Keputusan Udin menerima perintah mutasi ke gudang cabang malah menyeretnya pada kasus dan fakta masa lalu.
.........
“Kecelakaan kerja lagi,” bisik buruh di sebelahnya. “Sudah yang ketiga. Katanya... ditagih hantu kepala pabrik.”
Udin kaku. Nama Bejo Santoso, korban terbaru, pernah ia lihat semalam. Di buku log lembur Bapak, tujuh belas tahun lalu. Tepat di bawah nama Budi Hartono. Ayahnya sendiri.
..........
Satu koper tua, satu daftar nama, satu pabrik yang gak pernah bener-bener mati.
Mampukah ia membongkar busuknya lantai produksi? Atau dia bakal jadi nama keempat di daftar korban?
'UDIN JAGOAN BAPAK'
So, kisah Udin hanya fiktif karangan Author ya. Jika ada kesamaan nama, lokasi, dan situasi, itu cuma kebetulan yang kebetulan banget. Selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TONGKAT SI PIKUN
Hujan turun semakin deras. Butiran air terasa seperti kerikil yang menghantam kulit. Namun, Udin tetap terpaku di tengah jalan, menatap sosok nenek tua di seberang sana.
“Budi... Pulang kerja, Nak. Ibu sudah masak sayur kesukaanmu...”
Suara nenek itu terdengar lirih, tetapi setiap katanya menusuk telinga Udin. Tujuh belas tahun. Selama tujuh belas tahun nama Budi Hartono hanya disebut dalam umpatan, dalam berita lama yang menguning, dan dalam tangis ibunya setiap malam. Kini, nama itu dipanggil dengan nada rindu oleh orang asing yang kebasahan di pinggir jalan.
Sebuah klakson mobil membuyarkan lamunan Udin, membuatnya tersentak dan segera menepi ke trotoar. Napasnya memburu. Dengan langkah ragu, ia menghampiri nenek tersebut.
“Nek,” sapa Udin pelan. Ia berusaha agar suaranya tidak terdengar gemetar. “Nenek mencari siapa? Hujan deras begini. Mari saya bantu berteduh.”
Nenek itu menoleh. Wajahnya sudah keriput, tetapi sorot matanya tampak teduh. Pakaiannya basah kuyup, tapi terlihat mahal. Sebuah bros mutiara tersemat di kerah blus sutranya. Tangannya yang gemetar memegang erat sebuah tongkat kayu berukir kepala naga.
Nenek itu tersenyum lebar saat melihat Udin dari dekat. Ia mengulurkan tangan dan mengelus pipi Udin dengan lembut. Tapi sentuhan itu terasa sangat dingin.
“Kamu sudah pulang, Budi. Ibu khawatir. Katanya ada kebakaran di pabrik. Kamu tidak apa-apa, kan? Jangan lembur terus, Nak. Nanti sakit...”
Dada Udin terasa sesak. Nenek ini mengira dirinya adalah ayahnya, membuat Udin semakin kebingungan. "Dua nenekku sudah meninggal semua, lalu siapa dia?" batinnya. Tapi yang jelas, Ayahnya meninggal bukan karena kebakaran, melainkan karena kecelakaan kerja. Atau begitulah versi yang selama ini ia ketahui. "Ah, mungkin hanya nama putranya kebetulan persis nama ayahku!" pupusnya kemudian.
“Nek, saya bukan Budi,” ujar Udin hati-hati. “Nama saya Udin. Bapak Budi itu... ayah saya, tapi beliau sudah lama meninggal.”
Senyum di wajah nenek itu tidak pudar. Ia justru menggeleng pelan. “Kamu ini ada-ada saja. Dari kecil memang suka bercanda. Ayo, kita pulang. Anto pasti sudah menunggu di rumah.”
Anto? Udin tidak mengenal nama itu. Ia bingung harus berbuat apa. Membiarkan nenek ini sendirian di tengah hujan tentu tidak mungkin. Membawanya ke kantor polisi juga terasa tidak tepat. Di tengah kebingungannya, mata Udin menangkap sesuatu. Pada tongkat ukir yang dipegang nenek itu, tertempel selembar kertas yang dilaminasi. Di atasnya tertulis dengan spidol hitam, 'Anto – 0811xxxx'.
Udin mendekatkan pandangannya pada tulisan itu, disana bahkan dituliskan dengan hurup kecil dan rapi. 'Ibu saya pikun, tolong hubungi nomor saya jika kalian bertemu dengannya.'
Tanpa berpikir panjang, Udin mengeluarkan telepon genggamnya. Dengan jari yang sedikit gemetar karena kedinginan, ia menekan nomor tersebut. Nada sambung terdengar dua kali sebelum diangkat.
“Halo?” Suara seorang laki-laki terdengar tegas dan berat dari seberang.
“Selamat sore, Pak. Maaf mengganggu. Saya menemukan seorang nenek di depan PT. Maju Mundur. Di tongkat beliau ada nomor Bapak. Apakah ini dengan Bapak Anto?”
Terdengar suara orang berdiri dengan tergesa dari seberang telepon. “Ibu? Ibu saya di mana? Apakah beliau baik-baik saja? Tolong jaga Ibu saya. Saya segera ke sana sekarang juga!”
Sambungan telepon langsung terputus. Udin menatap nenek itu yang kini justru sibuk memerhatikan air hujan yang jatuh dari pinggiran kanopi.
Sepuluh menit kemudian, sebuah mobil Alphard hitam berhenti di depan mereka. Pintunya terbuka dan keluarlah seorang laki-laki berusia sekitar empat puluh lima tahun. Ia mengenakan setelan jas mahal yang sedikit basah terkena hujan. Wajahnya tegas, alisnya tebal, dan tatapannya tajam.
Seluruh satpam yang bertugas di pos pabrik langsung berdiri tegak menghampiri ke seberang jalan dan memberi hormat.
Udin mengenali wajah itu. Ia pernah melihatnya di majalah perusahaan. Itu Pak Anto Wijaya, Presiden Direktur PT. Maju Mundur. Pimpinan tertinggi di perusahaan tempatnya bekerja. Atau lebih tepatnya, tempatnya baru saja diberhentikan.
Pak Anto berlari kecil menghampiri. Ia tidak memedulikan hujan yang membasahi jasnya. Ia langsung memeluk nenek tersebut dengan erat.
“Mama! Kenapa Mama bisa sampai di sini? Mama membuat Anto khawatir. Ayo kita pulang,” ujarnya dengan suara bergetar. Nada tegasnya tadi hilang, berganti menjadi nada seorang anak yang cemas terhadap ibunya.
Nenek itu menepuk-nepuk punggung Pak Anto. “Ini, Budinya sudah pulang, Anto. Mama tidak tersesat. Budi yang jemput Mama.” Ia menunjuk ke arah Udin.
Pak Anto melepaskan pelukannya perlahan. Ia menoleh ke arah Udin. Tatapannya yang tadi cemas kini berubah menjadi sorot mata menyelidik. Ia memperhatikan Udin dari ujung rambut hingga ujung kaki, lalu tatapannya berhenti pada tas ransel Udin yang lusuh.
“Kamu yang menolong Ibu saya?” tanyanya dengan nada datar. “Siapa namamu?”
Udin menelan ludah karena tenggorokannya terasa kering. “Sa... saya Udin, Pak. Udin Jasuke, karyawan... maksud saya, mantan karyawan di gudang, Pak.”
Nama “Jasuke” membuat alis Pak Anto terangkat sedikit. Ia terdiam selama beberapa detik yang terasa seperti sangat lama bagi Udin. Hujan masih turun, tetapi Udin merasa keringat dingin justru yang membasahi punggungnya. Ia sudah bersiap dimarahi atau diusir karena mungkin dianggap lancang.
Namun, yang terjadi selanjutnya benar-benar di luar dugaan Udin.
Pak Anto mengeluarkan telepon genggam dari saku jasnya. Ia menekan sebuah nomor tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Udin.
“Halo, Bu Ani? Ini saya, Anto,” ucapnya pada telepon. Suaranya kembali terdengar tegas dan tidak terbantahkan. “Udin Jasuke dari bagian gudang. Batalkan perumahannya, pindahkan dia ke pabrik cabang Tulungagung, efektif mulai besok. jangan bertanya kenapa, itu saja."
Telepon ditutup. Pak Anto memasukkan kembali telepon genggamnya ke saku, lalu menatap Udin sekali lagi.
“Terima kasih sudah menjaga Ibu saya, Udin. Anggap ini ucapan terima kasih dari saya pribadi.” Setelah mengatakan itu, ia memapah ibunya masuk ke dalam mobil.
Sebelum pintu ditutup, nenek itu melambaikan tangan ke arah Udin sambil tersenyum. “Hati-hati di jalan, ya, Budi. Jangan lupa makan.”
Mobil Alphard itu melaju pergi, meninggalkan Udin yang masih berdiri mematung di bawah guyuran hujan. Kepalanya berdengung. Ia baru saja diberhentikan dari pekerjaan, lalu dalam waktu kurang dari satu jam, ia dipekerjakan kembali dan dipindah ke cabang lain hanya karena menolong seorang nenek pikun.
........
Keesokan paginya, suasana di pabrik berubah drastis. Gosip menyebar lebih cepat daripada pengumuman resmi.
“Lihat, kan? Sudah saya bilang. Darah koruptor memang licik,” bisik Coki kepada teman-temannya saat Udin melintas untuk mengambil surat tugas. “Baru kemarin di-PHK, hari ini sudah dapat jabatan baru di cabang. Pasti main belakang sama Pak Presdir.”
Udin tidak menanggapi. Ia hanya menunduk dan mempercepat langkah. Di tangannya ada amplop cokelat berisi surat penugasan ke Pabrik Tulungagung.
Di rumah, ia berpamitan kepada ibunya. Bu Lastri tampak bingung, tetapi juga lega. Sebelum Udin berangkat ke terminal, ibunya menyerahkan sebuah koper tua berwarna cokelat.
“Ini koper Bapakmu, Din,” ujar Bu Lastri dengan mata berkaca-kaca. “Ibu tidak pernah berani membukanya sejak Bapak pergi. Bawa saja. Siapa tahu ada barang yang kamu perlukan di sana.”
Udin menerima koper itu. Bobotnya tidak terlalu berat, tetapi terasa sangat berat di hatinya.
Di terminal bus, sambil menunggu keberangkatan ke Tulungagung, Udin membuka aplikasi perbankan di telepon genggamnya. Gajinya bulan ini sudah masuk, penuh, beserta tambahan uang jalan untuk penugasan. Namun, ada satu notifikasi pesan masuk dari nomor tidak dikenal.
Udin membuka pesan tersebut. Isinya hanya satu kalimat singkat.
—SELAMAT DATANG DI NERAKA, DASAR ANAK KORUPTOR!—
Deg!
Sekujur tubuh Udin terasa menggigil meskipun matahari siang bersinar terik.
...****************...
Bersambung....