NovelToon NovelToon
Doa Yang Sama Di Altar Yang Berbeda

Doa Yang Sama Di Altar Yang Berbeda

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:144
Nilai: 5
Nama Author: canny***

Menumpahkan es kopi ke baju Kenzo—si cowok genius anak pemilik yayasan—di hari pertama sekolah adalah awal dari bencana bagi Callista. Apalagi setelah mereka dipaksa jadi ketua dan sekretaris kelas. Perang dingin pun pecah, namun percikan benci perlahan berubah jadi cinta.
Sayangnya, realitas menghantam keras. Kenzo adalah seorang Kristen taat, sementara Callista beragama Buddha. Mereka sadar, sekuat apa pun perasaan itu, ada tembok keyakinan yang mustahil diseberangi.
Di saat hubungan itu mulai retak, ada Sean. Sahabat masa kecil Callista yang diam-diam memendam rasa, yang selalu menemaninya ke Vihara, dan memegang kunci dari doa yang sama di altar yang sama.
Ketika melangkah maju hanya menabrak dinding, akankah Callista tetap bertahan pada Kenzo, atau berbalik arah pada sahabat yang selama ini selalu berjalan seiringan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon canny***, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pilihan Ekstrakurikuler dan Riak yang Mulai Tampak

Aroma tanah basah sisa hujan gerimis menyelimuti lapangan SMA Wijaya sore itu. Bel tanda berakhirnya jam pelajaran reguler baru saja berbunyi sepuluh menit yang lalu, namun suasana sekolah tidak lantas sepi. Hari Senin sore adalah jadwal demo dan pendaftaran ekstrakurikuler bagi siswa-siswi kelas sepuluh.

Di sepanjang selasar lantai satu, stan-stan ekstrakurikuler berdiri rapi. Mulai dari Paskibra, Basket, Teater, hingga Klub Sains dan Kerohanian, semuanya berlomba-lomba menarik minat murid baru.

Callista berjalan berdampingan dengan Sean di tengah kerumunan siswa. Tubuhnya sudah jauh lebih segar setelah sempat beristirahat di PMR tadi pagi.

"Cal, lo serius mau masuk klub Seni Lukis sama Teater?" tanya Sean sambil melihat brosur berwarna jingga yang dipegang Callista.

"Serius lah!" jawab Callista antusias, matanya berbinar-binar. "Seni Lukis itu udah passion gue dari SMP. Kalau Teater... kayaknya seru aja buat melatih mental. Lo sendiri gimana? Tetap masuk Klub Basket sama Kerohanian Buddha, kan?"

"Iya," Sean tersenyum hangat, memasukkan sebelah tangannya ke saku celana. "Klub Basket udah pasti, lagian anak-anak Vihara juga banyak yang join di sana. Nanti kalau jadwal latihan kita pas, gue bisa nungguin lo kelar lukis terus kita pulang bareng."

Callista menyikut lengan Sean penuh keakraban. "Nah, itu dia yang gue suka dari lo, Sean! Selalu bisa diandalkan jadi driver pribadi gue."

"Bisa aja lo," kekeh Sean pelan. Namun di balik kekehannya, matanya menangkap sosok yang berdiri tidak jauh dari stan Klub Seni Lukis.

Kenzo.

Cowok itu mengenakan kemeja putih yang lengan bajunya digulung rapi hingga siku, tampak sedang berdiri di depan stan Klub Sains dan OSIS. Di dadanya tersemat pin kepanitiaan. Sebagai calon kuat ketua OSIS dan wakil sekolah untuk Olimpiade Sains, kehadiran Kenzo di sana tentu menyedot perhatian banyak siswi.

Saat pandangan Sean bertabrakan dengan Kenzo, Kenzo menghentikan pembicaraannya dengan salah seorang guru pembina. Tatapan matanya yang dingin lalu beralih menatap Callista yang sedang tertawa lebar di samping Sean.

"Yuk, Cal, kita ke stan Seni Lukis dulu sebelum rame," ajak Sean tiba-tiba, secara halus menggeser posisinya agar menghalangi pandangan Kenzo ke arah Callista.

"Eh, iya! Ayo, entar kehabisan kuota lagi," sahut Callista tanpa curiga.

Mereka melangkah menuju meja pendaftaran Seni Lukis. Namun baru saja Callista hendak mengambil pulpen untuk mengisi formulir, sebuah suara berdeham di belakang mereka.

"Ekstrakurikuler maksimal hanya boleh dua untuk anak kelas sepuluh, Callista."

Callista berbalik dan mendapati Kenzo sudah berdiri di belakangnya dengan papan jalan berpencapit kayu di tangan.

"Kenzo? Lo ngapain di sini? Mau ikut melukis juga?"

"Gue mengawasi rekapitulasi pendaftaran ekskul atas nama OSIS," jawab Kenzo datar, melirik formulir di tangan Callista. "Gue liat di kertas piket tadi lo daftar Teater dan Seni Lukis. Tapi lo juga terdaftar wajib di OSIS bagian sekretariat junior karena status lo sebagai sekretaris kelas. Jadi totalnya tiga."

Callista melotot. "Lho? Kok gitu?! Gue kan gak pernah daftar OSIS!"

"Aturan sekolah Wijaya," potong Kenzo tenang, menatap Callista tanpa berkedip. "Sekretaris dan Ketua Kelas Sepuluh-Tiga otomatis masuk struktur magang OSIS selama satu semester. Itu artinya, lo cuma boleh pilih satu ekskul tambahan di luar OSIS. Kalau tiga, nilai akademik lo yang bakal dikorbankan."

"Tapi gue mau Seni Lukis dan Teater!" protes Callista, wajahnya mulai memerah menahan kesal. "Kenapa aturan ini mendadak banget sih?!"

"Aturannya udah ada di buku panduan siswa halaman dua belas," balas Kenzo tenang, menyodorkan papan jalannya. "Coret salah satu. Sekarang. Biar data OSIS bisa direkap sore ini."

"Kenzo, gak bisa dikasih toleransi dulu?" Sean akhirnya angkat bicara, melangkah maju berdiri sejajar dengan Callista. Suaranya terdengar berat dan tenang, tapi matanya menatap Kenzo dengan tajam. "Callista emang bakat di Seni Lukis dan dia udah nunggu-nunggu ekskul Teater dari minggu lalu. Lagian ini baru minggu pertama."

Kenzo membalas tatapan Sean dengan dingin. Ketegangan tak kasatmata mendadak merebak di antara kedua cowok itu, membuat beberapa anak di sekitar stan Seni Lukis mulai melirik canggung.

"Aturan dibuat bukan untuk ditoleransi, Sean," sahut Kenzo dengan nada tak terbantahkan. "Sebagai pengurus kelas, Callista harus memberi contoh yang baik. Kalau dia keteteran karena kebanyakan ekskul, yang kena dampaknya bukan cuma dia, tapi satu kelas."

"Gue gak bakal keteteran!" potong Callista tegas, tidak mau melihat situasi semakin memanas karena dirinya. Ia menarik napas panjang, menahan rasa kecewanya. "Fine! Gue coret Teater. Gue pilih Seni Lukis aja."

Dengan gurat kekesalan di wajahnya, Callista menyambar pulpen dan mencoret nama Teater di formulirnya, lalu menyerahkan kertas itu ke hadapan dada Kenzo. "Puas lo, Pak Ketua?"

Kenzo menerima kertas itu, memeriksanya sejenak, lalu menatap Callista. Ada kilat kepuasan yang samar di matanya—atau mungkin sesuatu yang lain yang sulit diartikan.

  "Pilihan yang bijak. Bakat melukis lo terlalu bagus kalau dibuang."

Pujian terselubung itu sukses membuat bentakan Callista berikutnya tertahan di tenggorokan. Cewek itu hanya bisa bersedekah muka masam, sementara Kenzo balik kanan dan melangkah pergi menuju ruang OSIS.

"Anak itu... bener-bener suka banget ngatur hidup orang," gerutu Callista sambil menyilangkan tangan di dada.

Sean menatap punggung Kenzo yang menjauh dengan raut wajah yang jarang sekali ia tunjukkan: keras dan penuh kewaspadaan. Ia tahu betul sifat Kenzo yang disiplin, tapi ada sesuatu dari cara Kenzo menatap Callista yang membuat naluri Sean merasa terancam.

"Cal," panggil Sean pelan.

"Ya?" Callista menoleh, mendapati ekspresi sahabatnya yang tampak amat serius.

"Lo... gak apa-apa kan kalau cuma ikut Seni Lukis?" tanya Sean lembut, tangannya terulur merapikan helai rambut Callista yang berantakan terkena angin sore.

"Ya mau gimana lagi, daripada gue kena masalah sama anak pemilik yayasan itu," jawab Callista sambil mendesah pelan. Namun kemudian ia tersenyum tipis. "Tapi gak apa-apa deh. Yang penting Seni Lukis lolos. Gue masih bisa melukis sepuasnya."

Sean menatap mata Callista yang jernih, lalu mengukir senyum hangatnya kembali. "Yaudah. Hari ini jadwal Seni Lukis cuma pengenalan singkat, kan? Habis ini kita ke Vihara yuk. Hari ini ada doa sore, sekalian tenangin pikiran lo sisa kekesalan sama si Kenzo."

"Wah, mau banget!" seru Callista gembira. "Biar emosi gue kebilas sama suasana Vihara!"

Satu jam kemudian, matahari mulai condong ke barat, memancarkan sinar keemasan yang hangat di pelataran Vihara tempat biasa Callista dan Sean beribadah. Suasana tenang, wangi hio yang lembut berembus bersama angin sore, dan suara genta kecil yang tertiup angin memberikan kedamaian yang luar biasa.

Callista dan Sean duduk bersimpuh di dalam ruang doa setelah menyelesaikan doa sore mereka. Di depan altar Buddha yang megah dan berwibawa, Callista memejamkan mata, memohon ketenangan dan kelancaran untuk masa-masanya di SMA.

Di sebelahnya, Sean tidak langsung berdiri. Ia menatap Callista dari samping. Sinar keemasan sore menerobos masuk lewat celah jendela, menerangi profil wajah Callista yang tampak begitu damai dan bersahaja saat berdoa.

Di tempat inilah mereka tumbuh bersama. Di depan altar inilah mereka melayangkan doa-doa mereka sejak kecil. Berdiri di keyakinan yang sama, berjalan di atas jalan yang sama.

Sean merapatkan kedua telapak tangannya di dada, lalu berbisik pelan dalam hatinya di hadapan altar:

Bila memang dia yang ditakdirkan untukku, jagalah hatinya agar selalu kembali ke tempat ini... ke sampingku.

Ketika Callista membuka matanya dan menoleh pada Sean sambil tersenyum manis, Sean tahu bahwa apa pun yang terjadi di sekolah—entah itu kehadiran Kenzo atau tembok tinggi yang melingkupi cowok itu—ia akan selalu menjadi rumah tempat Callista berpulang.

Namun, di saat yang sama di sudut kota yang lain, Kenzo sedang duduk di dalam gereja tua yang hening, menatap salib kayu di depan altar dengan Alkitab terbuka di pangkuannya.

Bayangan wajah Callista yang tersenyum saat menggambar sel tumbuhan di perpustakaan terus berputar di kepalanya, menembus dinginnya dinding hati yang selama ini ia bangun rapat-rapat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!