takdir tak pernah berjalan seperti yang kita inginkan, semuanya sudah digariskan dan ditentukan oleh sang pencipta. Begitu pula yang dirasakan dan dijalankan oleh Nita dan Karin.
Seorang ibu yang membenci anak nya sendiri dan seorang anak yang selalu merindukan kasih sayang ibunya.
Apa yang terjadi pada Nita hingga Nita membenci anaknya? dan bagaimana Karin tubuh besar tanpa kasih sayang?.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lina Kotto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kisah Karin dan Dirga 3
Karin bahkan sampai berpikir bahwa Dirga akan melakukan itu kepadanya, sebagaimana yang biasa dilakukan oleh pasangan yang baru menikah saat Dirga memesan satu kamar dan mengajaknya kekamar tersebut, telapak tangannya bahkan telah basah oleh keringat dingin sangking gugup dan belum siap. kulitnya yang memang putih menjadi semakin putih seperti tidak berdarah. Namun dia juga tidak berani menolak dan bertanya, selain hanya mengikuti Dirga dalam diam.
"apa kamu ada membawa buku dan pena Karin?" tanya Dirga mulai berbicara kepada Karin setelah mereka masuk kedalam kamar hotel yang dipesan olehnya, dan mulai memecahkan kesunyian.
"ada pak" jawab Karin sebiasa mungkin berbicara dengan nada biasa, dan menyembunyikan rasa gugupnya.
"kalau gitu mulai hari ini kamu sudah bisa bekerja" tutur Dirga sembari mengeluarkan beberapa kertas kwitansi pembayaran dan bon-bon pembelian, lalu menyerahkannya kepada Karin, dan Karin menerimanya dengan sedikit mengerutkan keningnya, lalu kemudian mulai mengerti apa yang harus ia lakukan.
"baik pak" ujar Karin dengan perasaan lega dan kembali tenang setelah menerima semua kwitansi dan bon tersebut, lalu mulai bersikap mengerjakan pekerjaannya dan duduk disalah satu sofa dan meja yang berada dikamar itu.
"hari ini adalah hari pertama mu bekerja kepada ku, mulai hari ini dan seterusnya kita akan selalu bekerja dikamar ini." kata Dirga sembari melihat Karin yang mulai menulis untuknya. Dia memperhatikan penampilan Karin yang sederhana, perlahan pandangan matanya tertuju kepada mata, hidung dan bibir Karin yang selama ini tidak pernah terlalu ia perhatikan, dan ini adalah pertama kalinya dia memperhatikan wajah Karin dengan begitu lama dan teliti.
Dia terpana dengan mata indah nan jernih seperti telaga, dan hidung mancung yang dipahat sempurna dengan bibir tipisnya yang manis nan menggoda. Jantungnya berdegup kencang untuk pertama kalinya, Dirga menyadari apa artinya itu dia merasa malu, lalu kemudian memalingkan wajahnya kearah lain. Untuk menyembunyikan perasaannya agar Karin tidak menyadarinya.
Sejak awal Dirga sendiri memang merasa heran dengan apa yang ia lakukan, dia tidak mengerti mengapa dia mengajak Karin menikah untuk syarat bekerja dengannya. Padahal jika hanya karena perasaan kasihan dia hanya perlu menolong Karin, membantunya dengan membiayai pendidikannya sebagai orang tua angkat atau sebagai lainnya dengan cara cuma-cuma, tidak harus menikahinya.
"pak, apakah seperti ini?" Karin mulai bertanya setelah dia menyalin satu buah kwitansi pembayaran, dan melihat kearah Dirga yang sedang duduk di depannya dengan mata yang fokus melihat kearah luar jendela yang tirai nya terbuka. Yang memperlihatkan pemandangan cerah diluar karena hari masih siang.
Membuat Dirga langsung melihat kearahnya dan pandangan mata mereka bertemu, deg! Karin merasakan seperti ada yang masuk melalui matanya dan menetes dihatinya, saat pandangan mata indahnya bertemu dengan mata Dirga, yang terlihat begitu dalam tanpa dasar yang jelas seperti danau, lalu menunduk pandangannya. Ini adalah yang pertama kalinya dia menatap mata mantan gurunya yang telah menjadi suaminya beberapa jam yang lalu, dan membuat perasaannya kembali gugup.
Begitu pula dengan Dirga, namun dia berusaha untuk mengendalikan perasaan gugupnya dan melihat buku yang ditulis oleh Karin. "iya seperti ini" tutur Dirga sembari melihat buku diatas meja, dan mengamati tulisannya sesaat. "bapak mau keluar sebentar, mau beli sesuatu. Kamu mau titip apa?" kata Dirga lagi mencoba menghilangkan perasaan gugup diantara mereka, dan mulai berjalan menuju kearah pintu.
"air minum" kata Karin tanpa melihat kearah Dirga dan mulai kembali menulis, dia ingin segera menyelesaikan pekerjaannya lalu keluar dari perasaan gugup yang tak nyaman ini dan kembali ke kosnya. Namun nampaknya dia tidak bisa menyelesaikan pembukuan itu dengan cepat, karena yang harus dia salin sangat banyak, ditambah lagi dia menyalinnya dengan tulisan tangan karena dia tidak membawa laptopnya.
Dirga keluar dari hotel dan berjalan menuju minimarket terdekat, dia mengambil keranjang yang berada didekat pintu dan mulai berjalan menyusuri setiap rak didalam minimarket tersebut. Dirga berhenti didepan lemari pendingin yang menyimpan berbagai macam merek minuman, lalu membuka pintunya dan mengambil minuman yang terbuat dari teh yang di kemasan botolan plastik dan memasukkannya keranjang, dia juga mengambil cappucino, jus jeruk dan air mineral, lalu kemudian mengambil beberapa Snack yang ada di rak.
Setelah selesai Dirga pun membawa semuanya ke kasir dan membayarnya, lalu sebelum kembali ke hotel Dirga singgah disebuah kedai yang menjual kebab dan membeli dua kebab untuk dia dan Karin. Setelah itu dia pun segera kembali ke hotel.
"aku tidak tahu minuman apa yang kamu suka, jadi aku membeli beberapa jenis minuman, semoga kamu menyukainya." tutur Dirga setelah kembali dan membuka kantong plastik yang ia bawa, lalu mengeluarkan isinya dan meletakkannya diatas meja didekat Karin.
Karin melihat minuman yang dibeli oleh Dirga, lalu mengambil salah satu minuman itu.
"Karin suka minuman apa saja, asalkan tidak mengandung racun dan mengandung hal yang memabukkan" tutur Karin dengan sedikit tersenyum setelah mengambil teh botol dengan rasa buah apel tersebut, lalu mulai membukanya dan minuman secara perlahan.
Membuat Dirga yang melihat senyuman itu kembali merasakan jantung berdebar kencang, dan segera memalingkan wajahnya melihat kearah kantong lain yang berisi kebab, lalu mengeluarkan kebab tersebut dan memberikan salah satunya kepada Karin. "ini untuk mu, makanlah!" seru Dirga sembari menyerahkan kebab yang masih terbungkus rapi dengan kertasnya kepada Karin.
"terimakasih pak" ucap Karin sembari menerima kebab dari tangan Dirga, dan mulai membukanya karena sebetulnya sejak tadi dia memang sudah lapar, karena itu Karin tidak menolak dan langsung memakan kebab tersebut, setelah dia membuka pembungkusnya.
"bagaimana? Apa rasanya enak?" tanya Dirga setelah Karin mulai memakan kebab tersebut, dan mulai membuka kebab miliknya karena dia juga sudah lapar.
"hmm, enak." jawab Karin tanpa perasaan gugup lagi, dan mulai terbiasa berbicara saling melihat wajah satu sama lain.
Begitu pula dengan Dirga yang sejak tadi terus memperhatikan Karin yang sedang makan, dan sesekali memakan kebab miliknya.
"karena hari ini sedang libur, setelah selesai menulis itu, ingin menginap disini atau kembali ke kos?" Dirga berbicara dengan sedikit ragu-ragu, dan melihat kearah Karin yang masih sedang menikmati kebab ditangannya.
Uhuk!
Uhuk! Karin tersedak dan terbatuk-batuk saat mendengar pertanyaan Dirga, dia mencoba menghilangkan rasa tercekik nya dengan memukul dadanya, sedangkan Dirga yang melihat itu langsung mengambil air mineral, membukanya dan memberikannya kepada Karin.
"minum ini!" ujar Dirga menyerah air mineral yang telah ia buka ketangan Karin, dan Karin yang menerimanya langsung meminumnya.
"terimakasih pak" kata Karin setelah dia meminum air itu dan kembali merasa lega, lalu melihat kearah Dirga dengan wajah yang memerah karena perasaan malu. sebab pertanyaan Dirga telah membuatnya berpikiran yang tidak-tidak, apa lagi hari ini dia baru menikah dengan Dirga dan jika dia menginap di hotel ini dengan Dirga, itu artinya malam ini adalah malam pertamanya dengan Dirga.
kirain kamu anak baik baik..