Demi menghindari aib, Naresta dan Elvan memilih meninggalkan keluarga mereka dan memulai hidup baru di sebuah desa. Dengan kerja keras, mereka berhasil membangun sebuah toko yang berkembang pesat dan menjadi sumber penghidupan mereka.
Namun, kesuksesan itu tak membuat mereka diterima. Elvan yang merupakan penyandang autisme terus menjadi sasaran hinaan dan cemoohan warga. Meski begitu, Naresta tetap setia berada di sisinya, membuktikan bahwa cinta sejati tidak pernah memandang kekurangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia Lagi
"Naresta, aku mau utang, dong. Kan yang kemarin sudah lunas juga," ucap Dewi setelah masuk ke dalam toko.
Naresta yang sedang duduk di kursi dekat kasir hanya menganggukkan kepalanya.
"Aya, catat apa yang ingin diambil Mbak Dewi."
Aya yang berada di belakang meja kasir langsung mengambil buku catatan utang.
"Iya, Mbak."
Dewi terlihat sedikit terkejut karena Naresta tidak banyak bertanya seperti biasanya.
"Kok langsung dibolehkan?"
Naresta mengangkat wajahnya.
"Katanya mau utang?"
"Iya."
"Ya sudah. Ambil yang dibutuhkan."
Dewi mengangguk, lalu mulai berjalan mengelilingi rak.
Aya mendekat sedikit kepada Naresta.
"Mbak yakin?"
Naresta menoleh.
"Kenapa?"
"Takutnya banyak lagi."
Naresta mengembuskan napas pelan.
"Selama utang sebelumnya sudah lunas, nggak apa-apa. Tapi tetap ada batasnya."
Aya mengangguk.
"Baik."
Tak lama kemudian, Dewi kembali sambil membawa beberapa barang. Dicky membantunya meletakkan barang-barang tersebut di atas meja kasir.
"Ini dulu."
Aya mulai mencatat satu per satu.
"Beras sepuluh kilo, minyak goreng lima liter, gula lima kilo, telur dua rak, mi instan dua dus..."
Dewi mengangguk.
"Iya."
Aya terus menghitung.
"Total sementara satu juta dua ratus ribu."
Dewi kembali menoleh ke arah rak.
"Aku mau ambil sabun sama kebutuhan lainnya juga."
Naresta langsung menatapnya.
"Mbak Dewi."
"Apa?"
"Jangan terlalu banyak."
Dewi mengerutkan dahi.
"Lho, nanti juga aku bayar."
"Aku tahu."
Naresta mengusap perutnya perlahan.
"Tapi aku nggak mau utangnya sampai terlalu besar lagi. Nanti Mbak sendiri yang kesulitan melunasinya."
Dewi mendecak.
"Kamu takut aku nggak bayar?"
"Bukan takut."
Naresta menatapnya tenang.
"Aku cuma belajar dari sebelumnya."
Aya yang mendengar itu hanya diam sambil terus menulis.
Dewi akhirnya mengambil beberapa kebutuhan tambahan dan membawanya ke kasir.
"Sudah. Itu saja."
Aya menghitung kembali semuanya.
"Totalnya satu juta lima ratus ribu, Mbak Dewi."
Dewi mengangguk santai.
"Catat saja."
Aya menulis jumlah tersebut di buku.
"Jatuh temponya seperti biasa, ya."
"Iya."
Dewi kemudian melirik Naresta yang masih duduk sambil sesekali mengusap perutnya.
"Sudah besar juga perutmu."
Naresta hanya tersenyum tipis.
"Sudah enam bulan."
Dewi mengangguk pelan.
Namun, tatapannya tidak juga beralih dari perut Naresta.
Aya yang menyadari itu langsung menutup buku catatan utang.
Tap!
"Mbak Dewi."
Dewi menoleh.
"Apa?"
Aya menatapnya penuh peringatan.
"Utangnya sudah dicatat."
"Iya, terus?"
"Kalau mau pulang, silakan pulang."
Dewi mengerutkan dahinya.
"Kok kayak ngusir?"
Aya tersenyum tipis.
"Bukan ngusir."
Ia melirik Naresta sebentar sebelum kembali menatap Dewi.
"Saya cuma mencegah sebelum mulut Mbak mulai bertanya yang aneh-aneh lagi."
"Aku cuma diam," ucap Dewi sambil melipat kedua tangannya.
"Tapi mata Mbak bergerak mengarah sana," balas Aya sambil menunjuk Naresta.
Dewi hanya diam dan tidak menjawabnya.
Aya melirik ke arah Dicky yang baru saja selesai memasukkan seluruh barang belanjaan Dewi ke dalam beberapa kantong besar.
"Noh, sudah dibungkus juga sama Mas Dicky. Sekarang boleh pergi."
Dewi langsung menatap Aya.
"Kamu ini memang dari dulu paling senang ngusir aku."
Aya tersenyum lebar.
"Saya nggak ngusir, Mbak. Saya mempersilakan pulang."
"Sama saja!"
"Beda."
"Bedanya apa?"
"Kalau ngusir itu saya bilang, 'Keluar sana!' Kalau ini saya masih bilang boleh pergi."
Dicky yang mendengar percakapan mereka langsung menundukkan wajah sambil menahan tawa.
Naresta hanya menggelengkan kepalanya.
"Mbak Aya, sudah."
Aya langsung menoleh.
"Lho, Mbak. Saya cuma menjelaskan perbedaannya."
Naresta terkekeh kecil.
"Iya, tapi jangan dilanjutkan."
Dewi mendecak kesal.
"Memangnya aku mau ngomong apa? Aku cuma lihat perutmu."
"Nah!" Aya langsung menunjuk Dewi. "Benar, kan? Ada yang mau dibahas."
Dewi langsung melotot.
"Orang hamil dilihat perutnya memang kenapa?"
"Nggak kenapa-kenapa."
Aya berdiri di samping meja kasir.
"Asalkan setelah melihat jangan keluar pertanyaan aneh."
Dewi mengambil salah satu kantong belanjaannya.
"Memangnya aku sebegitu buruknya?"
Aya langsung membuka mulut hendak menjawab.
Naresta buru-buru menyela.
"Mbak Aya."
Aya menutup mulutnya kembali.
"Iya, Mbak. Saya diam."
Dewi mengambil kantong lainnya.
Naresta menatapnya.
"Mbak Dewi."
"Apa?"
"Utangnya sudah dicatat satu juta lima ratus ribu, ya."
"Iya, aku tahu."
"Kalau bisa jangan terlalu lama."
Dewi mengangguk.
"Iya."
Dicky membantu mengangkat barang-barang yang cukup berat.
"Saya bantu sampai depan, Mbak."
Dewi langsung berjalan mengikuti Dicky.
Namun, sebelum keluar, ia sempat menoleh sekali lagi ke arah Naresta.
Aya langsung mengangkat telunjuknya.
"Jangan."
Dewi mendecak.
"Aku belum ngomong!"
"Bagus. Dipertahankan."
Dewi akhirnya keluar dari toko dengan wajah kesal.
Naresta langsung menatap Aya.
"Mbak..."
Aya memasang wajah polos.
"Saya cuma menjaga ketenangan bumil."
Naresta tidak mampu menahan tawanya.
"Ada-ada saja."
"Sekarang sudah, kan? Masuk sana, Mbak," ucap Aya sambil menunjuk ke arah dalam.
Naresta langsung mengerutkan dahinya.
"Lho, kok aku diusir juga?"
"Bukan diusir."
Aya mengambil buku catatan utang dan meletakkannya kembali di bawah meja kasir.
"Saya mempersilakan Mbak masuk."
Naresta langsung tertawa kecil.
"Katanya tadi sama Dewi beda."
"Memang beda."
"Bedanya apa?"
"Kalau Mbak Dewi saya suruh pulang. Kalau Mbak Naresta saya suruh istirahat."
Naresta menggelengkan kepalanya.
"Aku baru sebentar di sini, Mbak."
Aya langsung melirik perut Naresta.
"Sebentar dari mana? Dari tadi bagi-bagi gaji, ngobrol sama kami, terus melayani Mbak Dewi."
"Aku cuma duduk."
"Nah, mulai lagi kalimat andalannya."
Naresta terkekeh.
"Aku memang cuma duduk."
Aya berkacak pinggang.
"Mbak, sekarang kandungannya sudah enam bulan. Istirahat sana."
Naresta mengembuskan napas panjang.
"Bosan kalau di kamar terus."
"Bosan boleh. Tapi jangan malah cari kerjaan."
Naresta mengusap perutnya perlahan.
"Terus aku ngapain di dalam?"
Aya berpikir sebentar.
"Nonton."
"Bosan."
"Main ponsel."
"Bosan."
"Tidur."
"Nggak ngantuk."
Aya langsung memijat pelipisnya.
"Ya Allah, ternyata menghadapi bumil bosan lebih susah daripada menghadapi pelanggan yang ngutang."
Naresta langsung tertawa.
Tiba-tiba Elvan muncul dari arah dalam.
"S-sayang."
Naresta langsung menoleh.
"Mas."
Aya seketika menunjuk Naresta.
"Mas Elvan, bawa istrinya masuk."
Elvan langsung mengangguk.
"I-iya."
Naresta melongo.
"Lho! Mas jangan langsung setuju begitu."
Elvan berjalan mendekat dan menggenggam tangan istrinya.
"A-ayo."
"Mas, aku bosan."
"N-nanti a-aku t-temani."
Naresta menatap suaminya beberapa saat.
"Benar?"
Elvan mengangguk.
"I-iya."
Naresta akhirnya berdiri perlahan.
"Ya sudah."
Aya langsung tersenyum puas.
"Nah, begitu dong."
Namun, baru beberapa langkah, Naresta kembali menoleh ke arah kasir.
"Mbak Aya, kalau nanti ada—"
"Nggak usah!"
Naresta langsung menutup mulutnya.
Aya menunjuk ke arah dalam.
"Jalan terus, Mbak."
Elvan menarik pelan tangan istrinya.
"A-ayo, S-sayang."
Naresta akhirnya menurut sambil menggelengkan kepala.
"Iya, iya. Sekarang aku malah punya dua orang yang suka nyuruh-nyuruh."
Aya langsung menyahut dari belakang.
"Demi bumil dan calon bayi!"
Naresta hanya tertawa kecil sambil berjalan masuk bersama Elvan.