"Saya bayar Anda mahal bukan cuma untuk mengobati fisik saya, Dok. Tapi juga untuk tanggung jawab karena sudah membuat jantung saya berdegup tidak karuan."
Menjadi dokter pribadi seorang Arkananta Pradipta—CEO arogan yang hobi mengatur—adalah bencana terbesar dalam hidup Ayana. Alih-alih fokus menyembuhkan trauma masa lalu Arka, Ayana malah terjebak dalam pusaran kontrak profesional yang fana, komedi situasi di luar nalar, dan perasaan terlarang yang perlahan mengoyak hatinya.
Saat rahasia kelam masa lalu Arka mulai terkuak, sanggupkah jas putih Ayana bertahan menghadapi dosis cinta yang terlalu mematikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neyrfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5. Ancaman Jarum Suntik
Waktu menunjukkan pukul dua siang lewat sedikit ketika Ayana terbangun karena kepalanya hampir saja membentur sandaran sofa kulit di ruang kerja Arka. Dokter muda itu mengerjap-ngerjap, mengucek matanya yang masih terasa sepet, lalu buru-buru membetulkan posisi kacamata bacanya yang melorot ke hidung.
Ia melirik ke arah meja kerja besar di seberang ruangan. Di sana, sang CEO Agung masih berkutat dengan tumpukan map tebal dan laptop yang menyala terang. Arka tampak fokus, jemarinya menari lincah di atas papan ketik, seolah-olah dia adalah mesin yang tidak punya rasa lelah sama sekali.
"Pak Arka," panggil Ayana dengan suara serak khas orang baru bangun tidur. Ia berdiri, meregangkan otot-otot pinggangnya yang terasa kaku karena tertidur dengan posisi duduk. "Ini sudah jam dua siang. Anda belum makan siang, kan?"
Arka tidak mengalihkan pandangannya dari layar laptop sedikit pun. "Sebentar lagi. Saya harus menyelesaikan analisis akuisisi ini sebelum jam tiga."
Ayana berjalan mendekati meja kerja Arka, lalu melipat kedua tangannya di depan dada. "Sebentar laginya Anda itu biasanya berujung jam lima sore, lalu mag Anda kumat, lalu Anda pingsan, lalu saya yang repot. Begitu terus sampai upin-ipin punya rambut. Sekarang, tutup laptopnya. Kita makan."
Arka akhirnya menghentikan ketikannya. Ia mendongak, menatap Ayana dengan tatapan dingin yang biasa ia gunakan untuk mengintimidasi para manajer divisi yang gagal mencapai target bulanan. "Dokter Ayana, saya sedang bekerja. Uang yang saya gunakan untuk membayar gajimu yang empat kali lipat itu berasal dari hasil kerja otak saya di laptop ini. Jadi, diam dan tunggu di sofa."
Ayana tidak ciut sama sekali. Ia justru maju selangkah, mencondongkan tubuhnya ke depan meja kerja Arka, lalu dengan gerakan secepat kilat, ia meraih layar laptop Arka dan melipatnya hingga tertutup rapat. KLIK.
Arka membelalak. Napasnya tertahan di tenggorokan. "Ayana Sheenaz, kamu—"
"Saya adalah dokter pribadi Anda, Bapak Arkananta Pradipta," potong Ayana dengan senyum manis yang sengaja dibuat-buat. "Dan tugas saya adalah memastikan Anda tidak mati muda karena menimbun asam lambung di dalam perut yang kosong. Karina!" panggil Ayana setengah berteriak ke arah pintu.
Pintu ruangan terbuka sedikit, dan wajah Karina muncul dengan ekspresi cemas. "I-iya, Dokter Ayana?"
"Makanan yang saya pesan lewat aplikasi tadi sudah sampai?" tanya Ayana.
"Sudah, Dok. Ada di pantry luar," jawab Karina patuh.
"Tolong bawa masuk ke sini ya, Suster Karina. Terima kasih banyak," ujar Ayana riang.
Arka memperhatikan interaksi itu dengan kening berkerut dalam. Ia merasa kekuasaannya di lantai lima puluh sembilan ini mendadak dikudeta oleh seorang wanita mungil bertangan dingin yang hobi membawa minyak kayu putih. Bahkan sekretaris setianya, Karina, sekarang lebih patuh pada perintah Ayana ketimbang perintahnya sendiri.
Beberapa saat kemudian, Karina masuk membawa sebuah nampan berisi dua mangkuk makanan hangat dan dua gelas air putih. Begitu nampan diletakkan di atas meja kopi dekat sofa, aroma harum kaldu ayam langsung menyeruak, memenuhi ruangan kerja yang biasanya hanya berbau parfum mahal dan kertas dokumen.
"Silakan dinikmati, Pak, Dok," ucap Karina buru-buru pamit sebelum terkena percikan api kemarahan dari mata bosnya yang masih menatap Ayana dengan pandangan menusuk.
Ayana berjalan menuju sofa dan duduk dengan nyaman di sana. Ia melambaikan tangannya ke arah Arka. "Ayo, Pak Bos. Jangan dipandangi saja meja kerjanya. Marmernya tidak bisa mengenyangkan perut Anda."
Dengan langkah kaki yang dihentakkan sengaja agar terdengar berat, Arka berjalan mendekati sofa. Ia duduk di seberang Ayana, menatap mangkuk di depannya dengan dahi berkerut. "Apa ini? Kenapa warnanya pucat begini?"
"Ini sup ayam kampung tanpa MSG, dengan sayur wortel, kentang, dan potongan dada ayam rebus. Karbohidratnya saya pakai nasi tim yang teksturnya lembut agar lambung Anda tidak perlu bekerja keras untuk menggilingnya," jelas Ayana panjang lebar, bertingkah layaknya seorang ahli gizi profesional.
Arka mengaduk sup itu dengan sendok dengan ekspresi enggan. "Ini makanan orang sakit, Ayana. Saya ini sehat. Saya mau steak atau pasta."
"Anda sehat secara casing-nya saja, Pak, tapi dalamnya sudah keropos karena stres dan pola makan yang berantakan," sahut Ayana kejam sambil menyuapkan sesendok sup ke dalam mulutnya sendiri. "Hmm! Ini enak banget lho, gurih alami dari kaldu ayam kampung. Ayo makan, atau mau saya suapi secara paksa pakai selang NGT yang biasa dimasukkan lewat hidung langsung ke lambung?"
Arka bergidik ngeri mendengar ancaman medis dari mulut Ayana. Ia tahu wanita di hadapannya ini cukup gila untuk benar-benar melakukan apa yang dikatakannya. Akhirnya, dengan sangat terpaksa, Arka menyuapkan sesendok sup dan nasi tim ke dalam mulutnya.
Begitu makanan itu menyentuh lidahnya, keheningan melanda. Arka sempat tertegun. Rasa sup ini... entah kenapa terasa sangat akrab di lidahnya. Hangat, gurih, dan ada sentuhan jahe tipis yang membuat tenggorokannya terasa nyaman.
Sebuah memori lama yang sudah terkubur belasan tahun mendadak melintas di benaknya. Memori tentang seorang wanita cantik berambut panjang yang selalu memasakkan sup serupa ketika dirinya sedang demam di masa kecil. Mama... batin Arka melirih. Kilatan kesedihan yang amat mendalam mendadak melintas di bola matanya yang sehitam malam.
Ayana yang sedang mengunyah wortelnya langsung menghentikan gerakannya. Ia menangkap perubahan ekspresi wajah Arka yang mendadak berubah sendu, sangat kontras dengan keangkuhannya yang biasanya menyebalkan.
"Pak Arka? Kenapa? Rasanya aneh ya? Kurang garam?" tanya Ayana dengan nada suara yang melembut, kehilangan seluruh nada judesnya.
Arka tersentak dari lamunannya. Ia berdeham keras, mencoba mengusir bayangan masa lalu yang kembali mengetuk pintu kesadarannya. "Tidak. Rasanya pas." Pria itu kemudian kembali menyuapkan makanan ke dalam mulutnya dengan gerakan yang lebih cepat, seolah-olah sedang melarikan diri dari emosinya sendiri.
Ayana tersenyum tipis. Ia meletakkan sendoknya sejenak, lalu menatap Arka dengan pandangan hangat. "Makanan yang dimasak dengan benar itu bukan cuma mengenyangkan perut, Pak, tapi juga bisa menenangkan jiwa yang sedang lelah. Kalau Anda sedang banyak pikiran, jangan dilawan dengan menolak makan. Justru tubuh Anda butuh energi untuk menghadapi masalah itu."
Arka menghentikan sendoknya di udara. Ia menatap Ayana, mencoba mencari tahu apakah wanita ini sedang menyindirnya atau benar-benar tulus. Namun, yang ia temukan di sepasang mata bulat Ayana hanyalah ketulusan seorang dokter yang peduli pada pasiennya.
"Kamu... kenapa memilih jadi dokter?" tanya Arka tiba-tiba. Ini adalah pertanyaan pribadi pertama yang ia ajukan sejak mereka menandatangani kontrak gila ini.
Ayana sempat terkejut, namun kemudian ia menyandarkan tubuhnya ke sofa sambil menerawang. "Hmm... kenapa ya? Dulu sih alasannya sederhana. Waktu saya kecil, nenek saya sakit sakitan karena komplikasi diabetes. Setiap kali ke rumah sakit, saya melihat dokter-dokter berpakaian putih itu kelihatan keren banget, seperti pahlawan yang bisa mengusir rasa sakit hanya dengan sentuhan tangan dan selembar kertas resep."
Ayana terkekeh pelan, menertawakan kenaifannya masa lalu. "Tapi setelah saya masuk fakultas kedokteran, saya baru tahu kalau jadi dokter itu fana banget. Sekolahnya lama, biayanya mahal, jam tidurnya hilang, dan yang paling berat adalah... kita harus siap menanggung beban emosional ketika gagal menyelamatkan nyawa seseorang di atas meja operasi."
Mendengar kalimat terakhir Ayana, cengkeraman tangan Arka pada sendoknya mengeras. Gagal menyelamatkan nyawa seseorang. Kata-kata itu bergaung keras di dalam dadanya, memicu debaran jantungnya yang mendadak kembali naik kecepatannya secara tidak normal.
Ayana yang menyadari perubahan raut wajah Arka langsung tersadar bahwa ia baru saja menyentuh area sensitif pria itu lagi. Ia mengutuk mulutnya sendiri yang terlalu blak-blakan.
"Tapi ya sudahlah, yang penting sekarang saya bisa dapat pasien kaya raya yang bayar saya empat kali lipat!" ujar Ayana buru-buru mengubah topik dengan nada kocak yang berlebihan, mencoba mencairkan ketegangan. "Jadi, Pak Bos harus tetap hidup dan sehat walafiat, biar cicilan KPR rumah saya di Bekasi bisa lunas tepat waktu!"
Arka menatap Ayana yang sedang berpose pamer otot lengan yang tipis dengan wajah jenaka. Sudut bibir Arka perlahan berkedut, membentuk sebuah senyuman tipis yang kali ini tidak memiliki unsur sinis atau angkuh sama sekali. Itu adalah senyuman tulus pertamanya setelah sekian lama.
"Dasar dokter mata duitan," gumam Arka pelan, namun ia melanjutkan makannya hingga mangkuk sup itu benar-benar bersih tak bersisa.
Di dalam ruangan yang tinggi di atas langit Jakarta itu, benih-benih hubungan yang aneh di antara mereka mulai tumbuh. Ayana mungkin adalah dokter medis bagi fisik Arka, namun tanpa disadari oleh keduanya, kehadiran dokter rewel penyuka aci ini perlahan-lahan mulai menjadi obat penenang yang paling efektif bagi jiwa Arka yang telah lama terluka dan kesepian.
.
Bersambung.
💪💪