Faris Arjuna hanyalah pemuda kampung yang datang ke Jakarta dengan modal nekat, sebuah tas usang, dan mimpi besar untuk mengubah nasib keluarganya.
Diremehkan karena miskin, dihina karena tidak punya koneksi, Faris harus menghadapi kerasnya kehidupan ibu kota. Dari jalanan yang penuh preman, persaingan bisnis yang kejam, hingga konflik dengan orang-orang berkuasa, semuanya menjadi ujian yang harus ia taklukkan.
Namun mereka tidak tahu satu hal. Di balik penampilannya yang sederhana, Faris memiliki keberanian, kecerdasan, dan tekad yang tidak bisa dihancurkan.
Mampukah seorang anak kampung menaklukkan Jakarta dan membuktikan bahwa kesuksesan bukan milik orang kaya saja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Mata‑mata yang Tak Terlihat
Sore itu langit mendung tebal, angin membawa bau debu dan lembab khas kawasan bangunan tua di pinggiran kota. Di antara deretan gudang lama yang kini berplang “Surya Abadi”, Faris berjalan santai sekali, seolah hanya orang lewat yang mencari udara segar. Dia tidak bersembunyi di balik bayangan, justru berjalan terbuka, sesekali berhenti sejenak menatap dinding atau mengikat tali sepatu. Di saku bajunya terselip alat kecil perekam dan kamera tersembunyi — cukup kecil, tapi tajam menangkap suara dan gambar. Matanya bergerak tenang namun tak melewatkan satu gerakan pun.
Di ujung lorong sempit, di balik tumpukan kayu dan besi berkarat, terlihat dua orang berdiri agak menjauh dari pintu utama, berbicara berbisik sangat pelan. Namun telinga Faris cukup terlatih — hampir setiap kata terdengar jelas.
Jangan terburu‑buru seperti kakak Hendro dulu,” ujar suara kasar tapi tertahan. “Dia gagal karena terlalu percaya diri dan terlalu cepat bergerak. Kita ambil pelan‑pelan saja: selipkan barang kualitas rendah ke kiriman resmi, geser angka sedikit demi sedikit, ubah catatan di salinan berkas. Lama‑kelamaan keuntungan menumpuk, lalu kendali perusahaan besar itu jatuh ke tangan kita tanpa suara.”
Yang kedua menyahut cemas sambil melirik sekeliling: “Baik… tapi ingat ada satu orang yang selalu dekat dengan pemimpin wanita itu — penjaga yang tatapannya tidak biasa. Kalau dia curiga lebih awal…”
Faris sengaja berhenti tepat di tikungan seolah sedang mengikat tali sepatu yang agak kendur. Saat mereka menoleh curiga, dia hanya mengangkat wajah, tersenyum sangat polos dan santai, bahkan melambaikan tangan kecil seolah orang asing yang tak tahu apa‑apa, lalu berjalan terus dengan kecepatan sama — tidak mempercepat, tidak memperlambat.
Kembali ke kantor Adhitama beberapa jam kemudian, Faris langsung menuju ruang kerja Viona, meletakkan catatan dan rekaman di atas meja dengan wajah puas, seolah baru saja menemukan barang berharga yang lama hilang.
Bagus sekali Bu… rencana mereka mulai terlihat utuh dan jelas,” ujarnya santai sambil duduk di kursi biasa, lalu mengeluarkan rokok dan memainkannya di jari‑jarinya. “Mereka mau tukar barang, ubah catatan, geser angka — semuanya sedikit demi sedikit supaya sulit ketahuan cepat. Dan yang paling berharga: mereka sendiri yang mengaku dan menjelaskan semuanya, tanpa dipaksa sama sekali — hanya karena merasa aman dan tak terlihat.”
Viona membaca catatan itu saksama lalu mengangkat wajah. “Apakah kita bisa langsung serahkan ke pihak berwenang sekarang?”
Faris menggeleng pelan, senyum sengklek melebar sedikit saat menyalakan rokok: cesss…
Belum waktunya Bu. Biarkan mereka bergerak lebih jauh dulu. Semakin banyak langkah salah yang diambil, semakin tebal bukti yang dibuat sendiri, semakin berat hukuman yang pantas nanti. Ingat prinsip gampang ini: orang yang serakah adalah pekerja paling rajin membuat bukti kejahatan bagi dirinya sendiri. Kita cukup biarkan pintu sedikit terbuka dan terang benderang, nanti saat jaring ditarik — semuanya sudah siap rapi tanpa perlu kita repot‑repot menyuruh.”
Dia menghembuskan asap pelan ke arah jendela, matanya tenang tapi tajam, seolah sudah melihat ujung jalan yang akan dilalui musuh itu.
Sekarang mereka merasa licik dan aman — tapi jangan lupa Bu: yang berjalan santai dan melihat semuanya dari jauh… justru yang paling tahu kapan tepatnya menutup jalan keluar.”
Faris memiringkan kepala sedikit, matanya menyipit senang melihat bagaimana rencana kecil itu berjalan persis seperti yang dia duga sejak awal. Di balik tampilan santainya, dia sudah menyusun urutan selanjutnya sampai ke hal paling rinci sekalipun.
Dan ada hal lain yang menarik lho Bu,” lanjutnya sambil mengetuk‑ngetuk ujung rokok di bibirnya pelan. “Tempat bekas gudang itu bukan cuma jadi kantor baru saja. Tadi saya lihat juga ada pintu belakang yang dibuka diam‑diam, jalan masuk sempit yang tidak tercatat di denah resmi. Di sana sering lewat gerobak tertutup dan mobil kecil di luar jam kerja biasa. Pasti dipakai buat memindahkan barang yang tidak mau diketahui orang lain — barang tukaran yang kualitasnya rendah, atau mungkin juga catatan dan uang yang tidak lewat pembukuan resmi.”
Dia tersenyum makin lebar, nada bicaranya jadi agak menyindir halus tapi tetap enak didengar.
Dasar mereka pikir pintu rahasia itu bikin makin aman. Padahal Bu… setiap lubang rahasia yang dibuat buat menyembunyikan hal salah, lama‑kelamaan malah jadi jalan paling gampang buat masuk dan melihat semuanya dari dekat. Mereka mengira saya cuma lewat‑lewat biasa… padahal saya sengaja lewat berulang kali supaya terlihat lumrah, sampai mereka lupa waspada. Itu trik paling gampang tapi paling ampuh: biarkan musuh menganggap kamu tidak berbahaya, baru kamu bisa lihat segala rahasia mereka tanpa dihalangi.”
Viona mengangguk pelan sambil menyimpan kembali lembar catatan itu ke dalam map tertutup rapat.
Jadi kita biarkan saja mereka terus menggunakan jalan itu?”
Tentu saja Bu,” jawab Faris santai sekali sambil menghembuskan asap panjang. “Biarkan mereka merasa jalannya lancar dan aman. Semakin sering mereka lewat sana, semakin banyak jejak yang tertinggal di tanah, di dinding, di gerbang, dan di ingatan orang‑orang sekitar. Nanti saat hari penutupan jaring tiba… kita tidak cuma punya ucapan dan rekaman, tapi juga saksi mata, bukti fisik barang, dan jalur rahasia itu sendiri akan jadi bukti paling kuat bahwa semuanya memang sudah direncanakan lama‑kelamaan.”
Dia berdiri perlahan, merapikan sedikit kerah bajunya sambil melirik ke arah jendela tempat langit mulai makin gelap.
Tenang saja Bu, jangan buru‑buru. Mereka sedang bekerja rajin sekali menyiapkan semuanya buat kita — persis seperti tenaga kerja tambahan yang tidak perlu digaji tapi sangat teliti menyusun bukti sendiri‑sendiri. Kita cukup duduk, awasi, dan tunggu sampai tumpukannya cukup tebal dan kokoh… sampai tak ada lagi jalan buat lari atau menyangkal apa‑apa.
Faris berjalan perlahan mendekati meja, menunjuk catatan kecil yang baru saja dia tulis rapi. Di sana tercatat juga nama‑nama orang yang sering muncul di sana, jam‑jam lewatnya kendaraan, bahkan ciri‑ciri muatan yang tampak terburu‑buru dimuat atau dibongkar tanpa tanda resmi.
Dan satu hal lagi yang lucu sekaligus berguna,” tambahnya sambil tersenyum miring khasnya. Mereka terlalu percaya bahwa tempat tua itu sudah lama terlupakan dan tak ada yang mau memperhatikan. Padahal warga sekitar, tukang gorengan, penjaga gerbang lama, bahkan anak‑anak yang bermain di dekat sana… semuanya melihat dan mengingat. Hanya saja mereka diam dulu karena belum dimintai keterangan. Begitu waktunya tiba, ucapan mereka akan jadi rangkaian bukti yang tak mudah dipatahkan — jauh lebih kuat daripada sekadar kertas atau rekaman saja.”
Dia memutar rokok di jari‑jarinya pelan, seolah sedang memutar waktu sesuai keinginannya sendiri.
Musuh kita mengira bekerja dalam kegelapan itu cerdas. Padahal Bu… kegelapan yang mereka cari justru membuat mereka makin ceroboh, makin lupa menutup jejak, dan makin yakin bahwa tak ada yang tahu. Padahal sejak awal, setiap langkahnya sudah masuk ke dalam peta yang kita susun pelan‑pelan. Semakin lama mereka merasa menang diam‑diam, semakin kuat ikatan yang mereka rajut sendiri untuk menjerat kaki mereka kelak.”
Viona mengangguk puas, menyimpan semua berkas dalam laci terkunci rapat. Semua sudah tersusun pas: rencana mereka sendiri, jalur rahasia, saksi sekitar, dan bukti harian yang terus bertambah — persis seperti yang Faris katakan sejak awal.