Rekaila Amanda tidak menyangka setelah dua tahun berpisah akan kembali dipertemukan dengan mantan suaminya. Reka, begitu ia akrab di sapa, memutuskan menjauhi kehidupan mantan suami dengan alasan yang hingga detik ini tidak diketahui oleh sang mantan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14.
Keesokan harinya, Reka mengantarkan putranya ke yayasan penitipan anak kemudian lanjut menuju tempatnya bekerja.
Reka berjalan melintasi lobby gedung perusahaan menuju ke arah lift. Sesampainya di depan lift, ia bertemu dengan Leon yang nampak berdiri di depan lift khusus petinggi perusahaan. Lift petinggi perusahaan serta lift khusus karyawan bersebelahan.
Reka melirik sekilas pada Leon.
"Aku tunggu di ruanganku!." Leon menyadari lirikan Reka, tanpa menoleh sekalipun.
Belum sempat Reka merespon, pintu lift petinggi perusahaan telah terbuka dan Leon sudah melangkah masuk ke dalamnya. Sesaat kemudian Reka pun masuk ke dalam lift saat pintu kotak besi dihadapannya terbuka.
Reka menekan angka enam, di mana lantai ekslusif berada. Ya, Reka harus menuruti perintah Leon untuk menemui pria itu di ruangannya, tanpa sempat melontarkan kalimat apapun untuk protes.
Setibanya di lantai eklusif, Reka nampak mengayunkan langkah menyusuri koridor di lantai tersebut.
Sesampainya di depan ruangan pimpinan, Reka menghela napas panjang kemudian menghembusnya perlahan. Menyiapkan diri sebelum mengetuk pintu.
"Tok....tok...tok...."
"Masuk!." Mendengar suara seruan dari dalam sana, Reka pun segera memutar handle pintu. "Permisi, tuan." Reka kembali mengayunkan langkah lalu berhenti tepat didepan meja kerja Leon. Wanita itu melirik sejenak pada asisten pribadi Leon yang kini berdiri tegap di sisi sebelah kiri meja tuannya. Menyadari hal itu, Leon lantas mengisyaratkan pada asisten Kiran untuk meninggalkannya berdua dengan Reka.
"Bagaimana, apa kau sudah mengambil keputusan?."
Reka sudah menduga jika maksud dan tujuan Leon memintanya datang ke ruangannya untuk membahas tentang hal kemarin.
Reka memegang erat tali sling bag miliknya, tubuhnya tampak menegang. Wanita itu mengumpulkan keberanian diri untuk mengatakan sesuatu dihadapan mantan suaminya itu.
"Sebentar lagi mas akan segera menikah dan mas bisa memiliki anak lagi dari Georgina, sedangkan aku hanya punya putraku seorang di dunia ini. Tidak bisakah mas berbesar hati dengan membiarkan kami hidup tenang berdua."
Leon tertawa kecil, tak ada humor di dalamnya, tatapannya pun sulit terbaca.
"Kamu meminta cerai dariku di saat sedang mengandung anakku, menyembunyikannya dariku setelah lahir, dan kini kamu memintaku berbesar hati?."
Mulut yang dulu kerap kali mengutarakan kata-kata cinta kepadanya, kini justru mengutarakan kalimat yang menyudutkan dirinya. Reka menundukkan kepala, tak berani membalas tatapan Leon. Jika ia membalas tatapan mata itu yang ada hatinya semakin nelangsa. Karena tatapan yang dulu penuh cinta, kini berubah datar.
Tanpa disadari oleh Reka, ada kata-katanya yang menyelinap ke relung hati Leon, yakni hanya punya putraku seorang di dunia ini. Kalimat tersebut menambah rasa penasaran dihati Leon akan hubungan Reka dengan kedua orang tuanya. Namun begitu, Leon tak menunjukan hal itu di depan Reka, Pria itu tetap bersikap datar.
"Jika kamu tetap tidak kooperatif seperti ini, maka jangan salahkan aku jika sampai melakukan hal yang paling menyakitkan bagi seorang ibu, yakni berpisah dengan dar-ah dagingnya sendiri. Karena kamu pun berniat memisahkan aku dari dar-ah dagingku sendiri." Leon berucap dengan nada rendah namun mampu menusuk jantung hati Reka. Rasanya begitu menyakitkan. Ibu mana yang rela berpisah dengan anak kandungnya sendiri.
"Mas...." Reka berseru dengan mata berkaca-kaca. Reka tak lagi peduli bila ia akan terlihat begitu menyedihkan di mata Leon. Demi putranya, Reka rela melakukan apa saja, termasuk memohon dihadapan Leon sekalipun.
"Pilihannya hanya dua, kamu memberikan hakku sebagai Daddy-nya baby Richard atau kehilangannya untuk selamanya."
"Aku setuju. Mas boleh menjalankan peran mas sebagai Daddy-nya baby Richard, tapi jangan jauhkan aku darinya." Reka tak punya banyak waktu lagi untuk berpikir. Khawatirnya, kelamaan berpikir, Leon malah semakin murka dan benar-benar merebut baby Richard darinya.
"Okey. Kalau begitu kalian harus segera pindah ke apartemen, dengan begitu aku bisa mengunjungi putraku kapan saja!."
"Tidak perlu, mas. Kami bisa tetap tinggal di kontrakan."
"Ini bukan pilihan, tapi sebuah keharusan! Aku ingin memastikan putraku tinggal di tempat yang lebih nyaman." Mungkin kesannya Leon sedikit mengintimidasi dan juga egois, namun semua itu dilakukan Leon demi kenyamanan putranya.
"Bagaimana dengan Georgina? Apa mas sudah mengatakan yang sebenarnya padanya? Jika sudah, maka aku juga ingin mendengar pendapatnya tentang niat mas memberikan fasilitas kepada kami." Leon dan Georgina sebentar lagi menikah, dan Reka tidak ingin sampai keberadaannya dan baby Richard justru mengacaukan segalanya.
"Kamu selalu saja memikirkan pendapat orang lain. Apa dulu saat bikin anak, kamu menanyakan pendapat orang lain, tidak bukan." Bukannya berniat berbicara vul-gar, Leon hanya ingin menyadarkan Reka bahwa tidak semua keputusan yang kita ambil sebagai orang tua harus meminta pendapat dari orang lain. Terutama demi kenyamanan dan kesejahteraan anak.
"Untuk urusan Georgina, kamu tidak perlu memikirkannya! Biar itu menjadi urusanku." Leon menambahkan.
"Kalian akan pindah ke apartemen malam ini juga."
"Tapi_."
"Kalau kamu tidak mau pindah ke apartemen bersama baby Richard, maka biar dia ikut bersamaku." Dengan cepat Leon menyela sehingga Reka tak dapat melanjutkan kata-katanya.
"Baiklah. Kami akan pindah malam ini juga "
Kalau sudah seperti ini kondisinya, hidup di bawah bayang-bayang Leon, itu artinya kelak Reka harus kuat menyaksikan kebahagiaan sang mantan suami bersama pendamping barunya. Membayangkannya saja sudah membuat dada Reka terasa sesak tanpa diminta.
Seandainya mantan suaminya itu masih sendiri, seandainya masih ada rasa yang tersisa dihati Leon untuknya, mungkin Reka akan memberanikan diri mengungkapkan semua kebenaran di masa pada pria itu. Tetapi semua itu sudah terlambat, kini cinta Leon sudah berpindah ke wanita lain, dan sebentar lagi mereka akan segera menikah.
Leon menatap Reka yang tampak diam mematung, seperti sedang melamun.
"Hmmm..." Leon berdehem dan suara itu sontak mengembalikan kesadaran Reka dari lamunannya. "Satu lagi, jika ingin mencari kekasih, carilah pria yang tidak hanya menerimamu tapi juga bisa menerima putraku!." Leon berpikir Reka melamunkan kekasihnya, sehingga pria itu pun berkata demikian.
Reka hanya merespon dengan senyum kecil di sudut bibirnya. Bibir mungil yang dahulu menjadi favorit Leon, bibir mungil yang permintaannya tak pernah sekalipun ditolak oleh Leon.
Merasa tidak punya urusan lagi di ruangan itu, Reka pun segera pamit undur diri. Kembali ke ruangannya untuk bekerja.
Georgina tiba beberapa saat setelah Reka meninggalkan ruangan Leon.
"Pagi Leon...."
Leon menarik napas panjang lalu berkata. "Lain kali, ketuk pintu dulu sebelum masuk!."
"Sorry....." Kata Geo. "Aku terlalu bahagia soalnya."
"Bahagia untuk apa?."
"Bahagia karena akhirnya aku menemukan model gaun pengantin yang paling cocok denganku." Georgina mendekati kursi Leon. "Coba deh kamu lihat, cantik kan?." Georgina menunjukkan foto gaun pengantin yang ada di layar ponselnya.
"Ini Reka loh yang bantu memilihkan."
Ibnu lebih gila lagi...