NovelToon NovelToon
Takhta Berdarah Sang Don

Takhta Berdarah Sang Don

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam
Popularitas:328
Nilai: 5
Nama Author: Daneen_Nis

Raven Alvaro dikenal sebagai Don Mafia paling kejam yang tak pernah memberi ampun pada pengkhianat. Dengan tangan berlumuran darah, ia membangun kekuasaannya di atas ketakutan dan kesetiaan mutlak. Bagi Raven, belas kasihan hanyalah kelemahan yang dapat menghancurkan seorang pemimpin.

Segalanya berubah ketika Aurora Valentia tanpa sengaja masuk ke dalam dunia gelap yang selama ini tersembunyi. Pertemuan mereka memicu rangkaian rahasia, pengkhianatan, dan perang antar keluarga mafia yang telah lama menunggu untuk meledak.

Di tengah hujan peluru dan lautan darah, Raven harus memilih antara mempertahankan takhta yang telah ia rebut dengan nyawa banyak orang atau mempertaruhkan segalanya demi wanita yang perlahan mencairkan hati beku sang Don. Namun, di dunia mafia, cinta memiliki harga yang jauh lebih mahal daripada kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daneen_Nis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 - Tawaran Sang Don

Aurora memukul-mukul kaca mobil dengan panik.

"Lepaskan aku! Kalian tidak berhak menculikku!"

Tidak ada jawaban.

Dua pria berbadan besar yang duduk di sampingnya hanya menatap lurus ke depan. Wajah mereka datar tanpa sedikit pun menunjukkan emosi.

Di kursi paling belakang, Raven Alvaro duduk dengan tenang sambil membaca beberapa dokumen di tablet miliknya. Seolah-olah wanita yang sedang meronta di depannya hanyalah angin lalu.

Aurora menatap pria itu penuh amarah.

"Hei! Apa kau tuli? Aku bicara padamu!"

Raven tetap diam.

Sikap acuh tak acuh itu justru membuat Aurora semakin kesal.

"Aku dokter, bukan penjahat! Kau tidak punya hak membawaku seperti ini."

Baru beberapa detik kemudian Raven mengangkat kepalanya.

Tatapan mata abu-abunya begitu dingin hingga Aurora tanpa sadar menelan ludah.

"Kau selesai?"

Aurora terdiam sesaat.

"Aku akan melaporkanmu."

Raven terkekeh pelan.

"Kepada polisi?"

"Iya!"

"Kau yakin polisi bisa menyentuhku?"

Ucapan itu membuat Aurora terdiam.

Raven kembali menatap layar tabletnya.

"Di kota ini, hukum memiliki harga."

Mobil terus melaju hingga memasuki sebuah kawasan perbukitan yang dipenuhi pepohonan tinggi.

Di balik gerbang baja setinggi lima meter berdiri sebuah mansion megah bak istana.

Puluhan pria bersenjata berjaga di setiap sudut.

Gerbang terbuka otomatis ketika mobil mereka mendekat.

Aurora membelalakkan mata.

Tempat itu lebih mirip markas militer daripada rumah tinggal.

Mobil berhenti tepat di depan pintu utama.

"Keluar."

Aurora menggeleng.

"Aku tidak mau."

Salah satu anak buah membuka pintu mobil.

"Maaf, Nona."

Dengan mudah ia mengangkat Aurora keluar.

"Lepaskan aku!"

Aurora terus memberontak hingga akhirnya Raven berjalan mendekat.

"Cukup."

Suaranya tidak keras.

Namun semua orang langsung berhenti bergerak.

Raven berdiri tepat di depan Aurora.

"Kau akan tinggal di sini."

"Aku bukan tahananmu."

"Mulai malam ini, kau adalah tamuku."

Aurora mendengus.

"Tamumu? Kau menculikku!"

"Kalau aku ingin membunuhmu, kau sudah mati sejak di gang tadi."

Ucapan itu membuat Aurora tak mampu membalas.

Raven berbalik.

"Bawa dia ke kamar."

Dua pelayan wanita datang menghampiri.

Mereka mengantar Aurora menuju lantai dua mansion.

Kamar yang diberikan sangat luas.

Kasur king size, balkon pribadi, lemari pakaian penuh baju baru, bahkan kamar mandi mewah dengan marmer putih.

Namun semua kemewahan itu terasa seperti penjara.

Begitu pintu ditutup, Aurora langsung mencoba membukanya.

Klik.

Terkunci dari luar.

"Brengsek..."

Ia memukul pintu beberapa kali.

"Biarkan aku keluar!"

Tak ada jawaban.

Aurora akhirnya terduduk di lantai.

Air mata kembali mengalir.

Ia teringat ibunya yang pasti sedang mencarinya.

Rumah sakit juga pasti panik karena ia menghilang tanpa kabar.

Sementara itu...

Di ruang kerja mansion.

Leo menyerahkan sebuah map kepada Raven.

"Semua identitas wanita itu sudah kami selidiki."

Raven membuka map tersebut.

Nama: Aurora Valentia.

Usia: dua puluh empat tahun.

Profesi: dokter umum.

Riwayat hidupnya bersih.

Tidak memiliki hubungan dengan organisasi kriminal mana pun.

Leo menghela napas.

"Dia benar-benar orang biasa."

"Itulah masalahnya."

"Maksudmu?"

"Orang biasa lebih sulit dikendalikan."

Leo mengangguk pelan.

"Tapi kalau dia dilepaskan..."

"Semua yang dia lihat malam ini akan menjadi ancaman."

Raven menutup map itu.

"Aku tidak suka mengambil risiko."

Belum sempat percakapan berlanjut, seorang penjaga masuk dengan tergesa-gesa.

"Tuan!"

"Ada apa?"

"Kami menangkap mata-mata di area timur."

Raven berdiri.

"Bawa dia ke ruang bawah tanah."

Beberapa menit kemudian...

Seorang pria dengan wajah babak belur dilempar ke lantai.

"Tuan... aku tidak bersalah."

Raven berjalan mendekat.

"Siapa yang mengirimmu?"

"Aku... aku hanya kurir."

"Tidak."

Pria itu mulai gemetar.

"Aku benar-benar tidak tahu."

Raven mengambil sebilah belati dari meja.

Tanpa ragu ia menusukkan belati itu tepat di telapak tangan pria tersebut.

"Aaaaargh!"

Jeritan memenuhi ruangan.

Raven tetap tenang.

"Kesempatanmu tinggal satu."

Pria itu menangis.

"Aku disuruh Vittorio De Luca! Dia ingin mengetahui jadwal pengiriman senjata!"

Raven tersenyum tipis.

Akhirnya.

Nama itu kembali muncul.

Musuh yang selama bertahun-tahun berusaha menghancurkan keluarga Alvaro.

"Buang mayatnya setelah selesai."

"Tuan... jangan..."

Kalimat pria itu terputus ketika suara tembakan menggema.

Dor!

Tubuhnya jatuh tak bernyawa.

Raven membersihkan darah di tangannya menggunakan sapu tangan putih.

Ekspresinya tetap datar.

Baginya, membunuh bukanlah kemarahan.

Melainkan keputusan.

Di lantai atas, Aurora yang baru saja keluar ke balkon tanpa sengaja mendengar suara tembakan itu.

Tubuhnya membeku.

Kini ia semakin yakin.

Ia benar-benar berada di sarang monster.

Dan monster itu bernama Raven Alvaro.

1
Sunflower_6520
Nurut ae Ra, dr pada nyawa lo melayang...
Sunflower_6520
Itu tandanya Aurora punya hati Raven... emang kayak elo? jangan kan hati, simpati aja kayaknya lo gak punya🗿
Sunflower_6520
Urusan Aurora lah, orang dia kan dokter? dimana" dokter itu tugasnya menyelamatkan, gak mungkin ada orang kritis dia biarin gitu aja
Sunflower_6520
Lama kelamaan sih Aurora bisa trauma...
Sunflower_6520
Tamu modelan apa? ini namanya penculikan 🗿
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!