Tiga tahun menjalin hubungan pernikahan, Gempita mengetahui kalau suaminya telah berselingkuh dengan wanita yang lebih muda.
Dalam situasi seperti ini, ia menghadapi kebingungan. Satu alasan yang tidak bisa diungkap. Apakah bercerai atau mendiamkan perbuatan Melvin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon renita april, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keinginan Cal
Sampai lewat jam makan siang, Cal masih berada di depan kamar Gempita. Namun, wanita itu sama sekali tidak menggubris. Jangankan mengangkat telepon, membalas pesan yang Cal kirimkan, bahkan pintu yang sudah beberapa kali diketuk tidak dapat membuat Gempi luluh.
"Gempi, kita perlu bicara." Cal sedikit mengeraskan suaranya.
Biar saja tamu yang lewat menganggapnya gila saat ini. Asal Gempi mau membuka pintu dan bicara. Padahal hubungan mereka sudah membaik dan kejadian semalam itu bukan kesalahan.
Tidak sekalipun Cal anggap tindakan semalam adalah ketidaksengajaan. Itu alami dari keduanya yang sama-sama menginginkan kehangatan.
"Tunggu nanti malam, Gempi. Jika kamu masih tidak mau menemuiku, tahu sendiri akibatnya." Cal ingin memukul daun pintu, tetapi lekas tersadar. Ia bukanlah pria sembarangan seperti dulu. Seorang publik figure jelas harus menjaga sikapnya.
Dalam kamar, Gempi mendengar suara Cal karena ia berada tepat di belakang pintu. Hanya saja tidak berkeinginan untuk membuat Cal masuk.
Keadaan hatinya tengah kalut saat ini. Pertama karena ikatan bersama Melvin membuatnya bersalah karena telah melakukan tindakan tidak terpuji bersama Cal. Lalu, ketika Nindi yang terlihat bahagia bersama Melvin.
Sungguh Gempi merasa tersisih melihat sepasang pengantin baru itu. Ia bisa saja tidak memedulikan keduanya atau hubungan yang mengikat. Hanya saja, Gempi merasa mengulang masa lalu. Ia kembali tidur bersama Cal tanpa ikatan apa pun. Sejatinya, tidur bersama itu antara pasangan yang saling mencintai.
Gempi mencoba menghubungi Sifa. Karena sahabatnya itu yang bisa menghibur dirinya yang galau dan untungnya Sifa mengangkat panggilan video itu.
"Yang lagi liburan di Italia. Jangan lupa oleh-oleh," kata Sifa.
"Ada Charlie di sini."
"Charlie?" kening Sifa berkerut. "Maksudmu Cal? Oh, my ... Cal ada di Italia?" Sifa baru kaget setelah memahami ucapan Gempi.
Gempi mengangguk. "Entah ini kebetulan, aku sendiri tidak tahu."
"Itu jodoh namanya? Kapan kalian bertemu?"
"Aku bahkan tidur dengannya."
Dari layar ponsel, terlihat Sifa menutup bibir. "Jadi, kamu dan dia ...."
"Aku mengkhianati Melvin."
"Dia juga berbuat sama," kata Sifa.
"Itu sama saja aku membalasnya, kan?"
"Apa waktu bisa diulang lagi? Tidak, kan? Gempi, nikmati kebebasanmu. Jangan pikirkan Melvin."
"Enggak bisa." Gempita bahkan menangis. "Melvin udah lupain aku. Dia bahagia sama Nindi. Bahkan mereka enggak segan buat pamer kemesraan."
"Jadi, kamu sedih karena Melvin?"
"Aku ini istrinya, Sifa."
"Aku sudah yakin bakal begini akhirnya. Sekuat atau setegar apa pun, tetap saja hati ini lemah. Meski kamu menerima pernikahan Melvin, tetapi hati kecilmu enggak bakal menerimanya."
Gempi mengusap air matanya. "Sudah cukup sedihnya."
"Sini, Gem. Kamu harus ngelakuin sesuatu."
"Apa?" Gempita terlihat penasaran dan mendengar apa yang dikatakan oleh Sifa. "Bagaimana kalau dia menghilang lagi? Bagaimana kalau Melvin malah berpaling dariku?"
"Justru bagus, kan? Jangan terlalu bermain dengan perasaan. Kadang kita juga harus jadi perempuan kejam. Kalau kamu mau balas dendam, lakuin itu. Kalau kamu pasrah aja, silakan. Pilihan ada di tanganmu. Semua baik dan buruknya, kamu yang tanggung. Kamu sudah dewasa, bisa berpikir. Ada waktunya kamu pakai hati dan ada kalanya pakai otak."
Gempita mengangguk. "Makasih, Sifa. Aku enggak tahu lagi gimana kalau enggak ada kamu."
"Kita udah lama bareng. Kamu pernah bantuin aku susah. Kita sama-sama."
"Peluk jauh." Gempita merentangkan tangan dan keduanya tertawa bersama.
Cal sampai ketiduran gara-gara menunggu amarah Gempi mereda. Ia beringsut bangun, tidak peduli belum mencuci wajah, langsung menuju kamar Gempi di sebelah.
Dengan tidak sabarnya, Cal mengetuk pintu, tetapi masih tidak direspon. Cal memeriksa saku celana, memutuskan ke kamar guna mengambil ponsel yang tergeletak di atas nakas.
Siang sudah berganti malam. Cal tidak sadar kalau dirinya cukup lama tertidur. Ia mencoba menelepon Gempi, tetapi panggilannya tidak diangkat. Cal mencoba beberapa kali sampai mendengar suara bising musik.
"Kamu di mana?" tanya Cal dengan tidak sabarnya.
"Buat apa kamu tahu?"
Suara Gempi terdengar keras. Karena musik yang menghentak membuatnya harus bicara nyaring.
"Kumohon, Gempi. Beritahu aku. Kamu di mana?"
"Night Club kemarin." Gempi langsung memutus telepon.
Cal mengumpat dan lekas keluar dari kamar dengan membawa topi serta dompet. Raut wajahnya kesal karena Gempi pergi ke tempat hiburan seorang diri.
Ini negara orang dan apa pun bisa terjadi. Membuat khawatir saja. Saat bertemu nanti, Cal bersumpah akan memarahinya.
Dengan menumpang taksi dari hotel, Cal tiba di kelab malam. Ia langsung masuk setelah diizinkan security dan mencari keberadaan Gempita.
"Di mana dia?" mata Cal mencari sosok itu di keramaian dan akhirnya, menemukan wanita tersebut tengah dalam pelukan pria lain. Gempi tengah berdansa bersama laki-laki berambut pirang dan itu membuat amarah dalam diri Cal timbul. "Menyingkirlah!" Cal mendorong pria itu. "Beraninya kau menyentuh kekasihku."
Suasana seketika menjadi ribut karena ulah Cal. Ada yang memotret karena mengenal Cal sebagai vokalis band Walker High.
Gempita yang menyadari sesuatu, lekas mundur, ia berlari dengan menutupi wajahnya. Cal tahu potretnya diambil, tentu saja marah.
"Jika kalian berani menyebarkannya, aku akan tuntut kalian!" Cal langsung pergi demi mencari Gempita kembali. "Sialan! Di mana dia? Gempita!" seru Cal.
"Apa yang kau lakukan?" Gempi berusaha melindungi diri dengan tas tangan. "Cepat masuk mobil."
Cal menarik tangan Gempi, membawanya masuk mobil taksi dan meminta sopir menurunkan mereka di jalan Milano Ovestay 22 street. Ada taman di sana dan banyak pengunjung di malam hari.
"Sebenarnya apa maumu?" tanya Cal, saat keduanya telah berada di taman dan berdiri di depan bangku kosong.
"Enggak kebalik? Kamu sendiri kenapa gangguin aku terus?" Gempi menatap Cal. "Aku udah lupain kejadian semalam. Anggap aja kita sama-sama khilaf."
"Kita sadar melakukan itu, Gempi."
"Aku tahu. Jadi, kamu mau apa?" Gempi menatap Cal lekat. "Jangan berpikir untuk menjalin hubungan tanpa status, seperti dulu."
"Gempi ... sebenarnya aku tidak pernah bisa melupakanmu."
Gempi tertawa mendengarnya. "Jangan merayuku, Cal."
"Itu benar. Kamu meninggalkanku."
"Kenapa kamu enggak datang padaku?"
"Kamu bisa berkata begini tanpa sadar apa yang telah kulakukan? Aku bahkan memohon padamu."
"Bukan permohonan yang aku inginkan, Cal. Tapi, Status. Sulit sekali bagimu untuk menyatakan kalau aku ini kekasihmu di depan semua orang. Aku tahu." Gempita mengangguk. "Paham kalau kamu punya masa lalu dan sampai saat ini, kamu terjebak olehnya. Sementara keputusanku sudah benar. Tidak baik menjalin hubungan dengan pria yang masih terpaku pada kenangan lama."
"Aku ingin mengulang semuanya," ucap Cal.
"Terlambat. Aku sudah punya suami."
"Gempita ...."
"Jika kamu menginginkanku, kamu tahu di mana tempatnya." Gempita berpaling, tetapi Cal lekas memeluknya dari belakang.
ok lah AQ AQ lanjutkan bacanya meskipun sedikit bikin hatiku deg degan🤭SMG nanti diakhir TDK mengecewakan, masih penasaran😁