Liburan keluarga Pak Gunawan dan Bu Sri yang sedang hamil tua berakhir tragis ketika mereka, bersama dua pelayan dan seorang tukang kebun, ditemukan tewas mengenaskan di vila mereka.
Penyelidikan mengungkap bahwa pembantaian tersebut dipicu oleh aksi perampokan yang berubah menjadi pembunuhan brutal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penampakan!
Keesokan harinya, alarm dari ponsel Bimo berdering nyaring tepat pukul 04.30 subuh. Udara Desa Selogiri pagi itu terasa luar biasa dingin, menusuk hingga ke tulang. Kabut tebal berwarna putih keperakan turun sangat rendah, menyelimuti seluruh pekarangan rumah joglo dan membatasi jarak pandang hanya sejauh beberapa meter saja.
Sesuai dengan rencana yang sudah dibahas semalam, tidak ada satu pun dari anak muda itu yang berani terlambat.
Tepat pukul 05.00 subuh, mereka semua sudah berada di area pintu masuk desa, tepat di dekat gerbang kayu usang yang menjadi batas wilayah Selogiri.
"Gila, dinginnya bukan main!" Ujar Doni sambil merapatkan jaket tebalnya dan meniup-niup telapak tangan yang mulai mati rasa.
"Tahan, Don. Kabutnya justru lagi bagus-bagusnya ini. Cinematic sekali!" sahut Yuda dengan mata berbinar kagum.
Yuda dan Sanu bergerak cepat. Di bawah arahan Sanu selaku penata artistik, posisi berdiri para aktor diatur sedemikian rupa di depan gerbang.
Sementara itu, Yuda ditemani Jeremy si penata suara sibuk melakukan pengecekan terakhir pada kamera dan microphone boom agar tidak terganggu oleh desau angin subuh. Susan juga berdiri di samping kamera dengan papan catatannya, siap memantau kontinuitas gerakan.
Sri melangkah ke depan, memegang draf naskah bersama Bimo. Rasa kantuknya seketika menguap begitu ia melihat seluruh timnya sudah siap tempur. Jiwa sutradaranya langsung mengambil alih.
"Oke, anak-anak cast... Angga, Dita, Mey, Darwis, Doni... siap di posisi masing-masing, ya." Komando Sri, suaranya terdengar tegas membelah kesunyian subuh.
"Ingat, ini scene pembuka. Karakter kalian ceritanya baru saja turun dari kendaraan dan berjalan masuk ke desa ini dengan perasaan asing dan sedikit merinding. Tunjukkan ekspresi bingung dan waspada itu lewat tatapan mata kalian. Paham?"
"Paham, Sri!" jawab Angga dan Dita kompak.
Bagas yang berdiri di dekat mobil minibus memantau dari jauh, memberikan acungan jempol kepada Sri mengisyaratkan bahwa semua urusan logistik di sekitar lokasi aman.
Tris sang penulis skenario juga memperhatikan dengan cermat dari balik monitor kecil, memastikan dialog yang ditulisnya akan dieksekusi dengan pas.
"Yuk, kita ambil take satu! Semua kru standby!" seru Bimo lantang.
"Kamera... rolling!"
"Satu... dua... tiga... ACTION!" Sri memberi aba-aba mantap.
Suara aba-aba itu memecah kesunyian kabut fajar Selogiri. Angga dan kawan-kawan mulai berjalan perlahan menembus gerbang kayu tua tersebut, berakting dengan sangat natural sesuai arahan Sri.
Di balik lensa kamera Yuda, pemandangan itu terlihat sangat magis sekaligus mencekam. Namun, di saat yang sama, Sri yang berdiri mengawasi jalannya syuting tiba-tiba merasakan tengkuknya meremang hebat.
Angin subuh bertiup lebih kencang, menggoyang dedaunan pohon jati di sekitar gerbang, seolah-olah tanah Desa Selogiri baru saja berbisik menyambut dimulainya pertunjukan yang sesungguhnya.
Mata Sri terpaku pada monitor kecil di hadapannya. Melalui lensa kamera Yuda, komposisi gambar fajar Selogiri yang berkabut terlihat sangat sempurna.
Angga, Dita, dan Doni sedang berjalan pelan membelah kabut di depan gerbang desa, mengeksekusi dialog mereka dengan sangat natural.
Namun, saat kamera melakukan gerakan panning lambat mengikuti langkah para aktor.
Di sudut kanan atas layar monitor, di balik pekatnya kabut, Sri menangkap sebuah siluet. Ia menyipitkan mata, mendekatkan wajahnya ke layar untuk memastikan.
Di sana, tidak jauh di belakang posisi Dita dan Angga yang sedang berakting, berdiri seorang perempuan.
Perempuan itu. Tubuhnya berdiri tegak, sangat diam, kontras dengan kabut yang bergerak dinamis di sekitarnya.
Rambutnya yang panjang terurai acak-acakan, menutupi sebagian wajahnya yang menunduk.
Siapa perempuan itu? Kenapa dia berdiri di area set? batin Sri panik.
"Bim... Bimo..." Panggil Sri, sambil menarik ujung jaket Bimo yang berdiri di sebelahnya.
"Itu... siapa di belakang Dita sama Angga?" Bimo menoleh bingung.
"Hah? Siapa, Sri?."
"Itu... perempuan berambut panjang di belakang Dita sama sama Angga tadi, Bim! Kamu tidak lihat?" tanya Sri dengan suara tertahan, jemarinya menunjuk ke arah sudut layar monitor.
Bimo menyipitkan mata, langsung mendekatkan wajahnya ke arah monitor kecil di depan Sri. Namun, ia tidak menemukan apa pun di sana.
"Hah? Tidak ada orang lain, Sri." jawab Bimo heran.
Sri tidak percaya. Ia kembali menatap lekat-lekat layar digital tersebut. Namun, begitu matanya memindai kembali, benar kata Bimo. Di dalam monitor, hanya ada Dita dan Angga yang sedang memainkan peran mereka dengan natural di depan gerbang desa.
Perempuan berambut panjang yang dilihatnya tadi sudah tidak ada, seolah-olah menguap bersama kabut subuh Selogiri.
"Tapi... tapi tadi beneran ada, Bim," kata Sri pelan, matanya masih tak lepas dari layar.
Bimo mengembuskan napas panjang, lalu menepuk pundak Sri dengan lembut, mencoba menenangkannya.
"Sri... mungkin kamu cuma kecapekan dan masih mengantuk. Kita kan bangun jam setengah lima subuh tadi, ditambah perjalanan jauh kemarin. Udara di sini juga dingin. Wajar kalau mata kamu agak kunang-kunang terus salah lihat siluet pohon atau kabut."
Sri terdiam, memandangi telapak tangannya yang terasa dingin. Ucapan Bimo ada benarnya. Perjalanan melelahkan kemarin, ditambah kurang tidur dan hawa mistis Desa Selogiri yang pekat, mungkin saja telah membuat pikirannya memainkan trik psikologis.
"Oke, cut! Take pertama selesai," seru Sri memecah keheningan subuh.
Mendengar aba-aba dari sang sutradara, Yuda langsung menurunkan kameranya, sementara Angga, Dita, Mey, Darwis, dan Doni yang berada di depan gerbang desa mengembuskan napas lega. Tubuh mereka sudah menggigil sejak tadi menahan gempuran angin fajar.
Bimo menoleh ke arah Sri dan para kru lainnya.
"Kita istirahat sebentar, ya. Udara pagi ini benar-benar luar biasa dingin, tangan sampai kaku semua."
"Betul, Bim. Kita hangatkan badan dulu setengah jam. Nanti jam setengah enam lewat sedikit, pas matahari agak naik, baru kita lanjut ambil take berikutnya," tambah Sri, mencoba mengalihkan fokus dari bayangan perempuan berambut panjang yang sempat ia lihat di monitor tadi.
"Siap, Sri! Logistik, termos air panas tolong dikeluarkan!" teriak Bagas tanggap, langsung bergerak menuju area mobil bersama Tris dan Susan untuk menyiapkan minuman hangat bagi seluruh tim.
Rombongan kecil itu pun menepi, berkerumun mencari kehangatan sembari memegang segelas teh atau kopi hangat yang mengepul.
Sambil menggenggam gelas kertas berisi teh hangat yang mengepul, Sri duduk di sebuah batu besar tak jauh dari monitor syuting. Uap panas dari teh itu sedikit membantu menghangatkan wajahnya yang mulai kaku karena embun pagi.
Matanya sesekali melirik ke arah belakang gerbang desa, tempat di mana ia melihat siluet perempuan berambut panjang tadi.
Semuanya tampak normal sekarang. Hanya ada kabut yang bergerak perlahan ditiup angin.
"Nih, minum dulu, Sri. Biar fokusnya balik," ujar Susan yang tiba-tiba datang dan menyodorkan sebungkus biskuit.
Dia lalu ikut duduk di samping Sri, merapatkan jaket tebalnya.
"Dinginnya Selogiri kalau subuh memang bikin merinding, kan? Padahal aku yang asli sini saja masih sering tidak kuat."
Sri tersenyum tipis dan menerima biskuit itu.
"Iya, Mey. Dinginnya beda sama di kota. Sampai membuat mataku agak kunang-kunang tadi." Sri sengaja tidak menceritakan apa yang dilihatnya di monitor demi menjaga suasana hati yang lainnya agar tidak ketakutan.
Di sudut lain, tawa renyah Doni dan Darwis kembali terdengar. Mereka berdua, bersama Angga dan Dita, tampak sedang melakukan gerakan-gerakan pemanasan konyol untuk mengusir rasa menggigil di tubuh mereka.
Sementara itu, Yuda dan Sanu memanfaatkan jeda ini untuk mendiskusikan angle kamera berikutnya. Mereka berdua tampak memeriksa kembali pencahayaan alami yang mulai berubah seiring berjalannya waktu.
"Setengah jam lagi matahari agak naik, kabutnya pasti akan sedikit menipis tapi justru memberi efek sunray yang bagus," kata Yuda pada Sanu, yang dibalas anggukan setuju oleh sang penata artistik.
Waktu tiga puluh menit berlalu dengan cepat. Perlahan, semburat warna jingga samar mulai membelah langit timur Selogiri, meskipun hawa dingin belum sepenuhnya pergi.
Kabut tebal yang tadinya bergulung-gulung kini mulai sedikit terangkat, menyisakan jarak pandang yang lebih bersih.
Bimo melihat jam tangannya, lalu berdiri sambil menepuk-nepuk tangannya dengan lantang.
"Oke, semuanya! Waktu istirahat habis. Yuk, kembali ke posisi masing-masing! Kita kejar momen sebelum matahari terlalu tinggi."
Mendengar komando Bimo, anak-anak cast langsung merapikan pakaian mereka dan kembali berjalan menuju titik awal di depan gerbang kayu tua. Rasa kantuk mereka kini sudah sepenuhnya hilang digantikan oleh kesiapan mereka.
Sri meletakkan gelas kosongnya, menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan sisa-sisa kegelisahan di hatinya, lalu kembali berdiri di balik monitor.
"Tim kamera siap? Tim audio?" tanya Sri memastikan.
"Kamera aman, Sri!" sahut Yuda.
"Audio aman!" timpal Jeremy dari balik headphone-nya.
"Oke, take dua... kita ambil dari angle yang agak melebar ya," komando Sri. Bimo segera bersiap di sampingnya.
"Semua kru standby... Kamera... rolling! Action"