NovelToon NovelToon
Dikhianati Suami, Dihamili CEO Dingin

Dikhianati Suami, Dihamili CEO Dingin

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / CEO / Selingkuh / Cinta Lansia / Tamat
Popularitas:42k
Nilai: 5
Nama Author: Anindita Kirana

Ratna mengira pernikahan 28 tahunnya hanya sedang lelah. Sampai ia melihat Hendra, suaminya, memeluk sekretaris muda di rumah sakit, bersama anak laki-laki yang memanggilnya Papa.
Selama ini Ratna bekerja diam-diam, mengurus mertua, anak, menantu, dan cucu, sementara uang keluarga mengalir ke apartemen perempuan lain.
Saat semua orang mengira Ratna terlalu tua untuk melawan, ia justru bangkit. Dengan bantuan Arga Wijaya, CEO dingin yang tak pernah banyak bicara, Ratna mulai merebut kembali harga dirinya.
Tapi semakin jauh ia melangkah, semakin banyak rahasia keluarga yang terbongkar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindita Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Bab 24 - Raka Kehilangan Rumahnya

Raka berdiri di depan rumah mertua dengan tangan kosong.

Ia sudah menekan bel dua kali. Di dalam terdengar suara Bima tertawa, lalu suara Maya yang menyuruh anak itu pelan-pelan. Suara itu membuat dada Raka semakin sesak.

Pintu dibuka oleh ibu Maya.

Wajah perempuan itu tidak galak, tapi juga tidak ramah.

"Raka."

"Maaf, Tante. Maya ada?"

"Ada. Tapi kalau kamu datang untuk menyeret dia pulang, lebih baik pulang sekarang."

Raka menelan ludah.

"Saya cuma mau bicara."

Ibu Maya menatapnya beberapa detik, lalu membuka pintu lebih lebar.

Maya duduk di ruang tengah bersama Bima. Anak itu sedang menyusun balok kayu. Begitu melihat Raka, wajahnya cerah.

"Papa!"

Bima berlari. Raka langsung berjongkok dan memeluknya.

Aroma anaknya membuat Raka hampir menangis. Dua hari tanpa Bima di rumah terasa aneh. Ia dulu sering pulang ketika anak itu sudah tidur, menganggap besok masih ada waktu. Baru sekarang ia sadar waktu bersama anak bisa hilang jika orang dewasa terlalu sibuk egois.

"Papa kangen," bisiknya.

"Papa ikut tinggal sini?"

Raka terdiam.

Maya berdiri.

"Bima, main dulu di kamar sama Oma."

"Tapi Papa..."

"Nanti Papa tetap di sini sebentar."

Bima menurut, walau masih menoleh beberapa kali.

Setelah anak itu masuk kamar, Maya menatap Raka.

"Duduk."

Raka duduk di sofa. Rumah orang tua Maya tidak sebesar rumah Hendra, tapi terasa lebih tenang. Tidak ada suara Mama Sulastri memerintah. Tidak ada Hendra membanting telepon. Tidak ada ketegangan yang membuat anak kecil bingung.

"Kamu baik-baik saja?" tanya Raka.

Maya tertawa kecil.

"Itu pertanyaan pertama yang benar sejak aku pergi."

Raka menunduk.

"Aku... aku memang payah."

Maya tidak langsung menyahut.

Raka meremas lututnya.

"Aku datang bukan untuk menyuruh kamu pulang. Aku ingin tahu apa yang harus kulakukan."

"Mulai dari berhenti bertanya padaku apa yang harus kamu lakukan."

Raka mengangkat wajah.

Maya duduk di depannya.

"Mas, selama ini kamu selalu begitu. Kalau ada masalah, kamu tanya Mama Ratna. Kalau Mama Ratna tidak ada, kamu tanya Papa. Kalau Papa marah, kamu tanya aku. Kamu tidak pernah benar-benar mengambil tanggung jawab."

"Aku kerja."

"Kerja apa? Di kantor Papa, kamu datang, tanda tangan, lalu pulang. Begitu cabang bermasalah, kamu panik. Begitu rumah berantakan, kamu menyalahkan Mama. Begitu aku pergi, kamu bingung."

Raka ingin membantah.

Tapi kata-kata Maya terlalu tepat.

"Aku tahu aku salah," katanya pelan.

"Tahu tidak cukup."

"Aku akan berubah."

Maya menatapnya lelah.

"Aku sudah terlalu sering dengar laki-laki di rumahmu bilang akan berubah. Papa Hendra bilang pada Mama Ratna. Kamu bilang padaku. Tapi yang berubah selalu perempuan. Perempuan yang mengalah, menunggu, menyesuaikan diri."

Raka terdiam.

Maya melanjutkan, "Aku tidak mau Bima tumbuh melihat ayahnya seperti itu."

Nama Bima membuat Raka menutup mata.

"Jangan jauhkan Bima dariku."

"Aku tidak menjauhkan. Kamu boleh datang. Kamu boleh antar sekolah. Kamu boleh bayar kebutuhan. Tapi aku tidak mau kembali ke rumah itu sekarang."

"Kalau aku ikut tinggal di sini?"

Maya menatapnya.

"Untuk apa? Agar aku dan ibuku mengurusmu juga?"

Raka seperti ditampar.

"Bukan begitu."

"Kalau kamu ingin jadi suami dan ayah, berdiri dulu dengan kakimu sendiri. Cari tempat tinggal. Urus pekerjaanmu. Belajar mengurus anak tanpa menunggu perempuan menyiapkan semuanya."

Raka mengusap wajah.

"Aku tidak tahu mulai dari mana."

"Mulai dari Bima. Jadwal sekolahnya. Makanannya. Alerginya. Les gambarnya. Kamu tahu gurunya siapa?"

Raka diam.

Maya tersenyum pahit.

"Namanya Bu Nisa. Orang yang selama ini lebih sering bicara dengan Mama Ratna daripada dengan kita."

Raka menunduk semakin dalam.

Di rumah Hendra, ia masih bisa marah jika disudutkan. Di sini, di depan Maya yang tenang, ia merasa semua kemarahannya tidak punya tempat.

"Aku mau belajar," katanya.

"Belajar. Tapi jangan minta aku memberi nilai sebelum kamu benar-benar mengerjakan."

Percakapan itu terhenti ketika ponsel Maya berbunyi. Pesan dari Ratna.

"Maya, dokumen yang kamu kirim sudah diterima Siska. Terima kasih."

Raka melihat nama ibunya di layar.

"Kamu kirim dokumen ke Mama?"

Maya menatapnya, tidak takut.

"Iya."

"Dokumen apa?"

"Bukti pengeluaran rumah. Chat Mama Sulastri. Transfer. Hal-hal yang menunjukkan Mama Ratna tidak hidup menumpang seperti yang kalian bilang."

Raka berdiri.

"Maya, itu bisa memberatkan Papa."

Maya ikut berdiri.

"Masih itu yang kamu pikirkan?"

"Dia ayahku."

"Dan Mama Ratna ibumu."

Raka membeku.

Maya berkata lebih pelan, "Mas, kamu boleh mencintai ayahmu. Tapi jangan buta."

Raka tidak menjawab.

Pintu kamar terbuka sedikit. Bima mengintip.

"Papa marah lagi?"

Raka melihat wajah anaknya. Sesuatu di dalam dirinya runtuh.

Ia berjongkok.

"Tidak, Nak. Papa tidak marah."

"Papa sedih?"

Raka mengangguk.

"Sedikit."

Bima mendekat dan memeluknya.

"Kalau sedih, gambar saja. Kata Nenek Ratna, warna bisa bikin hati enak."

Raka tertawa pelan, tapi matanya basah.

Nenek Ratna.

Bahkan saat tidak ada di ruangan, ibunya masih mengajari anaknya cara menenangkan hati.

Malam itu Raka pulang tanpa membawa Maya dan Bima.

Namun ia membawa buku jadwal les Bima yang diberikan Maya.

Di mobil, ia membuka halaman pertama. Nama guru, jam les, biaya, catatan bahwa pembayaran bulan lalu terlambat dan dibayar Ratna.

Raka menatap angka itu lama.

Untuk pertama kalinya, ia tidak berpikir tentang betapa merepotkannya semua ini.

Ia berpikir, selama ini Mama mengurus semua ini sendirian.

Dan rasa malu itu jauh lebih berat daripada kemarahan.

Raka tidak langsung pulang. Ia duduk di teras rumah ibu Maya sampai azan magrib lewat. Dari dalam, ia mendengar Bima tertawa karena diajak bermain oleh neneknya. Suara kecil itu biasanya membuatnya ingin masuk dan mengangkat anaknya. Hari itu ia tidak berani.

Maya keluar membawa segelas air putih.

"Minum dulu."

Raka menerima gelas itu. "Aku boleh lihat Bima sebentar?"

"Boleh. Tapi jangan janji macam-macam di depan dia."

"Aku tahu."

Maya duduk di kursi sebelah, menjaga jarak.

"Aku dulu sering pikir Mama terlalu ikut campur," kata Raka. "Setiap kali dia tanya tagihan, tanya kerja, tanya kamu, aku merasa dia merendahkan aku."

"Mungkin karena kamu sendiri tahu ada yang belum beres."

Raka mengangguk pelan. "Iya."

Maya menatap halaman. "Aku tidak butuh kamu berubah dalam satu malam. Aku cuma butuh kamu berhenti menyalahkan orang lain setiap kali malu."

Raka menggenggam gelas sampai buku jarinya memutih.

"Kalau aku belajar, kamu masih mau melihat?"

Maya tidak menjawab cepat.

"Aku lihat dulu belajarnya. Jangan minta nilai sebelum ujian."

Untuk pertama kalinya hari itu, Raka menerima kalimat keras tanpa membela diri.

1
adisty aulia
Karakter Ratna kuat meski telat sadarnya🙁🙁🙁
adisty aulia
🌺🌺🌺
adisty aulia
Suka alur ceritanya🌺🌺🌺
Nicky
Ratna memandang mantan suaminya? Raka? ga panggil mama lagi?
Nicky
Arga melamar Ratna lagi? mengajak menikah? bukannya di part² sebelum hamil ini sudah menikah di KUA dan pulangnya mereka yang menghadiri lanjut makan soto. Agak membingungkan ini KK author.
Nicky
ada part yg ga sinkron, mulai dr panggilan ibu yg di beberap bab sebelumnya setelah hasil tes DNA Bagas di ketahui sebagai anak Ratna, sudah panggil ibu, di bab ini malah bukan anak kandung, panggil nama saja dan baru mulai panggil ibu?
Endang Sulistia
pengen tampol keluarga hendra😤😤😤
Hertanti Mandanya Dhafin
novel yg keren saya suka sama bahasanya, authornya hebat 👍
Fia Ayu
Knpa up nya pelit banget, pertama rilis langsung banyak, lagi tegang2nya di gantung 😢
Fia Ayu
Lanjut kak,, penasaran weee
Fia Ayu
Wkwkwk
Fia Ayu
Sokor,
Klo sudah tiada
Baru terasa,,,,,, 💃
Fia Ayu
Tuman😏
Fia Ayu
Mampir,,, baru bab pertama dah bikin nyesek 😢
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!