Senandika Maverick Dananjaya, seorang dokter spesialis anak yang baru saja pulang dari masa pengabdiannya sebagai relawan dan memilih bekerja di salah satu rumah sakit besar yang akhirnya kembali mempertemukannya dengan Gistara Nauren Anandara, seorang perawat di ruang keperawatan anak dimana mereka berdua memiliki masa lalu yang tidak diketahui oleh semua orang. Masa lalu apa yang sebenarnya mereka sembunyikan? Kenapa mereka harus merahasiakan masa lalu mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penulis_Baru15, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Gista yang baru saja masuk ruang perawat sedikit kebingungan karena ruangan sangat sepi padahal sudah jam 06.30.
Sepanjang dia mengedarkan pandangannya, hanya ada Alea, kakak tingkat yang berbeda satu tahun darinya semasa di perguruan tinggi.
"Mba Alea, kok sepi? Yang shift pagi belum datang?" tanyanya ragu.
Alea hanya menunjuk ruang istirahat perawat dengan wajah lelahnya setelah dua malam berturut-turut dia tidak tidur.
Gista akhirnya masuk ke ruang istirahat perawat, disana ada 3 perawat shift malam lengkap dengan Karen, Kinan, Alana dan Bu Kalina.
"Ada yang ulang tahun? Kenapa banyak makanan?" tanyanya bersemangat saat melihat menu sarapan pagi yang cukup banyak.
"Yang satu kiriman dari dr.Dika, satunya dari dr.Cakra" jawab Bu Kalina tegas. Gista yang awalnya bersemangat seketika diam saat merasa Bu Kalina menatapnya dengan tatapan aneh saat menyebut nama Dika.
"Mereka ulang tahun?" kali ini Karen yang bertanya dengan ekspresi polosnya tetapi wanita itu mendapat lirikan dari Bu Kalina yang entah kenapa seketika membuat nyalinya menciut.
Bu Kalina menghela nafasnya, "kita timbang terima dulu, setelah itu baru gantian sarapan." perintahnya dengan tegas.
Selesai timbang terima, Dika yang hari itu memang sedang jadwal jaga tiba di ruangan.
"Selamat pagi semua" sapanya dengan ceria begitu memasuki ruang perawat. Semua orang menjawabnya dengan serentak kecuali Gista. Wanita itu sedang menatap kesal ke arah kekasihnya itu.
Merasa Gista menatapnya dengan tatapan aneh, Dika yang tidak tahu dimana letak kesalahannya memilih untuk segera memulai visit-nya hari itu.
"dokter, ada pesan di ponselnya" ucap Gista yang berjalan melewati Dika.
Dika meraih ponselnya, sebuah pesan singkat dari Gista tertera di ponselnya.
"Nanti kita perlu bicara"
Seolah tahu benar nada bicara kekasihnya, Dika hanya menghela nafas saat membaca pesan itu.
"Salah apalagi coba?" gumamnya pada diri sendiri sembari kembali melanjutkan menulis resume pasien di komputer.
Siang harinya, setelah makan siang Gista dan Dika bertemu di tangga darurat, salah satu tempat aman untuk mereka bertemu di lingkup rumah sakit.
"Kamu sama dr.Cakra janjian apa gimana sih mas kirim makanan?"
Dika masih diam. Lelaki itu coba mencerna maksud dari ucapan kekasihnya.
"Maksudnya gimana?" tanyanya tidak mengerti.
"Pagi ini kamu sama dr.Cakra ngirim sarapan ke ruangan. Okelah kalau kamu yang kirim karena kamu dokter spesialis anak, tapi kalau dr.Cakra kan agak gak masuk akal secara pasiennya bisa dibilang jarang banget di rawat inap anak"
Dika akhirnya memutuskan untuk memberi tahu alasan Cakra mengirimkan makanan ke ruang rawat inap anak. Lelaki itu menjelaskan kalau Cakra memang sedang berusaha untuk mendekati Karen. Tidak lupa, Dika juga menjelaskan masa lalu antara Karen sambil Cakra yang tentu saja membuat Gista diam sekaligus terkejut.
"Beneran mas mereka pernah pacaran?"
Dika mengangguk dengan ekspresi jumawa seolah-olah berhasil memberitahu keajaiban dunia yang belum diketahui oleh Gista.
"Tapi kayanya Bu Kalina tahu deh mas hubungan kita"
"Kenapa kamu mikir begitu?"
Gista menyandarkan punggungnya di dinding tangga darurat,
"Nggak tau sih, aku ngerasanya gitu" ucapnya dengan tatapan kosong.
"Ya sudah gak usah dipikirin. Lagian kita juga mau nikah, nanti orang-orang juga pasti tahu kok" jelasnya coba menenangkan pikiran Gista yang dia tahu sepertinya sedang kalut.
Sekarang mereka hanya diam seperti kehabisan pembahasan. Dika menghela nafasnya sebelum memanggil Gista, membuat wanita cantik itu menoleh ke arah lelaki yang juga menyandarkan punggungnya di dinding tangga darurat tersebut.
"Aku sudah bertemu ayahmu kemarin. Maaf kalau tidak memberitahumu. Ayah bilang dia memberikan restunya untuk kita"
Gista menghela nafasnya. Entahlah, dia bingung harus bersyukur atau justru khawatir dengan berita yang disampaikan oleh Dika.
"Sama istrinya? Minta apa mereka? Uang? Atau apa?" tanyanya sinis.
Dika menggeleng walaupun Gista tidak tahu Dika menggeleng untuk pertanyaannya yang mana.
"Aku menemui ayahmu sendirian. Hanya kami berdua tanpa istrinya. Beliau tidak meminta uang sepeserpun, beliau hanya minta aku untuk menjagamu karena beliau merasa tidak bisa menjagamu dengan baik selama ini"
Gista tersenyum sinis saat mendengar penjelasan Dika. Lelaki yang dengan sadar menduakan ibunya hingga membuat ibunya harus dirawat di rumah sakit jiwa sampai meninggal bisa-bisanya mengucapkan kalimat manis yang membuatnya terlihat seperti manusia.
"Apa karena dia sudah tua jadi dia merasa menjadi manusia sekarang?" tanyanya sarkas yang tidak mendapat jawaban apapun dari Dika.
Dika meraih tangan Gista,
"Ayahmu punya satu permintaan lagi setelah memberiku restunya." ucapnya dengan tatapan sentimental.
Gista menatap Dika dengan ekspresi ragu bercampur penasaran.
"Beliau ingin menemuimu"
"Aku tidak mau!" jawab Gista dengan cepat. Gista segera melepas paksa genggaman tangan Dika.
"Sebentar aja yang..." bujuknya yang lagi-lagi ditolak dengan cepat oleh Gista.
"Kalau mas mau menemuinya silahkan, aku tidak mau" ucapnya dingin yang akhirnya membuat Dika menyerah.
"Ya sudah, aku gak maksa. Tapi malam ini papa sama mama mau ketemu sama ayah kamu untuk melamar kamu secara resmi. Kamu mau datang ya silahkan, kalaupun nggak ya gak papa. Lagipula aku juga sudah dapat jawaban "iya" dari kamu kan?" ujarnya lagi setenang mungkin karena dia tahu Gista sedang kesal sekarang.
Belum sempat Gista menjawab, ponsel Dika sudah berdering lebih dahulu.
"Aku harus ke kamar operasi, persiapan SC sudah siap" ucapnya sambil menunjukkan tulisan O.R yang ada di ponselnya.
"Kamu hati-hati ya pulangnya. Love you" pamitnya lantas mencium kening Gista sebelum meninggalkan wanita itu sendirian di tangga darurat.
Gista hanya diam, membiarkan Dika meninggalkannya sendirian di tangga darurat tanpa memberikan respon apapun. Otaknya masih berkecamuk dengan permintaan Dika untuk menemui ayahnya.
Sepanjang di bis Gista masih berusaha menimbang apakah dia harus menemui ayahnya atau tidak nanti malam. Wanita itu bahkan melewatkan halte yang ada di depan komplek perumahan tempatnya tinggal. Dia merubah tujuannya dari yang awalnya pulang ke rumah menuju ke pemakaman dimana nenek, kakek dan ibunya disemayamkan.
Wanita itu membeli 3 ikat bunga sedap malam yang ada di depan pemakaman sebelum masuk menuju ke 3 makam yang saling berdampingan.
"Kakek, nenek, ibu. Aku datang..." ucapnya lembut dengan helaan nafas di akhir sapaannya. Wanita itu meletakkan masing-masing satu ikat bunga sedap malam di tiap-tiap makam dari tiga orang yang begitu dicintainya itu.
"Kakek, bagaimana rasanya bisa bertemu dengan nenek dan ibu setiap hari? Apa itu menyenangkan?" tanyanya dengan menatap makam kakeknya yang meninggal saat dia masih duduk di bangku sekolah dasar.
"Nenek, aku rindu masakan nenek" ucapnya sembari mengusap batu nisan neneknya, wanita yang merawatnya sejak kelas 2 SMA hingga Gista memasuki semester 3 kuliahnya.
Matanya beralih ke nisan ibunya. Gista menghela nafas lalu tersenyum tipis,
"Bu, apa mas Dika mengunjungi kalian baru-baru ini? Aku dengar dari penjaga makam ada laki-laki tampan yang setiap satu minggu sekali datang untuk mengganti bunga bahkan meminta penjaga makam untuk merawat makam kalian bertiga." ucapnya dengan tatapan sentimental.
"Ibu, Kakek dan Nenek...." Gista menjeda kalimatnya. Beberapa kali wanita cantik itu menghela nafasnya sembari menahan buliran air mata yang sudah bersiap jatuh dari kelopak matanya.
"Aku akan menikah dengan mas Dika. Aku belum tahu aku akan menemui ayah atau tidak, tapi aku harap kalian memberikan restu untukku dan mas Dika" ucapnya lembut sambil sesekali menyeka air mata yang sangat sulit untuk dia bendung.
Disaat Gista seolah-olah sedang berbincang dengan tiga orang di hadapannya, sebuah suara yang tidak asing di ingatannya tiba-tiba menyebut namanya.
"Mas Wira?" ucapnya dengan sedikit terkejut karena Wira datang dengan membawa 3 ikat bunga sedap malam.
"Mas Wira mau ke makam siapa?" tanya Gista berbasa-basi karena dia tidak tahu harus membahas apa dengan mantan suaminya itu.
"Mau ketemu kakek, nenek sama ibu kamu Gis. Mau nyapa mereka soalnya aku bisanya kesini cuma sebulan sekali, kan aku kerja di luar kota sekarang."
Gista terdiam, tatapannya terpaku setelah mendengar penjelasan Wira yang bahkan masih memperhatikan orang-orang yang dia sayangi.
"Kamu kesini sama siapa Gis?" tanyanya sambil melemparkan pandangan ke semua sisi makam seolah-olah mencari sosok yang mungkin menemani Gista.
"Tadi sama mas Dika, tapi dia ada panggilan mendadak di rumah sakit" ucapnya berbohong. Entah apa alasannya berbohong, yang jelas Gista hanya ingin mengatakannya saja tanpa dia juga tahu alasannya membohongi Wira.
"Ow iya..." jawab Wira dengan sorot mata kecewa saat mendengar Gista menyebutkan nama lelaki lain.
Menarik untuk d baca..
Konflik tidak terlalu berat..
bagus banget karyamu 🙏👍🌹