Hidup Gavin Wijaya berubah total dalam semalam. Mantan "sultan" Jakarta yang terbiasa hidup mewah harus meninggalkan kehidupan glamor dan menjadi buruh migran (TKI) di Taiwan. Dari pesta dan kemewahan, kini yang tersisa hanyalah kerja keras di sebuah pabrik.
Di sisi lain, Tiffany Chen adalah CEO muda jenius yang dikenal dingin dan perfeksionis. Baginya hidup hanya tentang bisnis, angka, dan kesuksesan. Namun sebuah tekanan dari sang ayah memaksanya mencari jalan keluar yang tidak pernah dia bayangkan.
Sebuah pertemuan tak terduga membuat Gavin masuk ke dunia Tiffany. Dengan sebuah rahasia dan kontrak pernikahan, seorang mantan sultan yang kini menjadi TKI mendadak berubah menjadi "suami penyamaran" seorang CEO Taiwan.
Ketika pria santai dan usil harus hidup bersama wanita dingin yang lebih mirip robot pekerja, kehidupan mereka mulai berubah. Akankah pernikahan kontrak ini tetap menjadi sekadar kesepakatan, atau berubah menjadi sesuatu yang tidak pernah mereka rencanakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miko J, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ujian Makan Malam
Suasana di dalam ruang makan yang megah itu seketika mendingin saat para pelayan selesai menghidangkan sup abalon sebagai menu utama. Uap hangat mengepul dari mangkuk porselen putih berhias motif emas, sementara aroma kaldu laut yang kaya memenuhi ruangan. Lampu kristal di langit-langit memantulkan cahaya lembut ke meja makan panjang dari kayu jati yang dipoles mengilap. Meskipun hidangan yang tersaji begitu mewah, tidak seorang pun benar-benar menikmati rasanya. Setiap denting sendok dan sumpit terdengar jelas di tengah keheningan yang perlahan berubah menjadi tekanan.
Tuan Chen meletakkan sumpitnya perlahan, lalu menatap Gavin lekat-lekat dengan pandangan menyelidik khas seorang pengusaha senior yang tajam.
"Gavin," buka Tuan Chen, suaranya berat dan berwibawa. "Sebagai pengusaha muda, bagaimana perkembangan bisnis keluargamu di Jakarta saat ini? Apakah Gǔpiào (saham) dari Wijaya Group sedang stabil?"
Mendengar pertanyaan pertama itu, keringat dingin mulai membasahi punggung Gavin di balik jas mahalnya. Otak bahasa Mandarinnya yang sudah lama tidak digunakan langsung bekerja keras. Masalahnya, di telinga Gavin, kata Gǔpiào terdengar sangat mirip dengan Pìgǔ (pantat).
Gavin meneguk ludah, mencoba mempertahankan topeng karismatiknya dengan senyum tenang.
"Ah, Ayah... kalau soal urusan Pìgǔ... bisnis keluarga kami di Jakarta memang selalu menyukai aset yang ukurannya besar, padat, dan bulat agar untungnya terasa mantap."
"Uhuk! Uhuk!"
Tiffany yang baru saja menyesap teh hangat langsung tersedak. Wajahnya memucat seketika saat mendengar jawaban suaminya yang terdengar sangat tidak pantas di depan kedua orang tuanya. Di seberang meja, alis Tuan Chen langsung bertaut rapat, sementara Ibu Chen ikut menghentikan gerakan menyendok sup. Bahkan dua pelayan yang berdiri di sudut ruangan saling melirik sesaat sebelum buru-buru menundukkan kepala, berusaha tetap menjaga sikap profesional.
Melihat situasi mulai berbahaya, Tiffany dengan otak bisnisnya yang bekerja secepat komputer langsung menyambar pembicaraan.
Maaf, Ayah," potong Tiffany buru-buru sambil memasang senyum formal terbaiknya, meskipun di bawah meja tumit sepatunya sedang menginjak kaki Gavin tanpa ampun. "Gavin belum terlalu lancar berbahasa Mandarin karena dia baru beberapa hari tiba di Taiwan. Mohon dimaklumi jika kosakatanya masih sering tertukar. Yang ingin ia katakan adalah gǔpiào (saham), tetapi yang terucap justru kata lain. Maksud Gavin tadi adalah, portofolio modal Wijaya Group selalu berfokus pada aset sekuritas yang besar, stabil, dan mandiri secara finansial."
Gavin meringis menahan sakit, tetapi buru-buru mengangguk seperti robot.
"Ah, shì de, shì de... ya, benar. Maksud istri saya begitu, Papa Chen."
Tuan Chen terdiam beberapa detik. Ia menerima alasan Tiffany, tetapi sorot matanya masih menyimpan keraguan. Sebagai pengusaha berpengalaman, nalurinya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres pada menantu barunya.
Ia kembali menatap Gavin sebelum melontarkan pertanyaan kedua.
"Lalu bagaimana dengan posisimu di pasar Asia Tenggara saat ini? Apakah bisnis Wijaya Group di sana sedang chī xiāng (sangat populer)?"
Otak Gavin kembali mendadak eror. Di kepalanya, ungkapan chī xiāng terdengar seperti arti harfiahnya: makan dupa atau hio di tempat ibadah.
Gavin berdeham.
"Oh, kalau soal itu... Papa Chen tidak perlu khawatir. Bisnis keluarga saya semuanya berjalan di jalur yang halal dan normal. Kami sama sekali tidak pernah makan dupa pesugihan di kuil demi mencari keuntungan bisnis."
Mata Tuan Chen langsung membelalak. Rahangnya mengeras, sementara Tiffany merasa jiwanya hampir melayang akibat ulah boneka bayarannya itu. Tanpa ragu, ia kembali menginjak kaki Gavin lebih keras dari sebelumnya.
"Maaf, Ibu, Ayah," sahut Tiffany cepat dengan suara yang sedikit bergetar menahan panik. "Sepertinya Gavin kembali salah menangkap ungkapan dalam bahasa Mandarin. Maksudnya, produk dari perusahaannya di Jakarta murni bersaing secara sehat di pasar modern tanpa menggunakan trik kotor ataupun cara-cara yang tidak etis."
Gavin kembali mengangguk cepat dengan wajah pucat, sadar dirinya baru saja membuat blunder kedua dalam waktu kurang dari lima menit.
Tuan Chen masih menyipitkan mata penuh curiga, bersiap melontarkan pertanyaan berikutnya yang jauh lebih sulit. Namun sebelum pria paruh baya itu sempat membuka mulut, sebuah tepukan lembut mendarat di lengan kirinya.
Sang Ibu menggeleng pelan sambil tersenyum anggun.
"Sudahlah, Ayah. Malam ini adalah makan malam keluarga untuk menyambut menantu kita, bukan rapat direksi Chen Corp. Urusan bisnis dan saham bisa dibicarakan lain kali di kantor. Biarkan anak-anak menikmati makan malam mereka dengan tenang."
Mendengar teguran lembut dari istrinya, Tuan Chen akhirnya mengembuskan napas panjang dan mengalah.
Atmosfer tegang yang sejak tadi memenuhi ruang makan perlahan mencair. Para pelayan kembali bergerak menyajikan hidangan penutup dengan langkah tenang, sementara percakapan bergeser ke topik yang jauh lebih ringan. Gavin diam-diam mengembuskan napas lega sepanjang mungkin. Dalam hati, ia bersumpah akan segera belajar bahasa Mandarin begitu kembali ke apartemen. Jika makan malam berikutnya berlangsung seperti ini lagi, ia yakin kontrak pernikahan mereka akan berakhir sebelum genap satu minggu.
Setelah makan malam selesai dan suasana benar-benar mencair, Gavin dan Tiffany berpamitan untuk pulang ke apartemen di pusat kota. Namun saat mereka berada di ambang pintu depan, Tuan Chen menghentikan langkah mereka.
"Tiffany, tunggu sebentar," ujar Tuan Chen sambil menatap putrinya dengan senyum tipis yang sulit diartikan. "Ayah tahu kalian berdua sangat sibuk mengurus proyek Taoyuan dan ekspansi bisnis baru ini. Karena itu, sebagai hadiah pernikahan, besok pagi Ayah akan mengirimkan sedikit hadiah dan juga Pelayan Zhang, pembantu senior tepercaya keluarga kita, untuk tinggal di apartemenmu dan merawat kebutuhan kalian berdua."
Seketika itu juga, senyum formal di wajah Tiffany membeku. Pikirannya berputar secepat kilat.
Pelayan Zhang? Pembantu senior keluarga?
Alarm kewaspadaan langsung berbunyi di dalam kepalanya. Mengingat betapa curiganya sang Ayah sejak kemarin, keputusan mendadak ini terasa sangat janggal.
Bukan untuk merawat kami... jangan-jangan Ayah sengaja mengirim mata-mata agar memastikan kami benar-benar hidup sebagai suami istri? batin Tiffany.
Meski dadanya dipenuhi kewaspadaan, Tiffany tahu ia tidak memiliki alasan logis untuk menolak tanpa menimbulkan kecurigaan.
"Terima kasih atas perhatiannya, Ayah. Kami akan menyambut Pelayan Zhang dengan baik," jawab Tiffany tenang sambil menundukkan kepala.
Tak lama kemudian, pintu sedan mewah tertutup rapat. Mobil hitam itu melaju meninggalkan halaman rumah utama keluarga Chen, membelah jalanan Taipei yang mulai dihiasi cahaya lampu kota. Di balik jendela, gedung-gedung tinggi dan papan reklame berwarna-warni berlalu silih berganti, tetapi tidak satu pun dari mereka berminat menikmati pemandangan malam tersebut.
Keheningan kembali memenuhi kabin mobil.
Tiffany menoleh perlahan, menatap Gavin dengan sorot mata yang sangat tajam.
"Gavin Wijaya," panggilnya pelan namun penuh tekanan. "Mulai besok, saat pembantu itu tiba, di depan matanya kita harus berakting layaknya suami istri. Tapi kamu harus tetap ingat batasan-batasanmu. Hubungan ini hanyalah sebuah perjanjian. Kamu hanya suami bayaran, tidak lebih dari itu."
Ia menepuk pelan tas kerjanya yang berisi kontrak pernikahan mereka.
"Kalau kamu sampai membuat kesalahan sekecil apa pun... mereka akan curiga terhadap hubungan kita, dan semua ini akan hancur."
Gavin hanya bisa melongo menatap bos dingin di sampingnya. Kini ia benar-benar menyadari bahwa pernikahan kontrak mereka baru saja naik ke level yang jauh lebih rumit. Bukan hanya harus berpura-pura menjadi pasangan yang harmonis, tetapi juga harus menghadapi seorang pembantu senior yang kemungkinan besar akan mengawasi setiap gerakan mereka. Tanpa disadarinya, permainan sandiwara itu baru saja memasuki babak yang jauh lebih berbahaya sekaligus penuh kejutan.