Senja tak pernah menduga, jika di rahimnya bakal hadir dua sosok malaikat kecil akibat pelecehan yang dilakukan Bumi terhadapnya.
Pasca menikah dengan Bumi, Senja seringkali mendapat perlakuan kasar.
Bahkan Bumi tega beberapa kali mencelakai Senja hanya untuk melenyapkan bayi yang dikandungnya.
Di saat Senja tak mendapat kasih sayang dari suaminya, kehadiran Langit sudah cukup menjadi pelipur lara baginya. Namun, kehadiran Langit justru membuat Bumi menjadi cemburu sekaligus takut jika Senja akan jatuh ke pelukan Langit.
“Aku nggak mau kamu menjadi hujan. Tapi langit seperti namamu, Mas. Bak sebuah pepatah, 'Sesetia Langit Menemani Senja'. Langit yang begitu setia menemani senja meski ia nggak selamanya indah.” Senja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrafa Aris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. SLMS
Untuk sejenak Langit hanya diam. Mengelus punggung Senja dengan lembut kemudian membenamkan dagu di puncak kepala.
“Sakit banget jika mengingat lagi kejadian sebelumnya,” bisik Senja. “Aku sudah berusaha keras mempertahankan bayiku dari kekejaman Mas Bumi. Nyatanya takdir tetap nggak berpihak kepadaku. Andai nyawaku bisa ditukar dengan Kala dan Aru, maka aku akan menukar nyawaku untuk mereka. Karena aku yakin, Kala dan Aru akan aman bersamamu, Bik Riri juga Mang Dul.”
“Senja.” Langit semakin mengeratkan dekapannya.
“Mas Langit.” Senja mengurai pelukannya.
“Ada apa?” Langit tersenyum tipis seraya mengelus wajah Senja.
“Setelah kondisi kesehatanku berangsur membaik, aku ingin bekerja lagi.”
“Di CJ Club'?” tanya Langit.
“Nggak, tapi di hotel milikmu. Terserah kamu akan menempatkan aku di hotel mana. Masalah posisi, aku nggak milih-milih yang penting aku bisa bekerja,” jelas Senja.
“Bumi pasti nggak akan mengizinkan.”
“Aku nggak peduli, lagian aku akan segera memasukkan gugatan cerai ke pengadilan agama.”
“Bumi, jika sudah seperti ini. Aku nggak bisa membantu. Karena kebencian Senja, kamu sendiri yang ciptakan. Harusnya kamu yang berusaha membujuknya,” batin Langit.
Dua Minggu yang lalu ...
Pasca Senja meminta cerai, Bumi terus membujuk Langit untuk membantunya mengembalikan kepercayaan Senja.
Ia sampai rela berlutut memohon kepada Langit karena tak ingin berpisah dari Senja.
Meski Langit enggan membantu karena ikut merasa sakit hati, namun ia juga tak tega. Apalagi melihat kesungguhan Bumi yang benar-benar menyesali perbuatannya.
Akan tetapi Langit juga memberi peringatan keras. Jika Bumi sampai mengulangi perbuatannya atau melakukan kesalahan meski sekecil apapun, dia tak akan segan-segan langsung turun tangan.
Langit sendiri yang akan memasukkan gugatan cerai itu tanpa menunggu Senja melakukannya.
Namun, ia juga tak yakin bisa membujuk Senja. Karena wanita itu sudah terlanjur sakit hati. Bukan hanya fisik tapi juga batin.
Semua keputusan ada di tangan Senja. Tergantung dari masukan Bik Riri juga Mang Dul. Karena pasangan itulah yang paling didengar oleh Senja.
*********
Malam semakin larut. Sejak pulang dari TPU, Bumi terlihat cemas, gelisah serta khawatir karena Senja tak kunjung pulang.
Namun sebaliknya dengan Bik Riri juga Mang Dul, keduanya malah tampak santai. Karena mereka tahu jika Senja tak pulang berarti wanita itu sedang berada di rusun.
“Ke mana Senja? Aku khawatir dia kenapa-napa. Mana di luar sana hujan deras,” gumam Bumi lalu mengarahkan pandangan ke jam dinding. “Sudah jam setengah dua belas malam.”
Ingin menghubungi Senja namun istrinya itu sudah tak memiliki ponsel akibat kecelakaan.
“Besok aku harus membelikannya ponsel.”
Bumi menghampiri jendela sembari menyesap rokok. Memandangi tetesan air hujan yang turun begitu deras.
Namun, tiba-tiba saja pikirannya melayang memikirkan tentang pria yang ditemui oleh sang Mama. Bumi bertanya-tanya sekaligus merasa curiga.
Tanpa pikir panjang ia meraih ponsel lalu menghubungi seseorang untuk memeriksa CCTV di tempat yang ia maksud.
“Ada hubungan apa Mama dengan pria itu?Mereka tampak mencurigakan,” ucap Bumi sesaat setelah memutuskan panggilan telefon.
.
.
.
Senja terus memandangi tetesan air hujan dari balik kaca jendela. Ia seolah larut dalam suasana itu.
Memejamkan mata, mendengar sekaligus menghayati suara gemericik air hujan yang jatuh membasahi bumi.
Suatu kondisi yang sangat disukai oleh Senja sejak ia kecil.
“Senja,” tegur Langit seraya merangkul bahu wanita itu.
“Hmm.” Senja tetap memejamkan mata.
“Kenapa kamu sangat menyukai hujan?” tanya Langit.
“Karena hujan sangat mewakili perasaanku, Mas. Semuanya menyatu dalam diriku. Di saat kondisi seperti ini aku seolah terlena. Entahlah, yang jelas aku sangat menyukai hujan. Andaikan hujan adalah seorang pria, mungkin aku akan sangat mencintainya.”
“Bagaimana jika hujan itu, adalah aku?”
Senja perlahan membuka mata, merubah posisi berhadapan dengan Langit. Senyumnya langsung terukir manis meski tipis.
“Syukurlah dia sudah mulai bisa tersenyum meski tipis.”
“Aku nggak mau kamu menjadi hujan. Tapi langit seperti namamu, Mas. Bak sebuah pepatah, 'Sesetia Langit Menemani Senja'. Langit yang begitu setia menemani senja meski ia nggak selamanya indah.”
Langit langsung membenamkan bibirnya yang dalam dan lama ke kening Senja. Memeluknya erat seolah tak ingin melepas.
“Mas Langit, pulanglah. Aku nggak apa-apa sendiri di sini,” bisik Senja.
“Aku akan pulang setelah memastikan kamu tidur lebih dulu,” balas Langit. “Yuk, aku temani.”
Dengan patuh Senja menurut. Sesaat setelah berada di kamar, Langit memintanya berbaring.
“Tidurlah,” perintah Langit sembari menggenggam jemari lentik Senja.
Langit terus memandangi Senja yang perlahan mulai memejamkan mata. Sesekali senyum terukir manis dibibirnya.
Beberapa menit kemudian setelah memastikan Senja benar-benar sudah terlelap, ia mengecup singkat kening sang sahabat kemudian menyelimutinya.
“Bermimpilah yang indah tentang kita. Kamu, aku, Kala dan Aru.”
Setelah itu, ia mematikan lampu, menutup pintu kamar lalu meninggalkan unit Senja.
“Sesetia langit menemani senja. Langit yang begitu setia menemani senja meski ia nggak selamanya indah.” Langit kembali mengulangi kalimat itu lalu tersenyum.
“Kamu benar, Senja. Aku akan setia menemanimu seperti ucapanmu tadi. Berlarilah kepadaku jika rasa itu telah mati pada Bumi.
...----------------...