Klara baru bangun dari koma setelah tiga tahun, anak yang dulu di kandungnya kini sudah menjadi balita yang bisa melihat hantu.
Di saat Klara ingin dekat dengan putrinya, tiba-tiba anak dari suaminya datang dan hadir di antara mereka. Membuat hubungan yang hendak dibangun menjadi sangat rumit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ka Umay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Singa
Pak Tendi datang dengan membawa beberapa orang, mereka melakukan ritual hingga membuat Ibu dan adik-adik Klara merasa merinding.
Mereka bertanya-tanya kenapa banyak orang di rumah, juga kenapa banyak bunga serba bau kemenyan. Tapi Klara tidak menjawab, ia tetap bungkam dan menyuruh semua orang bungkam.
"Jaman sekarang masih percaya kayak gituan?" tanya Erick, di tidak tahu apa yang ada di pikiran kakak tirinya.
Mereka beda ayah, hanya nenek dari ayah yang punya kekuatan supranatural, Erick tidak mengalami masa kecil yang sama seperti Klara. Bahwa Erick tidak punya ikatan darah yang sama dengan Klara.
"Kamu ngapain sih?" tanya Ibu, tampak tidak suka. Pasti ibu familiar dengan keadaan ini.
Selama menikah dengan ayah, ia tinggal di rumah mertua yang seorang dukun. Setiap hari berurusan dengan bunga dan bau kemenyan.
"Apakah ini mengingatkan ibu dengan sesuatu?" tanya Klara, menoleh ke ibunya.
Wajah ibu langsung berubah, tangannya mengepal. Dia tidak mau mengakui ingatannya sendiri. Pasti ia akan teringat betapa mengerikannya nenek dan ayah.
Selain memiliki mertua dukun, ayah juga sering mabuk-mabukan serta judi. Sangat berbeda dengan adik ayah yang ikut ayahnya merantau ke Jakarta. Nenek dan kakek bercerai. Kakek membenci pekerjaan nenek.
Katanya dulu kakek menikahi nenek dengan syarat nenek akan berhenti jadi dukun, tapi ternyata setelah melahirkan dua anak, nenek tetap tidak mau berhenti, dia mengingkari janjinya.
Kakek memilih cerai dan membawa anak bungsunya, yakni paman yang selama ini merawat Klara dan menikahkannya dengan Kyos.
Sementara ayah, dia tinggal bersama nenek sampai mati. Lalu ibu melarikan diri meninggalkan Klara berada dalam asuhan nenek.
Tak lama kemudian nenek mati dibakar warga setelah ada orang yang kena santet, mereka menemukan bukti bahwa nenek pelakunya. Klara tidak habis pikir, kenapa ibu pergi tanpa membawanya dan malah meninggalkannya dalam keadaan mengerikan seperti itu.
Nenek meninggal di depan mata Klara, ia juga diseret warga hendak dibakar juga seperti nenek. Beruntung paman datang menyelamatkan Klara.
Keadaan Klara saat itu sangat terguncang, paman mencari ibu Klara supaya bisa mengembalikan mental Klara yang hancur setelah melihat kematian ayah dan neneknya. Namun, ibu memilih berpaling, tidak peduli pada Klara. Membuat Klara semakin terpuruk.
"Apa maksudmu? Ibu tidak ingat apapun." Ibu berbohong, dia balas menatap Klara dengan tajam.
Klara tidak peduli, ia hanya ingin anaknya tidak mengalami hal yang sama seperti nenek. Klara tahu bahwa sekarang sudah berbeda dengan zaman dulu.
Ditambah, Kyos adalah orang dengan pemikiran terbuka. Dia tidak pernah menuntut ini itu pada anak-anak termasuk Chika. Dia juga mudah menerima kemampuan Chika yang diturunkan dari neneknya.
Namun, Klara tidak seperti itu. Dia telah mengalami banyak hal sulit karena kemampuan neneknya. Dia tidak mau hal yang sama terulang. Dia harus mencegah Chika memiliki kemampuan itu dalam bentuk apapun.
"Saya sudah memasang pagar, tidak ada mahluk halus yang bisa masuk rumah ini. Para Kodam saya menjaga rumah ini dua puluh empat jam."
Pak Tendi berkeringat, ia melakukan banyak hal sejak Chika kecil hingga sekarang. Beliau juga yang membantu Chika mengendalikan kemampuannya.
"Terima kasih, Pak. Ayo kita makan bersama dulu."
Klara mempersilakan Pak Tendi dan rombongan masuk ke ruang makan, di sana sudah tersedia berbagai hidangan kesukaan Pak Tendi. Mungkin karena sering bertemu jadi Klara hafal apa saja yang disukai dan tidak disukai Pak Tendi.
"Wah, pindang. Pasti enak sekali." Pak Tendi menarik kursi.
"Iya, silakan dinikmati." Klara tidak ikut duduk, dia membiarkan Pak Tendi dan rekan-rekannya menikmati hidangan.
Clarissa menarik Klara, dia ingin bicara berdua.
"Jangan sekarang masih percaya hal mistis, kakak udah gila ya?"
Mata Clarissa melotot, dia tampak waspada terhadap Pak Tendi dan rekan-rekannya. Klara menghempas tangan Clarissa, adiknya itu tidak tahu bahwa hal yang dilakukan Klara adalah untuk melindungi putrinya.
"Jangan ikut campur kalau kamu mau selamat," ucap Klara. Membuat Clarissa merinding. Gadis itu mundur, ia melirik ibunya yang tidak menghentikan tindakan Klara.
Malah, ibunya menggeleng. Menyuruh Clarissa menjauh dari Klara yang tidak bisa dihentikan siapapun termasuk Kyos.
Setelah mengantar kepergian Pak Tendi, Klara merasa lega. Dia hanya tinggal menunggu Chika pulang. Mulai sekarang pertemanan anak itu dan mahluk ghaib akan berakhir.
"Kakak itu istrinya Kyos Hoshim, pemilik perusahaan besar. Masih aja percaya takhayul, pantas saja Ibu bilang kakak gila." Clarissa hendak keluar rumah, mulutnya mengatakan itu tanpa menatap kakaknya.
"Sebelum aku menjadikan mu tumbal, lebih baik kamu diam." Klara menoleh ke Clarissa, begitu juga Clarissa.
Clarissa segera memalingkan wajah, ia tidak menanggapi Klara dan keluar rumah. Clarissa selalu pergi ntah kemana. Dia mengaku pergi main, tapi Klara tahu bahwa sebenarnya Clarissa sedang mencari pekerjaan.
Adik perempuan Klara itu tidak mau hidup menumpang terus, ia tidak bisa melihat ibunya menjadi penjilat.
Pukul tiga sore, Chika pulang sekolah bersama Arsel. Sementara Halim sudah pulang duluan dari tadi, sekarang anak TK itu sedang main dengan pengasuhnya.
"Ayo, kenapa berhenti?" Tanya Arsel. dia melihat keanehan pada Chika.
Gadis kecil itu menoleh ke samping, ia menunjukkan raut wajah bingung. Merasakan ada yang berbeda dari rumahnya.
"Kenapa nggak bisa masuk, Vi?" Tanya Chika ke udara kosong. Membuat Arsel bingung.
"Kenapa tiba-tiba ada banyak singa besar di sini?" gumam Chika melihat ke atap rumah.
Mereka adalah singanya Pak Tendi, hanya bisa dilihat oleh orang-orang yang punya kekuatan supranatural. Vivi tidak bisa masuk bersama Chika dan Arsel. Dia ketakutan.
"Singa apa sih?" Tanya Arsel. Dia tidak bisa melihat apa yang dilihat Chika.
"Para singa itu menganggu Vivi," jawab Chika menunjuk atas.
Hanya udara kosong yang mampu dilihat Arsel, dia juga tidak bisa melihat Vivi walaupun setiap hari Chika menceritakan tentang Vivi.
"Vivi, kamu mau ke mana?!" teriak Chika. dia melihat ke jalan menuju gerbang.
Chika hendak mengejarnya, tapi Arsel memegang tangan Chika dan menggeleng. Klara keluar dari rumah, menyambut mereka dengan senyum merekah.
"Kalian sudah pulang, cepat masuk dan makan. Mama udah siapin makanan enak."
Wanita dengan perut besar itu mendapatkan tatapan tajam dari Chika.
"Mama ngundang Pak Tendi ke sini?" tanya Chika.
"Pak Tendi cuma mampir, Sayang."
"Bohong! Nggak mungkin cuma mampir tapi naruh Kodam sebanyak itu!" Teriak Chika lagi. dia menunjuk atap rumah.
"Maksudnya apa ya, Mama nggak ngerti?" Klara pura-pura bodoh, tapi Chika tahu bahwa Mamanya berbohong.
"Aku nggak nyaman, Ma. Cepet minta Pak Tendi bawa makhluk-makhluk itu pergi!"
nyimak aah