "Itu adalah satu satunya kuda yang tersisa. Jika Nona Montmirail menolak, beliau tidak bisa ikut serta dalam acara utama perburuan."
Geneviève menatap tajam ke arah kuda liar tersebut. Otak analitisnya bekerja dengan sangat cepat. Kuda jantan ini tidak hanya liar secara alami. Mata kuda itu melebar tidak wajar, dan keringatnya terlalu banyak. Kuda ini pasti diam diam telah disuntikkan ramuan perangsang adrenalin berdosis tinggi agar mudah mengamuk di tengah hutan.
Pikirannya langsung menghubungkan benang merah konspirasi ini. Kepala kandang telah disuap. Kuda jinaknya sengaja disingkirkan. Ini adalah skenario pembunuhan yang disusun dengan sangat rapi.
Dari ujung matanya, Geneviève menangkap pergerakan di tenda istana yang berjarak sekitar lima puluh meter dari tempatnya berdiri.
Putri Mahkota Camille sedang berdiri di sana, memegang secangkir teh. Camille menatap lurus ke arah Geneviève. Senyum lembut dan suci kembali menghiasi wajah sang Putri Mahkota. Namun, senyum itu menyiratkan satu pesan mematikan yang sangat jelas: 'Kecelakaan berburu karena tidak bisa mengendalikan kuda adalah cara mati yang sangat wajar dan elegan bagi seorang putri Duke yang sombong.'
Camille pasti sangat yakin bahwa Geneviève akan menangis ketakutan, menolak naik, dan mempermalukan nama keluarganya, atau nekat naik dan mati terinjak di dalam hutan.
Namun Camille tidak tahu satu hal.
Geneviève adalah seorang wanita karir yang sudah terbiasa menjinakkan para direktur perusahaan yang mengamuk, dan ia juga merupakan pemilik tubuh yang dilatih dalam keluarga militer Montmirail. Ketakutan tidak ada dalam kamusnya.
Geneviève menepuk bahu Odette pelan, menyuruh pelayannya itu untuk minggir.
"Nona, jangan lakukan hal bodoh," bisik Odette panik.
"Tenanglah, Odette. Aku tahu apa yang aku lakukan," balas Geneviève tenang.
Ia melangkah maju mendekati kuda monster yang terus mendengus dan mengangkat kaki depannya itu. Asisten kandang yang memegang tali kekangnya tampak pucat pasi dan siap melepaskan tali tersebut kapan saja.
Geneviève tersenyum miring. Alih alih mundur, ia justru mengulurkan tangan telanjangnya. Dengan gerakan yang sangat berani dan tanpa setitik pun rasa takut, ia menyentuh dahi kuda beringas tersebut, membelai lehernya yang berkeringat dengan usapan yang menenangkan namun penuh otoritas.
"Kau dan aku sama sama korban dari intrik murahan istana ini, Kawan," bisik Geneviève kepada kuda hitam itu, matanya berkilat menatap lurus ke arah Camille di kejauhan. "Mari kita tunjukkan kepada Putri Mahkota bagaimana cara keluarga Montmirail mendominasi medan perburuan."