Chantika Rahardja adalah putri dari keluarga pebisnis yang memilih menjadi polwan. Saras, adik tirinya selalu iri dengan prestasi dan kecantikannya. Apalagi sang ayah selalu membandingkan mereka dan lebih membanggakan Chantika.
Saras menjebak Chantika untuk menemani pebisnis yang terkenal playboy agar mendapatkan investasi.
Tapi siapa sangka Chantika malah terlempar ke ranjang Enzo Arkan Pradana, bos mafia yang terkenal tak pernah menyentuh wanita. Pria yang akhirnya bisa tidur tanpa menelan obat saat bersama Chantika.
Kesalahan semalam itu membuat keduanya menikah, tanpa Chantika tahu siapa sebenarnya suaminya. Di balik identitasnya sebagai CEO sebuah perusahaan, pria itu menyembunyikan kekuasaan yang tak seorang pun berani menentangnya.
Seorang penegak hukum menikahi penjahat?
Bagaimana rumah tangga mereka jika Chantika tahu sang suami adalah seorang mafia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Restu di Ambang Lamaran
"Kamu gak mau aku membuka identitasku?" tanya Enzo lagi karena Chantika tak kunjung menjawab.
Chantika mengembuskan napas pelan. "Sebenarnya... aku gak pengen adik dan ibu tiriku tahu."
Enzo mengangkat sebelah alisnya. "Jadi?"
"Bagaimana kalau untuk sementara kamu jujur sama Papaku aja?" pinta Chantika setelah mempertimbangkannya sejenak. "Aku tahu bagaimana sifat Saras. Dia mudah merasa iri. Kalau bisa, aku gak mau ada sesuatu yang membuatnya semakin merasa dibandingkan."
Enzo memandang Chantika beberapa saat, lalu mengangguk pelan. "Baik. Apa pun yang membuatmu nyaman."
Senyum tipis menghiasi wajah Chantika. "Terima kasih."
Ia benar-benar tidak menyangka. Kesalahan semalam waktu itu justru mempertemukannya dengan pria seperti Enzo.
Pria itu bukan hanya tampan dan mapan. Ia juga selalu menghargai pendapatnya, menghormati profesinya sebagai polisi, tidak pernah memaksakan kehendak, bahkan selalu berusaha membuatnya merasa aman.
Semakin mengenalnya, Chantika semakin mengerti bahwa yang membuatnya cepat merasa nyaman bukanlah keadaan yang mempertemukan mereka, melainkan sikap Enzo yang selalu menghargainya sebagai seorang perempuan dan sebagai pribadi.
Tak heran jika, meski baru saling mengenal dalam hitungan hari, kedekatan mereka terasa seolah telah terjalin sejak lama.
"Kalau begitu, aku pergi dulu," ucap Enzo.
Ia mendekat, lalu mengecup singkat pipi Chantika. Setelah itu, Enzo menuju kamar mandi untuk bersiap.
Tak lama kemudian, pria itu keluar dengan mengenakan celana panjang hitam dan kemeja berlengan panjang yang rapi. Penampilannya kembali berubah menjadi sosok CEO yang berwibawa.
Ia berhenti di depan pintu balkon, lalu menoleh. "Tunggu aku nanti malam."
Chantika mengangguk pelan. Senyum hangat terukir di wajahnya. "Aku tunggu."
Enzo membalas senyum itu sebelum melangkah keluar melalui balkon. Dalam beberapa saat, sosoknya menghilang di balik cahaya keemasan sang fajar.
Chantika tetap duduk di tempatnya, memandang ke arah balkon yang kini telah kosong.
Tanpa sadar, jemarinya menyentuh liontin yang tergantung di lehernya. Sudut bibirnya kembali terangkat membentuk senyum tipis.
"Malam ini..." gumamnya lirih. "...dia akan datang sebagai pria yang meminta restu kepada Papa."
Entah mengapa, membayangkan momen itu saja sudah cukup membuat jantungnya berdebar lebih cepat.
Beberapa menit kemudian, Chantika menuruni anak tangga dengan seragam dinas Kepolisian Republik Indonesia yang telah dikenakannya dengan rapi.
Rambut panjangnya disanggul rendah dan rapi di belakang kepala, sesuai ketentuan kerapian anggota kepolisian saat bertugas.
Begitu tiba di ruang makan, Rahardja, Ranti, dan Saras sudah duduk di tempat masing-masing.
"Pagi," sapa Chantika sambil menarik kursi.
"Pagi," balas Rahardja hangat.
Saras melirik kakaknya sekilas, lalu tersenyum tipis. "Hari ini Kakak kesiangan lagi?"
"Hm," sahut Chantika singkat sambil mengambil selembar roti.
"Semalam kakakmu tidur cukup larut," ujar Rahardja tenang. "Kami membicarakan sesuatu yang penting."
Chantika hanya mengangguk pelan. Dalam hati ia merasa sedikit bersalah.
"Sebenarnya bukan cuma itu..." batinnya. "Aku malah terlalu nyenyak tidur karena dipeluk Enzo."
Mengingat kejadian semalam, pipinya nyaris kembali menghangat. Beruntung tak seorang pun menyadarinya.
Di sisi lain, Ranti dan Saras saling berpandangan sejenak.
Keduanya sama-sama menangkap bahwa Rahardja kembali menjelaskan keadaan Chantika, seolah tidak ingin putri sulungnya disalahpahami.
Perasaan tidak nyaman kembali menyelinap di hati mereka, meski tak ada yang mengucapkannya.
Rahardja kemudian meletakkan sendok dan garpunya. "Oh ya."
Semua mata langsung tertuju kepadanya.
"Malam ini kita bersiap." Ia berhenti sejenak, lalu menatap satu per satu anggota keluarganya. "Enzo akan datang ke rumah untuk melamar Chantika."
"Hah?" Ranti tampak terkejut. "Secepat itu?"
Saras ikut menoleh kepada ayahnya. "Kenapa mendadak sekali, Pa? Padahal pacar Kak Chantika baru sekali datang ke rumah."
Ia lalu tersenyum jail. "Jangan-jangan Kak Chantika sudah hamil ya, makanya buru-buru nikah."
"Saras!" tegur Rahardja dengan nada tegas.
Senyum di wajah Saras langsung memudar. "Maaf, Pa. Aku cuma bercanda."
"Bercanda boleh." Tatapan Rahardja tetap lurus ke arah putrinya. "Tapi ada batasnya. Jangan menjadikan kehormatan kakakmu sebagai bahan lelucon."
Saras menundukkan kepala. "Iya, Pa."
Melihat suasana mulai menegang, Ranti segera mengalihkan pembicaraan.
"Pa, ini mendadak sekali. Mama takut kita gak sempat menyiapkan apa-apa."
"Bukan lamaran mewah kok, Tan," sahut Chantika tenang. "Cuma makan malam sederhana."
Ranti mengangguk tipis. "Siapa saja yang akan datang?"
"Hanya Enzo."
"Hanya dia?" tanya Saras heran. "Memangnya dia gak punya keluarga?"
Chantika menggeleng pelan. "Katanya, dia sudah lama terpisah dari kedua orang tua dan adiknya."
Saras mengangguk pelan, meski rasa penasarannya belum hilang. "Kalau begitu aku jadi penasaran." Sudut bibirnya terangkat tipis. "Kira-kira apa yang bakal dibawa pacar Kakak pas melamar nanti."
Chantika tersenyum kecil. "Aku gak terlalu peduli apa yang dia bawa."
Semua orang menoleh kepadanya.
"Selama dia bisa membuatku merasa dihargai, dihormati, dan nyaman berada di sisinya..." Chantika tersenyum hangat. "Itu sudah lebih dari cukup buatku."
Untuk sesaat ruang makan menjadi hening.
Saras tersenyum tipis. "Keinginan Kakak sederhana sekali, ya."
Chantika menggeleng pelan. "Kelihatannya memang sederhana."
Tatapannya lembut, tetapi penuh keyakinan. "Padahal... menemukan seseorang yang bisa membuat kita merasa aman, dihargai, dan menjadi diri sendiri bukanlah hal yang mudah."
Rahardja yang sejak tadi mendengarkan tanpa menyela, perlahan mengangguk. "Itu benar."
Tatapannya beralih kepada Chantika. "Harta bisa dicari. Jabatan bisa diraih. Tapi pasangan yang menghargai dan menghormati kita..." Rahardja tersenyum tipis. "...belum tentu datang dua kali dalam hidup."
Mendengar itu, Ranti hanya diam sambil menggenggam sendoknya sedikit lebih erat. Ia tidak menyanggah ucapan suaminya, tetapi entah mengapa, hatinya terasa kurang nyaman melihat Rahardja kembali menunjukkan dukungan yang begitu besar kepada Chantika.
Sementara itu, Saras hanya tersenyum tipis. Namun di balik senyum itu, ada rasa iri yang perlahan kembali tumbuh. Dalam benaknya hanya ada satu pertanyaan.
"Pria seperti apa sebenarnya Enzo... hingga Papa begitu mudah merestuinya?"
***
Gedung Arkana Global Logistic.
Di ruang CEO, Enzo meraih telepon interkom di atas mejanya, lalu menekan salah satu tombol.
"Marco, ke ruanganku."
Seperti biasa, setelah menyampaikan perintah singkat itu, Enzo langsung memutus sambungan tanpa menunggu jawaban.
Di ruang kerjanya, Marco hanya mengembuskan napas pelan.
"Bos memang gak pernah berubah," gumamnya sambil bangkit dari kursi. "Apa ada bos lain di dunia ini yang nelpon orang tanpa ngasih kesempatan buat jawab?"
Sambil menggeleng kecil, ia berjalan menuju ruang CEO. Tak lama kemudian, ia mengetuk pintu.
"Masuk," suara Enzo terdengar dari dalam.
Marco membuka pintu, lalu menghampiri meja kerja atasannya. "Ada apa, Bos?"
Tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop, Enzo berkata datar, "Siapkan hadiah lamaran."
Marco berkedip beberapa kali. "Lamaran?"
...🔸🔸🔸...
..."Harta bisa dicari, jabatan bisa diraih. Namun seseorang yang menghargai hati dan pilihan hidupmu adalah anugerah yang tak datang dua kali."...
..."Restu orang tua adalah awal sebuah pernikahan. Sementara rasa saling menghormati adalah yang akan menjaganya tetap bertahan."...
..."Tak semua hubungan dimulai dengan cara yang indah. Namun hubungan itu bisa berakhir indah ketika dibangun dengan kejujuran, tanggung jawab, dan saling menghormati."...
..."Orang yang benar-benar mencintaimu tidak akan memintamu meninggalkan jati dirimu. Ia akan berdiri di sampingmu dan menjagamu tetap menjadi dirimu sendiri."...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Chantika masih mempertimbangkan untuk menggunakan cincin pemberian Enzo. Menunggu saat dan tempat yang tepat. Jangan sampai keputusannya salah.
Enzo dari jarak jauh mengenali gerakan kecil ibu jari Chantika
Duuh Chantika disandra - badannya, lehernya disikep tangan kekar lawan, ditodong pistol tepat di pelipisnya.
Penyandera minta disiapkan kendaraan.
Penyandera menyeret tubuh Chantika mundur selangkah demi selangkah.
Duuuuh malah terjadi tembak menembak.
Rizal kena sasaran tembak. Bersyukur mengenakan rompi anti peluru, kalau tidak sudah terlentang tinggal nama. Tapi peluru kedua menyerempet bahu kirinya.
Kalau Chantika tidak tepat waktu menerobos hujan peluru untuk melindungi Rizal dari dua pria bersenjata, tamat sudah riwayatnya.
Tembakan Chantika tepat sasaran, salah satu pria bersenjata langsung roboh. Yang satunya lagi berlindung.
Kuat ya Chantika menyeret Rizal dengan satu tangan untuk di bawa ke balik kontainer.
Enzo masih membiarkan istri dan anggota Resmob berlari keluar dari kejaran lawan yang semakin bertambah dari arah belakang.
Belum saatnya Enzo turun.
Chantika dan tim sudah terdesak, sekarang saatnya anting dilepas dan dilempar ketengah kerumunan.
Gelombang suara berfrekuensi tinggi efeknya luar biasa untuk mengalihkan perhatian lawan.
Seluruh pria bersenjata jadi terlihat kacau.
Chantika tidak menyia-nyiakan kesempat yang ada. Ia memberikan perintah menyerang.
Chantika memberikan tembakan perlindungan. Menyuruh anggotanya keluar.
Duuuh Chantika kehabisan peluru lagi. Rizal juga pelurunya tinggal sedikit.
Chantika membagikan penyumbat telinga pada rekan-rekannya. Dipakai nanti kalau terdesak kali.
Duuuhhh IPTU Chantika sudah dikenali oleh pemimpin lawan.
Saatnya timnya memakai penyumbat telinga, setelah Chantika bilang - sekarang.
Chantika dan timnya sudah dikepung
Waduuuh - komandannya tidak melihat situasi yang dihadapi Chantika dan timnya. Kelamaan datangnya tim bantuan.
Enzo si The Ghost dan seluruh tim yang sudah siap menolong Chantika.
Tak ada pilihan keluar selain mundur ke dermaga.
Waduh anggota perempuan terkena serpihan peluru dikakinya. Chantika segera menarik rompi rekannya.
Lawan lebih dari dua puluh orang.
Lawan yang dipanggil Bos meremehkan polisi, melihat cuma satu tim yang datang.
Melarang anak buahnya menghabis Chantika dan timnya. Instruksinya tangkap hidup-hidup.
Menatap Chantika yang berada dibawah hujan peluru memimpin anggotanya mundur dengan tenang.
Titik berdiri Enzo jauh amat. Beberapa ratus meter dari Chantika berada.
Jangan sampai tidak bisa memberikan perlindungan untuk Chantika.
Vito saja sangat khawatir dengan keselamatan Chantika.
Sepertinya yang buka pintu kontainer nomor tujuh belas anak buah Vito. Anak buah Vito jadi tahu isi kontainer minyak goreng.
Yang kena getahnya Chantika dan timnya ini.
Duuuh Chantika dan timnya dalam bahaya. Kepala Chantika hampir kena sasaran tembak.
Seruuuuu...ikut sport jantung membacanya
Enzo sendiri tahu lawan Chantika dan timnya bukan orang biasa.
Semoga saja Enzo tiba di kawasan pelabuhan belum terlambat.
Enzo pasti tahu apa resiko yang akan dihadapi Chantika serta timnya di sana.
Bagaimana bisa dengan tepat menyelesaikan laporan, kalau Saras sering meninggalkan kantor di jam kerja.
Kapok kau Saras. Tiga puluh menit belum ada di kantor, dianggap mengundurkan diri.
Akhirnya Saras mesti harus kembali ke kantor untuk menyelesaikan laporan evaluasi proyek.
Jangan harap bisa mengetahui siapa Enzo.
Tanggung jawab kerjaan diabaikan. Keperluan pribadi kepo siapa Enzo diutanakan. Dasar Saras. Macam begini kok mau jadi manajer.
Tidak bisa menjawab cepat pertanyaan dari Papanya. Keperluan pribadi.
Weleeehhh Saras
Enzo menyuruh Marco yang turun menemui Saras. Dan mengatakan tidak mengenal Saras.
Saras sangat kesal terhadap Marco yang tidak mengenalnya.
Mau ketemu kakak ipar kok sulit ya Saras 😁. Dianggurin satu jam di ruang tunggu.
Bisa jadi tuh Enzo yang menghubungi Papa mertua.
Di depan meja resepsionis, Saras bilang mau bertemu Enzo. Belum ada janji. Dia bilang adik iparnya.
Marco yang sudah dihubungi resepsionis, memberi tahu Enzo.
Dokumen pengiriman menyebutkan muatan berupa mesin industri.
Anak buah Vito sudah memastikan isi kontainer minyak goreng.
Pemiliknya belum diketahui. Pengawalnya kelompok bersenjata.
Chantika memimpin tim surveillance.
The Ghost dan anak buahnya malam nanti juga akan menggagalkan penyelundupan minyak goreng.
Pertempuran nanti malam bakal seru.