Di sebuah kerajaan yang penuh dengan intrik dan kekuatan mistis pada masa Dinasti Tang, hiduplah seorang pangeran bernama Li Wei. Sejak kecil, Li Wei selalu dianggap lemah dan tidak berbakat dalam seni bela diri, sehingga ia sering dijuluki "Pangeran Cupu" oleh orang-orang di sekitarnya. Namun, di balik penampilannya yang lemah, Li Wei memiliki hati yang baik dan kecerdasan yang luar biasa.
Li Wei tumbuh di istana dengan penuh cemoohan dari saudara-saudaranya dan para pejabat istana. Ayahnya, Kaisar Li, merasa malu dengan kelemahan Li Wei dan lebih mengutamakan putra-putranya yang lain. Namun, Li Wei tidak pernah menyerah dan terus berusaha untuk membuktikan dirinya.
Suatu hari, saat sedang berjalan-jalan di hutan, Li Wei bertemu dengan seorang guru bela diri misterius bernama Master Feng.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizky Mutha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25
Di kamar yang luas dan megah, Putri Lu Zhuang dan selir Xian tengah duduk di dalam kamar yang dipenuhi dengan aroma bunga melati yang harum. Tirai sutra berwarna merah marun menjuntai dari langit-langit, menciptakan suasana yang hangat dan mewah. Raut wajah selir Xian tampak muram mendengar cerita Putri Lu Zhuang yang diusir secara terang-terangan oleh Putri Mei Ling di kediaman Pangeran Li Wei.
"Kurang ajar!" pekik Selir Xian seraya menggebrak meja dengan keras, membuat cangkir teh porselen bergetar. Matanya nyalang penuh kemarahan. Putri Lu Zhuang sedikit terlonjak mendengar gebrakan meja itu. "Berani sekali dia membuat ulah di kerajaanku."
"Lalu, bagaimana sekarang tentang surat perjanjian pernikahan antara aku dan Pangeran Li Wei? Sepertinya, Putri Mei Ling tidak akan mengizinkan Pangeran Li Wei memiliki istri lagi," ucap Putri Lu Zhuang, suaranya bergetar sedikit. "Jika tahu kejadiannya akan seperti ini, lebih baik aku terima saja lamaran Pangeran Zhang dari Kerajaan Yan."
Selir Xian yang masih murka, langsung menengok ke arah Putri Lu Zhuang dan menatapnya penuh emosi.
"Putri Lu Zhuang, kau jangan lupa siapa yang membantu keluarga mu? Jika, kau ingin menikah dengan pangeran dari kerajaan kecil itu, itu artinya kau dan keluargamu harus siap-siap untuk mengembalikan apa yang sudah aku berikan padamu," ancam selir Xian.
Putri Lu Zhuang mengangguk pelan, nyalinya seketika menciut mendengar ancaman selir Xian. Meskipun selir Xian membantu keluarga putri Lu Zhuang, ternyata ada harga yang harus dia bayar.
***
Menjelang pagi hari, langit mulai berubah menjadi biru muda. Udara yang dingin dan segar memenuhi paru-paru, membuat napas terasa lega dan nyaman.
Suara burung-burung mulai terdengar, bernyanyi dengan nada-nada yang ceria dan merdu. Suara itu semakin keras dan jelas, seolah-olah mereka menyambut datangnya pagi hari.
Cahaya matahari mulai muncul di ufuk timur, memancarkan sinar yang lembut dan hangat. Sinar itu membasahi wajah dan tubuh, membuat kulit terasa lebih hangat dan nyaman.
Aroma bunga-bunga dan tanah yang basah mulai tercium, memenuhi hidung dengan bau yang segar dan alami. Aroma itu semakin kuat dan menyenangkan, seolah-olah alam sedang menyambut datangnya pagi hari.
Dengan demikian, pagi hari pun tiba, membawa keindahan dan kesegaran yang membuat hati dan jiwa terasa lebih nyaman dan bahagia.
Putri Mei Ling mengerjap-ngerjapkan matanya yang terasa buram, berusaha untuk mengusir kantuk yang masih membalut tubuhnya. Sinar cahaya pagi yang masuk melalui jendela kamar istana membuatnya sedikit lebih sadar. Ia merasa nyaman dalam pelukan Pangeran Li Wei, yang masih terlelap dengan wajah yang tenang dan damai.
Dengan lembut, Putri Mei Ling mengangkat kepalanya dan menatap wajah Pangeran Li Wei. Ia tersenyum melihat betapa tampan dan menawan wajahnya, bahkan dalam tidurnya sekalipun. Perasaan cinta dan kasih sayangnya kepada Pangeran Li Wei membuatnya merasa bahagia dan beruntung.
Dengan hati-hati, Putri Mei Ling melepaskan diri dari pelukan Pangeran Li Wei dan turun dari tempat tidur. Ia berjalan ke arah jendela dan membuka tirai, membiarkan sinar cahaya pagi memasuki kamar. Ia mengambil napas dalam-dalam, merasakan kesegaran udara pagi dan melihat keindahan taman istana yang terbentang di luar jendela.
Putri Mei Ling tidak menyadari bahwa suaminya sedang memperhatikannya dengan penuh perhatian. Ia terus melakukan gerakan-gerakan kecil untuk melenturkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku setelah tidur. Ia merasa segar dan nyaman setelah melakukan gerakan-gerakan tersebut.
Sementara itu, Pangeran Li Wei terus memperhatikan istrinya dengan senyum lembut di wajahnya. Ia merasa bahagia melihat istrinya yang cantik dan lincah melakukan gerakan-gerakan kecil tersebut. Ia merasa beruntung memiliki istri seperti Putri Mei Ling.
Putri Mei Ling terkejut dan memutar tubuhnya ketika merasakan sepasang tangan melingkar di perutnya. Ia tidak menyangka bahwa suaminya, Pangeran Li Wei, sudah berada di belakangnya.
"Akh! Pangeran, kau mengagetkanku saja. Aku pikir siapa?" ucap Putri Mei Ling dengan nada yang sedikit tinggi dan terkejut.
Pangeran Li Wei hanya tersenyum mendengar celotehan manja istrinya tersebut. Ia merasa gemas melihat reaksi istrinya yang lucu dan polos.
Tanpa banyak kata, Pangeran Li Wei membungkam bibir mungil dan merah alami sang istri dengan ciuman yang lembut dan penuh kasih sayang. Putri Mei Ling merasa terkejut dan kemudian merasa nyaman dan hangat dalam pelukan suaminya.
Ia membalas ciuman suaminya dengan lembut dan penuh kasih sayang. Keduanya terjebak dalam momen yang romantis dan intim, dengan ciuman yang semakin lama semakin dalam dan penuh gairah. Tanpa mereka sadari, momen tersebut di lihat oleh selir Xian dan putri Lu Zhuang.
Selir Xian merasa geram dan emosi melihat adegan romantis antara Pangeran Li Wei dan Putri Mei Ling. Ia merasa bahwa Pangeran Li Wei tidak terlihat seperti pangeran yang cupu dan bodoh.
Sementara itu, Putri Lu Zhuang merasa terkejut dan tidak percaya melihat adegan tersebut. Ia merasa bahwa adegan tersebut tidak senonoh dan memalukan, terutama karena dilakukan oleh Pangeran Li Wei dan Putri Mei Ling di tempat terbuka.
"Bagaimana bisa mereka melakukan hal seperti itu?" pikir Putri Lu Zhuang dengan rasa tidak percaya.
Selir Xian semakin geram dan berpikir untuk melakukan sesuatu untuk menghentikan hubungan antara Pangeran Li Wei dan Putri Mei Ling. Ia merasa bahwa ia harus melakukan sesuatu untuk mempertahankan posisinya dan mengendalikan pangeran Li Wei. Bagaimana pun juga, pangeran Li Wei adalah putra sah dari kaisar Li dan istrinya yang sudah tiada. Jika suatu saat nanti pangeran Li Wei bisa kembali normal, maka tahta kerajaan Tang akan menjadi miliknya. Sebelum hal itu terjadi, selir Xian harus bergerak cepat.
Kemudian, Shilian yang tidak sengaja lewat halaman samping kamar pangeran Li Wei, mengernyitkan dahi ketika melihat ada selir Xian dan putri Lu Zhuang serta para pelayan istana di kediaman pangeran Li Wei. Cepat-cepat, ia menghampiri mereka.
"Salam Selir Xian, putri Lu Zhuang," sapa Shilian. Tetapi, selir Xian dan putri Lu Zhuang seakan tidak mendengar sapaan Shilian, keduanya terus menatap ke arah kamar pangeran. Shilian yang sama penasarannya, mengikuti arah pandang kedua orang tersebut. Shilian membelalak lebar dengan mulut sedikit ternganga, melihat adegan romantis tersebut.
Karena mereka tidak menjawab sapaan Shilian, ide jahil pun terlintas di pikiran Shilian . Ia pun tersenyum jahil dan mendekat ke arah Putri lu Zhuang.
"Wah. Pangeran dan putri sangat romantis sekali, pasti banyak sekali pasangan yang iri melihat keromantisan mereka berdua," ucap Shilian sedikit berbisik di telinganya putri lu Zhuang. Ia sengaja memprovokasinya.
"Apanya yang romantis, wanita itu tidak pantas berada di sisi pangeran ," balasnya dengan nada kesal dan cemburu.
"Tapi, menurutku mereka adalah pasangan yang sempurna," balas Shilian.