Arka selalu mengira air mata adalah tanda kelemahan—sampai dia menyadari air matanya bisa membuka pintu menuju masa lalu.
Setiap kali kesedihannya mencapai titik paling dalam, dunia di sekelilingnya luntur, dan ketika dia membuka mata lagi, dia sudah berada di hari yang berbeda—hari-hari sebelum ibunya tiada. Bagi Arka, ini adalah keajaiban yang selama ini dia doakan: kesempatan untuk mengubah segalanya, untuk membuat ibunya tetap hidup.
Tapi waktu tidak memberi tanpa mengambil.
Setiap kali Arka mengubah satu detik di masa lalu, satu orang dari masa depannya menghilang—bukan mati, tapi terhapus, seolah tak pernah ada. Sahabat yang selalu ada untuknya. Seseorang yang dia cintai. Bahkan dirinya sendiri, versi demi versi, mulai memudar dari dunia yang dia kenal.
Arka harus memilih: berhenti sekarang dan menerima kehilangan yang sudah terjadi, atau terus melangkah lebih jauh ke masa lalu—mempertaruhkan semua yang tersisa—demi satu pelukan terakhir dari ibunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyouketsu no Namie , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehidupan yang Terus Bergerak
Setelah kepergian ibunya, Arka melanjutkan hidupnya dengan cara yang berbeda—lebih hadir, lebih sadar akan setiap momen. Surat dari ibunya dia simpan di tempat khusus, dibaca ulang sesekali saat dia membutuhkan pengingat.
Tahun-tahun berlalu. Kirana tumbuh menjadi anak yang penuh rasa ingin tahu—suka bertanya tentang segala hal, termasuk pertanyaan-pertanyaan yang membuat Arka tersenyum karena mengingatkannya pada dirinya sendiri di masa kecil.
"Papa," tanya Kirana suatu malam, saat Arka menemaninya tidur, "kalau orang yang udah meninggal, mereka pergi ke mana?"
Arka berpikir sejenak, mengingat semua yang telah dia pelajari—tentang dunia-dunia yang berbeda, tentang jejak-jejak yang tertinggal, tentang cinta yang tetap ada meski bentuknya berubah.
"Papa rasa," kata Arka pelan, "mereka nggak benar-benar 'pergi'. Mereka jadi bagian dari kita—dari cara kita mengingat mereka, dari cara mereka mengajarkan kita banyak hal. Kayak... kayak Nenek. Nenek udah nggak ada secara fisik, tapi setiap kali Papa masak nasi goreng kayak yang Nenek ajarin, atau setiap kali Papa ngomong sesuatu yang baik ke orang lain—itu juga Nenek, kan? Bagian dari Nenek, yang terus ada, lewat Papa."
Kirana mengangguk, meski Arka tidak yakin seberapa banyak yang dia pahami pada usia itu. Tapi dia tersenyum, memeluk boneka kesayangannya, dan berkata, "Aku mau jadi kayak Nenek juga. Baik kayak Nenek."
"Kamu udah, sayang," kata Arka, mengusap kepala anaknya. "Kamu udah."
Beberapa tahun kemudian, ayah Arka juga meninggal—lebih tua, lebih damai, dikelilingi keluarga. Arka mewarisi rumah lama itu, dan memutuskan untuk tetap tinggal di sana bersama Nadia dan Kirana, yang sekarang sudah remaja.
Suatu hari, saat membersihkan gudang rumah, Arka menemukan kotak-kotak lama—barang-barang yang sudah disimpan selama puluhan tahun, sebagian milik ayahnya, sebagian milik ibunya.
Di antara kotak-kotak itu, dia menemukan sebuah kotak kecil yang tidak dia kenali—kotak kayu sederhana, dengan ukiran sederhana di permukaannya.
Saat dia membukanya, dia menemukan kumpulan surat-surat lama—surat-surat cinta antara ayah dan ibunya, dari masa muda mereka, sebelum menikah.
Arka membaca beberapa surat itu dengan hati-hati, tersenyum melihat tulisan tangan ayahnya yang kaku, penuh kata-kata yang—seperti yang pernah diceritakan ibunya—terdengar "berlebihan."
Tapi di antara surat-surat itu, ada satu yang berbeda. Bukan surat cinta, tapi sesuatu seperti catatan—tertulis dengan tulisan tangan ibunya, tapi dengan gaya yang lebih tua, lebih formal, seperti ditulis untuk dirinya sendiri, bukan untuk orang lain.
Catatan itu tidak bertanggal. Isinya pendek:
"Hari ini aku bermimpi lagi. Mimpi yang sama—tentang anak laki-laki, sekitar usia delapan tahun, menangis, minta maaf. Tapi kali ini, aku juga melihat sesuatu yang baru: bayanganku sendiri, berdiri di sampingnya, tersenyum padaku, seolah berkata 'terima kasih'. Aku tidak tahu apa artinya. Tapi aku merasa damai setelahnya, seolah sesuatu yang penting baru saja terjadi—sesuatu yang baik."
Arka menatap catatan itu lama, merasakan sesuatu yang hangat menyelimuti dadanya.
Mama melihatnya juga. Entah bagaimana, entah dalam bentuk apa—Mama melihat 'aku', versi dari masa depan, mengucapkan terima kasih.
Dia melipat catatan itu dengan hati-hati, menyimpannya bersama surat terakhir ibunya, di tempat yang sama—tempat khusus untuk hal-hal yang paling dia hargai.
Malam itu, Arka berdiri di balkon rumah lamanya—balkon yang sama tempat dia berdiri bertahun-tahun lalu, di malam hujan, sebelum semua ini dimulai.
Hujan turun lagi—pelan, lembut, seperti hujan-hujan di masa lalu, tapi terasa berbeda sekarang. Tidak lagi seperti pertanda kesedihan, tapi seperti pengingat—pengingat akan siklus, akan kehidupan yang terus bergerak, berubah, tapi tetap terhubung.
Nadia berjalan ke balkon, berdiri di samping Arka, menyandarkan kepalanya ke bahunya.
"Kamu kelihatan tenang," kata Nadia.
"Aku ngerasa tenang," kata Arka, tersenyum.
Mereka berdiri dalam diam selama beberapa saat, menikmati hujan, menikmati kehadiran satu sama lain.
"Arka," kata Nadia akhirnya, "kamu tau, aku selalu penasaran—dari dulu, kamu selalu kelihatan kayak punya... rahasia besar. Sesuatu yang kamu simpen. Tapi sekarang... sekarang kamu kelihatan kayak nggak punya beban apa-apa lagi."
Arka menatap Nadia, mempertimbangkan apakah ini saatnya—setelah semua tahun ini—untuk akhirnya bercerita.
"Nad," katanya pelan, "kalau aku certain sesuatu—sesuatu yang bener-bener aneh, bener-bener nggak masuk akal—kamu bakal tetep di sini, kan? Nggak peduli apa pun itu?"
Nadia menatap Arka, tersenyum lembut, menggenggam tangannya. "Arka, aku udah dua puluh tahun lebih sama kamu. Apapun itu, aku akan tetep di sini."
Dan untuk pertama kalinya, di bawah hujan yang lembut, di balkon rumah yang penuh kenangan, Arka mulai bercerita—seluruh ceritanya, dari awal.