NovelToon NovelToon
Suami Mafia Sang Polwan

Suami Mafia Sang Polwan

Status: sedang berlangsung
Genre:Roman-Angst Mafia / Menyembunyikan Identitas / Action
Popularitas:115.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Chantika Rahardja adalah putri dari keluarga pebisnis yang memilih menjadi polwan. Saras, adik tirinya selalu iri dengan prestasi dan kecantikannya. Apalagi sang ayah selalu membandingkan mereka dan lebih membanggakan Chantika.

Saras menjebak Chantika untuk menemani pebisnis yang terkenal playboy agar mendapatkan investasi.

Tapi siapa sangka Chantika malah terlempar ke ranjang Enzo Arkan Pradana, bos mafia yang terkenal tak pernah menyentuh wanita. Pria yang akhirnya bisa tidur tanpa menelan obat saat bersama Chantika.

Kesalahan semalam itu membuat keduanya menikah, tanpa Chantika tahu siapa sebenarnya suaminya. Di balik identitasnya sebagai CEO sebuah perusahaan, pria itu menyembunyikan kekuasaan yang tak seorang pun berani menentangnya.

Seorang penegak hukum menikahi penjahat?

Bagaimana rumah tangga mereka jika Chantika tahu sang suami adalah seorang mafia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28. Restu di Ambang Lamaran

"Kamu gak mau aku membuka identitasku?" tanya Enzo lagi karena Chantika tak kunjung menjawab.

Chantika mengembuskan napas pelan. "Sebenarnya... aku gak pengen adik dan ibu tiriku tahu."

Enzo mengangkat sebelah alisnya. "Jadi?"

"Bagaimana kalau untuk sementara kamu jujur sama Papaku aja?" pinta Chantika setelah mempertimbangkannya sejenak. "Aku tahu bagaimana sifat Saras. Dia mudah merasa iri. Kalau bisa, aku gak mau ada sesuatu yang membuatnya semakin merasa dibandingkan."

Enzo memandang Chantika beberapa saat, lalu mengangguk pelan. "Baik. Apa pun yang membuatmu nyaman."

Senyum tipis menghiasi wajah Chantika. "Terima kasih."

Ia benar-benar tidak menyangka. Kesalahan semalam waktu itu justru mempertemukannya dengan pria seperti Enzo.

Pria itu bukan hanya tampan dan mapan. Ia juga selalu menghargai pendapatnya, menghormati profesinya sebagai polisi, tidak pernah memaksakan kehendak, bahkan selalu berusaha membuatnya merasa aman.

Semakin mengenalnya, Chantika semakin mengerti bahwa yang membuatnya cepat merasa nyaman bukanlah keadaan yang mempertemukan mereka, melainkan sikap Enzo yang selalu menghargainya sebagai seorang perempuan dan sebagai pribadi.

Tak heran jika, meski baru saling mengenal dalam hitungan hari, kedekatan mereka terasa seolah telah terjalin sejak lama.

"Kalau begitu, aku pergi dulu," ucap Enzo.

Ia mendekat, lalu mengecup singkat pipi Chantika. Setelah itu, Enzo menuju kamar mandi untuk bersiap.

Tak lama kemudian, pria itu keluar dengan mengenakan celana panjang hitam dan kemeja berlengan panjang yang rapi. Penampilannya kembali berubah menjadi sosok CEO yang berwibawa.

Ia berhenti di depan pintu balkon, lalu menoleh. "Tunggu aku nanti malam."

Chantika mengangguk pelan. Senyum hangat terukir di wajahnya. "Aku tunggu."

Enzo membalas senyum itu sebelum melangkah keluar melalui balkon. Dalam beberapa saat, sosoknya menghilang di balik cahaya keemasan sang fajar.

Chantika tetap duduk di tempatnya, memandang ke arah balkon yang kini telah kosong.

Tanpa sadar, jemarinya menyentuh liontin yang tergantung di lehernya. Sudut bibirnya kembali terangkat membentuk senyum tipis.

"Malam ini..." gumamnya lirih. "...dia akan datang sebagai pria yang meminta restu kepada Papa."

Entah mengapa, membayangkan momen itu saja sudah cukup membuat jantungnya berdebar lebih cepat.

 

Beberapa menit kemudian, Chantika menuruni anak tangga dengan seragam dinas Kepolisian Republik Indonesia yang telah dikenakannya dengan rapi.

Rambut panjangnya disanggul rendah dan rapi di belakang kepala, sesuai ketentuan kerapian anggota kepolisian saat bertugas.

Begitu tiba di ruang makan, Rahardja, Ranti, dan Saras sudah duduk di tempat masing-masing.

"Pagi," sapa Chantika sambil menarik kursi.

"Pagi," balas Rahardja hangat.

Saras melirik kakaknya sekilas, lalu tersenyum tipis. "Hari ini Kakak kesiangan lagi?"

"Hm," sahut Chantika singkat sambil mengambil selembar roti.

"Semalam kakakmu tidur cukup larut," ujar Rahardja tenang. "Kami membicarakan sesuatu yang penting."

Chantika hanya mengangguk pelan. Dalam hati ia merasa sedikit bersalah.

"Sebenarnya bukan cuma itu..." batinnya. "Aku malah terlalu nyenyak tidur karena dipeluk Enzo."

Mengingat kejadian semalam, pipinya nyaris kembali menghangat. Beruntung tak seorang pun menyadarinya.

Di sisi lain, Ranti dan Saras saling berpandangan sejenak.

Keduanya sama-sama menangkap bahwa Rahardja kembali menjelaskan keadaan Chantika, seolah tidak ingin putri sulungnya disalahpahami.

Perasaan tidak nyaman kembali menyelinap di hati mereka, meski tak ada yang mengucapkannya.

Rahardja kemudian meletakkan sendok dan garpunya. "Oh ya."

Semua mata langsung tertuju kepadanya.

"Malam ini kita bersiap." Ia berhenti sejenak, lalu menatap satu per satu anggota keluarganya. "Enzo akan datang ke rumah untuk melamar Chantika."

"Hah?" Ranti tampak terkejut. "Secepat itu?"

Saras ikut menoleh kepada ayahnya. "Kenapa mendadak sekali, Pa? Padahal pacar Kak Chantika baru sekali datang ke rumah."

Ia lalu tersenyum jail. "Jangan-jangan Kak Chantika sudah hamil ya, makanya buru-buru nikah."

"Saras!" tegur Rahardja dengan nada tegas.

Senyum di wajah Saras langsung memudar. "Maaf, Pa. Aku cuma bercanda."

"Bercanda boleh." Tatapan Rahardja tetap lurus ke arah putrinya. "Tapi ada batasnya. Jangan menjadikan kehormatan kakakmu sebagai bahan lelucon."

Saras menundukkan kepala. "Iya, Pa."

Melihat suasana mulai menegang, Ranti segera mengalihkan pembicaraan.

"Pa, ini mendadak sekali. Mama takut kita gak sempat menyiapkan apa-apa."

"Bukan lamaran mewah kok, Tan," sahut Chantika tenang. "Cuma makan malam sederhana."

Ranti mengangguk tipis. "Siapa saja yang akan datang?"

"Hanya Enzo."

"Hanya dia?" tanya Saras heran. "Memangnya dia gak punya keluarga?"

Chantika menggeleng pelan. "Katanya, dia sudah lama terpisah dari kedua orang tua dan adiknya."

Saras mengangguk pelan, meski rasa penasarannya belum hilang. "Kalau begitu aku jadi penasaran." Sudut bibirnya terangkat tipis. "Kira-kira apa yang bakal dibawa pacar Kakak pas melamar nanti."

Chantika tersenyum kecil. "Aku gak terlalu peduli apa yang dia bawa."

Semua orang menoleh kepadanya.

"Selama dia bisa membuatku merasa dihargai, dihormati, dan nyaman berada di sisinya..." Chantika tersenyum hangat. "Itu sudah lebih dari cukup buatku."

Untuk sesaat ruang makan menjadi hening.

Saras tersenyum tipis. "Keinginan Kakak sederhana sekali, ya."

Chantika menggeleng pelan. "Kelihatannya memang sederhana."

Tatapannya lembut, tetapi penuh keyakinan. "Padahal... menemukan seseorang yang bisa membuat kita merasa aman, dihargai, dan menjadi diri sendiri bukanlah hal yang mudah."

Rahardja yang sejak tadi mendengarkan tanpa menyela, perlahan mengangguk. "Itu benar."

Tatapannya beralih kepada Chantika. "Harta bisa dicari. Jabatan bisa diraih. Tapi pasangan yang menghargai dan menghormati kita..." Rahardja tersenyum tipis. "...belum tentu datang dua kali dalam hidup."

Mendengar itu, Ranti hanya diam sambil menggenggam sendoknya sedikit lebih erat. Ia tidak menyanggah ucapan suaminya, tetapi entah mengapa, hatinya terasa kurang nyaman melihat Rahardja kembali menunjukkan dukungan yang begitu besar kepada Chantika.

Sementara itu, Saras hanya tersenyum tipis. Namun di balik senyum itu, ada rasa iri yang perlahan kembali tumbuh. Dalam benaknya hanya ada satu pertanyaan.

"Pria seperti apa sebenarnya Enzo... hingga Papa begitu mudah merestuinya?"

***

Gedung Arkana Global Logistic.

Di ruang CEO, Enzo meraih telepon interkom di atas mejanya, lalu menekan salah satu tombol.

"Marco, ke ruanganku."

Seperti biasa, setelah menyampaikan perintah singkat itu, Enzo langsung memutus sambungan tanpa menunggu jawaban.

 

Di ruang kerjanya, Marco hanya mengembuskan napas pelan.

"Bos memang gak pernah berubah," gumamnya sambil bangkit dari kursi. "Apa ada bos lain di dunia ini yang nelpon orang tanpa ngasih kesempatan buat jawab?"

Sambil menggeleng kecil, ia berjalan menuju ruang CEO. Tak lama kemudian, ia mengetuk pintu.

"Masuk," suara Enzo terdengar dari dalam.

Marco membuka pintu, lalu menghampiri meja kerja atasannya. "Ada apa, Bos?"

Tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop, Enzo berkata datar, "Siapkan hadiah lamaran."

Marco berkedip beberapa kali. "Lamaran?"

 

...🔸🔸🔸...

..."Harta bisa dicari, jabatan bisa diraih. Namun seseorang yang menghargai hati dan pilihan hidupmu adalah anugerah yang tak datang dua kali."...

..."Restu orang tua adalah awal sebuah pernikahan. Sementara rasa saling menghormati adalah yang akan menjaganya tetap bertahan."...

..."Tak semua hubungan dimulai dengan cara yang indah. Namun hubungan itu bisa berakhir indah ketika dibangun dengan kejujuran, tanggung jawab, dan saling menghormati."...

..."Orang yang benar-benar mencintaimu tidak akan memintamu meninggalkan jati dirimu. Ia akan berdiri di sampingmu dan menjagamu tetap menjadi dirimu sendiri."...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
asih
selagi ada Enzo kayaknya mimpimu g bakal terwujudkan Bryan jangan terlalu PD kau akan kecewa nanti ..di saat kekecewaanmu kalau kau menyakiti laras saat itu juga mimpimu hancur
Puji Hastuti
semakin menarik,Bryan dg pasti kalau rencananya akan berhasil,sedang Raharja sudah siap dg strategi nya.
Oma Gavin
kepedean banget bryan jgn harap mudah raharja bukan orang bodoh apalagi enzo ada di pihak Raharja jgn terlalu percaya diri bryan takutnya ngga sesuai ekspektasi mu dan nyungsep
Anonim
Setelah mendengar jawaban Chantika yang sudah mengajukan izin menikah ke institusinya. Enzo mau ikut pulang bersama Chantika. Mau melamar.

Kalau lamarannya ditolak - Chantika pasti tidak menyangka jawaban dari Enzo 😄.

Kalau ngomong aneh-aneh lalu dihajar Papanya Chantika, Enzo gak apa-apa. Asal setelahnya, putri kesayangannya diserahkan padanya.

Mas kawin dari Enzo untuk Chantika masih rahasia.

Kejutan apa yang akan diberikan Enzo untuk seluruh keluarga Chantika sehubungan dengan mas kawin nanti di saat lamaran.

Sampai segitu yakinnya Enzo setelah acara lamaran dan mas kawin yang diberikan. Sampai berkata - tidak akan ada jalan lagi untuk membiarkan Chantika lepas darinya.

Pastinya, keselamatan Chantika akan aman apabila bersama Enzo.
Anonim
Enzo tidak selalu ada di dekat Chantika. Jadi Chantika punya kesempatan melindungi diri sendiri dengan perhiasan-perhiasan dan jam tangan yang dipakainya.

Chantika pasti sangat terharu, Enzo benar-benar memikirkan semuanya.

Enzo sempat terkejut ketika Chantika langsung memeluknya, dan mengucap terima kasih.

Enzo mengatakan - jangan berterima kasih. Karena tugasnya sebagai suami adalah memastikan istrinya selalu pulang dengan selamat.

Chantika bergumam - masih saja bilang aku istrimu. Dan berkata seperti biasanya - kita belum menikah 😄.
Anonim
Enzo melarang Chantika menemui Bryan sendirian.

Enzo menawarkan bantuannya. Sekelas Ezo saja merasa tidak tenang kalau Chantika berhadapan dengan Bryan. Enzo tahu sepak terjang Bryan - investor playboy.

Enzo benar-benar ingin melindungi Chantika. Ia memberi Chantika perhiasan serta jam tangan yang dirancang sedemikian rupa, terpasang alat untuk melindungi Chantika yang seorang polisi.
Puji Hastuti
aduh kayak buah simalakama
asih
gara² kebodohan satu orang seluruh keluarga jadi susah ..

q juga curiga kekayaan Bryan itu muncul Dari mana .. atau jangan² dia dalang Dari semua barang selundupan atau illegal itu Dan victor atau siapa itu hanya kaki tangannya saja
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Nay, itu kau tau! 😂😂😂 Kenapa kau malah melakukan itu, ha? Dasar Bodoh! Otak dangkal! 😁😁😁 Mikirn6a cuma untuk saat ini doang. Nggk mikirin juga apa, kedepannya. 😂😂😂 Kalau kau lumpuh Selerti Ryuhan Kai Zander, gimana Coba? ha? Makin susah lagu, hidupmu tau! 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Kaulah yang bodoh! 😂😂😂 Demi menggugurkan janinmu, kau malah menyakiti dirimu sendiri. 😂😂😂 Dasar Bodoh! Kenapa nggk mengakhiri hidup saja sekalian? ha? 😂😂😂 jelas pula kau masuk ke neraka... 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Nah kan! 😂😂😂 Aku sudah menduganya sedari awal. Soalnya, pertanyaan kamu oada dokter tadi itu sudah aneh tau... 😂😂😂 Ternyata, memang kau sengaja ya, menggugurkan kandunganmu sendiri? 😂😂😂 Dasar! Kau tidak bisa mengibuli aku tau... 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Yaaah, sudah Capek-capek mencelakai diri sendiri, eh... Bayi sialan itu nggk juga keguguran... 😂😂😂🙏
Fadillah Ahmad
Kok, aku merasa pertanyaan kamu ini agak aneh ya, Saras? 🤔🤔🤔 Kayak, seolah-olah kamu sengaka gitu loh, menyelakai dirimu Sendiri! 🤔🤔🤔 Sedikt aneh deh Perranyaanmu itu... 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Hahaha, tepat sekali! Aku berpik8ran sama seperti kau Ranti! Aku curiga kalau Saras sengaja menumpahkan sqmbun itu, untuk menggugurkan kandungannya... 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Benarkah? 😂😂😂 Kok, aku nggk percaya ya? 😂😂😂 Aku malah berpikiran, kalau kau sengaja melakukan itu, untuk menggugurkan kandunganmu, iya kab? Kamu sengaja bukan? 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Waaah, apakah Saras akan ke guguran dengan sendirinya? Di karenakan tertekan oleh keadaa 🤔🤔🤔
Anitha
Nunggu keputusan dari Pak Raharja apakah Saras akan di nikahkan sama Bryan atau tidak,jadi serba salah...

Enzo saat ini hanya perlu mengawasi saja tidak ikut campur dulu selagi Pak Raharja bisa mengatasinya...

jika nanti Saras nikah dengan Bryan..
tentu saja Enzo dan Chantika bakal pindah ke Apartement Enzo yang lebih nyaman tidak ada parasit
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Oma Gavin
gas enzo prepare dari sekarang keluar dari rumah mertua mu hidup mandiri bersama chantika minimal mengurangi resiko eama rubah betina saras
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!