Milly, seorang pelayan hotel yang polos dan akan berubah menjadi mimpi buruk. Saat membersihkan Penthouse mewah milik Arkananta Mahendra presdir muda yang terkenal kejam, perfeksionis, dan tak tersentuh ia justru menemukan sang Presdir tergeletak tak berdaya akibat racun, tepat di bawah ranjangnya.
Sialnya, Milly memegang gelas beracun itu tepat saat pengawal masuk. Dituduh sebagai pembunuh bayaran, Milly disekap oleh Arkan yang selamat dari masa kritis. Namun, alih-alih menyerahkannya ke polisi, Arkan yang paranoid terhadap musuh bisnisnya justru memanfaatkan kecerobohan Milly.
"Kau punya dua pilihan, Gadis Ceroboh. Membusuk di penjara atas tuduhan pembunuhan, atau menjadi istri kontrakku untuk memancing musuhku keluar."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 20
Deru mobil yang membawa Ibu panti dan anak-anak perlahan menjauh, meninggalkan gerbang besar mansion Mahendra yang kembali tertutup rapat. Kepergian mereka meninggalkan rasa hampa yang mendadak di koridor-koridor luas yang beberapa jam lalu masih dipenuhi jerit riang dan langkah kaki kecil.
Milly berdiri di tepi jendela besar ruang tengah, menatap jalanan kosong di luar. Tangannya memeluk tubuhnya sendiri, sementara kacamata bulatnya sedikit turun ke ujung hidung. Rasa bersalah yang sempat mengendap di dadanya kini makin terasa nyata.
"Mereka akan aman di sana, Milly. Tim Bara sudah memasang sistem pengamanan terbaik sejam yang lalu."
Suara Arkan memecah lamunan Milly. Pria itu berjalan mendekat, melonggarkan sedikit dasinya setelah kembali dari ruang kerja.
Milly berbalik, menatap suaminya dengan senyum getir. "Saya tahu, Arkan. Terima kasih untuk semuanya. Saya hanya... merasa bersalah pada Ibu. Beliau pulang karena ingin memberi kita ruang sebagai pengantin baru. Ibu berharap kita bisa memadu kasih tanpa gangguan, padahal..." Milly menjeda kalimatnya, menunduk menatap lantai marmer. "Padahal kita hanya terikat selembar kertas kontrak."
Arkan tidak langsung menjawab. Ia melangkah maju hingga jarak di antara mereka mengikis, lalu mengulurkan tangan untuk menaikkan kembali kacamata Milly yang melorot dengan gerakan yang sangat lembut.
"Apakah selembar kertas itu masih menjadi batasan bagimu?" tanya Arkan, suaranya terdengar begitu tenang namun sarat akan penekanan.
Milly mendongak, terpaku menatap mata elang Arkan ." Hach..!"
...****************...
Malam pertamanya setelah mansion kembali sepi terasa begitu berbeda. Tidak ada lagi suara rengekan adik terkecilnya yang minta dibuatkan susu, tidak ada lagi obrolan hangat Ibu di ruang tengah. Mansion itu kembali ke wujud aslinya megah, tenang, dan sunyi.
Namun, sunyi kali ini tidak terasa dingin bagi Milly.
Saat ia sedang duduk di sofa ruang santai sambil memeluk bantal, Arkan datang membawa nampan kecil. Di atasnya, ada dua cangkir cokelat hangat yang masih mengepulkan uap manis persis seperti yang dibuat Milly malam sebelumnya.
"Giliranku yang melayani Nyonya Mahendra malam ini," kata Arkan santai, duduk di sebelah Milly dan menyodorkan satu cangkir.
Milly menerima cangkir itu dengan mata berbinar, rasa canggung yang sempat ada di antara mereka perlahan mencair. "Sejak kapan seorang Presdir Mahendra Group mau repot-repot menyeduh cokelat instan?"
"Sejak kamu duduk di sofa ini," sahut Arkan, lalu menyesap minumannya. Ia bersandar pada sofa, menatap Milly yang mulai meminum cokelatnya hingga menyisakan sedikit buih putih di bibirnya.
Tanpa aba-aba, Arkan bergerak mendekat. Bukannya mengambil tisu, pria itu justru menggunakan ibu jarinya untuk mengusap lembut sisa buih di bibir Milly, lalu mengecup sudut bibir gadis itu sekilas.
Milly membeku, pipinya langsung merona merah padam, hampir menyamai warna piyama rajut yang dipakainya.
Kehangatan yang baru saja tercipta di ruang santai itu mendadak menguap tanpa sisa ketika suara ketukan heels yang tegas dan angkuh bergema di koridor marmer. Detik berikutnya, pintu ganda ruang depan terbuka lebar tanpa permisi, menampakkan dua sosok wanita paruh baya dan lanjut usia yang berbalut pakaian sutra mahal serta perhiasan berlian yang berkilau mewah.
Mereka adalah Sofia Mahendra, ibu kandung Arkan, dan Ambar Mahendra, sang nenek sekaligus pemegang matriarki tertinggi di keluarga besar Mahendra.
Milly langsung menegakkan punggungnya, buru-buru meletakkan cangkir cokelatnya yang mendadak terasa dingin. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat, bukan lagi karena kedekatannya dengan Arkan, melainkan karena aura intimidasi yang luar biasa dari kedua wanita itu.
"Arkananta!" suara Sofia memecah kesunyian malam dengan nada melengking penuh amarah. "Jadi begini caramu membalas semua didikan keluarga? Menikah diam-diam di altar tanpa memberi tahu ibumu sendiri, dan membawa gadis panti asuhan berantakan ini ke dalam silsilah suci Mahendra?!"
Nenek Ambar melangkah maju, mengetukkan tongkat berkepala emasnya ke lantai dengan keras. Matanya yang tajam menatap Milly dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan merendahkan yang sangat kentara. "Statusnya bagai langit dan bumi, Arkan. Keluarga kita tidak pernah menerima darah asing yang tidak jelas asal-usulnya untuk menyentuh aset mansion ini!"
Milly meremas ujung piamanya, menunduk dalam-dalam. Kata-kata itu menghunjam tepat di ulu hatinya, mengingatkannya kembali pada kenyataan pahit tentang siapa dirinya yang sebenarnya di mata dunia luar.
Sebelum Arkan sempat mengeluarkan suara dinginnya untuk membalas, sebuah langkah kaki lain terdengar dari balik punggung Sofia dan Nenek Ambar. Seorang wanita muda bergaun desainer ternama melangkah masuk dengan keanggunan yang sempurna. Rambutnya disanggul rapi, wajahnya cantik luar biasa dengan senyuman tenang yang memancarkan aura pendidikan tinggi berkelas internasional.
Dialah Clarissa Gunarto bukan dari faksi perbankan yang baru saja dilikuidasi, melainkan dari cabang utama Keluarga Gunarto yang memegang kendali atas industri baja terbesar di negeri ini. Wanita yang sejak lama disiapkan oleh Sofia dan Ambar untuk menjadi pendamping hidup Arkan yang setara.
"Malam, Arkan," suara Clarissa terdengar begitu lembut, berpendidikan, dan penuh percaya diri. Ia melirik Milly sekilas, bukan dengan pandangan marah, melainkan dengan tatapan kasihan yang justru jauh lebih menyakitkan bagi harga diri Milly. "Tante Sofia dan Eyang sangat mencemaskanmu. Berita di luar sana benar-benar membuat citra Mahendra Group sedikit goyah."
Sofia maju, memegang lengan Clarissa dengan bangga seolah sedang memamerkan sebuah trofi. "Lihat, Arkan! Ini wanita yang pantas berdiri di sampingmu di depan jurnalis dan dewan direksi. Clarissa lulusan terbaik dari London, dari keluarga terhormat, dan tahu persis bagaimana cara membawa diri di dunia kita. Bukan gadis ceroboh yang bahkan tidak tahu cara memegang gelas sampanye dengan benar!"
Ketegangan di dalam ruangan itu mendadak memuncak hingga ke titik beku. Di antara kemarahan keluarga besar dan kehadiran wanita yang dianggap setara, Milly merasa tangannya yang dingin mulai bergetar di balik sofa. Namun, sebelum ia sempat menarik diri untuk mundur, sebuah tangan besar yang hangat dan kokoh tiba-tiba menggenggam jemarinya dengan sangat erat, menolak untuk melepaskannya.
Genggaman tangan Arkan yang erat di jemarinya seolah menyalurkan aliran kekuatan baru ke dalam tubuh Milly. Rasa ciut yang sempat mampir sesaat di hatinya menguap, digantikan oleh harga diri dan jiwa keras kepala yang selama ini menjadi modal utamanya untuk bertahan hidup. Milly menarik napas dalam, lalu menegakkan punggungnya dengan sempurna. Kacamata bulatnya yang sempat melorot dinaikkan kembali menggunakan telunjuknya dengan gerakan yang sangat tenang.
"Mohon maaf sebelumnya, Tante Sofia, Eyang Ambar," suara Milly memecah keheningan dengan nada yang tidak bergetar sama sekali, mengejutkan kedua wanita tua yang mengira gadis itu akan menangis ketakutan. "Saya akui saya memang dari panti asuhan, dan saya mungkin tidak tahu cara memegang gelas sampanye dengan benar seperti yang Clarissa pelajari di London."
Milly sengaja menjeda kalimatnya, lalu menatap lurus ke arah Sofia dengan senyum tipis yang amat tenang. "Tapi setidaknya, di panti asuhan, saya diajarkan satu hal dasar yang sangat penting cara mengetuk pintu dan mengucapkan salam sebelum bertamu ke rumah orang lain pada tengah malam. Ternyata pendidikan tinggi di luar negeri tidak menjamin tata krama dasar itu melekat pada keluarga terhormat, ya?"
"Kau...!" Wajah Sofia seketika memerah padam. Matanya membelalak tidak percaya mendengar kelancangan menantu yang tidak diinginkannya itu.
Nenek Ambar mengetukkan tongkat emasnya lebih keras ke lantai marmer hingga menimbulkan bunyi dentang yang nyaring. "Kurang ajar! Berani sekali kau menceramahi kami tentang tata krama di dalam properti milik keluarga Mahendra!"
"Ini properti milik Arkan, Eyang. Dan saat ini, saya adalah istri sahnya yang tercatat secara hukum," balas Milly telak, tanpa ada rasa takut sedikit pun. "Secara aturan domestik, sayalah Nyonya di rumah ini sekarang. Jadi, jika kedatangan Anda semua malam-malam begini hanya untuk mengukur harga diri saya dengan segelas sampanye, kurasa waktu tidur berharga Arkan sudah terbuang sia-sia."
Clarissa yang sejak tadi berdiri dengan senyum anggunnya mulai merasa terusik. Ia melangkah maju satu langkah, mencoba menggunakan wibawa kepintarannya untuk menekan Milly.
"Milly, bukan begitu caranya berbicara dengan orang tua," ucap Clarissa dengan nada lembut yang dibuat-buat, menatap Milly dari atas ke bawah. "Kamu harus tahu posisi. Pernikahan di dunia kami bukan cuma soal cinta atau status hukum di atas kertas, tapi tentang bagaimana kamu bisa memberikan nilai tambah bagi perusahaan suami kamu. Bisnis baja keluarga saya bisa memperluas ekspansi Mahendra Group. Sedangkan kamu? Keberadaan kamu di sini hanya akan menjadi beban dan santapan empuk bagi rumor media."
Milly menahan tawa, menatap Clarissa dengan pandangan yang membuat wanita bergaun desainer itu mendadak merasa tidak nyaman.
"Nilai tambah?" Milly memiringkan kepalanya sedikit. "Maksudmu, Clarissa yang terhormat, kamu ingin menjadi istri Arkan hanya agar perusahaan bajamu punya investor abadi? Itu namanya bukan pernikahan, tapi merger perusahaan berkedok rumah tangga."
Milly bangkit berdiri dari sofa, tanpa melepaskan kaitan jemarinya dari tangan Arkan yang kini justru menatap sang istri dengan kilat bangga yang tak tersembunyi di matanya.
"Suamiku Arkananta Mahendra bukanlah pria lemah yang membutuhkan gaun desainermu atau pabrik bajamu untuk mempertahankan takhtanya di Mahendra Group," lanjut Milly, suaranya naik satu oktav, terdengar begitu tegas dan penuh kebanggaan atas suaminya. "Jika dia membutuhkan bisnis baja, dia akan membelinya dengan tanda tangannya sendiri dalam waktu lima menit, bukan dengan cara menjual ranjang pernikahannya kepada wanita lain."
"Millyanita!" jerit Sofia yang sudah benar-benar kehilangan kendali atas emosinya. "Kau benar-benar keterlaluan! Arkan, lihat wanita pilihanmu ini! Dia sama sekali tidak punya keanggunan, kasar, dan keras kepala!"
Arkan yang sejak tadi diam memperhatikan singa betinanya mengamuk, akhirnya menegakkan tubuh. Ia menarik Milly sedikit ke belakang tubuhnya, memberi pagar pembatas yang kokoh antara istrinya dan kemarahan keluarga Mahendra.
"Milly tidak kasar, Ibu. Dia hanya mengatakan kebenaran yang gagal disaring oleh logika kalian," ucap Arkan, suaranya dingin membekukan seluruh ruangan. "Dan asal Ibu dan Eyang tahu... jiwa keras kepalanya itulah yang membuatku memilihnya untuk berdiri di sampingku. Jadi, silakan bawa Clarissa dan bisnis bajanya keluar dari mansionku sekarang, sebelum aku meminta Bara mengosongkan seluruh saham keluarga Gunarto di lantai bursa besok pagi."