Apa jadinya bila seseorang menawarkan kita untuk menikahi putrinya secara tiba-tiba??
Armand Wicaksana secara sadar menerima pernikahan dengan seorang wanita yang tengah hamil oleh kekasihnya yang tidak mau bertanggung jawab.
Meskipun sang istri, Carissa Wilhelmina selalu bersikap tidak baik padanya.
"Jika anak ini lahir, aku ingin kita bercerai" ucap Carissa.
"Terserah saja, aku ikuti permainanmu" balas Armand acuh sembari berjalan meninggalkan Carissa.
Akankan mereka bisa menjalankan rumah tangga yang sesungguhnya?
Ataukah justru Armand menyerah dengan sikap Carissa???
Yuk kepon novel baruku...
Happy reading....😘😘😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Oktana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Abimanyu Yang Kesepian
Subuh itu Azura sangat rewel, padahal Indah akan berangkat ke pasar untuk berjualan. Entah kenapa anak itu tidak mau Indah tinggal. Dengan terpaksa Indah membawanya berjualan di pasar. Walau sempat Armand larang, tetapi Azura tetap tidak mau berpisah dengan Indah.
"Mand bawakan selimut dan buatkan susu dua botol" perintah Indah.
Armand langsung gerak cepat membuat susu. Tangannya sudah lihai menuang susu ke botol karena sudah terbiasa.
Indah pun berangkat menuju pasar bersama Armand.
"Waduh Bu Indah bawa siapa ini?" tanya seorang pedagang sayuran.
"Bawa cucu Mpok Dinar, tau nih rewel banget gak mau di tinggal" jawab Indah.
"Kok gak bilang sih Mpok udah punya cucu? Malu deh belum kasih hadiah" ucap Dinar manyun.
"Hehe.. Iya Mpok maaf, saya memang gak ngomong-ngomong takut ngerepotin semua orang" balas Indah.
"Repot apaan sih Bu" ucap Dinar.
"Bayi gemoy siapa ini? Lucu sekali kok di bawa ke pasar sih? Bu, selipin bawang putih sama peniti, di pasar kan tempat kotor Bu, Bayi segini sedang wangi-wanginya" ucap pedagang ikan mengingatkan.
"Ya ampun kok saya bisa lupa" balas Indah sembari menepuk jidatnya.
"Nih pakai peniti punya saya" ucap pedagang ikan itu sembari memberikan peniti pada Indah.
Indah menurut saja, walaupun kata orang ini mitos, tetapi untuk jaga-jaga tidak ada salahnya.
Indah pun melayani pembeli sembari menggendong Azura. Bayi lucu itu tidak rewel sedikitpun sampai dagangan Indah habis.
Kabar Indah membawa cucunya ke pasar cepat sekali tersebar luas di kalangan pedagang, mereka pun berbondong-bondong ke kios Indah untuk melihat Azura.
"Loh rame-rame ada apa?" tanya Indah heran karena teman-teman di pasarnya menghampiri kiosnya.
"Mpok gimana sih punya cucu gak bilang-bilang ah" omel seorang pedagang ikan asin.
"Saya memang sengaja gak ngasih tahu, biar gak ngerepotin semuanya" balas Indah.
"Ya Allah lucu sekali. Sehat-sehat ya Nak. Ini ada hadiah buat kamu" ucap seorang pedagang baju muslim. Ia memberikan uang pada Azura.
"Umu Rosidah terimakasih loh, jadi ngerepotin" ucap Indah malu-malu.
"Ngomong apa sih kok ngerepotin, gak sama sekali Bu" balasnya.
...
Pria bertubuh tegap itu masuk kedalam ruang kerja Abimanyu di rumahnya sembari membawa sebuah map.
"Ini Tuan hasil pencarian kami" ucapnya sembari menyerahkan map itu pada Abimanyu.
"Baiklah Roe, kau boleh pergi! Uang nya akan saya transfer sekarang ke rekening kamu" ucap Abimanyu sembari mengibaskan tangannya.
Pria yang bernama Roe itu langsung keluar dari ruang kerja meninggalkan Abimanyu yang kini memandang map dengan tatapan dingin.
Tangan besarnya membuka amplop itu, memindai isinya yang memperlihatkan poto sang putri yang sedang berada di atas catwalk.
"Ini alasan kamu meninggalkan suami dan anakmu?" hembus kasar nafas Abimanyu terhempas ke udara.
Jiwa dan hati pria itu terasa kosong, dingin dan mencekam. Ia seperti kehabisan kebahagiaan dalam hidupnya bahkan untuk tersenyum pun rasanya sangat sukar sekali.
Walaupun ia adalah pria dengan sejuta kekayaan, tetapi Abimanyu merasakan itu sebagai fatamorgana saja dan tidak membuat ia menghangat, apalagi selama pelariannya, Carissa tidak pernah sekalipun menghubunginya menanyakan sekedar kabar dirinya.
"Kau mau melupakan semuanya Carissa? Kau tidak bisa seperti itu, Papi yakin kau tidak akan selamanya menjadi model, suatu saat kau pasti kembali pada kehidupanmu" ucap Abimanyu dengan nada marah.
Tangan besarnya kemudian melihat satu lembar yang bertuliskan alamat apartemen Carissa di Paris.
Abimanyu pun segera menghubungi Asisten Pribadinya.
"Djohan, minggu depan kita ke Paris tolong siapkan semuanya" perintah Abimanyu.
Tak banyak bertanya Djohan langsung mematuhi perintah Abimanyu.
"Baiklah Tuan" hanya itu yang terucap di mulut Djohan.
Pria itu tak akan membantah apapun ucapan dari Tuannya, karena ia tahu bahwa Abimanyu tak suka di bantah.
Mengingat tentang Carissa, tentunya Abimanyu mengingat sang cucu yang tidak pernah ia akui dan terima. Kadang hati Abimanyu terpanggil untuk sesekali menengok sang cucu ke rumah Indah, tetapi Abimanyu selalu berperang dengan egonya yang tinggi apalagi dirinya sudah berkata sumpah serapah sewaktu Armand ke rumahnya untuk.meminta tanda tangan hak kuasa adopsi Azura sepenuhnya.
Flashback 1 tahun yang lalu.
Setelah kedatangan Armand dan Indah untuk pertama kali ke rumah itu untuk menyerahkan Azura dan berakhir dengan penolakan, Armand kembali lagi satu bulan kemudian tetapi hanya seorang diri membawa surat dari pengadilan dan dinas sosial mengenai hak adopsi untuk Azura.
"Mau apalagi kau kemari?" tantang Abimanyu.
"Saya kemari hanya ingin meminta tanda tangan anda sebagai keluarga anak saya untuk dokumen kelengkapan adopsi" jawab Armand sembari memberikan surat-surat itu.
Tak banyak bertanya, Abimanyu segera membubuhkan tanda tangannya pada kertas-kertas yang berlandaskan hukum itu.
"Kenapa harus adopsi, tanpa ada dokumen pun saya tidak akan ambil anak haram itu. Keturunan Abimanyu akan lahir dalam lingkup pernikahan yang sah" balas Abimanyu tak berperasaan.
"Anda itu memang si tua yang tak bernurani, Tuan! Dengar Taun Abimanyu, saya sengaja memperkuat landasan hukum akan anak saya karena saya yakin suatu saat anda dan Carissa pasti ingin mengambil dia dari saya. Dan kalau sampai itu terjadi, demi tuhan saya tidak akan tinggal diam, saya akan lawan karena anak ini anak saya.. Permisi" sesudah mengatakan itu, Armand segera pergi dari hadapan Abimanyu.
Flashback Off...
"Taun, makan siangnya sudah tersedia. Silahkan" ucap pembantunya.
Abimanyu hanya mengangguk! Bahkan untuk makan pun ia merasa tidak bernafsu tetapi ia tetap keluar dari ruang kerjanya, duduk di kursi makan lalu mengambil nasi sedikit tanpa menyentuh lauknya.
Sesudah makan ia pergi ke suatu tempat untuk menenangkan pikirannya.
Di tempat lain, Indah seperti biasanya akan membawa Azura jalan-jalan setiap sore karena anak itu sangat suka udara terbuka. Jika satu hari saja Azura tidak di ajak jalan-jalan ke taman kota, maka batita gemoy itu akan merajuk pada nenek dan papanya.
"Mand bawakan stroller Azura kemari" perintah Indah.
"Ke taman lagi?" tanya Armand.
"Iya lah kemana lagi Mad, anakmu kan memang hobi jalan-jalan sore!" jawab Indah.
"Neneneneenne.. Tatatatatatatata" sahut Azura sembari memuncratkan air liurnya membuat Armand sangat gemas pada putrinya.
"Makin cantik dan makin pintar saja putri kecil Papa ini apalagi giginya sudah tumbuh dua" ucap Armand sembari mencubit pipi gemoy Azura dengan gemas.
"Ibu pergi dulu ya Mad, jaga rumah" pesan Indah.
"Aku ikut Bu, sesekali ikut jalan-jalan sore" ucap Armand.
"Yasudah ayo, kamu kunci pintunya" balas Indah.
Sepanjang perjalanan menuju taman kota yang tidak begitu jauh dari rumah Indah, Armand tak henti-hentinya mengajak Azura mengobrol walau nyatanya batita itu tidak mengerti apa yang di katakan olehnya.
Mereka pun sudah sampai di area taman kota yang sudah mulai ramai orang-orang yang berkunjung dan yang berjualan. Armand mengajak Indah duduk di sebuah kursi taman panjang yang hanya di duduki oleh seorang pria paruh baya namun ia duduk membelakangi Armand karena posisi kursi itu depan belakang.
"Huuuh ademnya" ucap Indah sembari mendudukkan bok*ngnya diatas kursi yang terbuat dari besi itu.
"Azura sayang senang jalan-jalan rupanya ya, anak Papa ini memang calon petualang" celoteh Armand.
"Calon petualang sejati yang penting jangan seperti ibunya yang berpetualang dan tidak kembali sampai melupakan anak sendiri" seloroh Indah yang tiba-tiba ingat pada Carissa.
"Bu sudahlah jangan di bicarakan terus gak baik" nasihat Armand.
Dari kursi belakang, seseorang mendengarkan obrolan Indah dan Armand mengernyitkan keningnya, ia merasa hapal dengan suara itu. Ia pun berbalik ingin melihat orang di belakangnya.
"Kalian" ucapnya menunjuk ke arah Indah dan Armand.