Rhea Celeste hanyalah mahasiswi jurusan pendidikan biasa yang malas, sampai sebuah panci listrik meledak dan merenggut nyawanya.
Saat membuka mata, ia terbangun di dunia fantasi sebagai Rhea Celeste lain.
Dia adalah seorang archmage berbakat dan guru sihir putra mahkota Kerajaan Sihir. Tanpa ingatan pemilik tubuh asli, Rhea harus berpura-pura kehilangan ingatan dan mencoba melanjutkan kariernya sebagai guru putra mahkota dengan baik untuk hidup damai.
Namun, kehidupan damainya hanyalah angan-angan setelah mengetahui identitas tersembunyi pemilik tubuh aslinya yang lain.
“Rhea-ku, sayang... Kenapa kau melupakanku? Kekasihmu?”
Seorang pria tampan dari kekaisaran suci mengaku sebagai kekasihnya dan menangis.
Sedangkan di sisi lain, muridnya yang keras kepala, merengek, mengajaknya tinggal.
“Guru! Ayo pulang! Buatkan aku kue ulang tahun!”
Lebih baik tidak ikut campur, atau kedua kekaisaran akan musnah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menenangkan
Setelah mendapat ingatan dari tubuh ini, Rhea sedikit memahami alasan kenapa William menyuruh kekasihnya pergi ke Kekaisaran Arcana yang bisa dikatakan sebagai negeri musuh.
Ternyata William tidak berada dalam posisi yang aman di keluarganya. Sebagai cucu dari Raja Kerajaan Senor, salah satu dari tiga kerajaan di Kekaisaran Suci, dia ternyata tidak mewarisi kekuatan suci milik keluarganya dan tidak bisa menerima air berkah untuk menjadi pendeta seperti kebanyakan orang.
Ayah William tidak berhak bersaing dalam perebutan takhta dan mendapat Kadipaten Oravit untuk diperintah sebagai duke.
Rhea mengingat kembali penampilan Duke Oravit yang berada dalam ingatannya. Ayah William itu memiliki rambut pirang yang sama dengan William.
Dengan kata lain, pemutusan kekuatan suci keluarga berasal dari sang duke sendiri, bukan William.
Hingga saat ini Rhea tidak yakin alasan spesifik William menyuruhnya pergi ke Kekaisaran Arcana.
Apalagi ternyata misi yang menjadi beban pikirannya selama ini hanya sebuah bom kosong. Rhea tidak sepolos pemilik tubuh sebelumnya yang tidak paham tindakan-tindakan terselubung William yang sengaja menyeretnya keluar dari Kekaisaran Suci.
Tiba-tiba dia teringat sebuah kejadian manis antara keduanya. Sebuah kejadian romantis antara sepasang kekasih, saling berciuman di bawah sinar rembulan dan kata-kata janji sang pria yang ingin menikahi sang wanita.
Menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan pikiran memalukan itu, Rhea menyadari satu hal yang cukup mengejutkannya.
“Mungkinkah janji pria itu untuk menikahi Rhea Celeste juga hanya kebohongan?” gumamnya dengan mata terbelalak.
Dia mencoba mengingat ekspresi wajah William saat menyatakan keinginannya untuk menikah dan menemukan ketulusan, tetapi juga rasa keengganan bercampur menjadi satu.
Jika kamu tidak menjawab, aku anggap kita tidak berhubungan lagi dan kamu bahagia di sana. Karena itu, tidak perlu menyelesaikan tugas dari ayahku. Hiduplah dan jadilah Archmage kuat di sana.
Rhea membaca kembali pesan terakhir di surat itu dan menekan kata “menyelesaikan tugas dari ayahku.”
“Dia terjerat dengan perintah sang duke.”
Tidak mungkin Duke Oravit tidak tahu konsekuensi menjadi mage di Kekaisaran Suci. Menikahkan putranya dengan Rhea adalah sebuah dosa yang kemungkinan membuatnya harus melepas jabatannya sebagai bangsawan.
“Tapi dari yang kuingat, Duke tidak berniat memisahkan kita berdua sama sekali?”
Rhea menggaruk rambutnya dengan pusing dan tiba-tiba menyadari masalahnya.
“Memanfaatkan Rhea untuk mengembalikan keturunannya. Rambut putih keperakan ini pasti menarik perhatiannya.”
Asal muasal rambut keperakan Rhea memang masih samar. Entah berasal dari mana, namun bagi duke, kemungkinan kecil itu sudah cukup membuatnya memberi harapan.
Kemungkinan masalah inilah yang membuat William tiba-tiba memutuskan menjauhkan dirinya dari Rhea Celeste.
Dia kemungkinan merasa bersalah akan rencana ayahnya untuk memanfaatkan kekasihnya dan memutuskan hubungan, menjauhkan diri mereka terlebih dahulu sampai posisinya aman.
“Aku tidak menyadari sebelumnya, tetapi rambut putih keperakan ini adalah biang masalah,” gumamnya penuh derita.
Di dunianya dahulu, ia memang sedikit terobsesi dengan pria berambut putih dalam animasi-animasi Tiongkok.
Jujur, hal yang paling membahagiakan tentang penampilan Rhea Celeste ini bukan kulit putih atau tubuhnya yang proporsional sebagai wanita. Baginya, rambut putih keperakannya adalah salah satu kebahagiaan menempati tubuh ini.
Namun tampaknya, demi kebaikan dan keselamatan dirinya sendiri, ia harus mewarnai rambutnya dengan warna lain.
Ia tidak berpikir untuk mengubah warna rambut hanya dengan sihir ilusi. Ia ingin mewarnainya dengan cat rambut. Seharusnya itu lebih aman, dan seakan dirinya mewarnai rambutnya untuk fashion, bukan karena bermaksud menyembunyikan identitasnya.
Dan di mana ia menemukan cat rambut? Itu hal yang perlu Rhea pikirkan nanti.
Kembali ke fokusnya sebelumnya.
Rhea bermaksud membalas surat dari William.
Sejujurnya, tidak masalah kalau dirinya tidak berniat membalas surat itu, karena tujuannya membalas hanya untuk mengonfirmasi keinginan William untuk memutus hubungan mereka sepenuhnya.
Namun jika dia tidak membalas sekarang, berarti dia tampak masih menggantung hubungan mereka. Tidak membalasnya akan dianggap sebagai menyetujui permintaan William untuk memutus hubungan sementara. Padahal ia ingin memutus hubungan sial ini selamanya.
“Rasanya aneh menulis surat untuk seorang pria.”
Rhea menunggu tinta itu kering sebentar sebelum melipatnya dan memasukkannya ke amplop surat.
Dia memegang surat itu di tangannya dan sedetik kemudian surat itu menghilang bersamaan dengan debu berkilau yang berhamburan di udara.
Setelah menyingkirkan surat-surat lain, Rhea termenung di atas selimut.
Pandangannya kemudian tertuju pada buku tulis kosong di sampingnya. Dia membuka sampulnya, mengelus bagian dalam kertas putih bersih itu sambil melamun.
“Aku adalah Rhea Celeste, seorang mahasiswa yang tidak sengaja masuk ke tubuh Rhea Celeste lain di dunia lain. Kita adalah dua orang yang berbeda.”
Dia menulis kalimat yang ia gumamkan dengan malu-malu. Untungnya suaranya lirih dan tidak ada seorang pun di sana. Jadi ia melanjutkan menulis dengan serius.
“Sekarang karena kita sudah menyatu menjadi satu ingatan dan tubuh yang sama, untuk memudahkan pengenalan identitas, aku akan memanggil diriku, Rhea Celeste mahasiswa, sebagai Rhea. Dan akan memanggil diri lainnya sebagai Celeste.”
Rhea menulis kalimat itu di kertas dan membacanya terus dengan seksama. Kemudian dia membuat dua kolom vertikal yang terdiri dari kata Rhea dan Celeste.
Kemudian ia menulis apa saja yang disukai Rhea dan yang tidak disukainya, serta apa saja yang disukai Celeste dan yang tidak disukainya.
Ia menulis dua hal itu secara bergantian, dan lama-kelamaan pikirannya yang kebingungan dan gelisah menjadi lebih jernih.
Menutup buku itu, Rhea merasakan kembali kendali tubuhnya. Sekarang, ingatan Celeste ia simpan sebagai sumber pengetahuan saja, dan ia secara dominan menggunakan ingatan Rhea untuk menggerakkan hidupnya.
Rhea melirik jam dan merasakan rasa lengket keringat di kulitnya. Dengan demikian, ia turun dan masuk ke kamar mandi untuk mandi sebentar.
Tepat seperti yang dikatakan Lily dan John, Putra Mahkota dan Chorna kembali pada waktu makan siang.
“Kakak Peri!”
Teriakan Chorna datang lebih dulu sebelum Rhea merasa beban berat menghantam tubuhnya.
Rhea hanya mengelus bulu putih Chorna dan kembali menatap Azz dalam diam.
“Kalian sudah selesai melakukan ‘sesuatu berdua’ itu?” tanya Rhea tanpa menunjukkan rasa tertarik untuk menemukan jawaban.
“...Sudah selesai,” jawab Azz setelah jeda beberapa detik.
“Baiklah, jadi sekarang kita akan makan siang?”
Setelah mendengar nada biasanya, Azz tampak menatapnya dengan heran.
Sepertinya Azz merasakan perubahan emosinya saat bangun tadi dan mungkin terkejut dengan betapa cepatnya emosinya stabil kembali.
Rhea menemukan sebuah botol berisi cairan berwarna emas di tangan kanan putra mahkota dan mengangkat alisnya.
Ia berpura-pura tidak menyadari sesuatu, bertanya dengan polos.
“Yang Mulia, minuman apa itu? Kelihatannya enak.”
Jejak kepanikan melintas di pupil ungu putra mahkota sekilas, sebelum kembali tenang seolah tidak terjadi apa-apa.
“Ini ramuan peningkatan energi untuk meningkatkan kebugaran fisik pria. Rasanya tidak enak,” katanya.
“Yah, tidak perlu menyembunyikannya. Guru tidak akan merebutnya darimu.”
Ia menyadari kebohongan tak masuk akal itu tetapi tidak mengungkapnya di depan Azz, pura-pura mengerti dan mengelus Chorna seolah tidak tertarik lagi.
Rhea memang tidak tahu berbagai jenis ramuan, namun ia sudah menebak botol yang dibawa Azz di tangannya adalah ramuan penenang. Ia mengerti keputusan muridnya, mengingat kondisinya setelah bangun sebelumnya sangat mengkhawatirkan.
Chorna dan Azz saling bertatapan dan membuat kode bahasa yang mereka tahu. Rhea yang merasa tidak nyaman dengan kesunyian itu menarik mereka keluar.
“Ayo pergi makan.”
Ketika dia keluar dan memutuskan menyeret keduanya ke dapur, matanya secara tidak sengaja bertemu dengan mata seorang pelayan dan penjaga di depan pintu.
“Hikh!”
Suara terkejut aneh keluar dari mulut keduanya secara bersamaan. Hal ini mengejutkan Azz dan Chorna di sampingnya.
“Apa maksud kalian?” Azz mengerutkan kening, menegur keduanya dengan tidak senang.
Pelayan pria yang tampak muda itu mundur selangkah dan sedikit bersembunyi di balik baju zirah penjaga.
“Ti-tidak... saya hanya tidak sengaja terkejut.”
Ketika menjawab, matanya samar-samar mencuri pandang ke arah Rhea dengan takut.
Azz memarahinya lagi dan menegur keduanya dengan tegas. Penjaga dan pelayan itu menunduk dalam dan terlihat menyesali perilaku mereka.
Meskipun tidak mengatakan penyebab mereka berteriak, Rhea samar-samar mengerti.
Keduanya kemungkinan mendengar saat dia memecahkan cermin dan pasti sedang mengarang skenario jahat mengenai dirinya.
“Yang Mulia, ayo,” Rhea kembali menghentikan omelan Azz kepada mereka dengan perasaan rumit dan menariknya ke dapur.
Di dapur Utara Istana Rosemaline.
Begitu Rhea mendorong pintu untuk masuk, koki kesayangannya, Kenley, seperti biasa terbaring di sebuah kursi di sudut dengan selimut menutupi tubuhnya.
Ini adalah pertama kalinya Azz melihat sosok koki yang katanya menjadi rekan gurunya untuk memasak resep-resep aneh, dan ia takjub dengan apa yang dilihatnya.
“Maaf, Yang Mulia. Kenley memang seperti itu.”
Ia tidak bisa membuatnya terbangun kecuali ada Lily di sana. Jadi dengan terpaksa Rhea mengajak keduanya pergi untuk makan siang di ruang makan saja.
Sebelum ia sampai di pintu, pria yang tidur nyenyak itu tiba-tiba membuka matanya dan memanggilnya dengan antusias.
“Nyonya Celeste! Akhirnya Anda kemari menemuiku!”
Kenley menghampirinya dengan ekspresi dingin. Tidak ada senyum di wajahnya yang sudah mengerikan karena bekas luka. Namun suaranya tampak antusias. Untuk ekspresi wajah seperti itu, siapa pun yang pertama kali mendengarnya pasti tampak heran.
“Mau makan apa? Lily mengatakan Anda baru bangun dan belum makan berat sejak kemarin. Haruskah saya menyiapkan bubur? Tidak? Bagaimana dengan sup jamur krim keju?”
Ketika Azz menatapnya dengan tertarik, Kenley baru teringat ada orang lain di sampingnya.
“Oh, maaf, Yang Mulia. Saya tidak melihat karena Anda begitu kecil.”