***
Bagi Raka, Naya adalah candunya ...
Berbeda dengan Naya yang menganggap Raka sebagai masa lalu yang menyakitkan..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apri Ana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15
Setelah puas memeluk Naya, Kini Naya dan Raka kembali berbaring.
Naya terlihat senang melihat cincin yang ada dijari manisnya itu.
"Apa ini cincin mahal?" tanya Naya.
"Tidak, itu cincin murah, pakailah! aku tau kau tidak menyukai barang mahal." gerutu Raka dan Naya hanya tersenyum.
"Tak bisakah aku bertemu anak anak? aku juga ingin dekat dengan mereka." kata Raka.
"Apa kau bisa berjanji taakan meninggalkan mereka? aku hanya tak ingin mereka kecewa nantinya." jelas Naya.
"Tentu saja aku taakan meninggalkan mereka, kau masih belum mempercayaiku?" tanya Raka.
"Rasanya masih sulit," balas Naya.
"Baiklah baiklah, aku tidak akan memaksa lagi." kata Raka.
"Bukankah kau sudah memiliki anak?" tanya Naya, sejujurnya itu meyakiti Naya mengetahui kenyataan itu tapi Naya juga penasaran tentang kehidupan Raka.
"Ya, dia seorang putri." balas Raka lirih.
"Pasti wajahnya mirip denganmu." kata Naya.
"Tidak, aku tidak tau." kata Raka,
"Apa dia tidak mirip denganmu?" tanya Naya "Pasti dia mirip dengan ibunya?" tebak Naya.
"Sudahlah jangan membahasnya lagi.'' kata Raka.
"Siapa namanya?" tanya Naya.
"Raisa,'"
"Namanya cantik."
"Aku ingin tidur." Kata Raka memeluk Naya erat.
"Kenapa kau tidak pulang?" tanya Naya heran melihat Raka malah tidur disampingnya.
"Tidak, aku hanya ingin tidur disini bersamamu." jawab Raka masih terpejam.
Naya membalikan tubuhnya hingga menghadap Raka. menatap wajah Raka yang masih saja tampan, tidak berubah dan selalu membuatnya luluh.
"Aku tau aku sangat tampan." kata Raka namun dengan mata masih terpejam.
"Kau tidak ingin melakukan nya?" tanya Naya heran, biasanya setiap kali berdua pasti Raka akan menyerangnya.
"Aku sedang menahan nya." kata Raka kini membuka matanya dan menatap mata Naya.
"Kenapa?" tanya Naya heran.
"Rasanya masih menyakitkan mengingat apa yang kulakukan kemarin padamu, aku telah kasar padamu." Kata Raka terlihat sekali dimatanya jika Raka sangat menyesali perbuatannya.
"Ya kau memang jahat." lirih Naya.
"Maafkan aku sayang, aku tidak akan kasar lagi padamu." kata Raka. "Aku benar benar menyesal, sejak malam itu aku tidak bisa tidur dengan tenang mengingat suara jeritan dan tangismu, aku benar benar sudah menyiksamu." kata Raka.
"Maafkan aku sayang, mulai sekarang aku taakan melakukan apapun yang akan membuatmu kembali merasakan sakit lagi." kata Raka "Jadi bisakah kita melupakan apa yang terjadi kemarin dan memulai semua dari awal lagi?" tanya Raka.
Naya hanya mengangguk, ini memang gila untuk Naya karena menjalani hubungan dengan pria bersuami, tapi Raka sudah berjanji akan menikahinya, ya Raka sudah berjanji untuk selalu bersamanya dan Naya bisa melihat ketulusan Raka itu.
Mereka pun akhirnya tidur dan saling memeluk satu sama lain seolah tidak ingin kembali kehilangan lagi.
Dan paginya, Naya bangun namun tak menemukan Raka disampingnya. Ya selalu seperti ini sejak dulu.
Namun Naya paham mungkin Raka tak ingin anak anaknya melihat Raka keluar dari kamarnya jadi dia pulang lebih awal.
Hari ini hari minggu semua anak anak berada dipanti dan libur.
Seperti biasa setiap hari minggu anak anak kerja bakti membersihkan panti mereka. meskipun mereka masih kecil tapi mereka sangat rajin karena mereka berasal dari jalanan membuat mereka terbiasa bekerja keras.
"Mbak mau bikin apa?" tanya Anna yang melihat Naya sibuk didapur.
"Bikinin kue cubit buat anak anak, kasian anak anak dirumah nggak ada camilan." kata Naya.
"Sini mbak, biar aku bantuin." kata Anna.
"Mbak Naya kok kayaknya lagi seneng?'' tanya Anna melihat raut wajah Anna yang sumringah.
"Seneng gimana sih, biasa aja." kata Naya.
Tak sengaja Anna melirik cincin yang melingkar dijari Naya.
"Cieee udah dikasih cincin." kata Anna menggoda Naya.
"Apa sih An," Wajah Naya sudah memerah malu melihat Anna tau tentang cincin nya.
"Mbak sekedar saran sih ya, Mbak Naya jangan terlalu berharap deh sama Raka, takutnya dia kayak dulu lagi, Aku cuma nggak mau mbak Naya sakit lagi." ungkap Anna hati hati takut Naya tersinggung.
"Iya An, makasih udah perhatian sama aku." Balas Naya.
Naya cukup tau bagaimana kekahwatiran Anna untuknya mengingat dulu hanya Anna yang menemaninya melewati masa masa buruknya.
.....
Sementara itu Raka yang juga menikmati masa liburan nya dirumah saja terlihat suntuk, ingin rasanya Raka pergi kepanti dan bertemu anak anak namun Naya masih melarangnya, terpaksa ia urungkan niatnya itu.
Raka mengambil ponselnya untuk melakukan videocall pada Raisa putrinya.
"Haloo papa." suara Cepreng Raisa membuat Raka semakin rindu pada putrinya itu.
"Halo Raisa sayang, kangen papa nggak?" tanya Raka yang setiap hari selalu menyempatkan untuk video call Raisa.
"Kangen, papa kapan pulang?" tanya Raisa.
"Sabar yaa Raisa sayang, kalau urusan Papa udah selesai pasti langsung pulang trus ngajak Raisa jalan jalan." kata Raka.
Wajah Raisa berubah sumringah "Bener kan? Papa nggak bohong?" tanya Raisa.
"Iya dong sayang, ohh ya Mama mana?" tanya Raka.
"Mama kerja." jawab Raisa polos terdengar suara Rena mengingatkan Raisa namun suaranya sedikit berbisik.
"Kasihkan hpnya sama mbak Rena dong sayang, Papa mau ngomong." kata Raka.
"Iya Tuan.." tampak suara Rena terlihat ketakutan.
"Nggak usah ngajarin Raisa bohong cuma karena kamu takut sama Clara, tanpa kamu kasih tau pun saya sudah tau kalau Clara nggak pernah pulang." jelas Raka pada Rena.
"Maafkan saya Tuan." jawab Rena terlihat ketakutan.
"Ya sudah jaga Raisa baik baik selama saya pergi." kata Raka memutuskan sambungan telepon nya.
Raka emosi pada Clara, sampai kapan Clara akan menelantarkan anaknya seperti ini.
"Nathan..." Panggil Raka, Tak berapa lama Nathan terlihat memasuki ruangan Raka.
"Tuan memanggil saya?" tanya Nathan.
"Ya, bagaimana apa orang itu mengabarimu lagi tentang Clara?" tanya Raka.
"Ya Tuan, Non Clara selalu datang keclub malam dengan pria yang sama dan tak jarang mereka menyewa hotel untuk menginap." Jelas Nathan.
"Bagus, pastikan dia selalu memotret apapun yang yang Clara lakukan." perintah Raka.
"Baiklah Tuan," balas Nathan.
"Kau akan segera berakhir Clara." kata Raka tersenyum menyerigai.
"Tuan, apa malam ini Tuan akan kepanti lagi menemui Non Naya?" tanya Nathan hati hati.
"Tentu saja, kenapa? apa kau tidak mau ikut?" tanya Raka.
"Tidak Tuan, tentu saja saya harus ikut, jika saya tidak ikut siapa yang akan menyetir didepan." kata Nathan tersenyum.
"Aku hanya alasan saja, kau pikir aku tak tau apa yang kau lakukan pada wanita hypersex itu setiap malam!" dengus Raka yang pernah memergoki keduanya dikamar belakang.
"Maafkan saya Tuan, saya tidak bisa menahannya." kata Nathan tidak enak.
"Ya, tidak masalah karena kalian berdua sudah membantuku kembali dekat dengan Naya." kata Raka membuat Nathan tersenyum senang.