Zora Naladhipa seorang siswa kelas menengah atas yang sering mewakili sekolahnya untuk berbagai perlombaan sejarah.
Suatu hari ia diminta oleh gurunya lagi untuk mengikuti sebuah lomba tentang sejarah. Ayahnya memberikannya sebuah buku kuno yang beliau dapatkan dari pasar loak. Zora selalu membawanya kemanapun karena isi di dalamnya membuatnya tertarik untuk terus membacanya.
Suatu hari saat jam sekolah telah usai, Zora memilih pergi ke toilet tak lupa dengan buku yang berada di genggamannya. Ia mendengar suara dua orang sedang berbicara orang tadi tak lain adalah pacarnya dan seorang wanita. Matanya memanas, ia kemudian pergi dari toilet tadi dengan air mata yang membanjiri pipinya.
Saat sampai di rumah ia lalu merebahkan dirinya di kasur sambil menggenggam buku kuno itu. Tak terasa air matanya menetes mengenai buku tadi lalu ada sebuah cahaya yang menariknya menuju tempat lain. Ia kemudian bangun dengan kepala yang berdenyut.
"Ahh, dimana aku?" tanyanya pada dirinya sendiri.
Cerita ini terinspirasi dari serial drama love destiny. Stay tune dan lanjutkan membaca ya:))
ig: @chiccacaaa
tidak update setiap minggu ;))
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chiccacaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Prabu&Ratu- 25
"Emm, aku ingin mandi. Selamat tinggal Auriga!" ucap Zora kemudian berlari meninggalkan pangeran Auriga yang masih berdiri di tempatnya.
"Apakah benar dugaanku jika dia bukan Zora?" gumam pangeran Auriga.
•••
"Pelayan, tolong nanti kau hidangkan masakan ini saat makan malam. Aku sudah menuliskan resepnya disini juga kau tadi sudah melihat caraku memasak kan?" ucap Zora sambil memberikan secarik kertas kepada pelayan yang ia ajak bicara.
"Baik Ndoro" ucap pelayan tadi patuh.
"Yasudah, aku pergi dulu" ucap Zora sambil membawa satu nampan penuh berisi makanan keluar dari dapur istana.
"Wah, putri Zora ternyata sangat rendah hati sekali ya. Bahkan kita yang hanya pelayan saja juga diberi makanan sama seperti yang ia buat" ucap salah seorang pelayan.
"Benar, putri Zora memang pantas menjadi Ratu di negeri ini. Apalagi kemarin aku mendengar jika putri Zora yang mengubah perjanjian perdagangan dengan Dutch Ramon dan Dutch Ramon langsung menyetujui hal itu" ucap pelayan yang lainnya.
Sedangkan orang yang dibicarakan sedang membawa nampannya ke area pendopo khusus keluarga. Jujur saja Zora sangat bosan karena setiap hari ia harus makan di ruang makan yang menggunakan meja dan kursi. Ia sangat rindu makan dengan cara lesehan dan karena ia menjadi ratu sementara di kerajaan Wirastama maka ia mengajak seluruh anggota kerajaan untuk sarapan di pendopo keluarga, hal aneh memang jika menurut mereka semua tapi mereka tetap menuruti perintah Zora.
Zora lalu menata makanannya tanpa dibantu oleh pelayan karena ia ingin mempersiapkan semuanya sendiri.
"Ini diletakkan dimana?" tanya seorang pria yang ternyata adalah pangeran Auriga.
"Kau letakkan di tengah saja" ucap Zora.
Mereka berdua lalu menata berbagai hidangan yang sudah dimasak Zora di tengah pendopo yang hari ini akan mereka gunakan untuk makan. Tanpa mereka sadari, anggota keluarga yang lain seperti selir Agni, putri Kirana, pangeran Rafandra dan pangeran Ravindra sudah berada di dekat pendopo sejak tadi. Mereka memang sengaja tidak membantu Zora dan hanya melihat dua mantan tunangan itu menyiapkan sarapan kali ini.
"Wah, kanjeng Prabu dan kanjeng Ratu sangat kompak" ucap pangeran Ravindra sebelum ia duduk di pendopo.
"Mulutmu mau aku sumpal dengan kain?" tanya Zora dengan kesal.
"Jangan galak seperti itu kakak ipar nanti Kang Mas Auriga jadi takut" goda pangern Rafandra yang membuat Zora mendengus sebal sedangkan yang lain tertawa.
"Sudah, lebih baik kita makan dulu" ucap selir Agni menengahi perdebatan yang terjadi di antara anak-anaknya itu.
Mereka kemudian memakan masakan yang sudah dihidangkan oleh pangeran Auriga dan Zora. Semua orang merasa takjub dengan masakan yang diberikan oleh Zora, pangeran Ravindra lalu bertanya.
"Mana pelayan yang sudah memasak makanan ini? Ini sangat enak" pujinya.
"Pelayan itu ada disini pangeran" ucap Zora menunjuk dirinya sendiri.
"Jadi kau yang memasak ini semua?" tanya pangeran Auriga memastikan.
Zora mengangguk.
"Ya, benar. Aku sudah pantas kan menjadi seorang istri yang baik" ucap Zora dengan angkuhnya.
"Benar, lebih baik kau menikah denganku" ucap pangeran Rafandra yang langsung mendapat pelototan tajam dari pangeran Auriga.
"Zora sepertinya kanjeng Prabu marah" ejeknya sambil melirik kepada pangeran Auriga.
"Aku bukanlah Ratu disini. Yang akan menjadi Ratu disini adalah Nona Ayara jadi aku mau menikah denganmu pangeran Rafandra" ucap Zora sambil mengedipkan matanya.
"Aduhh, hatiku rasanya berbunga-bunga sekali seorang Zora Naladipha mau menerima lamaranku" ucap pangeran Rafandra sambil memegang dadanya dan bergaya dengan alaynya yang membuat semua orang tertawa.
Setelah selesai makan, Zora meminta pelayan membereskan piring-piring yang sudah kosong itu. Zora dan para pangeran tetap duduk di pendopo sedangkan selir Agni dan putri Kirana memilih kembali terlebih dulu.
"Aku baru tau jika makan di pendopo rasanya akan seenak tadi" ucap pangeran Ravindra membuka pembicaraan.
"Benar, lain kali kita harus makan disini lagi jika ayahanda dan ibunda sudah kembali dari kuil" timpal pangeran Rafandra.
"Memang kapan kanjeng Prabu dan kanjeng Ratu kembali?" tanya Zora.
"Entah, kami juga tidak tau. Mungkin mereka akan kembali jika mereka sudah benar-benar bisa merenungkan kesalahan mereka dan pastinya mereka akan mengubah aturan lama saat mereka pulang kemari nanti" ucap pangeran Ravindra.
"Hah, lelah juga ya ternyata jika harus mengurus istana" keluh Zora kepada ketiga pangeran di hadapannya.
Bagaimana tidak lelah pasalnya Zora harus membukukan beberapa anggaran dana yang digunakan untuk berbagai keperluan istana. Ia juga harus meminta orang-orang untuk mengecek keadaan istana dan juga terkadang ia harus menemani pangeran Auriga di berbagai pertemuan yang terkadang diadakan secara mendadak.
"Itu kau baru belajar jika kau nanti benar-benar menjadi istri Kang Mas maka kau akan menjadi Ratu yang sesungguhnya" ucap pangeran Rafandra sambil tertawa.
"Kau ini katanya mau menikah denganku!" ucap Zora kesal sambil melemparkan serbet yang ada di sampingnya ke wajah pangeran Rafandra.
"Sudah-sudah lebih baik kita kembali ke kamar masing-masing" ucap pangeran Auriga menghentikan perdebatan dua orang di hadapannya.
"Pangeran antarkan aku ke kamar ya" pinta Zora pada pangeran Ravindra.
"Emm, aku ada urusan dengan Rafandra jadi aku permisi" ucapnya kemudian pergi bersama pangeran Rafandra.
"Nyebelin!" pekik Zora kepada kedua orang yang sudah pergi jauh itu.
"Ayo, akan aku antarkan" ucap pangeran Auriga.
"Tidak mau!" ucap Zora dengan ketus kemudian ia berjalan meninggalkan pangeran Auriga begitu saja.
"Karma itu memang ada" gumam pangeran Auriga sambil mengelus dadanya. Ia jadi ingat saat dulu ia menolak mentah-mentah ajakan putri Zora agar ia mau mengantar putri Zora ke kamarnya.
•••
jangan lupa vote komen rate dan like
Mampir yuk di novel pertama ku yang berjudul "KEKUATAN HATI WANITA"
Berkisah wanita yg bangkit dari penghianatan.
Mohon dukungannya, terimakasih🙏🏻🤗🌹
tp ngomong-ngomong,,, ceritanya bagus lho,,, cerita jaman dahulu kala
I love Indonesia😍😍😍😍
I love you thooor 😘😘😘😘