Setelah menjadi istri Ardiaz Kavian, Tya semakin tahu karakter orang-orang di keluarga besar Kavian. Sebagai seorang insan yang biasa hidup tenang meski ekonomi pas-pasan, kini dirinya harus terbiasa dengan pasang surut permasalahan di keluarga suami yang tidak kekurangan harta tapi miskin ilmu agama.
"Yang penting suami dan mertua baik, yang sirik biarkan saja berisik."
MENANTU IBU 2
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Nia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Gerak Cepat
Hari pertama kembali ke kantor ditemani dengan banyaknya catatan merah yang Diaz rangkum dalam file. Gerak cepat perombakan besar-besaran harus segera dilakukan. Diaz tidak mau berprinsip seperti ayahnya yang menghalalkan segala cara yang penting cuan. Ia berkiblat pada prinsip ibunya yang harus menanamkan bisnis yang halal dan berkah.
Begitu sampai di ruangannya, Diaz menceritakan tentang masalah serius yang ada di pabrik garmen Bekasi pada Jordan sesuai kesaksian Tya dan Bisma. Sekretaris utama merangkap asisten pribadinya itu diminta mempersiapkan ruangan karena mau meeting dadakan.
"Kita adakan meeting jam 11. On time. Ini daftar orang yang harus hadir." Diaz mengulurkan catatan kecil dari saku jasnya yang sudah disiapkan sejak semalam. Hasil evaluasi pribadi terhadap para petinggi dan staf yang ada di perusahaannya. "Sekalian siapkan menu makan siang. Tidak boleh ada yang makan di luar. Setelah ishoma (istirahat, sholat, makan) meeting terus berlanjut."
Jordan membaca dengan fokus penuh. Ada enam orang yang ia eja namanya satu persatu sambil mengingat-ingat jabatannya.
"Nama Badru dari departemen mana ya, Bos? Aku kok nggak kenal ya."
"Dia staf di K3. Aku percaya sama loyalitas dia. Mau aku libatkan investigasi ke garmen."
Jordan manggut-manggut. Tidak semua nama staf dihapalnya di luar kepala. Dengan pulpen yang selalu tersemat di saku kemejanya, ia tandai urutan orang yang harus dihubunginya.
"Soal Pak Husain. Sudah sampe mana investigasinya?"
"Belum lanjut, Bos. Kan holiday dulu. Masa bos aja yang liburan. Aku juga butuh refreshing. Malam pergantian tahun nonton kembang api terus ada adegan kiss dua sejoli. Indah, Bos, tapi bagi mereka. Aku cuma jadi penonton. Tapi sumpah, jadi nyesel. Harusnya lihat kembang api dari kamar hotel aja, malah turun ke pantai. Mataku banyak ternoda lihat adegan dewasa di kiri kanan, depan belakang." Sahut Jordan yang berakhir dengan menepuk jidat. Pengalaman liburan akhir tahun yang ujung-ujungnya curhat.
Diaz tertawa renyah. Lumayan hiburan pagi sebelum meeting serius. "Lo ke Bali?"
"Iya. Tadinya mau ajak ortu dan adik liburan bareng. Tapi mereka nggak mau. Alasannya pasti ramai, mending liburan di hari biasa. Jadilah aku ke Bali bareng teman SMA bertiga.
Skip, Bos. Garing liburannya juga. Aku prepare dulu kalau gitu." Jordan berdiri.
"Bentar. Soal Pak Husain. Dia seminggu yang lalu diundang Ibu ke rumah. Kesempatan buat gue interogasi halus. Gue kirim nama PT di Pekanbaru dan ownernya. Dia bilang kerja di sana. Kayaknya ini bisa mempermudah investigasi lo."
Jordan merogoh saku jas. Membaca chat dari Diaz kemudian mengangguk. Setelah itu pamit keluar dari ruangan. Langkahnya menuju meja staf sekretaris. Ada dua orang perempuan bernama Dona dan Wika.
"Mas Jo, lima belas menit yang lalu ada laporan dari resepsionis. Ada Pak Boby yang ingin ketemu Pak Diaz. Karna masuk daftar nama yang di black list, saya langsung ambil keputusan menolak. Sempat ada ribut kecil tapi udah diurus sama sekuriti," lapor Dona.
"Good job. Sekarang kalian ada tugas baru. Siapin ruang meeting. Bos mau ngadain emergency meeting jam 11. Siapin menu makan siang buat peserta meeting 8 orang."
"Oke, Mas Jo. Ada request menu khusus Pak Diaz?" tanya Wika.
"Ah. Lupa nanya gue."
"Ya elah. Baru juga hari pertama kerja." Dona geleng-geleng kepala.
"Efek terlalu kenyang kemarin liburan atau terlalu kenyang ngejomblo, Mas Jo?" Wika terkikik sambil menutup mulut.
"Wah lo, Wika!" Jordan menunjuk muka stafnya itu. "Kalau ngomong suka bener."
***
Sudah lima hari Tya menyambut Diaz pulang di atas jam sembilan malam. Sang suami lembur karena melakukan perombakan besar-besaran di berbagai lini perusahaan setelah resmi berganti nama. Selalu pulang dalam keadaan lelah dan mudah terlelap setiap kali bermanja minta dipijat-pijat kepala.
Akta perusahaan sudah terbit. PT. Mulia Gemilang Cahaya adalah nama baru yang Diaz pilih dan disetujui Ibu Suri. Menjadi holding company yang menaungi perusahaan tambang emas, garmen yang ada di Bekasi dan Solo, serta Permaisuri Gold. Berdikari tanpa ada lagi kaitannya dengan perusahaan Ayah Hilman.
Meski awalnya Hilman keberatan, namun dengan berat hati menerima keputusan sang anak yang dipercaya paling bisa mengelola perusahaan. Hanya sedih tanpa iri. Satu hal yang membuat hati Hilman tenang, ada Suri yang bisa menjadi penasehat Diaz—dia perempuan yang selama ini tak sekadar istri tetapi juga menjadi teman diskusi tentang bisnis. Ah, nama itu. Lagi-lagi penyesalan timbul bagai sembilu yang mengiris kalbu.
Di awal tahun ini, Hilman juga sedang menata ulang langkahnya. Ia masih punya keinginan untuk rujuk sebelum masa iddah Suri selesai. Hanya saja masih mencari cara dan waktu yang tepat. Pertama harus mencari supporter dulu yang tidak lain adalah Diaz dan Tya. Meski Diaz beberapa waktu lalu justru menyuruh merelakan tetapi semakin ke sini semakan terasa kehilangan dan kekosongan hati. Berbeda saat ia menjatuhkan talak pada Selly. Yang tersisa adalah kemarahan dan kekecewaan.
"Ayah, beneran tega buang aku ke sini?" Leony menatap pintu gerbang yang tinggi menjulang dari seberang jalan. Tulisan nama pesantren terpampang dengan huruf kapital besar dan tegas.
Perjalanan lima jam lebih ditempuh hingga tiba di depan pesantren yang ada di sebuah desa di Jawa Barat. Leony tidak bisa berkutik, tidak ada celah untuk kabur karena sang ayah membawa dua bodyguard dan mengancam akan dicoret dari kartu keluarga yang berdampak pada dicoretnya hak warisan.
Selama ini, Leony biasa bermandi kemewahan tanpa perlu berpikir dari mana nyari uang untuk membeli apa yang diinginkannya. Sang ayah adalah ATM berjalan. Ia tidak mau hidup susah. Ditambah mamanya sama sekali tidak bisa membantu. Buntu. Malah menyuruh turuti saja maunya Ayah agar uang jajan tetap lancar. Mama Selly bilang akan mengusahakan bisa keluar sambil jalan.
"Perbaiki mindset kamu, Leony. Bukan dibuang, kau akan belajar ilmu agama buat bekal hidup agar jadi anak salehah. Ini bukti Ayah sayang sama kamu. Pendidikan akademik di sini juga standar internasional. Terima dengan ikhlas belajar di sini, niscaya kamu akan betah."
Leony tak menjawab. Tetap saja memasang wajah memberengut. Ia menatap pintu gerbang yang terbuka setelah sopir turun dan melapor ke pos jaga. Halaman pesantren yang luas dan bersih mulai dilindas ban. Bangunan tinggi beberapa lantai ada di depan mata.
***
Kabar Leony yang sudah masuk ke pesantren diterima Diaz keesokan harinya. Ayah Hilman menelepon langsung dengan suara dan tarikan napas yang berat. Tersirat adanya kesedihan yang sampai ke telinga Diaz. Sang ayah terang-terangan mengungkapkan sebenarnya hati kecilnya tak tega melepas putri kesayangan tetapi kembali pada tujuannya yaitu berharap pesantren dapat memperbaiki akhlak Leony.
Diaz memilih cukup menjadi pendengar. Sejujurnya ia tak mau tahu dengan update anak-anak Ayah dari istri keduanya itu. Boby yang sudah dua kali datang ke kantor pun hanya bisa sampai resepsionis. Ia malas berurusan dengan si trouble maker yang tidak becus mengelola perusahaan.
"Suami .... Aku udah siap, suami." Tya menghampiri Diaz yang sedang duduk di sofa. Suaranya yang riang selaras suasana hati yang senang karena tiba juga waktunya berangkat ke Bekasi setelah sepekan menunggu. Rencana bertemu teman-teman bisa terealisasi.
Diaz menatap Tya yang senyum-senyum. Sudah berdandan cantik. Tas sudah tersampir di bahu kanan. Tangan kiri memegang gagang koper kecil karena memang merencanakan menginap satu malam.
"Diundur ya, Yang."
"Eh, kenapa?" Senyum semringah di wajah Tya memudar berganti raut kaget.
"Ada yang bangun nih. Charging dulu icibos biar ...."
"Ah tidak-tidak. Udah paripurna gini masa harus mandi lagi. Sini icibos nya aku cubit. Nakal ya." Tya mengangkat dua jari membentuk capit kepiting.
Diaz mengelak sambil tertawa. "Iya-iya. Jadi berangkat. Galak amat dah pawang burung gagak."
pokoknya tiada hadiah tanpa bonus+++😅😅😅
kayak saweran aja Tya......buat direbutkan......kira kira yang beruntung dapat bang Jo siapa yaa 🤔🤔🤔.....ga papa biar dapet asisten nya dia juga ganteng......setia ..... yang pastinya masih jomblo