Karena terjebak utang keluarga yang menumpuk, Anya terpaksa menerima tawaran menjadi istri kontrak Arga, seorang pewaris perusahaan terkaya yang dikenal dingin dan tak pernah percaya pada cinta. Perjanjian mereka hanya berlaku satu tahun: tidak ada ikatan batin, tidak ada rasa sayang, dan akan berakhir begitu waktunya habis. Namun seiring berjalannya hari, kehadiran Anya perlahan mencairkan hati yang sudah lama membeku. Akankah hubungan yang diawali dengan perjanjian ini berakhir dengan perpisahan, atau justru tumbuh menjadi cinta yang tak terpisahkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Maysha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Jejak yang Terus Berlanjut
Waktu terus melangkah maju, membawa serta perubahan yang perlahan namun pasti. Kini, sepuluh tahun telah berlalu sejak pertemuan keluarga di taman itu. Raka telah menginjak usia lima puluh tahun — usia di mana ia mulai melangkah masuk ke tahap hidup yang lebih tenang, namun tetap aktif mengawasi segala hal yang berjalan dalam lingkup usaha dan sosial yang telah dibangunnya. Wajahnya masih terlihat tegap, meski rambut di pelipisnya mulai memutih sedikit demi sedikit sebagai tanda perjalanan waktu yang telah dilaluinya.
Di usia yang sama, Arga dan Anya kini berusia mendekati tujuh puluh tahun. Kesehatan mereka masih terjaga dengan baik, dan mereka menghabiskan hari-hari dengan beristirahat, berkeliling tempat-tempat yang memiliki kenangan indah, serta mengamati bagaimana generasi muda terus melanjutkan apa yang telah mereka rintis. Bagi mereka, melihat keturunan tumbuh dengan baik dan memegang teguh nilai luhur adalah kebahagiaan terbesar yang tidak ternilai harganya.
Sementara itu, Bima kini telah berusia dua puluh lima tahun — memasuki usia dewasa yang matang, siap untuk memikul tanggung jawab lebih besar. Ia telah menempuh pendidikan terbaik, baik di dalam negeri maupun luar negeri, namun tidak pernah melupakan ajaran yang selalu ditanamkan sejak kecil. Tidak seperti banyak anak muda dari keluarga kaya yang terjebak dalam gaya hidup mewah dan bebas, Bima justru memilih jalan yang sama seperti yang ditempuh ayahnya: memulai dari bawah, merasakan sendiri setiap proses, dan memahami seluk-beluk usaha dari akarnya.
Pagi itu, suasana di ruang rapat utama terasa berbeda dari biasanya. Hari ini adalah hari di mana Bima secara resmi akan diperkenalkan untuk memegang posisi penting di bagian pengembangan usaha dan hubungan dengan mitra. Sebelum rapat dimulai, Raka memanggil putranya untuk duduk berdua sejenak.
“Nak, hari ini kamu akan melangkah ke tangga yang lebih tinggi. Ingat, posisi ini bukanlah tanda bahwa kamu sudah lebih baik dari orang lain, melainkan tanda bahwa kepercayaan yang besar telah diberikan kepadamu. Setiap keputusan yang kamu ambil nanti akan memengaruhi banyak orang — karyawan, keluarga mereka, dan nama baik yang telah dibangun puluhan tahun lamanya,” ujar Raka dengan nada tenang namun penuh makna.
Bima menatap ayahnya dengan tatapan hormat dan mantap. “Saya mengerti, Ayah. Saya tidak akan melihat ini sebagai hak yang saya dapatkan begitu saja, tapi sebagai amanah yang harus dijaga sebaik mungkin. Saya akan terus belajar, mendengarkan saran, dan tidak akan pernah melupakan prinsip yang telah diajarkan.”
Dalam rapat yang dihadiri oleh seluruh pimpinan dan penasihat, Raka memperkenalkan Bima secara resmi. Ia tidak memuji berlebihan, melainkan menyampaikan dengan jujur apa yang telah dilihatnya selama ini.
“Bima bukan diangkat hanya karena ia anak saya. Ia telah membuktikan selama bertahun-tahun bekerja di lapangan, memahami kesulitan, belajar dari kesalahan, dan menunjukkan sikap yang bertanggung jawab. Hari ini, saya serahkan tanggung jawab ini kepadanya, dan saya harap kalian semua bisa membimbingnya seperti kalian membimbing saya dulu,” kata Raka di hadapan semua orang.
Mendengar penjelasan itu, tidak ada rasa ragu yang terlihat. Mereka telah melihat sendiri bagaimana Bima bekerja — disiplin, rendah hati, dan selalu mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.
Namun, memasuki peran baru bukan berarti jalan yang ditempuh akan menjadi mudah. Beberapa bulan kemudian, sebuah tantangan baru muncul yang menguji kemampuan dan pendirian Bima. Terjadi perubahan besar dalam peraturan perdagangan nasional, yang membuat banyak aturan lama harus disesuaikan. Beberapa pesaing dan pihak yang ingin mengambil keuntungan mencoba memanfaatkan situasi ini dengan cara-cara yang tidak jujur, bahkan menawarkan kerja sama yang menggiurkan namun berisiko merusak prinsip yang dipegang.
Dalam sebuah pertemuan, salah satu mitra lama mengajukan usulan yang terlihat sangat menguntungkan dalam waktu singkat.
“Tuan Bima, jika kita mengikuti cara ini, keuntungan kita bisa meningkat dua kali lipat dalam setahun saja. Banyak perusahaan lain sudah melakukannya, dan selama tidak ada yang melaporkan, semuanya akan berjalan lancar,” ujarnya dengan nada meyakinkan.
Bima mendengarkan dengan tenang, namun di dalam hatinya ia langsung teringat semua cerita dan nasihat yang didengarnya sejak kecil. Ia teringat bagaimana keluarga ini selalu memilih jalan yang benar meskipun terasa lebih lambat.
Setelah berpikir sejenak, ia menjawab dengan tegas namun tetap sopan.
“Terima kasih atas usulannya. Saya mengerti tujuannya, tapi Wijaya Group tidak akan melakukannya. Keuntungan yang didapat dengan cara yang tidak sesuai aturan dan prinsip hanya akan bertahan sebentar. Kita ingin membangun hubungan dan usaha yang bisa bertahan untuk generasi berikutnya, bukan hanya untuk hari ini saja.”
Keputusan itu sempat membuat beberapa orang terkejut dan menganggapnya terlalu kaku. Namun Bima tetap berdiri teguh. Ia kemudian menyusun rencana penyesuaian sendiri yang tetap mematuhi peraturan, meskipun butuh waktu lebih lama dan usaha lebih keras.
Saat mendengar hal itu, Raka hanya tersenyum lega. Ia tahu, benih kebaikan yang ditanamkan telah tumbuh kuat dalam diri putranya.
“Kamu memilih jalan yang benar, Nak. Jangan khawatir jika terasa berat di awal. Keberkahan selalu menyertai langkah yang jujur,” kata Raka saat mereka berbicara nanti.
Di sisi lain, Lestari — adik Bima yang kini berusia dua puluh dua tahun — juga telah menemukan jalannya sendiri. Ia tidak tertarik untuk terjun langsung ke dunia usaha, melainkan memilih untuk fokus mengembangkan kegiatan sosial dan pendidikan yang telah dirintis oleh neneknya, Anya. Ia melihat bahwa banyak daerah yang masih membutuhkan perhatian, terutama dalam hal akses pendidikan bagi anak perempuan dan pelatihan keterampilan bagi ibu rumah tangga agar bisa mandiri secara ekonomi.
Suatu hari, Lestari datang menemui kakek dan neneknya dengan sebuah rencana baru.
“Kakek, Nenek, saya ingin mengembangkan program pelatihan di desa-desa terpencil. Banyak ibu di sana memiliki keterampilan menjahit dan menenun, tapi hasil kerajinan mereka tidak terjual dengan harga yang layak karena tidak tahu cara memasarkannya. Saya ingin membantu mereka mengelola dan memasarkan hasilnya agar bisa mendapatkan penghasilan yang lebih baik,” ujarnya dengan semangat.
Anya mendengarkan dengan senyum bahagia. “Rencana yang sangat baik, Nak. Inilah cara terbaik untuk menolong — tidak hanya memberi bantuan, tapi membuka jalan agar mereka bisa berjalan sendiri. Kami mendukungmu sepenuhnya.”
Arga juga menambahkan, “Ingatlah, dalam membantu orang lain, kita harus melakukannya dengan rasa hormat, bukan seolah sedang memberi belas kasihan. Jadilah teman bagi mereka, bukan hanya pemberi bantuan.”
Dengan bimbingan dan dukungan keluarga, Lestari mulai menjalankan program itu. Ia turun langsung ke lapangan, tinggal sementara di desa-desa, mendengarkan keluh kesah warga, dan bersama-sama mencari solusi. Dalam waktu dua tahun, hasilnya mulai terlihat. Kerajinan tangan yang dihasilkan warga mulai dikenal luas, bahkan sampai ke luar daerah. Penghasilan mereka meningkat, dan mereka bisa menyekolahkan anak-anak dengan lebih tenang.
Suatu sore, saat seluruh keluarga berkumpul lagi di taman rumah — tempat yang telah menjadi saksi begitu banyak peristiwa — suasana terasa sangat hangat dan penuh makna. Angin berhembus lembut, membawa kenangan dari masa lalu dan harapan untuk masa depan.
Arga memandang ke sekelilingnya, melihat Raka yang masih aktif memimpin, melihat Bima yang mulai memegang tanggung jawab baru, dan melihat Lestari yang sibuk dengan kegiatan sosialnya. Matanya terasa berkaca-kaca karena rasa syukur yang meluap.
“Lihatlah semua ini,” ucapnya perlahan, suaranya terdengar lembut namun jelas. “Dulu, saya mengira pernikahan kontrak yang saya jalani hanya akan menjadi kesepakatan biasa yang berakhir setelah waktunya tiba. Saya tidak menyangka bahwa dari situ akan tumbuh ikatan yang begitu kuat, kebahagiaan yang tulus, dan kebaikan yang terus mengalir sampai ke generasi ketiga ini.”
Anya mengangguk setuju, lalu melanjutkan, “Kita tidak pernah tahu rencana yang lebih besar di balik setiap peristiwa yang terjadi. Yang penting adalah bagaimana kita menjalaninya — dengan kejujuran, kesabaran, dan keinginan untuk berbuat baik. Itulah yang mengubah segalanya.”
Raka menatap kedua orang tuanya dengan rasa hormat yang mendalam, lalu menoleh ke arah Bima dan Lestari.
“Kalian telah melihat bagaimana perjalanan ini berlangsung. Apa yang kalian miliki hari ini bukanlah milik kalian secara mutlak, tapi titipan yang harus dijaga dan diteruskan. Jika suatu saat nanti kalian menghadapi kesulitan, keraguan, atau godaan, ingatlah selalu jalan yang telah ditempuh oleh mereka yang mendahului kita. Jalan yang benar mungkin terasa panjang, tapi ia membawa kedamaian dan keberkahan yang abadi.”
Bima dan Lestari mendengarkan dengan penuh perhatian, menyimpan setiap kata yang diucapkan sebagai pedoman hidup. Mereka menyadari bahwa kisah keluarga Wijaya bukanlah sekadar cerita tentang kekayaan dan kemewahan, melainkan kisah tentang bagaimana mengelola apa yang dimiliki dengan hati yang tulus.
Malam itu, saat bintang-bintang mulai bersinar terang di langit, cahaya lampu di taman tetap menyala lembut. Ia melambangkan cahaya kebaikan yang telah dinyalakan bertahun-tahun yang lalu, dan kini terus menyala, diteruskan dari satu tangan ke tangan lainnya.
Kisah ini tidak berakhir di sini. Ia akan terus berlanjut, menulis lembaran baru dengan nilai-nilai yang sama: kejujuran, tanggung jawab, kasih sayang, dan kepedulian. Warisan yang paling berharga tidak pernah terukur dengan angka atau harta, melainkan dengan jejak kebaikan yang ditinggalkan dan keberkahan yang terus menyertai setiap langkah yang diambil.
Dan begitulah, pernikahan kontrak yang dimulai dengan alasan yang sederhana, telah tumbuh menjadi pohon kehidupan yang rindang, meneduhkan dan memberikan manfaat bagi banyak orang, sepanjang masa.
Bersambung...