Belle Ursula yang waktu itu masih pelajar di sekolah menegah atas kelas dua belas di sukai oleh Lettu Harrel Jitro karena kecantikan dan kelincahan Belle di lapangan voli. Pertemuan itu, membuat Harrel berusaha mendekati Belle yang masih duduk di kelas dua belas. Mereka perpacaran. Ketika Belle lulus seleksi kuliah di fakultas kedokteran pada salah satu universitas negeri di Jogja. Cinta mereka di uji waktu dan jarak. Apakah cinta pertama Belle akan abadi??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengorbanan
Situasi di kota Mulia semakin tidak kondusif, akibat ulah oknum yang tidak bertanggung jawab. Pengamanan di perketat. Dan aparat polisi maupun tentara sedang melakukan olah tempat kejadian. Untuk menangkap siapa pelaku di balik penembakan itu.
Sesuai yang di perintahkan Hugo, Beni langsung membawa pulang Belle ke markas. Yeni yang ada di toko yang sama kembali melihat perhatian Hugo kepada matan pacarnya. Dan Yeni yakin lewat penglihatannya tadi, Hugo dan Belle sudah jadian lagi.
Belle langsung di tempat di kamarnya. sebelumnya dia mengatur belanjaan yang baru di beli. Tiga jam berlalu, Hugo belum kembali. Dan di luar ter dengar suara tembak menembak. Belle kaget. Dia bangun dan mengintip di jendela kamar, ternyata semua tentara di markas sudah siaga satu. Dia keluar kamar.
"Dokter mau kemana??"
"Komandan??"
"Masih di lokasi kejadian. Dokter aman disini."
Belle kembali di perintahkan oleh Beni untuk istirahat. Namun dia tidak bisa tidur nyenyak. Korban tembak malam tadi yang di bawa ke klinik, kondisinya sudah baik - baik. Dia sudah sadar. Jam lima subuh banyak korban datang. Belle yang bukan punya sif wajib ke klinik.
Kebanyakan dari mereka luka terkena senjata tajam tradisional. Bahkan ada yang anak panah masih tertancap di lengannya. Untung dokter Joe adalah dokter bedah. Operasi pun terjadi. Sedangkan yang luka sobek. Akan di tangani langsung oleh Belle di bantu Jefry. Sedangkan dokter Joe dan Julius yang melakukan operasi bersama Ali dan Rusman.
Pukul tujuh satu korban datang dan betapa kagetnya melihat korban itu adalah Hugo. Dia mengalami luka tembak di bahu kirinya. Banyak pendarahan. Hugo dibawa ke klinik diantar oleh Kapten Yeni Christin.
"Tenang Belle."
"Tolong selamatkan dia dokter." Belle memohon kepada ketua timnya dokter Joe Timotius spesialis bedah.
"Pasti, saya akan melakukan yang terbaik."
Hugo sudah di dorong ke ruang yang di gunakan untuk operasi. Dan Belle ikut membantu dokter Joe bersama dokter Julius dalam operasi ini. Golongan darah Hugo adalah Golongan darah B. Dan di markas anggota yang memiliki golongan darah itu tidak ada, kebanyakan dari mereka golongan darah O. Belle tidak sangka bahwa golongan darah Hugo sama dengan dia. Maka Belle yang menjadi pendonornya.
Belle berada di tempat tidur sebelah darahnya sedang di ambil untuk membantu Hugo. Operasi berjalan lancar, sepihan peluruh sudah di angkat dan pendarahan tidak ada.
Dokter Joe sudah meminta tolong, bagian dapur menyiapkan kacang hijau rebusan. Dan Beni sudah mengambil susu di kulkas di rumah komandannya. Beni tahu, bahwa dokter Belle yang memberi darahnya menolong komandan mereka.
"Belle, kamu pahlawan. Kalau saja tidak ada kamu, mungkin komandan hanya namanya saja yang kita kenal." Dokter Joe dan Julius sedang memeriksa kondisi dua pasien mereka. Karena Belle sekarang sangat lemas. Dan mereka harus mengembalikan stamina Belle. Jefry dan Beni yang ada di ruangan ini. Mereka di tugaskan menjaga dan memantau perkembangan dua pasien ini.
Belle sadar namun sangat lemas. Sedangkan Komandan Hugo belum juga sadar. Satu jam kemudian Hugo sadar, sedangkan Belle sedang tertidur.
"Komandan....." Beni yang melihat ada pergerakan dari komandannya langsung meminta ners Jefry melihat. Langsung mereka memanggil dokter Joe.
"Kondisi komandan bagus. Puji Tuhan. Tinggal pemulihan saja. Karena tidak ada keluhan. Bagaimana keadaan Dokter Belle, Jef??"
"Belle kenapa??"
"Dokter Belle yang memberi darahnya buat menolong komandan." Beni menjawab.
"Benar dokter??"
"Iya, hanya di markas ini dokter Belle yang golongan darahnya sama dengan komandan." Hugo mau ke Belle namun di larang oleh dokter Joe. Akhirnya tempat tidur Belle di memepetkan ke tempat tidur komandan. Sesuai permintaan komandan.
Hugo membelai rambut kekasihnya itu. Ketika tahu banyak sekali darah yang di sumbangkan untuk kesembuhan dirinya. Air mata Hugo, keluar di pelupuk matanya.
"Ben, apa yang di butuhkan oleh dokter Belle atas perintah dokter Joe atau dokter Julius kamu penuhi."
"Siap komandan."
Sepuluh menit kemudian Jefry datang membawa kacang ijo lagi dan susu.
"Apa itu Jeff??"
"Kacang ijo dan susu."
"Beni lihat persediaan di dapur?? Kamu pergi beli susu itu lagi."
"Siap komandan."
Hugo melihat Jefry sedang menyuapi rebusan kacang ijo dan susu lagi. Rencananya siang ini Belle akan makan ayam dan sayur bayam merah. Tadi Jefry sempat ke pasar membeli bahan - bahan itu. Ners Jefry sangat perhatian kepada Belle, karena dia sudah menganggap Belle seperti kakaknya sendiri. Sebagai anak yatim piatu, Jefry sangat di sayang oleh Belle.
Kondisi Belle memang sedikit menurun, penglihatan dan organ motoriknya melemah, karena darah yang di ambil banyak. Resiko yang besar. Hugo mendengar pengorbanan Belle bagi dirinya, membuat laki - laki macho ini menangis. Dan semua yang ada di ruangan itu melihat.
"Sayang.... Ade....." Belle mendengar suara Hugo.
"Kak, puji Tuhan kamu sudah sadar."
"Saya mau kesana dokter, biar saya memeluk dia."
"Tetapi komandan baru selesai operasi."
"Saya bisa, saya bisa."
Hugo turun dan menuju tempat tidur Belle dan memeluknya. Karena biar pun tempat tidur berdekatan dia tidak.bisa memeluknya. Di cium kekasih kecilnya itu.
"Jangan nekat seperti ini sayang."
"Kak.. Aku baik - baik saja, memang lemas dan sedikit buram. Tetapi kondisi ini akan baik - baik kok. Dokter Joe dan Jefry pintar kok untuk mengatasi gejala ini. Aku pun mengerti."
Sebagai pasukan khusus, Letnan Kolonel Harrell Hugo Tandean memiliki tubuh yang siap. Dia perna ada dalam misi yang paling berbahaya, dan dia selamat. Karene pelatihan mereka mengajarkan tubuh mereka untuk siap. Atas ijin dokter, Hugo dan Belle satu kasur. Luka di dada kirinya masih di perban. Namun dia sudah membantu para medis merawat Belle.
Penembak jitu yang menembak warga sipil, yang bertugas mengganggu keamanan. Berhasil di lumpuhkan, dia meninggal di tempat, sedangkan komandan Hugo di larikan ke klinik nusantara. Banyak korban di aparat, namun itu luka - luka yang bisa di obati yang parah adalah komandan Hugo yang memimpin operasi tangkap tangan itu.
Sudah dua hari Belle dirawat, kondisinya sedikit membaik. Hugo kekasihnya selalu memperhatikan. Selain di sibukan dengan persiapan kedatangan panglima tinggi untuk peresmian Markas Korem. Pangdam yang mendengar peristiwa yang menimpa Letnan Kolonel Harrell Hugo Tandean bersama Apa yang di alami Dokter Belle Ursula Allo, bersama istri datang diam - diam mengunjungi pasangan bucin ini.
"Sudah bisa mengurus surat ijin menikah Rel."
"Siap Komandan." Hugo berdiri siap memberi hormat kepada pangdam.
"Ini bukan jam dinas. Kami datang bukan karena dinas. Ini kunjungan pribadi. Jadi bebas ya."
"Siap, siap komandan."
"Mana calon ibu persit pemberani."
Bapak dan ibu pangdam menyalami dokter Belle. Menanyakan kondisinya. Mereka bercerita memberi semangat dan memberi semangat bagi Belle. Mereka datang membawa vitamin dari Jayapura, karena informasi di klinik sini habis. Belle sangat malu begitu juga Hugo waktu di tanya - tanya.
"Bagaimana selesai satgas ini pengajuan ya."
"Siap komandan."
"Dokter Belle bagaimana??"
"Saya ikut apa kata pak Hugo saja pak."
"Oke bapak dan ibu menunggu undangan kalian."
"Pasti mereka akan menikah di Jayapura lah pak??"
"Maksudnya mama??"
"Orangtua dokter Belle itu di Jayapura bapaknya pensiuan pegawai sipil kodam mamanya gurunya Kavin."
"Siap komandan. Pegawai sipil Alex Allo.