NovelToon NovelToon
Secangkir Kopi Tanpa Gula

Secangkir Kopi Tanpa Gula

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Atik's

Raka harus menikah mendadak dengan Laras setelah calon istrinya, Rara, kabur. Demi menjaga masa depan putrinya, ayah Laras mewajibkan surat perjanjian pranikah yang membuat Raka merasa tertekan dan membenci pernikahan ini. Meski Laras sangat mencintainya dan berharap membina rumah tangga, Raka tetap dingin, kasar, dan tak bisa melupakan Rara. Namun, Laras bertekad meluluhkan hati suaminya dan mengubah pernikahan yang bermula dari keterpaksaan ini menjadi penuh kasih sayang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atik's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29

Semua setuju, lalu masuk ke dalam mobil masing‑masing. Tiga kendaraan mewah itu pun melaju beriringan menuju tempat makan yang sudah disiapkan sejak jauh hari.

Sesampainya di sebuah restoran terkenal dan mewah, mereka duduk mengelilingi meja besar sambil mengobrol santai sembari menunggu hidangan tiba. Tak lama kemudian, makanan pun tersaji lengkap dengan hiasan piring yang indah. Darma membuka percakapan.

“Karena semuanya sudah disajikan, ayo kita nikmati dan rayakan hari bahagia putri kesayanganku. Hari ini biar Papa yang mentraktir semuanya,” ujar Darma dengan nada bangga.

“Tidak bisa begitu, Papa mertua. Hari ini adalah hari bahagia istriku, jadi biar aku yang menanggung semuanya. Papa lupa kalau sekarang Laras sudah menjadi tanggung jawabku sepenuhnya,” sahut Raka sambil mengedipkan mata.

“Wah, ternyata menantuku ini sangat posesif. Baiklah, kalau begitu silahkan kau yang bayar. Semoga saja keuanganmu cukup untuk makan siang kita ini,” ledek Darma sambil tertawa renyah.

“Tentu saja cukup, Papa. Jangan lupa, menantu Papa ini adalah pengusaha muda yang sukses. Jadi papa tidak perlu khawatir, putri Papa akan hidup nyaman dan terjamin bersamaku sampai ke anak cucu nanti,” jawab Raka dengan nada percaya diri.

Mereka semua tertawa mendengar percakapan santai antara menantu dan mertua, lalu mulai menyantap hidangan yang tersaji dengan penuh rasa syukur.

Saat makan bersama, Darma memberitahu bahwa ia dan Lina akan melakukan perjalanan bisnis ke luar kota mulai besok. Ia menitipkan putrinya kepada Sari dan Bima agar dijaga dengan baik, serta meminta Raka untuk terus menyayangi dan melindungi Laras dengan sepenuh hati.

Meskipun merasa sedikit aneh dengan permintaan itu, semuanya mengangguk setuju. Sementara itu, hati Laras terasa sedikit berat dan gelisah mendengar kabar kepergian orang tuanya. Padahal ini bukan kali pertama mereka pergi untuk urusan bisnis, namun kali ini perasaan itu muncul tanpa alasan yang jelas.

“Papa, bolehkah Laras ikut pergi bersama?” tanya Laras pelan, menatap wajah ayahnya dengan pandangan memohon.

“Sayang, sekarang kamu sudah punya suami. Tidak bisa lagi pergi sembarangan seperti dulu. Kalau kamu ikut, siapa yang akan menjaga dan menemani suamimu di rumah?” jawab Darma lembut sambil mengusap kepala putrinya.

Suasana hangat di meja makan perlahan mereda seiring berlalunya waktu. Laras masih tampak murung, meski Raka berusaha menghiburnya dengan candaan ringan. Ia tahu betul betapa berat hati istrinya setiap kali harus berpisah dengan orang tua, apalagi kali ini ada rasa gelisah yang tak bisa dijelaskan. Lina menyadari hal itu, lalu mengelus punggung tangan putrinya lembut sambil memberi nasihat agar Laras paham tugasnya sebagai istri, persis seperti dirinya yang selalu setia mendampingi Darma ke mana pun ia pergi.

Mendengar itu, Raka segera merangkul bahu Laras dan menenangkannya. Ia berjanji kelak jika ada urusan bisnis di luar kota, Laras boleh ikut bersamanya agar tidak perlu merasa kesepian. Namun meski begitu, kabar keberangkatan besok pagi itu tetap membuat hati Laras terasa sesak, seolah ada firasat buruk yang tak bisa ia ungkapkan.

*****

Seperti yang disampaikan kedua orang tuanya, keesokan paginya mereka bersiap berangkat ke luar kota. Melihat wajah istrinya yang terus murung dan mendadak jadi pendiam, Raka memutuskan untuk tidak langsung pulang ke apartemen, melainkan menginap semalam di rumah mertua. Ia ingin memberi kesempatan Laras meluapkan segala kerinduan dan melepas rasa berat hati sebelum kepergian itu.

Di teras depan rumah, keduanya berdiri mengantar keberangkatan Darma dan Lina. Mata Laras sudah basah berurai air mata, menatap kedua orang tuanya seperti enggan melepaskan. Darma dan Lina saling pandang, merasa heran karena biasanya Laras tidak sedalam ini kesedihannya saat harus berpisah.

“Jangan menangis terus, anak Mama. Jangan jadi cengeng begini. Kami hanya pergi sebentar saja, dan sekarang kamu tidak lagi sendirian, kan sudah ada Raka di sisimu. Jaga dirimu baik‑baik, dan jangan lupa minum obatmu secara teratur,” ujar Lina lembut sambil mengusap air mata di pipi putrinya.

Raka sedikit terkejut mendengar ucapan itu. Ia bertanya dalam hati, "sejak kapan Laras harus rutin minum obat? Selama ini Laras selalu tampak sehat. Obat apa yang dimaksudkan ibu mertuaku?" Namun ia segera menepis rasa penasaran itu, sadar saat ini bukan waktu yang tepat untuk bertanya. Ia akan menanyakan hal itu secara langsung kepada Laras setelah mereka kembali ke apartemen nanti.

Darma memeluk putrinya dengan erat, lalu mencium keningnya sebagai tanda perpisahan. Entah mengapa, langkahnya terasa begitu berat meninggalkan rumah dan Laras kali ini. Setelah itu ia berbalik memeluk Raka, menitipkan Laras sepenuhnya pada sang menantu.

“Jaga Laras dengan sepenuh hati, berjanjilah selalu ada di sampingnya. Cintai dan sayangi dia seperti aku menyayanginya,” bisik Darma pelan.

“Baik, Papa. Aku berjanji akan menjaga dan melindunginya sebaik mungkin. Papa dan Mama tenang saja,” jawab Raka mantap, meski di dalam hatinya masih terselip rasa heran akan kata‑kata perpisahan yang begitu mendalam itu.

Raka merangkul bahu Laras yang terus menangis menatap kepergian kedua orang tuanya. Ia merasa perpisahan ini terasa lebih berat dari biasanya, padahal keberangkatan ini hanyalah urusan bisnis seperti yang sering mereka lakukan selama bertahun‑tahun.

Laras merasa berat hati, seolah orang tuanya akan pergi untuk selamanya, padahal mereka hanya berangkat beberapa hari saja.

“Sudah, jangan menangis lagi. Mama dan Papa hanya pergi sebentar. Ayo kita pamit pada Bibi di sini,” ucap Raka lembut. Mereka memang berencana langsung pulang ke apartemen setelah kepergian Darma dan Lina.

Namun di tengah jalan, Laras mulai bingung. “Kak, ini bukan jalan pulang ke apartemen. Kita mau kemana?” tanyanya.

“Aku ada rapat penting yang tidak bisa ditinggalkan, padahal ingin sekali menemanimu hari ini. Tapi melihatmu masih sedih begini, aku bawa ke rumah Mama saja biar kamu tidak kesepian. Nanti sore aku jemput,” jawab Raka.

Akhirnya Laras pun dibawa ke rumah mertuanya. Disana Sari sudah menunggu, duduk santai sambil membaca majalah. Begitu melihat menantunya, ia langsung menutup bacaan dan mempersilahkan duduk di sebelahnya.

“Sini, sayang,” panggilnya sambil menepuk sofa.

Laras tersenyum tipis lalu duduk. Sari segera mengajak ngobrol, lalu mengusulkan ide agar Laras tidak terus bersedih. “Raka bilang kamu sedang sedih. Bagaimana kalau kita pergi ke pusat perbelanjaan hari ini? Kita bisa belanja, ke salon, dan makan enak. Bagaimana?”

Setelah memikirkannya, Laras merasa ide itu cukup bagus untuk mengalihkan pikiran. Ia pun setuju dengan antusias.

“Tunggu sebentar ya, Mama ambil tas dulu,” ucap Sari bersemangat.

 _____

1
helena
lanjuttt thor😍
Atik's: baik kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!