NovelToon NovelToon
BAYANG-BAYANG MASA LALU Kembar Rahasia Sang Artis Cantik

BAYANG-BAYANG MASA LALU Kembar Rahasia Sang Artis Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Single Mom / Mengubah Takdir
Popularitas:976
Nilai: 5
Nama Author: Nina Jaya

Alena Kirana adalah seorang aktris papan atas yang berada di puncak popularitasnya. Namun,
sebuah kesalahan yang terjadi di satu malam yang dilakukan bersama seorang pria misterius yang ternyata adalah sutradara
sekaligus pewaris tunggal konglomerat dan sangat kejam kepada wanita yg berani menganggu hidupnya, Adrian Dewangga. Ketakutan akan hancur karirnya tidak dia pedulikan asalkan dia selamat dari pria ini . Alena memilih mengundurkan diri dan menghilang total dari panggung hiburan, bersembunyi sangat jauh dari orang-orang yang dia kenal.
Di sana, dia hidup dalam kesunyian, dia melahirkan dan membesarkan dua anak perempuan kembar yang cantik Kiara dan Kiana. Enam tahun berlalu, rahasia yang terkunci rapat itu mulai koyak ketika takdir
membawa Adrian kembali ke hadapannya, menuntut jawaban atas malam kelam yang tak pernah bisa dia lupakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Jaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Balasan Dari Jakarta

Malam kian larut di atas tebing Uluwatu. Angin laut bertiup lebih kencang, membawa aroma garam yang pekat dan suara deburan ombak yang menghantam dinding karang dengan ritme yang konstan.

Di dalam paviliun utama, suasana terasa hangat. Alena baru saja menyelesaikan sup ayamnya ketika Adrian melangkah masuk ke dalam ruangan. Wajah pria itu tampak bersih, tidak ada lagi sisa-sat ketegangan militer taktis yang sempat membayanginya beberapa jam lalu.

"Bagaimana? Apakah rasanya enak?" tanya Adrian, suaranya melembut sepenuhnya saat ia mengambil posisi duduk di samping Alena.

Alena tersenyum lembut, meletakkan mangkuk kosongnya di atas meja nakas. "Sangat enak. Sup ini benar-benar membuat perutku terasa nyaman. Terima kasih, Adrian." Ia menatap mata suaminya, mencoba mencari tahu apa yang baru saja terjadi di ruang bawah tanah. "Apakah urusan dengan orang-orang itu sudah selesai?"

"Sudah selesai sepenuhnya," jawab Adrian tenang. Ia mengulurkan tangannya, mengusap rambut panjang Alena yang terurai dengan gerakan yang sangat protektif. "Kepala tim mereka sudah menandatangani surat pengakuan tertulis mengenai pembuntutan ilegal dan percobaan tindakan medis paksa. Baskara sudah mengirimkan salinannya langsung ke meja kerja ayahku di Jakarta beberapa menit yang lalu."

Alena menghela napas pendek, ada rasa lega sekaligus kecemasan baru yang merayap di hatinya. "Lalu, apa yang akan dilakukan ayahmu setelah menerima dokumen itu? Dia bukan orang yang akan tinggal diam setelah rencananya digagalkan, bukan?"

"Dia pasti akan sangat marah," sudut bibir Adrian terangkat, membentuk seulas senyuman sinis yang dingin. "Namun, kemarahannya kali ini terikat oleh hukum hukum yang sah. Dokumen pengakuan itu adalah kartu as kita. Jika dia mencoba bergerak lebih jauh menggunakan otoritas hukum atau kepolisian, skandal keterlibatan tim medis internal Dewangga Group dalam tindakan ilegal ini akan langsung bocor ke media. Dan seperti yang kamu tahu, ayahku lebih takut pada kehancuran nama baik korporasinya daripada kehilangan kendali atas diriku."

Adrian berdiri, lalu membimbing Alena untuk bangkit dari kursi malasnya. "Malam ini sudah terlalu larut. Kamu harus segera beristirahat. Dokter Saras berpesan agar kamu tidak tidur terlalu malam pasca pemeriksaan USG pertama hari ini."

Alena mengangguk patuh. Di bawah bimbingan tangan Adrian yang kokoh pada pinggangnya, ia melangkah menuju kamar utama, meninggalkan keheningan paviliun tengah yang kini sepenuhnya berada di bawah perlindungan barikade keamanan privat tingkat tinggi.

Sementara itu, ribuan kilometer di barat pulau Bali, di lantai teratas gedung pencakar langit Dewangga Tower, Jakarta, badai yang sesungguhnya baru saja dimulai.

Suara dentang keras memecah keheningan ruang kerja utama yang mewah. Baskoro Dewangga melemparkan sebuah cangkir porselen mahal ke arah dinding marmer, membuatnya hancur berkeping-keping.

Wajah pria paruh baya itu tampak merah padam, napasnya memburu berat oleh gelombang amarah yang luar biasa besar yang belum pernah ia rasakan selama puluhan tahun memimpin dinasti bisnis Dewangga Group.

Di atas meja kerjanya yang dilapisi kulit buaya, sebuah mesin faks masih menyala, menampilkan selembar kertas dokumen berlogo firma hukum Baskara.

Di bagian bawah kertas itu, tertera tanda tangan Dika kepala tim intelijen kepercayaannya lengkap dengan stempel darurat wilayah hukum Bali. Di samping dokumen tersebut, sebuah pesan singkat dari Adrian tercetak dengan jelas:

'Anjing-anjing pelacakmu sudah berada di dalam kandangku. Jika Ayah ingin melihat mereka kembali dalam keadaan bernapas, silakan datang sendiri berlutut di atas tebing Uluwatu ini.'

"Bajingan kecil!" desis Baskoro, suaranya parau dan bergetar hebat oleh murka. Kedua telapak tangannya menumpu kuat di atas meja, urat-urat di lehernya menegang bagai tali busur yang siap putus. "Dia berani mengancam ayah kandungnya sendiri? Dia berani menahan orang-orangku?!"

Di hadapan meja kerja, sekretaris pribadi Baskoro berdiri dengan tubuh yang gemetar ketakutan, menundukkan kepalanya dalam-dalam tanpa berani mengeluarkan suara sedikit pun.

"Hubungi kepala kepolisian daerah Bali sekarang juga!" bentak Baskoro, matanya menyalang tajam menatap sang sekretaris. "Perintahkan mereka untuk mengerahkan pasukan brimob ke kompleks vila itu! Tuduh Adrian melakukan penyekapan dan tindakan kriminal terhadap tim medis resmi!"

"M-maaf, Tuan Besar..." suara sekretaris itu terdengar sangat cicit. "Firma hukum Baskara sudah mengantisipasi hal itu. Mereka telah menyerahkan salinan dokumen pengakuan Dika ke perwakilan ombudsman dan divisi hukum internal mabes polri di Jakarta sebagai jaminan perlindungan darurat. Jika kepolisian daerah Bali bergerak tanpa prosedur resmi, hal itu akan dianggap sebagai penyalahgunaan wewenang yang disponsori oleh korporasi kita. Risiko politik dan medianya terlalu besar, Tuan Besar."

Baskoro mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Ia menyadari bahwa putra tunggalnya telah tumbuh menjadi seekor elang yang terlalu cerdas dan berbahaya. Adrian tidak lagi menggunakan metode emosional seorang anak yang memberontak; ia menggunakan strategi hukum korporat dan taktik isolasi militer yang justru diajarkan oleh Baskoro sendiri semasa remaja.

"Dia pikir dia sudah menang hanya karena bisa memblokir langkah fisikku?"

Baskoro menegakkan tubuhnya, aura kekuasaan yang kejam kembali memancar dari sepasang matanya yang dingin. "Adrian lupa bahwa fondasi dari seluruh agensi independen yang dia banggakan di Jakarta dibangun di atas tanah kekuasaanku. Jika aku tidak bisa menyentuh wanita jalang itu di Bali, maka aku akan menghancurkan seluruh dunia yang telah Adrian bangun di Jakarta!"

Baskoro berjalan mendekati jendela kaca besar yang menatap pemandangan malam kota Jakarta yang dipenuhi oleh kerlip lampu gedung-gedung tinggi. "Hubungi dewan komisaris bank penjamin domestik besok pagi pukul tujuh. Lakukan penarikan seluruh investasi jangka panjang Dewangga Group dari jaringan bioskop utama yang menayangkan film-film produksi agensi Adrian.

Katakan pada mereka, jika mereka masih menerima satu pun karya dari agensi Adrian, maka seluruh jalur kredit korporasi Dewangga Group untuk proyek properti mereka akan dicabut dalam waktu dua puluh empat jam!"

"Baik, Tuan Besar. Perintah akan segera dilaksanakan esok pagi," sahut sang sekretaris seraya memberikan hormat dan bergegas melangkah keluar dari ruang kerja yang mencekam itu.

Baskoro menatap pantulan dirinya di kaca jendela. Sebuah senyuman kejam dan dingin terukir di wajahnya yang sarat akan kerutan usia. "Kita lihat seberapa lama kamu bisa bertahan di atas tebing itu, Adrian, ketika seluruh kerajaan bisnismu di Jakarta runtuh menjadi abu di bawah kakimu sendiri."

Keesokan harinya, tepat pukul delapan pagi, badai finansial dari Jakarta resmi menghantam kantor pusat agensi independen milik Adrian di kawasan Sudirman.

Di dalam ruang rapat utama agensi, suasana tampak sangat panik. Manajer keuangan operasional, seorang wanita muda bernama Rina, sedang sibuk menerima belasan panggilan telepon darurat dari para investor dan pemilik jaringan bioskop nasional. Di layar proyektor utama, grafik saham ekuitas internal agensi menunjukkan penurunan tajam akibat penarikan dana sepihak dari beberapa konsorsium yang berafiliasi dengan Dewangga Group.

"Bagaimana ini bisa terjadi?" tanya salah satu produser pelaksana dengan wajah pucat. "Dua jaringan bioskop terbesar di Indonesia baru saja membatalkan kontrak slot penayangan film layar lebar kita yang dijadwalkan bulan depan! Alasan mereka sangat tidak masuk akal mereka mendadak melakukan renovasi teknis massal di ratusan studio!"

"Ini bukan masalah teknis," sahut Rina seraya menutup panggilan telepon kelimanya dengan tangan bergetar. "Ini adalah boikot total dari Dewangga Group. Tuan Besar Baskoro sedang menggunakan seluruh kekuatan finansialnya untuk mengisolasi agensi kita dari industri perfilman nasional.

Jika slot penayangan ini dibatalkan secara permanen, kerugian kita akan mencapai ratusan miliar rupiah, dan agensi ini dipastikan akan gulung tikar dalam waktu dua minggu."

Rina segera meraih ponsel amannya, menekan tombol panggil darurat menuju nomor satelit pribadi Adrian di Uluwatu. Begitu sambungan terhubung, Rina tidak bisa lagi menahan kepanikannya.

"Tuan Adrian... Jakarta sedang lumpuh," lapor Rina dengan suara yang nyaris menangis. "Tuan Besar Baskoro melakukan pemutusan jalur distribusi film kita di seluruh jaringan bioskop nasional. Para investor domestik menarik diri secara massal pagi ini.

Kami membutuhkan arahan Anda segera, Tuan. Jika situasi ini berlanjut hingga sore nanti, seluruh staf operasional di Jakarta akan mulai mengajukan pengunduran diri massal karena ketakutan."

Di seberang lini, di dalam ruang kerja atas Vila Uluwatu, Adrian mendengarkan laporan tersebut dengan ekspresi yang sangat tenang. Ia berdiri di dekat jendela, membiarkan sinar matahari pagi menyinari wajah tegasnya.

Tidak ada sedikit pun riak kepanikan di matanya; seolah-olah apa yang dilakukan ayahnya di Jakarta saat ini adalah sebuah langkah catur yang sudah ia prediksi gerakannya sejak semalam.

"Tenang, Rina," suara Adrian terdengar sangat bariton, mantap, dan sarat akan kekuatan yang menenangkan. "Ayahku sedang mengeluarkan kartu terakhirnya karena dia tahu dia sudah kalah di jalur fisik. Penarikan investasi domestik ini adalah hal yang wajar bagi seorang kapitalis tua yang panik."

"Tapi Tuan... bagaimana dengan slot penayangan film kita? Jika film itu tidak tayang, reputasi kita di mata vendor internasional akan hancur," desak Rina.

"Hubungi direktur utama platform streaming digital internasional berbasis di Singapura dan Los Angeles yang minggu lalu mengajukan penawaran hak siar eksklusif global untuk film kita," perintah Adrian dengan nada yang tidak menerima bantahan apa pun.

"Katakan pada mereka bahwa aku menerima kontrak kerja sama mereka malam ini juga dengan sistem bagi hasil penuh. Kita tidak butuh bioskop domestik milik jaringan ayahku untuk memperlihatkan karya kita kepada dunia. Kita akan meluncurkan film ini secara global di lebih dari seratus negara secara serentak melalui jalur digital."

Rina tertegun di seberang telepon, matanya membelalak lebar mendengar keputusan taktis tersebut. "J-jalur distribusi digital global? Tuan Adrian... itu berarti kita melewati seluruh barikade Dewangga Group di Indonesia?"

"Tepat sekali," sahut Adrian dengan senyuman tipis yang dingin. "Ayahku boleh menguasai tanah Jakarta, tapi dia tidak memiliki kekuatan apa pun untuk mendikte kebijakan korporasi teknologi global di luar negeri. Mengenai dana operasional staf, sampaikan kepada seluruh karyawan agensi bahwa aku telah memindahkan dana jaminan pribadiku dari bank Singapura ke rekening penampung darurat agensi di Jakarta satu jam yang lalu.

Gaji dan bonus mereka untuk enam bulan ke depan sudah dijamin penuh secara legal. Tidak akan ada satu pun orang yang kehilangan pekerjaannya di bawah kepemimpinanku."

"Di dimengerti, Tuan Adrian! Saya akan segera melaksanakan pengalihan kontrak dan mengumumkan hal ini kepada seluruh tim!" jawab Rina, rasa percaya dirinya kembali pulih sepenuhnya setelah mendengar kepastian mutlak dari sang direktur utama.

Adrian memutuskan sambungan telepon satelitnya, lalu memasukkan ponsel itu ke dalam saku. Ia berbalik dan mendapati Alena sudah berdiri di ambang pintu ruang kerja, menatapnya dengan sepasang mata yang dipenuhi oleh rasa haru sekaligus kekhawatiran yang mendalam.

Alena melangkah mendekat, lalu melingkarkan kedua tangannya di pinggang tegap Adrian, menyandarkan kepalanya yang hangat di dada bidang suaminya.

"Aku mendengar semuanya, Adrian... Maafkan aku karena keberadaanku di sini membuat seluruh kerajaan bisnismu di Jakarta harus mengalami badai sebesar ini."

Adrian membalas pelukan Alena, mendekap tubuh wanita itu dengan erat seolah menolak untuk membiarkan satu pun kekuatan di dunia ini memisahkan mereka. Ia mengecup pucuk kepala Alena dengan penuh kelembutan yang mendalam.

"Jangan pernah meminta maaf untuk sesuatu yang menjadi tanggung jawabku, Alena," bisik Adrian, suaranya bergetar oleh tekad protektif yang suci.

"Boikot dari ayahku bukan karena kesalahanmu, melainkan karena egonya yang menolak untuk melihat putranya hidup merdeka. Kehilangan jalur distribusi bioskop domestik tidak akan membuat agensiku mati; sebaliknya, ini adalah momentum bagi kita untuk membawa karya kita ke panggung internasional yang lebih besar. Di atas tebing Uluwatu ini, kita tidak sedang bertahan dari badai Jakarta, Alena... Kita sedang bersiap untuk membalikkan badai itu kembali ke tempat asalnya."

Di bawah hangatnya pelukan Adrian dan kesunyian bukit karang Uluwatu, Alena merasakan sebuah kedamaian batin yang luar biasa kokoh. Balasan dari Jakarta mungkin terasa sangat menghancurkan di atas kertas administrasi korporasi, namun di hadapan sang perisai hidup sejati yang berdiri tegak di sampingnya, seluruh kekuatan dinasti Dewangga Group kini tampak tak lebih dari sekadar sapuan angin sore yang rapuh. Perang strategi telah resmi memasuki babak baru, dan kali ini sang penguasa muda telah bersiap untuk mengunci kemenangan mutlaknya di atas papan catur takdir global mereka.

1
Jessica
manager nya berkuasa banget
Aisyah
hamil tiba tiba
Aisyah
novel nya yang bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!