Di usianya yang masih belia, Amara dipaksa menghadapi kehilangan, penolakan, dan kenyataan pahit, bahwa terkadang dosa orang tua meninggalkan luka bagi anak-anaknya.
Menjadi anak dari seorang yang bersalah, bukan berarti ia harus menanggung hukuman yang sama. Mampukah Amara meyakinkan dunia tentang itu? ketika perempuan yang paling ia cintai, yang dipanggilnya mama telah lebih dulu menjauhinya. Dan di saat hatinya masih porak poranda, Amara dipaksa menikah dengan laki-laki yang berusia lebih dari dua kali usianya.
Yuk ikuti kisahnya, Akad Tanpa Cinta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐈𝐩𝐞𝐫'𝐒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 33
Vibra ponsel memekik di atas nakas, bukan hanya sekali bahkan suara dering itu adalah bunyi yang kedua kalinya hingga membuat sepasang suami istri yang tengah lelap akhirnya terbangun dari tidur yang terlalu lama untuk waktu yang bukan waktunya tidur.
Amara membuka mata lebih dahulu, untuk beberapa detik gadis itu hanya menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. Otaknya seperti belum sepenuhnya menyadari sudah berapa lama ia tertidur, tubuhnya masih terasa berat dan hangat di balik selimut.
Sampai kemudian ia menyadari satu hal. Ada lengan kokoh yang melingkar di pinggangnya, mata Amara membulat. Ia memutar leher ke samping, perlahan menoleh.
Disana, Abimanyu masih terbaring di sampingnya dengan mata terpejam, wajah pria itu tampak jauh lebih tenang dibandingkan biasanya. Tidak ada sorot dingin seorang pria otoriter dan seorang direktur yang setiap hari terbiasa menghadapi angka, rapat, dan berbagai macam persoalan kantor. Yang ada hanya seorang pria yang sedang tidur pulas yang dibalut ketenangan.
Amara langsung menelan ludahnya. "Ya Allah... jam berapa ini?" Gumamnya pada diri sendiri. Tangannya buru-buru meraih ponsel yang tergeletak di meja samping tempat tidur.
Begitu layar menyala, wajahnya langsung berubah. "Jam delapan malam? Astaga!" Kemudian ia melihat beberapa pesan masuk dan dua panggilan tak terjawab dari mertuanya. "Mama... Ada apa ya?"
Suara kecil itu membuat Abimanyu membuka mata, pria itu berkedip beberapa kali sebelum akhirnya menoleh kepada Amara. "Hmm"
"Hmm apanya? Ini gara-gara om jadinya tidur kebablasan." Ucap Amara ketus. "Mama dua kali nelepon sampai enggak kedengaran juga."
Abimanyu menaikkan kedua alisnya, kemudian melirik layar ponsel di tangan istrinya. "Sudah malam." Ucapnya serak tanpa rasa bersalah.
Amara menatapnya tidak percaya mendengar ucapan Abimanyu, seolah tertidurnya mereka setelah kegiatan perang senjata tadi adalah hal wajar meskipun di waktu yang seharusnya terjaga. "Iya aku tahu, ini sudah malam!"
Sudut bibir Abimanyu bergerak tipis melihat kepanikan istrinya, dan itu membuat Amara langsung menyipitkan mata. "Jangan senyum! Bikin orang kesel saja. Coba om telepon mama, tanyain ada apa? Aku malu."
"Siapa yang senyum, hm? Kamu saja yang telepon mama, kan tadi juga neleponnya ke nomor kamu. "
"Itu tadi hampir!" Jawab Amara sembari memalingkan wajahnya ke samping, wajahnya memanas saat Abimanyu terus menatapnya.
"Berarti belum." Ucap Abimanyu santai, tangannya bergerak perlahan kembali menyentuh pinggang Amara yang masih polos.
Amara mendengus. "Nyebelin!" Ucapnya kemudian melepaskan tangan Abimanyu dari pinggangnya, bahaya kalau ia masih diam. Bisa-bisa ada babak kedua perang senjata.
Ia segera duduk sambil menarik selimut lebih tinggi. Wajahnya kian terasa panas ketika ingatan tentang apa yang terjadi sebelum mereka tertidur perlahan kembali terbayang di kepalanya. Lagi-lagi Amara mengalihkan pandangan dengan buru-buru.
Abimanyu yang melihat perubahan ekspresinya hanya diam, ia sebenarnya tahu Amara sedang malu. Namun seperti biasa, pria itu terlalu gengsi untuk mengatakannya. "Lapar?" tanyanya kemudian.
Amara langsung menoleh. "Iya lapar, ini jam berapa coba! biasanya juga setengah enam sudah makan." Jawaban itu keluar terlalu cepat sampai Abimanyu hampir tertawa.
"Kalau begitu mandi dulu, biar Segeran badannya."
Amara tak menjawab, ia turun dari tempat tidur sambil melilitkan selimut di dadanya.
"Marah?"
"Enggak!"
"Wajahmu begitu."
"Wajahku memang begini!"
Abimanyu akhirnya benar-benar tersenyum tipis. Membuat Amara semakin kesal.
"Sudah sana mandi!"
"Iya! lagian dari tadi siapa juga yang berisik."
Mereka kemudian beranjak dari tempat tidur dan membersihkan diri masing-masing.
Amara menyelesaikan mandinya lebih cepat, perutnya sudah keroncongan. Begitu keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih sedikit basah, ia langsung menuju dapur.
"Lapar banget..." Gumamnya sambil membuka tudung saji, mengambil sup daging dan tumis brokoli yang dimasaknya tadi sore hendak dipanaskannya.
Dua menu sederhana itu adalah masakan andalannya, resepnya pun bukan hasil kepandaiannya sendiri. Bu Halimah, mama mertuanya dengan telaten membimbing dan mengajarkannya memasak.
Awalnya Amara hanya bisa memasak beberapa makanan sederhana seperti memasak mie rebus dan menggoreng telur, itu pun terkadang hasilnya tidak bisa diprediksi. Namun Bu Halimah selalu sabar mengajarinya, terutama karena tahu menantunya itu masih harus banyak belajar.
Amara menghangatkan sup daging dan tumis brokoli. Tak lama kemudian Abimanyu muncul dari kamar, pria itu sudah mengenakan pakaian rumah yang sederhana. Rambutnya masih sedikit basah setelah mandi, ia berhenti di ambang dapur. "Mau dibantu?"
Amara langsung menoleh. "Enggak usah."
"Ya sudah." Abimanyu menarik kursi dan duduk di meja makan.
Amara meliriknya. Tadi nawarin bantuan tapi malah duduk. Batinnya menggerutu sembari meletakkan makanan.
Laki-laki ini kalau nawarin sesuatu ternyata cuma basa basi.
Seolah mendengar i-si hati Amara yang tengah menggerutu, Abimanyu menatap istri kecilnya dengan kedua alis yang terangkat. "Kenapa melihatku begitu?" Mungkin seperti itu kalau dikeluarkan dengan kata-kata.
"Enggak!"
"Kamu mengumpatku?"
Mata Amara mendelik, "siapa yang mengumpat?"
"Wajahmu."
Amara mendengus. "Ge-er!"
Abimanyu menghela napas. Sedangkan Amara masih sibuk dengan kompornya, beberapa menit kemudian makan malam sederhana itu tersaji, mereka makan berhadapan. Tidak ada percakapan panjang, namun perhatian kecil muncul tanpa mereka sadari. Abimanyu menuang air dari botol ketika gelas Amara hampir kosong.
Amara diam-diam menyingkirkan potongan brokoli yang terlalu besar dari piring Abimanyu dan memindahkannya agar lebih mudah dimakan.
"Kenapa dipotong?" tanya Abimanyu.
"Biar gampang."
"Hmm"
Amara mengangkat bahu. "Sudah, makan saja. Jangan berisik!"
Abimanyu menatapnya beberapa detik sebelum menurut. Amara menunduk, diam-diam gadis itu tersenyum. Namun begitu Abimanyu menatapnya, senyum itu langsung menghilang.
"Apa?"
"Enggak apa-apa"
"Jangan lihat-lihat!"
"Siapa yang lihat?"
"Itu, tadi." Amara memberengut.
Abimanyu kembali menyendok nasi. "Hmm."
Amara menggigit bibir menahan senyum. Dasar kulkas dua pintu..
Setelah makan malam, mereka menghabiskan waktu sebentar di depan televisi. Tidak banyak bicara. Setelah selesai bersua dengan sang mama mertua lewat sambungan teleponnya, Amara sesekali tertawa kecil melihat acara yang ditonton, sedangkan Abimanyu lebih sering bersandar sambil memainkan ponselnya.
Sekitar pukul sepuluh malam, keduanya masuk ke kamar masing-masing seperti biasanya tanpa ada ucapan selamat malam yang romantis. Amara pun tak mempermasalahkannya, bahkan menurutnya yang sedari awal bersama Abimanyu seperti kebersamaan dengan sang om kandung bukan dengan suami malah merasa itu bukan hal yang penting. Baginya Abimanyu memperlakukannya dengan baik pun, itu sudah lebih dari cukup. Ia bersyukur bertemu dengan Abimanyu yang juga mempertemukannya dengan bu Halimah. "Jangan begadang om, besok kerja! Masa tiap pagi harus dibangunin terus." Ucapnya sebelum menutup pintu.
Abimanyu hanya berdehem, pria itu berdiri sampai Amara benar-benar menutup pintu kamarnya. Dan seperti malam-malam sebelumnya, setelah memastikan istrinya benar-benar terlelap, Abimanyu kembali keluar dari kamarnya, kemudian membuka pintu kamar Amara perlahan.
Pria itu berdiri beberapa detik di ambang pintu, memperhatikan wajah istrinya tampak damai dalam tidur. Tanpa bersuara Abimanyu kemudian berjalan mendekat. Dengan gerakan hati-hati ia berbaring di samping Amara, lalu menarik tubuh mungil itu perlahan ke dalam pelukannya.
Amara yang masih terlelap bergerak sedikit, namun bukannya menjauh gadis itu justru secara refleks mendekat.
Abimanyu tersenyum penuh kemenangan. "Dasar" ucapnya seraya mendaratkan kecupan di kening istrinya, tak berselang lama matanya pun perlahan terpejam.
bab ini sesuai maunya pembaca wkwkkw
dibuat mesem mesem berjamaah kita hihihi
ahhhhh pokonya syuukaaaa syekaleee💜
bab panjang, sepanjang jalan kenangan,
tapi beras singkat bgd bacanya tteh🤣
banyakin part gumussshhhh Om tua sama amara🫣
Jenny kelaut aja buang ke samudera Atlantik 🤣
bergetar dilanda kasmaran ❤️❤️❤️
Abi oh abimanyuu..akhirnyaaa jatuh sejatuh-jatuhnya sudah cintamu untuk Amara 🤣🤣🤣 dan Amaraaa..bentar lagii yaaa sabaar tunggu kejutan Abi yg berikutnya soal perasaan 🥰 ihhh aku kan jadi senyum-senyum gemassss 😍😍
teh lagiii ya tehhh 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 mau bobok beldua lagi soalnyaaa hihiihiiii 😆
siapaaaa ini dateng sekeluarga.
ditunggu bab berikut nya tteh tayankkk🌻
nanti semoga jd om tua bucin ya🤣
sahabat macam apa kau ini?
sahabat dah nikah mau diojok2in sama mantannya😏
badai apapun nanti kedepannya semoga tetap konsisten dg kata2 ini om tua..
perlahan lahan pikiran om tua isinya istri kecilnya,,
.
lama2 nanti ga bisa jauh2 dr Amara, wkwkwk (menantikan ini)
kamu sm Amara sama² perempuan, smg aja suamimu kelak juga baik² aja yaa ga ada sipengganggu, krn semua yg menanam pasti akan menuai hasilnya.
siapa yg datang pake satu keluarga segala pula ini.. apakah Jenny dan orang tuanya yaa mau meminang Abimanyu secara kontan 🤣 ohh Tidak bisaaa... tak tutuukk ntar duo melonmu klo macem² yaa Jenn 🙄🤣 tapii klo lain Jenny siapa yaaa 🤔🤔🤔 Teh oneeeeellll jangan digantunggg aku kasih kopiii nih cepet up lagiiii yaaaa ❤️