NovelToon NovelToon
Pembalasan Jiwa Yang Tertukar

Pembalasan Jiwa Yang Tertukar

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / CEO / Tamat
Popularitas:18k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

​Diandra, seorang CEO tangguh, dikhianati oleh adik tirinya sendiri dan didorong dari lantai delapan hingga koma. Namun, maut belum menjemputnya. Jiwa Diandra terbangun di dalam tubuh Gia, seorang siswi SMA yang tewas setelah disiksa dan dibunuh oleh kekasihnya, Ferdian, beserta geng perundungnya.

​Terjebak dalam identitas baru yang rapuh, Diandra bersumpah akan menuntut balas. Ia tidak hanya akan menghancurkan Ferdian di sekolah, tapi juga merancang kejatuhan adik tirinya yang kini mengincar nyawa Pratama, suaminya sendiri.

​Tantangan terbesar Diandra bukan hanya kemiskinan Gia, melainkan meyakinkan Pratama bahwa jiwa istrinya ada di dalam tubuh gadis remaja tersebut. Di tengah skeptisisme sang suami, Diandra harus berpacu dengan waktu sebelum rencana pembunuhan berikutnya merenggut satu-satunya orang yang ia cintai.

​"Gia mungkin sudah mati, tapi Diandra baru saja dimulai."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Bip... bip...

Bip... bip...

Suara lengkingan panjang yang semula mematikan itu mendadak terputus.

Grafik di atas layar monitor di dalam ruang perawatan intensif kembali meliuk tajam, membentuk ritme bergelombang yang stabil meskipun masih lemah.

Garis lurus itu patah, dikalahkan oleh daya hidup Pratama yang menolak untuk menyerah pada maut.

Petugas medis di dalam ruangan tampak mengembuskan napas lega.

Mereka bergerak cepat merapikan kembali peralatan medis dan memeriksa saturasi oksigen pasien yang perlahan merangkak naik ke angka

aman.

Pintu ganda ruang ICU bergeser terbuka dengan desis pelan.

Dokter spesialis jantung yang memimpin penanganan Pratama melangkah keluar.

Wajahnya yang semula tegang kini tampak jauh lebih rileks, meskipun sisa-sisa kelelahan setelah berkejaran dengan waktu masih tercetak jelas di matanya.

Diandra yang sejak tadi menempel di kaca langsung memajukan kursi rodanya dengan tergesa-gesa.

Ia mencengkeram jas putih sang dokter dengan tangan yang masih gemetar hebat karena sisa kepanikan.

"Bagaimana keadaan suami saya, Dok?" tanya Diandra dengan suara yang serak, matanya yang sembap menatap penuh harap sekaligus ketakutan yang teramat sangat.

Dokter itu tersenyum tipis, sebuah senyuman menenangkan yang seketika meruntuhkan seluruh ketegangan di koridor rumah sakit tersebut.

Ia memegang lembut tangan Diandra untuk menenangkannya.

"Mukjizat yang luar biasa, Nyonya Diandra. Pak Pratama memiliki keinginan hidup yang sangat kuat," ujar dokter itu dengan nada penuh kehangatan.

"Pak Pratama sudah melewati masa kritisnya. Jantungnya sudah merespons dengan sangat baik terhadap stimulasi terakhir, dan kondisinya kini telah benar-benar stabil."

Diandra memejamkan mata sejenak, mengucap syukur yang teramat dalam di dalam hatinya.

Beban seberat bumi yang sempat menghimpit dadanya seketika menguap tanpa bekas.

"Namun, karena kondisinya masih memerlukan pemantauan yang sangat ketat dan kami tahu betapa Anda tidak bisa dipisahkan darinya," lanjut dokter itu dengan kerlingan mata penuh pengertian, "dan sebentar lagi kami akan memindahkan beliau ke ruang perawatan yang sama dengan Anda. Kami rasa, keberadaan Anda di sisinya akan menjadi stimulan terbaik bagi kesembuhan Pak Pratama."

Mendengar keputusan dokter, air mata Diandra kembali menetes, namun kali ini adalah air mata kebahagiaan.

Ia menoleh ke arah Diko yang langsung membungkuk hormat dengan senyum lega yang tak bisa disembunyikan.

"Terima kasih, Dok. Terima kasih banyak," bisik Diandra tulus.

Satu jam kemudian, proses pemindahan selesai dilakukan. Ruang VIP khusus milik Diandra kini telah diubah tata letaknya.

Dua ranjang medis diletakkan berdampingan, hanya dipisahkan oleh satu meja nakas kecil tempat mesin monitor EKG diletakkan.

Diandra kini sudah kembali berbaring di atas ranjangnya sendiri dengan selang infus yang terpasang rapi.

Di samping kirinya, Pratama terbaring tenang dengan masker oksigen yang mengembun selaras dengan napasnya yang teratur. M

Meski pria itu masih belum sadarkan diri dari komanya, kehadirannya di ruangan yang sama membawa kedamaian yang luar biasa bagi Diandra.

Perlahan, Diandra mengulurkan tangan kanannya melewati batas ranjang, mencari jemari besar Pratama.

Begitu kulit mereka saling bersentuhan, Diandra menggenggam erat tangan suaminya, menyalurkan kehangatan raga aslinya yang telah lama dirindukan pria itu.

"Kamu tidak ingkar janji, Mas," gumam Diandra lembut, menatap wajah tampan suaminya dengan binar mata yang penuh cinta.

"Kamu selalu menemukan jalan untuk pulang ke pelukanku. Sekarang, beristirahatlah dengan tenang di sini. Biarkan aku yang menjagamu, dan begitu kita berdua sama-sama bisa berdiri... kita akan selesaikan semua ini bersama-sama."

Hari berganti hari, namun atmosfer di dalam ruang perawatan VIP itu tidak pernah kehilangan kehangatannya. Diandra mulai membiasakan diri dengan raga aslinya. Setiap jam berlalu, ia terus melatih persendian tangannya yang kaku, meraba tekstur kulitnya sendiri, dan menyelaraskan kembali memori motorik otaknya. Meski proses itu melelahkan, Diandra melakukannya tanpa sedetik pun melepaskan tautan jemarinya. Ia tetap menggenggam erat tangan Pratama yang masih setia dalam komanya, seolah genggaman itu adalah jangkar yang menahan jiwa mereka agar tidak lagi saling menjauh.

Tok, tok.

Pintu kamar diketuk dengan ritme konstan yang sangat dikenali Diandra. Diko melangkah masuk dengan langkah taktis, menutup pintu rapat-rapat sebelum mendekat ke sisi ranjang Diandra. Wajah pria kepercayaan itu tampak tegang, membawa aura perburuan yang pekat.

"Nyonya Besar," panggil Diko dengan suara setengah berbisik, memberikan penghormatan penuh. "Saya membawa laporan rahasia mengenai pergerakan target."

Diandra tidak mengalihkan pandangannya dari wajah tenang Pratama, namun sorot matanya seketika menajam. "Katakan, Diko. Di mana ular itu bersembunyi?"

"Sistem pelacak intelijen kita berhasil menembus manifes manifaktur independen. Mita terdeteksi menggunakan identitas palsu dengan nama 'Amanda Putri'. Saat ini, dia berada di sebuah hotel transit kelas melati yang letaknya dekat dengan pelabuhan internasional. Berdasarkan data yang kami sadap dari antek-anteknya yang tersisa, dia sedang bersiap kabur ke luar negeri menggunakan paspor palsu dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam."

Mendengar itu, sudut bibir Diandra terangkat, membentuk seulas senyuman dingin yang teramat mengerikan. "Dia pikir pelabuhan internasional bisa menjadi gerbang kebebasannya?"

Diandra menoleh ke arah Diko. Tatapannya tidak hanya sarat akan dendam pribadinya, tetapi juga membawa beban amanah dari jiwa yang telah tiada.

"Selain Mita, ada satu hal lagi yang harus diselesaikan," ujar Diandra, suaranya merendah namun sarat akan ancaman mutlak.

Diandra juga meminta Diko mencari keberadaan Ferdian.

"Cari bajingan yang telah mencelakai Gia sampai ke lubang cacing mana pun dia bersembunyi."

Diko sempat tertegun mendengar nama Ferdian disebut dengan begitu penuh penekanan oleh Diandra yang asli. Namun, sebagai orang kepercayaan yang tahu bahwa jiwa Gia sempat bersinggungan dengan nyonyanya, ia langsung mengerti.

"Jiwa Gia harus mendapatkan keadilan penuh, Diko. Pria itu sudah menginjak-injak dan membuang gadis tak berdosa ke sungai. Aku tidak akan membiarkan bajingan itu menghirup udara segar lebih lama lagi," desis Diandra.

"Baik, Nyonya Besar. Saya akan mengerahkan tim kedua untuk melacak rekam jejak digital dan jaringan preman yang biasa digunakan oleh Ferdian," jawab Diko mantap.

"Bagus. Sekarang, bawa laptop militerku ke sini."

Dengan sigap, Diko mengeluarkan laptop khusus berenkripsi tinggi dan meletakkannya di atas meja nakas, tepat di samping monitor EKG Pratama.

Diandra membuka layar laptop tersebut dengan tangan kirinya yang bebas.

Jemarinya yang masih agak kaku mulai menari di atas papan ketik, mengetikkan barisan kode-kode biner yang rumit dengan kecepatan yang mengagumkan.

Jiwa Diandra sebagai peretas jenius tidak pernah hilang.

Dari atas ranjang rumah sakit, dengan selang infus yang masih menempel di pergelangan tangannya, Diandra meretas masuk ke dalam sistem pusat perbankan korporasi Pratama Group dan jaringan bank swasta yang terafiliasi dengan perusahaan cangkang Mita.

Diandra memerintahkan penguncian seluruh rekening pribadi Mita secara senyap.

Satu per satu, aset likuid, rekening luar negeri, hingga dompet digital tersembunyi milik adik iparnya itu dibekukan total dalam hitungan menit, tanpa menimbulkan kecurigaan pada sistem keamanan bank.

"Selesai," ucap Diandra sambil menutup laptopnya perlahan.

Ia kembali menggenggam tangan Pratama, lalu menatap Diko dengan kilat mata yang mematikan.

"Mita, kabur ke luar negeri? Biarkan dia pergi ke pelabuhan itu dengan memegang paspor palsunya. Aku ingin melihat bagaimana ekspresi wajah wanita ular itu saat menyadari bahwa dia tidak memiliki sepeser pun uang bahkan hanya untuk membeli sebotol air minum di atas kapal pelariannya. Diko, kepung pelabuhan itu secara senyap. Permainan berburu kita baru saja dimulai."

1
Qaisaa Nazarudin
Aelah ku pikir udah selesai kompliknya,lha ternyata..
Syahdu: Novel yang ada AU-nya nih, I Love you Brutally. Baca yuk, kak. Makasih dukungannya🤍🫶🏻😆
total 1 replies
Qaisaa Nazarudin
Bego nih bocah,masih kecil aja udah kriminal,udah gede jadi apaan coba,Saat kecil gak mau Mampos, udah gede malah nyusahin orang lain..
Qaisaa Nazarudin
Kenapa Gia harus meninggal? Padahal aku ingin Gia hidup dan menjadi adik angkatnya Diandra dan Pratama..
Qaisaa Nazarudin
Udah 5 Tahun aja,Terus gimana nasib Mita dan Ferdian?? 🤔🤔🤔
Qaisaa Nazarudin
Whaatt?? udah 5 Tahun aja..lama banget koma nya??
Qaisaa Nazarudin
Og berarti Gia BENARAN meninggal ya..Dan jiwa Diandra kembali ke Raga nya yg asli ya .
Qaisaa Nazarudin
Ckkk Anak tiri aja BERLAGU banget..Ini nih akibat Dari Seorang pria kalau mau Nikah lagi itu pastikan jangan punya anak tiri,pastikan Nikahin janda tampa anak,Nyusahin aja yg ada..
Qaisaa Nazarudin
Keliatan banget BODOH nya yah...
Qaisaa Nazarudin
Emang semuanya udah TERBONGKAR,Tinggal menunggu saatnya kalian diberikan hukuman,jadi bersiap-siap lah ya...
Qaisaa Nazarudin
Lumayan
Qaisaa Nazarudin
Wlwkwwkwk Dia pikir dia Cerdik,Tapi ternyata tetap aja BODOH,, Wkwkwkwk anak kesayangan Bayu..
Qaisaa Nazarudin
Kapan pak Bayu tau kalau Gia itu Diandra?? 🤔🤔🤔
Qaisaa Nazarudin
Ogeb dengan kamu bersikap dan berteriak begini,Orang akan tau kalau Gia itu adalah Diandra,Akan lebih bahaya lagi hadeeuuhh..🤦🤦
Qaisaa Nazarudin
Aelah kenapa CUMAN GPS harusnya Bodyguard yg penting,Udah tau sekarang Gia terdedah dengan kejahatan Mita,Malah ceroboh begini..🤦🤦
Qaisaa Nazarudin
Jerigen
Qaisaa Nazarudin
Nah kan ku bilang juga apa?Kemana pergi nya bodyguard Pratama yang jagain isteri nya?? apa emang gak ada?? 🤔🤔
Qaisaa Nazarudin
Sekarang semua sudah tau siaoa Gia,Jadi harusnya mulai sekarang Gia udah bisa tinggal di penempatan yang layak..
Qaisaa Nazarudin
Usut semua hal,Pecat kepala sekolah,banteras semua bullying di sekolah dengan kata lain BERSIHKAN SEKOLAH ini...
Qaisaa Nazarudin
MAMPOS kau, SENJATA MAKAN TUAN...👏👏👏👏💃💃💃💃💃
Qaisaa Nazarudin
Terus apa cuman Gia doang yang di berikan Test itu?? Harusnya Mita sekalian,Kan dia yang sok bijak..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!