Devano Garendra, merasa bosan dengan pernikahannya bersama sang istri hingga membuatnya bermain perempuan di luar sana.
Sebagian Alice, yang baru saja memulai kehidupannya yang baru harus kembali di pertemukan dengan sosok yang cukup lama bersamanya.
Akankah mereka kembali mengulang masa lalu yang pernah di lewati bersama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tessa Amelia Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 33
Pagi-pagi sekali, saat Alice terbangun, dia sudah tidak melihat suaminya berada di tempat tidur. Entah kemana perginya laki-laki itu sepagi ini.
Saat Alice keluar dari kamarnya, dia melihat para pelayan yang sudah sibuk bekerja di rumah besar ini.
"Selamat pagi, nyonya." sapa mereka saat melihat dirinya.
Alice yang merasa canggung hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya saja. Tidak tau harus berbuat apa di rumah ini.
"Apa kalian melihat suamiku?" tanya Alice merasa malu menyebut Rendra sebagai suaminya.
"Tuan sudah pergi ke kantor, Nyonya. Katanya tadi, nanti jam 10 akan ada supir yang menjemput untuk mengantar nyonya dan tuan muda Neil pergi ke sekolah baru." ucap Kylie dengan lembut.
Alice kembali tersenyum setelah mendengar penjelasan dari Kylie. Tapi apa harus sepagi ini Rendra pergi ke kantor?
"Apa anda mau sarapan sekarang, nyonya? Biar pelayan menyiapkannya." ucap Kylie lagi.
"Tidak sekarang. Aku melihat Neil dulu. Tolong bantu pengasuh Neil, ya. Dia belum terbiasa." ujar Alice pada Kylie yang menerima perintah.
"Baik, nyonya." jawab Kylie lagi.
Alice kembali ke lantai dua, dan bersiap untuk sarapan pagi.
Disana juga sudah ada Neil saat dia turun dari lantai dua.
"Mami..." panggil Neil melihat Alice turun.
Lihat, betapa baginya Neil sekarang. Inikah kehidupan yang Neil inginkan? Memiliki keluarga yang utuh.
"Sarapan dulu, sayang. Nanti kita harus pergi ke sekolah baru kamu."
"Oke, mami..." jawab Neil penuh semangat.
Rendra yang baru selesai dengan pekerjaannya menyempatkan diri untuk menghubungi istrinya.
Panggilan tersambung, Rendra tersenyum ketika melihat wajah cantik istrinya di layar ponsel miliknya.
"Bagaimana hari mu?" tanya Rendra pada Alice ketika sambungan telepon tersambung.
"Kenapa cepat sekali pergi ke kantor?" tanya Alice balik.
"Aku harus menyelesaikan semuanya agar bisa liburan dengan kalian nanti. Beri aku waktu satu bulan untuk menyelesaikan semua ini." ucap Rendra padanya.
Alice hanya bisa menghela nafasnya dengan berat. Beginilah memang hidup bersama Rendra. Karena mereka harus bersaing dengan tumpukan berkas itu.
"Apa tidak bisa pulang untuk pergi bersama ke sekolah Neil? Aku tidak tau harus bicara apa nanti." ucap Alice pada Rendra.
Melihat Alice yang terlihat gelisah begitu membuat Rendra luluh. Kasihan memang, maka dia memilih untuk mengalah.
"Baiklah, kita bertemu di sekolah Neil nanti. Tunggu aku disana." Alice tersenyum.
Rendra begitu banyak perubahan. Karena sekarang jauh lebih pengertian dan mengalah untuk mereka.
"Oke, bye." ucapnya pada Rendra yang membalas ucapannya.
"Bye," sambungan telepon terputus.
Mereka sama-sama berangkat menuju sekolah baru Neil. Dia bahkan harus menunda rapat untuk dua jam kedepan demi anaknya.
Karena mulai sekarang, Alice dan Neil adalah prioritas utama baginya.
Ternyata Alice lebih dulu sampai ih di sekolah. Dia harus menunggu Rendra, sampai dia melihat sosok itu keluar dari mobilnya, dan Alice tersenyum.
Lihat, betapa tampannya suaminya itu setelan kantornya yang berwana putih. Di tambah kacamata kerjanya. Ah, pesona pria dewasa ini memang sulit di jangkau.
"Papi..." panggil Neil saat melihat papinya datang.
Rendra terlihat bahagia ketika melihat putranya sudah baik-baik saja.
"Halo jagoan Papi. Apa makanannya habis pagi ini?" Neil menganggukkan mantap menjawab pertanyaan papinya.
Rendra melihat ke arah Alice yang tersenyum melihat mereka berdua.
Cup...
Sebuah kecupan lembut mendarat di keningnya membuat Alice merasa begitu bahagia. "Kenapa cantik sekali?"
"Hah?" beo Alice saat mendengar pertanyaan suaminya itu.
"Kenapa berdandan secantik ini?" tanya Rendra lagi.
"Aku bahkan hanya memakai make up tipis. Lihat, disini bahkan lebih banyak orang tua yang memakai riasan yang begitu tebal." ungkap Alice padanya.
"Kamu itu sudah cantik. Jadi tidak perlu berhias berlebihan. Sudah ayo, masuk. Kita harus mengurus semua keperluan Neil." Rendra menggandeng tangan Alice dan Niel. Mereka berjalan bersama menuju ruangan kepala sekolah. Dimana banyak mata yang tertuju pada mereka saat ini.
Benar-benar definisi keluarga mantap.
***