Di saat dunia memilih memihak yang kuat, Seline hadir bersama Sistem Balas Dendam untuk menghukum mereka yang lolos dari hukum.
Ia akan merayu pria yang paling dicintai targetnya, meruntuhkan kepercayaan, mematahkan kesetiaan, lalu membiarkan para pelaku menyaksikan kebahagiaan yang mereka bangun di atas penderitaan orang lain runtuh dengan tangan mereka sendiri.
Ia bukan malaikat. Bukan pula iblis.
Ia adalah keadilan yang gagal diberikan dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ucum_alattas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7
“Dimana kau membeli pakaian ini?”
Pertanyaan itu membuat Helena yang berpikir jika dia berhasil menaklukan Maxime berkedip bingung
“Ha?”
Kali ini Maxime mendongak. Matanya menatap Helena tenang. “Brand apa ini? Bisakah kau memberitahuku?”
Helana benar benar tercengang. Ia pikir, Maxime terus terusan menatapnya karena ia terpesona. Ia benar benar tidak menyangka. Maxime akan menanyakan pertanyaan seperti itu.
“Kau ... untuk apa kau menanyakan brand pakaianku? Apa .. kau ingin membelikanku?” tanyanya berusaha berpikir positif.
Baru setelah itu Maxime menyadari kesalahannya. Saat ia melihat Helena muncul dengan pakaiannya ini, ia langsung membayangkan Selina lah yang menggunakannya. Karena itu, ia langsung berpikir untuk membelikan Selina.
“Aku hanya sedikit penasaran,” ucapnya mencoba terdengar tenang.
Namun, ekspresi Helena masih saja kaku. Jantungnya berdebar. Pikiran pikiran buruk mulai menguasainya. Seperti ... apa Maxime memiliki selingkuhan di luar sana?
“Kalau kau tidak mau memberitahuku, tidak masalah. Aku hanya penasaran.”
Helena masih menatap Maxime dengan pandangan dalam. Mencoba tetap tenang, ia menggelengkan kepala.
“Ini dari brand Har***, kalau kau mau, aku bisa memberikan kontaknya padamu,” ucapnya tetap tenang.
Jika Maxime benar benar menghubungi nomer yang ia berikan, ia juga bisa mencari petunjuk, wanita mana yang sedang bermain dengan suaminya yang bahkan belum ia cicipi.
Maxime terdiam. “Oh, terimakasih.”
Helena tersenyum. Ia menatap Maxime yang kembali tenang.
“Kau tidak meminum su*unya? Apa kau tidak menyukainya?” tanyanya mencoba mencari pembahasan.
Maxime mengerutkan kening. Ia menggelengkan kepala. “Aku tidak terbiasa minum su*u di jam seperti ini.”
Helena mengangguk. “Oh, lalu biasanya kau minum apa?”
Maxime mengerutkan kening. Mulai merasa tak nyaman dengan pertanyaan pertanyaan Helena itu.
Helena yang menyadari perubahan ekspresi Maxime meringkukkan jari jari kakinya.
“Maaf, aku terlalu banyak bicara.”
Maxime tanpa sadar mengangguk. “Kembalilah ke kamarmu. Aku tidak suka ada orang lain di ruang kerjaku.”
Helena kembali terkejut. Matanya menatap Maxime yang bahkan tak mengubah ekspresinya saat mengatakan hal seperti dia adalah orang lain.
“Max_”
“Helena!” sela Maxime cepat. Matanya bahkan menatap wanita itu dengan pandangan tajam.
Helena yang belum pernah ditatap seperti oleh Maxime merasakan tubuhnya bergetar. Ia mengangguk, kemudian berdiri.
“Kalau begitu ... aku kembali ke kamar dulu. Kau, cepat selesaikan pekerjaanmu.”
Maxime hanya berdahem. Ia benar benar tak memedulikan Helena.
Baginya, tidak menceraikan Helena, dan membiarkan Helena tetap menjadi nyonya rumah adalah kompensasi besar untuk wanita itu.
***
Di dalam kamar, Selina yang mendengar apa saja yang terjadi di dalam ruang kerja Maxime itu terkekeh. Ia tak menyangka, Maxime akan memiliki sisi seperti itu.
[“Tuan, jika anda melihat wajah Helena saat ini, anda benar benar akan puas. Untuk wanita seperti Helena, ditolak terang terangan saat ia memberikan undangan tersirat benar benar menghancurkan harga dirinya.”]
[“Sepertinya, kekhawatiranku benar benar sia sia. Maxime termasuk pria yang stabil. Jika dia suah menjatuhkan hatinya pada seseorang, dia tidak akan berpaling.”]
Selina tak menanggapi kata kata sistem itu. Tapi dia tahu dengan pasti, untuk wanita seperti Helena, yang digambarkan sistem sudah menghancurkan banyak wanita hanya demi memuaskan egonya tidak akan menyerah begitu saja.
Sebaliknya, sifatnya yang tidak ingin terkalahkan akan semakin membuatnya bersemangat untuk mendapatkan Maxime. Bahkan, jika dengan cara baik tidak bisa, wanita itu akan menggunakan cara cara tercela.
Tok ... Tok ...
“selina, aku masuk.”
Suara ketukan disambut dengan bisikan dari luar membuat Selina terperanjat. Tak lama kemudian, sosok Maxime muncul.
Selina yang melihat itu langsung berdiri. Ekspresi keterkejutan dan kepanikan di wajahnya terlihat jelas.
“Maxime, kenapa kau ke sini? Bagaimana kalau kak Helena curiga?” tanyanya cemas.
Ia bahkan ingin menyeret Maxime keluar, yang ditanggapi Maxime dengan pelukan erat.
“Aku merindukanmu,” bisik Maxime yang langsung mengendus aroma tubuh selina dengan rakus.
Selina yang merasakan bagaimana hidung mancung Maxime yang bergerak di sekitar lehernya menegang.
“Maxime, jangan seperti ini,” bisiknya terdengar gelisah.
Namun, alih alih mendengarkannya. Tingkah Maxime semakin keterlaluan. Hidungnya tidak hanya bermain di leher Selina, tapi juga disekitar tulang selangkanya.
“Max,” lirih Selina dengan suara bergetar.
Mata maxime menggelap. Pelan, ia menjauhkan kepalanya. Masih dengan tangan yang melingkari pinggang Selina.
“Aku menginginkanmu,” bisik Maxime penuh harap.
Mata Selina melebar. “Ini di rumah. Bagaimana jika kakak mengetahuinya.”
Namun, Maxime sama sekali tak peduli. Sebaliknya, ia kembali mendekatkan wajahnya, hendak melabuhkan kecupan di b1bir Selina yang hanya bisa dihindari selina dan berakhir Maxime yang melabuhkan c1iumannya di pipi.
“Max? Jangan seperti ini. Ini akan menyakiti Kakak,” bisik Selina dengan mata berkaca kaca.
Namun, Maxime yang sudah menahan diri sejak tadi menatap Selina penuh keluhan.
“Lalu, bagaimana denganku. Bagaimana dengan perasaanku. Kau hanya memikirkan kakakmu. Tidakkah kau memikirkanku.”
“....” Selina kehilangan kata kata.
“Aku menyukaimu. Kau tahu, bagaimana rasanya aku harus berpura pura di depan semua orang hanya demi menjaga perasaan kakakmu. Dan sekarang, kau juga menolakku. Selina, tidakkan kau mengasihiku? Aku juga tersiksa di sini. Aku ingin, kau memberiku sedikit perhatian yang kau berikan untuk kakakmu itu.”
“Max_”
“Kau memintaku untuk tidak menceraikan kakakmu, dan aku menyetujuinya. Lalu, kenapa kau masih menyiksaku seperti ini?”
Selina yang melihat tatapan mata Maxime yang rapuh itu tertegun. Beberapa hari ini, ia melihat Maxime sebagai pria dingin.
Tak sekali pun ia berpikir Maxime akan bertingkah menyedihkan seperti ini.
“Aku menginginkanmu. Benar benar menginginkanmu. Rasanya, aku akan mati jika tidak mendapatkanmu malam ini,” bisiknya dengan suara tercekat.
Mata selina memerah.
“Selina, izinkan aku menyentuhmu, ya,” bujuknya lembut.
Selina yang mendengar itu menunduk. Ia tak berani menatap Maxime. Namun, Maxime tahu dengan jelas, tindakan Selina saat ini sama saja dengan persetujuan.
“Aku benar benar mencintaimu,” bisik Maxime sebelum melabuhkan kecupan di setiap jengkal wajah Selina.
Selina yang kewalahan dengan kecupan itu hanya bisa berusaha mengimbangi. Merasakan balasan Selina, semangat Maxime semakin membumbung tinggi.
Ia melangkah tanpa ragu ke arah ranjang Selina, melepaskan setiap pakain yang Selina kenakan sabil tak melepas pag*tan bibir mereka.
Merasa kurang, tangan Maxime mulai berkeliaran. Menyentuh apa pun yang bisa disentuh, seolah, hanya dengan sentuhan liar itu, dia bisa memastikan jika tindakannya saat ini nyata.
“Max,” panggil Selina dengan suara bergetar saat Maxime mengungkungi tubuhnya.
Maxime yang mendengar itu menatap wajah wanita di bawahnya dengan tatapan berkabut. Tak membuang waktu, ia juga ikut melepaskan pakaiannya dengan tergesa gesa. Melemparkan pakaian itu di atas ranjang, sebelum kembali menaiki tubuh wanitanya itu.
“Kau siap,” bisik Maxime lembut.
Selina yang mendengar itu memejamkan mata malu. Wajahnya yang sudah memerah karena g41irah semakin memerah, membuat Maxime yang melihat itu tersenyum lembut dan melabuhkan kecupan di pelipis Selina lembut.
“Aku datang,” bisik Maxime sebelum menyatukan tubuh mereka.
Saat tubuh itu menyatu, des4han puas tak bisa ia tahan. Selina pun yang merasakan benda asing yang masuk ke dalam tubuhnya menggigit bibirnya kuat kuat. Tak dipungkiri, ia juga menikmatinya. Namun, seolah menyadari sesuatu, mata selina melebar.
“Max, apa kau sudah mengunci pintu kamarnya?” tanya Selina yang tiba tiba cemas.
Maxime yang sedang menikmati sensasi luar biasa itu mengerutkan kening. Namun, sebelum ia menjawab, suara pintu yang terbuka, diikuti oleh suara Helena membuat tubuhnya menegang. Tidak hanya tubuhnya, bahkan, tempat penyatuan itu terasa mencekiknya, membuat sensasi yang awalnya terasa menyenangkan berubah mendebarkan.
“Selina, apa kau sudah tidur. Bisakah kakak tidur bersamamu,” ucap Helena yang langsung masuk begitu saja ke kamar adiknya.