Ketika kepercayaan sudah ternodai, akankah hati masih bisa bertahan?
Sebuah perjalanan cinta dan pernikahan antara Maira dan Agam yang diwarnai kehadiran orang ketiga yang sama sekali tak diharapkan oleh keduanya.
Diantara Maira dan Agam maupun Sita yang merupakan orang ketiga disini, tidak ada yang menghendaki hubungan ini sama sekali.
Lalu bagaimanakah akhirnya hubungan ini bisa terjadi?
Bagaimana Agam berjuang meyakinkan Maira dan merebut kembali hatinya yang terluka? Namun selain itu, mampukah Agam menjaga hatinya setelah menikahi Sita?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sujie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan Maira
"Pak Kasim boleh pergi," Maira berkata datar.
Tak lama setelah pak Kasim pergi, Maira menatap suaminya. Tersirat berbagai perasaan dari dalamnya.
Sementara Sita masih memejamkan matanya, entah sebenarnya dia sudah sadar atau belum. Mungkin tetap terpejam seperti itu juga akan lebih baik dari pada harus melihat kekacauan ini. Ia sudah menahan kegundahan dihatinya selama lebih dari tiga minggu ini.
"Kita harus bicara, Mas." Maira lalu berbalik badan dan meninggalkan kamar Sita. Ia terus melangkah dan naik ke atas menuju kamarnya.
Agam pun tak bisa menolak, juga tak mampu berkata apa-apa lagi. Ia mengikuti istrinya dibelakangnya. Ingin rasanya meraih tangan putih, lentik dan lembut milik Maira yang sedang mengayun seirama dengan langkah kakinya. Tapi Agam tidak mampu, istrinya terasa semakin jauh darinya saat ini.
Sebelum kejadian ini, saat Maira bersedih dialah yang selalu menenangkan dan memeluknya. Tapi sekarang, justru dialah yang menjadi sumber kesedihan wanita itu.
"Sayang ...," panggilnya lirih seraya menatap sayu pada istrinya. Tapi Maira sama sekali tak mau melihatnya, tak mau menatapnya.
"Aku nggak tahu harus bersikap bagaimana, Mas. Tapi yang aku tahu, anak yang ada di dalam kandungan Sita itu butuh pertanggung jawaban." Maira menghela nafas. Ia masih menata hatinya agar tak semakin rapuh.
"Apa maksudmu?" Agam berjongkok dihadapan istrinya yang tengah duduk di tepi ranjang sambil menunduk.
Sejenak Maira mengalihkan pandangannya, ia menatap keluar jendela kamarnya. Menyaksikan langit yang mulai menghitam meski hari baru beranjak siang. Seolah memahami isi hati dan kesedihan Maira.
Hari ini ia dan suaminya sama-sama tidak bisa pergi ke kantor. Entah sampai kapan, mungkin esok atau lusa. Semoga semuanya segera membaik.
Maira kembali menatap suaminya dihadapannya, yang juga menatapnya. Saat mata keduanya beradu, disaat itu pula bibir Maira yang mengatup rapat nampak bergetar. Terlihat guratan perasaan sedih begitu menyelimuti hatinya.
"Kenapa kamu se-ceroboh ini, Mas?" sesalnya, lirih hampir tak terdengar. Pandangannya telah berubah menjadi kabur karena genangan cairan bening menutupi kelopak matanya secara penuh.
"Maafkan aku, Maira. Percayalah, aku tidak merasakan apapun. Aku bahkan tidak mampu mengingatnya. Cintaku dan hatiku hanya untukmu, Maira. Percayalah!" Agam tak kuasa rasanya melihat Maira nya seperti ini.
Ia sungguh menyesali apa yang telah terjadi, terlebih semua itu bukan atas kehendaknya. Ia tak tahu harus mengatakan apa lagi pada Maira.
"Tapi semua udah terjadi, Mas. Sekarang Sita hamil karena perbuatan mu. Bertanggung jawab lah!" Tangis Maira pecah seketika saat mengatakannya.
Ia tak pernah membayangkan nasib rumah tangganya akan seperti ini. Akan ada orang ketiga yang bahkan wanita itupun tak tahu apa-apa. Wanita polos yang harusnya masa depannya masih panjang. Jika wanita itu adalah seorang penggoda, mungkin ini akan jauh lebih mudah bagi Maira. Ia bisa memutuskan segalanya hanya dengan mempertimbangkan perasaannya sendiri. Tapi saat ini ... banyak perasaan yang harus ia pertimbangkan, bukan hanya dirinya sendiri saja.
"Apa maksudnya, Sayang?" tanya Agam memastikan. Matanya menatap tidak mengerti pada istrinya. Bertanggung jawab yang seperti apa yang dimaksud oleh Maira?
"Nikahi dia, Mas!" Ucapan itu lolos dari bibir Maira, tapi disaat bersamaan hatinya terasa begitu nyeri sekali.
"Nggak, Sayang. Mas nggak bisa menikahinya, Mas tidak mencintai Sita. Semua ini hanya kecelakaan saja. Mas bisa jika hanya memberikan jaminan sampai anak itu lahir, tapi tidak dengan menikahinya. Mas tidak mau menduakan kamu," tolak Agam mentah-mentah.
Aku pun tidak ingin di duakan, Mas. Tapi kenyataannya Sita sekarang butuh tanggung jawab atas apa yang terjadi padanya. Bayi itu tidak mungkin harus lahir tanpa seorang ayah.
"Tapi bayi itu butuh ayahnya, Mas," jawab Maira datar.
"Aku bisa bertanggung jawab tanpa menikahinya, bukan? Jika tentang bayi itu, kita bisa merawatnya berdua tanpa Sita."
Plak!!
"Kamu pikir wanita itu barang mainan, Mas? Sita sudah kehilangan kegadisannya, lalu harus menanggung buah perbuatan mu seorang diri dan kemudian anaknya kita ambil? Begitu maksudmu? Kamu pikir Sita tidak punya hati dan perasaan? Tidak punya keluarga yang harus ia jaga perasaannya? Gampang sekali kamu bilang begitu." Maira menatap suaminya dengan penuh amarah.
"Aku pun tidak ingin rumah tanggaku hancur apalagi ada pihak ketiga. Tapi kamu lihat sendiri, sekarang kenyataannya seperti apa? Mau tidak mau, suka tidak suka kita harus lewati semua ini. Itulah kenapa, sekecil apapun perbuatan yang akan kamu lakukan, pikirkan dulu segala dampak yang akan terjadi setelahnya," lanjut Maira.
Agam tertunduk, ia sadar ia telah salah. Semua sudah tidak bisa dikembalikan lagi, waktu tak bisa terulang. Tak terasa air matanya menetes perlahan.
Tring ....
Ponsel Maira berdering nyaring di atas nakas. Ia lalu mengambilnya dan menggeser layarnya. Maira menyeka sisa air matanya, mengatur nafas dan menetralkan suasana hatinya.
"Iya halo, selamat siang Pak Hardi," sapanya pada seseorang diseberang sana.
"Maira, hari ini ada meeting penting dengan klien kita, kenapa kamu belum tiba di kantor sampai sekarang?" tanya pak Hardi.
"Maafkan saya, Pak. Saya sedang tidak enak badan. Maafkan saya juga karena saya tidak sempat memberi kabar."
Gara-gara masalah ini pekerjaannya jadi terbengkalai. Entah bagaimana ia akan menghadapi bosnya itu nanti.
"Baiklah, jika memang kamu tidak bisa ke kantor. Tidak perlu memaksakan diri, istirahat saja sampai keadaann mu membaik," ujar pak Hardi dengan lembut. Bahkan Maira pun sampai mengernyitkan dahinya saat mendengarnya.
Bos paling intoleran itu bisa memakluminya, benar-benar diluar dugaan. Padahal Maira sudah menyiapkan telinganya untuk menerima omelan dan peringatan keras dari lelaki berumur 35 tahun itu.
"Terimakasih, Pak. Saya akan berusaha pulih secepatnya." Pungkas Maira. Setelah itu ia menutup teleponnya.
"Kamu juga sebaiknya memberi kabar pada perusahaan mu, Mas. Jangan karena hal ini, lantas karirmu juga terancam," ujar Maira mengingatkan suaminya dengan nada datar.
"Nanti saja," jawab Agam lesu.
Maira tidak memperhatikan, ia menyingkirkan tangan suaminya dan beranjak akan pergi.
"Mau kemana, Sayang?" tanya Agam.
"Aku mau melihat Sita, dia sudah siuman atau belum. Sekalian mau membuatkannya makanan." Suara Maira terdengar datar dan dingin.
Ia lalu keluar dan kembali ke kamar Sita. Dengan perlahan Maira membuka kamar gadis itu. Dia ternyata sedang duduk bersandar di dinding sambil menatap kosong kearah depan.
"Sita ...," panggil Maira, "Bagaimana keadaanmu?" tanyanya sambil duduk di tepi ranjang Sita.
"Mbak ..., apa Sita gugurin aja kandungan Sita, ya?" tanya Sita yang langsung membuat Maira membelalakkan matanya.
"Apa, maksud kamu? Jangan ngomong yang nggak-nggak, Sita!"
"Sita nggak mau hamil, Mbak. Bapak Sita pasti marah sama Sita. Sita nggak mau, Mbak." Tangis Sita pecah begitu saja. Sejak sadar tadi ia memikirkan hal ini hingga membuat kepalanya terasa sakit.
"Kamu nggak akan menghadapi ini sendiri, Sita. Mas Agam akan nikahin kamu. Jadi kamu jangan takut, mas Agam akan tanggung jawab. Kamu sabar, ya." Maira menenangkan Sita yang menangis sambil memeluk kedua kakinya. Sementara perasaannya sendiri pun tak bisa digambarkan.
gw intip koq gk ad🙃