Binar Amanda, seorang gadis yang secara mendadak memiliki banyak hutang setelah sang ayahnya meninggal dunia. dengan tekad untuk menyelamatkan ayahnya dari api neraka dan menghindari dakwaan sebagai anak durhaka Binar pun bertekad untuk melunasi hutang-hutang milik almarhum ayahnya yang kemudian malah mengantarkannya pada seorang Captain Pilot bernama Angkasa Baskoro. Bisakah Binar melunasi hutang ayahnya?
lalu masa lalu seperti apa yang telah terjadi diantara keduanya yang akhirnya menuntun mereka pada sebuah takdir.
Dapatkan jawabannya di Hutang Cinta Untuk Mr.Pilot.
Mari berteman, ig : Risasaputri790
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risa Saputri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Angkasa mengerjapkan matanya ketika seberkas cahaya mulai masuk melalui sela – sela jendela yang tidak tertutupi oleh tirai.
“Jam berapa ini” Tanya Angkasa pada dirinya sendiri ketika matanya telah terbuka dengan sepenuhnya, ditolehkan wajahnya untuk melihat jam yang ada di ponselnya. Angkasa mengeryitkan dahinya ketika melihat angka yang tertera di layar ponsel menunjukkan pukul Sembilan pagi yang menandakan bahwa Angkasa bangun kesiangan
hari ini, melanggar aturan yang telah ia buat untuk dirinya sendiri yaitu bangun tepat waktu jam tujuh pagi.
Angkasa bangun dari posisi tidurnya dan berangkat menuju kamar mandi namun langkahnya terhenti ketika mendengar suara berisik dari arah taman. Kaki yang sebelumnya bersiap menuju kamar mandi pun diurungkan lalu berbelok berjalan ke arah balkon kamarnya. Dari balkon Angkasa dapat melihat bagaimana kedekatan Binar dan
Hadrian yang tengah membantu Binar latihan berdiri.
“Apa aku bilang, kamu pasti bisa kan” seru Hadrian ketika Binar berhasil berdiri tanpa bantuannya.
“Akhirnya, sebentar lagi aku bisa jalan lagi” ucap Binar dengan raut wajah penuh kebahagiaan
“Slow, jangan terburu – buru. Untuk sekarang latihan berdiri saja dulu” Hadrian kembali mendekati Binar dan membantunya duduk kembali di kursi roda.
Sementara itu dari atas balkon Angkasa hanya bisa melihat aktivitas kedua sejoli itu dengan pandangan yang sulit dimengerti.
Angkasa menggeleng – gelengkan kepalanya, “Dua orang ini memang tidak bisa diremehkan, untuk pertama kalinya ucapanku menjadi tidak ada arti” ucapnya ketika sadar bahwa ucapannya selama ini yang menentang keras keberadaan dan kedekaatan antara Binar serta Hadrian tidak diindahkan bahkan terus dilakukan.
“Kenapa mereka berdua bisa terus kompak menentangku seperti itu?” heran Angkasa lagi.
***
Binar dan Hadrian masih asik berbincang di taman membicarakan tentang pekerjaan satu sama lain dan banyak hal lainnya.
“Jadi bagaimana rasanya bekerja sebagai HRD?” Tanya Hadrian
Binar tampak memikirkan sejenak jawaban yang akan dia beri,
“Seru tapi juga melelahkan” jawab Binar
“Pasti sangat melelahkan harus berkutat dengan berbagai sifat yang dimiliki para karyawan, apalagi yang
bermasalah”
Binar tersenyum, “Hmm memang sangat melelahkan, setiap karyawan itu pasti memiliki kehidupan pribadi
masing – masing. Ada yang mungkin sedang bersedih, patah hati atau bahkan stress karena cicilan tapi apapun
masalah mereka perusahaan tidak mau peduli dan menginginkan mereka untuk fokus dan optimal di pekerjaanya. Dan HRD adalah tempat bagi mereka untuk mendapatkan kesehatan mental ketika menghadapi tekanan dari pekerjaan dan kehidupannya. Berita buruknya kami sebagai HRD sebenarnya juga butuh wadah untuk menyalurkan
segala keresahan dan tekanan yang kami terima tapi sayangnya belum ada. Istilah kasarnya kami membantu meringankan beban orang lain dengan menambahnya menjadi beban kami”
“Tenanglah sekarang kamu punya wadah itu”
“Dimana?” Tanya Binar
“Disini, ada aku yang bisa jadi wadahmu. Akan ku pastikan untuk mendengarkan semua keluh kesahmu aku
janji akan mendengarkan semuanya tanpa terlewati jadi setelah ini kamu bisa meringankan bebanmu.”
Binar terkekeh mendengar ucapan Hadrian.
“Berhentilah membual, dan segeralah pulang ke rumahmu atau pergilah bekerja di kantormu”
Suara seseorang dari arah belakang mengejutkan Binar dan Hadrian, disana ada Angkasa yang berdiri tak jauh dari mereka. Berdiri dengan tatapan menuju arah Hadrian seolah – olah mengatakan untuk segera enyah dari hadapannya.
Hadrian tersenyum polos menatap kehadiran Angkasa yang masih tak menyukai keberadaannya di rumah ini.
“Oh hai, good morning. Kamu pasti sibuk semalam sampai bangun kesiangan hari ini” sapa Hadrian pada
Angkasa yang mengingatkan Binar akan kepergian Angkasa semalam hingga pulang larut malam bahkan sudah dapat di katakan hampir pagi. Membuat Binar jadi ikut memikirkan lagi kesibukan apa yang telah dikerjakan Angksa hingga pulang selarut itu.
“Jangan sok tau, Tau apa kamu tentang kegiatanku” sela Angkasa mencoba mengalihkan pembicaraan
“Kamu kan punya kebiasaan untuk disiplin bangun pagi, dan hari ini kamu melanggar kebiasanmu jadi kupikir pasti semalam kamu sedang disibukkan dengan suatu hal sampai bisa bangun kesiangan” jelas Hadrian lagi tidak mengerti bahwa Angkasa tidak mau untuk melanjutkan pembicaraan ini.
“Sudahlah, kapan kamu mau pulang? Sudah kuberi tahu kan kemarin untuk tidak kesini lagi”
“Ahh itu, kenapa tidak boleh? Aku akan terus kesini. Iyakan Binar?” seru Hadrian yang mencoba mendapat pembelaan dari Binar.
“Emmm ohh itu iya, aku terserah kamu saja” jawab Binar tergagap karena kaget setelah sebelumnya sempat
melamun memikirkan kejadian semalam.
“Aihh sudahlah jangan terlalu mengurus tentang ku disini, mending kamu pergi mandi sana. Ohh ya ampun
bahkan tahi matamu masih menempel di mata” ucap Hadrian sembari mendorong Angkasa kembali kedalam rumah sementara Angkasa yang kaget dengan ucapan Hadrian langsung mengarahkan tangannya di wajah untuk mencari apakah benar ada tahi mata di matanya.
“Apa ini? Tidak ada tahi mata disini” seru Angkasa tidak rela pada Hadrian dan mencoba menghentikan Hadrian yang terus mendorongnya masuk ke dalam rumah. Namun Hadrian tidak menggubrisnya dan terus mendorong Angkasa.
“Hei – hei, oke. Oke aku mandi” ucap Angkasa kemudian menyerah dan mengikuti kemauan Hadrian. Sementara Hadrian tersenyum puas saat melihat Angkasa yang berjalan masuk kembali ke dalam rumah.
“Good boy” ucap Hadrian
Binar yang melihat tingkah kedua kakak beradik itupun hanya bisa terkekeh geli.
Hadrian melangkahkan kakinya kembali ke Binar, “Sekarang kita juga ikut masuk, sebelum harimau itu kembali keluar dan mengamuk” ucapnya pada Binar lalu meraih pegangan kursi roda Binar setelah itu mendorongnya masuk ke dalam rumah.
***
Angkasa telah selesai mandi dan berjalan menuju ruang menonton untuk menghampiri Binar dan Hadrian.
Dengan rambut yang masih basah dan acak Angkasa menghampiri dua orang yang sedah focus menonton berita di tv.
“Kenapa masih disini?” Tanya Angkasa sedikit sinis pada Hadrian ketika dia telah duduk di sofa.
“Sudah selesai mandinya, lebih segar kan?” Hadrian balik bertanya tanpa mengindahkan pertanyaan Angkasa sebelumnya.
Binar yang melihat wajah Angkasa mulai tidak bersahabat pun mencoba menjawab pertanyaan Angkasa
sebelumnya.
“Hadrian menunggumu selesai mandi setelah itu baru kembali ke kantornya”
“Baguslah, sekarang aku sudah selesai mandi jadi kamu bisa kembali ke kantormu”
“Baiklah – baiklah, sebenarnya aku masih sangat betah disini tapi aku juga harus bekerja biar tidak dikira makan gaji buta” ucap Hadrian sembari mengangkat kedua alisnya ke arah Binar, dan Binar pun hanya menanggapi dengan senyuman.
Setelah itu Hadrian berdiri dari duduknya dan menghampiri Binar, dielusnya kepala Binar dengan pelan,
“Aku pulang dulu ya, sampai jumpa besok” ucapnya penuh perhatian
“Tidak perlu datang lagi” sanggah Angkasa cepat. Dirinya sudah jengah melihat tingkat Hadrian apalagi tadi, bisa- bisanya Hadrian dengan berani mengelus kepala Binar dihadapannya.
“Tenanglah aku bukan mengunjungimu” jawab Hadrian santai lalu segera berjalan keluar rumah setelah
sebelumnya melambaikan dulu tangannya pada Binar dan Angkasa.
Tbc.
Jangan lupa like, komen dan votenya ya temen - temen ^^
Sebel deh lihat nya