NovelToon NovelToon
Putri Asli Yang Tak Pernah Dipilih

Putri Asli Yang Tak Pernah Dipilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Putri asli/palsu / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:10.3k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

"Saat ayahku memilih menyelamatkan putri kesayangannya, dia mengorbankanku tanpa ragu."

Savira Dharma menghabiskan seluruh hidupnya mengejar sesuatu yang tidak pernah ia miliki: pengakuan dari ayahnya.

Sebagai putri kandung keluarga Dharma, ia belajar lebih keras, bekerja lebih lama, dan mengorbankan masa mudanya demi membuktikan bahwa dirinya layak dicintai. Namun ketika skandal penggelapan dana mengguncang Dharma Group, Savira dijadikan kambing hitam untuk melindungi keluarga yang selama ini ia bela.

Ditinggalkan sendirian di tengah hujan fitnah, ayahnya memilih diam.

Malam itu, Savira melompat dari puncak gedung perusahaan yang telah merenggut seluruh hidupnya.

Namun kematian bukanlah akhir.

Saat membuka mata, ia kembali menjadi gadis tujuh belas tahun—tujuh tahun sebelum semua pengkhianatan itu terjadi.

Kali ini, Savira tidak akan mengemis cinta.

Ia tidak akan mengorbankan dirinya demi keluarga yang tak pernah memilihnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1. Akhirnya Patah

Savira berdiri di bibir atap Dharma Tower lantai dua puluh satu, angin Jakarta malam ini memukul sisi wajahnya sampai kupingnya perih.

Di bawah sana, jurnalis-jurnalis bergerombol di bawah lampu sorot mobil satelit. Mikrofon teracung ke atas, meski mereka belum tahu dia sudah ada di sini sejak tiga puluh menit lalu.

"Savira Dharma! Ke mana Anda kabur?"

"Berapa yang sudah anda gelapkan, Ibu Safira?"

"Satu komentar! Tolong!"

Savira tidak menjawab. Tangannya mencengkeram pagar besi di bibir atap. Logam itu dingin sekali, sampai terasa membakar telapaknya.

Satu panggilan. Hanya butuh satu panggilan yang diangkat malam ini.

Nomor itu ia hafal sejak usia tujuh tahun. Dulu ditulis rapi di buku diary bergambar beruang karena takut lupa. Sekarang jari-jarinya menemukan deretan angka itu tanpa perlu melihat layar.

Tersambung setelah dua nada.

"Dharma Group, Bapak Wijaya sedang tidak bisa dihubungi, ada yang bisa saya bantu?"

"Ini Savira. Savira Dharma."

Jeda kecil.

"Maaf, Ibu. Bapak meninggalkan pesan agar tidak diganggu malam ini."

"Bilang ada keadaan darurat."

"Saya mengerti, Ibu, tapi—"

"Nama saya ada di headline, ini tentang korupsi tujuh belas miliar yang tidak pernah saya lakukan. Di seluruh portal berita nasional. Itu bukan keadaan darurat?"

Hening. Bukan hening canggung. Hening terlatih.

"Bapak sudah mengetahui situasinya, Ibu Savira. Beliau memilih tidak mengomentari untuk saat ini."

"Bukan komentar yang saya minta. Satu pernyataan dukungan. Dua kalimat."

"Maaf, Ibu."

Klik.

Savira turunkan ponselnya. Dadanya sesak, bukan dari menangis. Tidak ada yang cukup tersisa untuk menangis. Sesak dari cara kata maaf itu diucapkan, datar dan profesional, tanpa bekas, seperti menutup pintu di wajah seseorang tanpa ekspresi.

Di bawah sana, seseorang berteriak lagi. "Dharma Group akan pecat atau lindungi tersangka?"

Dia pencet nomor yang sama. Kali ini langsung masuk voicemail.

"Anda tersambung dengan nomor Wijaya Dharma. Tinggalkan pesan setelah nada bip." Suara itu hangat. Seperti pemiliknya adalah orang yang bisa diandalkan.

Bip.

"Pak." Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri. Bukan suara direktur riset yang memimpin rapat tiga puluh orang. Bukan suara yang dua tahun berturut-turut melobi investor asing tanpa catatan. Suara ini lebih kecil. Lebih tua dari usianya.

"Saya butuh bantuan. Satu pernyataan saja, bahwa Bapak percaya saya tidak bersalah." Tenggorokannya seperti ada yang menyumbatnya dari dalam. "Saya mohon."

Bip. Rekaman selesai.

Ponselnya bergetar. Notifikasi dari portal berita yang tadi malam mencetak namanya sebagai tersangka. Tangannya hampir tidak membuka, tapi bergerak sendiri.

Foto Wijaya Dharma muncul pertama. Setelan abu-abu, rambut tersisir sempurna, senyum hangat ke kamera. Di sebelah kirinya, Nadia menempel manja di lengan ayahnya, gaun kremnya bersih seperti iklan.

ULANG TAHUN KE-25 NADIA DHARMA. PAPA SELALU ADA UNTUKKU.

Ada video pendek di bawah foto. Savira menekan play.

"Nadia," suara Wijaya terdengar dalam dan hangat di speaker ponselnya, "adalah segala yang terbaik dari keluarga ini. Dua puluh lima tahun yang sangat membahagiakan kami."

Sorak tamu. Kamera bergeser ke Nadia yang tertawa kecil.

"Papa, jangan bikin aku malu."

"Tidak ada yang perlu malu dari menjadi sempurna, nak."

Nadia tersenyum lalu menyandarkan kepalanya ke bahu Wijaya. "Aku cuma beruntung jadi putri Papa."

Tepuk tangan memenuhi ruangan. Savira tekan pause.

Dua puluh lima tahun. Nadia baru hidup di keluarga itu selama dua puluh lima tahun. Savira juga. Tapi hanya satu dari mereka yang pernah dipanggil putri. Yang satu lagi hanya dipanggil saat perusahaan membutuhkan seseorang untuk bekerja sampai larut malam.

Dia ingat rapat itu. Empat belas bulan lalu. Ruang dewan lantai sembilan belas. Waktu dia presentasikan hasil dua tahun riset ekspansi ke pasar Asia Tenggara. Laporan delapan puluh halaman. Dikerjakan sendiri. Angka per angka.

Wijaya duduk di ujung meja. Tidak melihat layar presentasinya sekali pun.

"Angkanya terlalu optimistis," katanya begitu Savira selesai. "Kita tunda."

"Ini data real dari tiga kuartal, Pak. Proyeksinya justru konservatif."

"Saya bilang tunda."

Tidak ada penjelasan. Direktur lain saling lirik. Savira hanya bisa merapihkan proyektornya dalam diam.

Dia kejar Wijaya di koridor setelah rapat bubar. "Pak, tolong lihat datanya. Lima menit saja."

Wijaya berhenti. Menatap Savira, bukan dengan kemarahan. Tidak dengan kekecewaan. Dengan sesuatu yang jauh lebih buruk dari keduanya. Tatapan orang yang sedang diganggu oleh sesuatu yang tidak cukup penting untuk dimarahi.

"Savira." Suaranya rendah. Tidak untuk didengar orang lain. "Kamu pintar. Tapi kamu tidak perlu membuktikan apa pun kepada saya."

"Saya tidak sedang membuktikan apa pun. Ini proposal bisnis."

"Posisimu sudah aman. Tidak perlu bekerja keras seperti ini."

Savira diam. Baru waktu itu dia benar-benar mengerti. Posisinya aman bukan karena dia layak. Aman karena dia berguna. Selama angkanya tidak merepotkan, dia boleh ada. Selama dia tidak membutuhkan terlalu banyak, dia boleh tinggal. Bukan karena dia anaknya. Karena dia aset yang belum kedaluwarsa.

Dari kantong jaketnya ada satu benda kecil. Jepit rambut berbentuk bunga melati. Catnya sudah pudar. Satu sisinya patah. Milik ibunya. Satu-satunya benda yang tersisa dari perempuan yang meninggalkan jepit itu di meja samping tempat tidur Savira saat dia berusia tujuh tahun, tiga hari sebelum pergi dan tidak kembali.

Savira keluarkan jepit itu. Dingin di antara jari-jarinya. Bau melati yang tipis. Mungkin nyata. Mungkin hanya ingatan. Dia sudah tidak bisa membedakannya.

"Kamu tidak perlu dipilih siapa pun." Suara ibunya muncul dari tempat yang sangat jauh. "Kamu sudah ada. Itu cukup."

Tapi cukup untuk apa? Untuk berdiri di sini sendirian. Empat puluh tiga kamera menunggu di bawah. Untuk ayahnya yang malam ini memotong kue ulang tahun anak orang lain dan menyebutnya sempurna. Untuk dua puluh tahun upaya yang dilipat menjadi satu headline yang tidak pernah dia tulis.

"Savira!" Suara dari bawah naik lagi. "Komentar! Kami butuh komentar!"

Ponselnya bergetar. Savira menoleh. Nomor Wijaya Dharma. Jantungnya berhenti sesaat. Tangannya gemetar saat mengangkat panggilan itu.

"Pak?"

Tidak ada suara. Lalu rekaman otomatis terdengar.

"Ibu Savira." Suara sekretaris yang sama. "Demi kepentingan perusahaan, Bapak meminta agar Ibu tidak memberikan pernyataan apa pun kepada media."

Savira menutup mata. Rekaman itu berlanjut. "Dan mohon jangan mengambil tindakan yang dapat memperburuk situasi atau mencoreng nama keluarga."

Klik.

Sambungan terputus. Tidak ada pertanyaan. Tidak ada dukungan. Tidak ada satu kalimat pun yang mengatakan bahwa ayahnya percaya padanya. Hanya peringatan. Hanya nama keluarga. Hanya perusahaan. Bukan dirinya.

Sesuatu di dalam dada Savira akhirnya patah. Bukan malam ini. Mungkin sudah bertahun-tahun lalu. Malam ini hanyalah pertama kalinya dia berhenti berpura-pura bahwa bagian itu masih utuh.

Centang satu di pesan terakhirnya ke Wijaya. Tidak akan pernah dua.

Savira tertawa kecil. Suara yang bahkan tidak terdengar seperti tawa. Dia letakkan jepit rambut melati itu di atas pagar besi. Lalu ponselnya. Di layar, wajah Wijaya masih membeku dalam senyum hangat yang tidak pernah diberikan kepadanya.

Angin malam menerpa lebih keras. Bau melati itu masih ada. Sangat tipis. Sangat jauh. Seolah berasal dari kehidupan orang lain.

Savira menatap lautan lampu Jakarta di bawah sana. Jutaan cahaya. Tidak satu pun menunggunya pulang.

Dia mengangkat satu kaki. Melewati pagar. Lalu kaki yang lain. Angin langsung menarik rambutnya ke belakang. Kemeja putihnya berkibar liar.

Di bawah, seseorang akhirnya melihatnya. Jeritan pecah dari kerumunan. Terlambat. Sangat terlambat.

Savira membuka jemarinya dari pagar. Bau melati menghilang. Lampu kota berubah menjadi garis-garis cahaya. Angin meraung di telinganya. Gedung. Langit. Lampu. Semua berputar menjadi satu.

Tubuhnya jatuh. Lebih cepat. Lebih cepat. Lebih cepat.

Lalu—

Gelap.

---

Savira tersentak bangun. Napasnya pecah keras. Dadanya naik turun seperti baru saja ditarik keluar dari laut.

Langit-langit kamar. Dinding biru pucat. Lemari kayu tua. Poster universitas yang sudah lama dilepas. Semuanya terlalu familiar. Terlalu mustahil.

Tangannya bergerak sendiri ke rambutnya. Ke wajahnya. Ke lehernya. Masih hidup. Masih bernapas.

Lalu pandangannya jatuh ke kalender di meja belajar. Dan darah di tubuhnya seakan membeku.

Tahun 2015. Usianya tujuh belas tahun.

1
sukensri hardiati
itu kalau permen strawberry terus dikonsumsi....mk begitu wijaya tumbang...maka kamu juga bisa tumbang kena diabet
Sulati Cus
adu kekuatan sm bokap yg kental kelicikan ternyata g ada seujung kuku nya, terlalu dini pgn balas dendam mlh hancur sendiri
gina altira
makin rumit pertarungannya
tutiana
luar biasa
gina altira
Sosiopat itu sangat mengerikan
sukensri hardiati
hadeeeh savira....ganti permen straberimu dengan camilan sehat....otak geniusmu jadi lengket nanti...
gina altira
jgn" Savira yg akan jadi tumbal
gina altira
kuat Savira,, jgn menyerah
nur
ngeselin bpkmu vir
Pawon Ana
terus terang sampai sini perkembangan karakter Savira agak lambat, yng aku pahami Savira ini masih terbelenggu dengan trauma dimasa kehidupan sebelumnya, dia belum bisa benar2 lepas, egonya yang merasa mampu sendiri masih tinggi...🤦
Pawon Ana
ih itu otak Savira kok tidak ngebul ya....aktif terus tidak berhenti...🤦
Wega Luna
sebenarnya ceritanya bagus entah kenapa musuh lebih kuat dari para MC,panik panik panik sedang musuh hanya dengan diam tapi bisa melihat segala nya, ,dan sekarang Savira ditanya siapa pelakunya, Savira hanya menambah luka, jika tidak dicintai buat hatimu menjadi tembok besar, jangan sampai menambah luka, dengar berita ini langsung sakit hati,aku dulu juga gitu dengan orang tua ku,aku memilih cuek dan tidak memasukkan ke hati,, sampai bab ini aku belum bisa bangga dengan savira
Pawon Ana
berhadapan dengan sumber trauma terkadang memang menguras kewarasan mental 💪✌️
Cty Badria
ya hancurkan
Pawon Ana
ayo aku menunggu aksi duo genius selanjutnya 💪
kymlove...
mari🫡
watno antonio
lanjut thor
sukensri hardiati
tolong masukkan cerita ini ke perpus on going dong....biar gampang nyarinya ...
sukensri hardiati
aduuuhh...klo boleh menyayangkan awal yg tragis...bunuh diri...nggak cocok untuk gadis kuat yg merupakan tokoh utama cerita...
nur
msok cpet banget ketahuan km vir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!