NovelToon NovelToon
CEO Bangkrut Jadi Suami Kontraku

CEO Bangkrut Jadi Suami Kontraku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:873
Nilai: 5
Nama Author: Markario Putra

BIJAKLAH DALAM MEMILIH BACAAN😎

Riko terpaksa menikah dengan Rani akibat hutang yang tidak bisa dia bayar,melihat kesempatan itu Rani langsung memberikan sebuah kontrak pernikahan,dan riko terpaksa menyetujui kontrak pernikahan itu,karena dia terlilit hutang akibat perusahaannya bangkrut setelah kalah tender dengan perusahan milik Rani.

Baca saja klo mau tau cerita selanjutnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Kerja Lembur dan Seporsi Martabak

Jarum jam dinding di ruang kerja eksekutif telah melewati angka 23.00 malam. Gedung pencakar langit Rani Group yang biasanya riuh oleh kesibukan ratusan karyawan kini telah sunyi senyap. Sebagian besar lampu koridor telah dimatikan oleh petugas keamanan, menyisakan pendaran cahaya lampu meja dan layar monitor di dalam ruangan Rani yang masih menyala terang.

Besok subuh, tepat pukul 04.00, tiga puluh armada truk logistik pertama Pratama Corp akan bergerak serentak menuju Cikarang. Ini adalah pertaruhan hidup mati bagi kebangkitan Riko, sekaligus penentu nasib kelanjutan proyek Central District milik Rani. Tidak boleh ada satu pun kesalahan administrasi atau manifestasi barang yang meleset.

Rani menyandarkan punggungnya ke kursi kerja, memijat pelipisnya yang terasa berdenyut karena kelelahan. Dia telah menatap angka-angka di layar selama belasan jam penuh. Perutnya mulai mengeluarkan suara keroncongan halus yang samar—mengingatkannya bahwa dia melewatkan makan malam karena terlalu fokus memeriksa berkas kerja sama mereka.

Kriitt...

Suara kursi roda berputar terdengar dari sudut ruangan. Riko berdiri dari meja kerjanya, meregangkan tubuh tegapnya hingga terdengar bunyi gemertak halus dari tulang punggungnya. Dia melirik ke arah Rani, menyadari wajah wanita itu tampak lelah dengan gurat kantuk yang mulai menggantung di sudut matanya.

"Kita sudah menyelesaikan sembilan puluh sembilan persen verifikasi data, Rani. Sisanya bisa diselesaikan oleh tim lapangan besok subuh," ujar Riko, suaranya terdengar lebih berat dan serak karena kelelahan. "Kamu harus istirahat. Perutmu juga sudah protes sejak setengah jam yang lalu."

Rani tersentak, wajahnya sedikit merona karena tidak menyangka Riko bisa mendengar suara perutnya yang lapar. "Aku tidak apa-apa. Tanggung, tinggal beberapa lembar berkas lagi."

Riko tidak mendengarkan bantahan Rani. Dia menyambar jaketnya, berjalan menuju pintu keluar ruangan. "Tunggu di sini. Jangan menyentuh berkas itu lagi sampai aku kembali."

"Riko, mau ke mana kamu? Ini sudah hampir tengah malam, kantin kantor sudah tutup!" seru Rani, namun pria itu sudah menghilang di balik pintu ganda ruangan dengan langkah kaki yang lebar.

Rani mendengus kaku, menggelengkan kepalanya melihat sifat keras kepala Riko yang masih saja dominan. Dia memutuskan untuk berbaring sejenak di sofa kulit panjang yang terletak di tengah ruangan, meluruskan kakinya yang terasa pegal setelah seharian mengenakan sepatu hak tinggi. Kelelahan yang teramat sangat membuat mata Rani perlahan-lahan memberat, dan dia hampir saja terlelap ke alam mimpi.

Cklek.

Dua puluh menit kemudian, suara pintu terbuka kembali membangunkan Rani. Dia membuka matanya dan mendudukkan tubuhnya. Detik itu juga, indra penciumannya langsung disergap oleh sebuah aroma makanan yang sangat kuat, manis, dan begitu menggugah selera—aroma mentega yang meleleh di atas adonan hangat berpadu dengan cokelat dan kacang.

Riko berjalan masuk dengan membawa sebuah kotak kardus putih yang masih mengepulkan uap panas di tangan kanannya, dan dua botol air mineral di tangan kirinya.

"Apa itu?" tanya Rani, mengernyitkan alisnya saat melihat kotak jajanan pinggir jalan yang sangat asing berada di dalam ruang kerja eksekutifnya yang mewah.

"Martabak manis cokelat kacang spesial," jawab Riko santai. Dia meletakkan kotak tersebut di atas meja kaca di depan sofa, lalu duduk di ujung sofa yang lain, menyisakan jarak sekitar satu meter di antara mereka. Riko membuka tutup kotak tersebut, membiarkan kepulan uap hangat aroma manisnya memenuhi ruangan. "Hanya ada gerobak pinggir jalan yang buka di dekat persimpangan lampu merah depan kantor jam segini. Jangan protes, ini makanan terbaik untuk mengembalikan energi otakmu."

Rani menatap potongan martabak tebal dengan taburan cokelat meises dan kacang yang melimpah tersebut. Sebagai seorang wanita dari kalangan kelas atas yang terbiasa dengan makanan restoran berbintang, Rani jarang sekali menyentuh makanan jalanan seperti ini. Namun, rasa lapar yang mendera dan aroma yang begitu menggoda membuat pertahanannya runtuh.

Riko mengambil sepotong, lalu menyodorkannya ke arah Rani. "Makanlah. Tidak ada racunnya. Aku dulu sering memakan ini saat begadang menyusun proyek-proyek awal Pratama Corp."

Rani ragu sejenak, namun akhirnya dia mengulurkan tangannya yang ramping, mengambil potongan martabak tersebut dari tangan Riko. Kulit jari mereka sempat bersentuhan sesaat, mengirimkan sengatan hangat yang familier ke dada Rani. Rani menggigit kecil martabak tersebut. Detik berikutnya, matanya melebar. Rasa manis, gurih, dan tekstur lembut adonannya langsung memanjakan lidahnya.

"Enak?" tanya Riko, sudut bibirnya terangkat melihat ekspresi terkejut Rani.

"Ternyata... tidak seburuk yang kupikirkan," gumam Rani gengsi, namun dia langsung mengambil potongan kedua setelah potongan pertama habis dalam sekejap.

Riko tertawa rendah, sebuah tawa lepas yang tulus tanpa ada nada sinis atau sarkasme di dalamnya. Suasana di antara mereka mendadak mencair total. Kesunyian malam dan kehangatan seporsi martabak membuat dinding pembatas di antara dua mantan rival ini perlahan menguap.

Sembari mengunyah perlahan, Rani menatap profil samping wajah Riko yang tampak rileks di bawah temaram lampu sofa. Pertanyaan yang selama tiga tahun ini bersarang di kepalanya dan selalu dia tahan karena gengsi, malam ini mendadak ingin dia suarakan.

"Riko," panggil Rani lirih.

"Hmm?" Riko menoleh, meneguk air mineralnya.

"Tiga tahun lalu... apa yang sebenarnya terjadi dengan Pratama Corp?" tanya Rani, sorot matanya berubah serius dan dalam. "Perusahaanmu adalah salah satu raksasa konstruksi dengan sistem keamanan finansial terbaik. Bagaimana bisa dalam waktu satu malam, investasimu di proyek pelabuhan luar pulau dinyatakan fiktif dan membuatmu bangkrut total? Aku... aku selalu merasa ada yang tidak beres dengan semua itu."

Mendengar pertanyaan tersebut, gerakan tangan Riko yang hendak menutup botol air mineralnya seketika terhenti. Tatapan matanya yang semula hangat mendadak berubah menjadi redup dan dipenuhi oleh kabut kelam masa lalu yang menyakitkan.

Riko menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa, menatap langit-langit ruangan yang gelap. Dia menarik napas panjang, sebuah helaan napas yang sarat akan beban penyesalan yang mendalam.

"Kamu benar, Rani. Ada yang tidak beres," suara Riko melemah, kehilangan nada tegasnya. "Tiga tahun lalu, aku terlalu sombong. Aku merasa berada di puncak dunia dan tidak bisa disentuh oleh siapa pun. Dan kelemahan terbesarku adalah... aku terlalu memercayai orang dalam."

Riko mengepalkan tangannya di atas lutut. "Wakil direktur utamaku saat itu, Haris, adalah orang yang sudah bersamaku sejak awal membangun perusahaan. Dia yang mengurus seluruh berkas kerja sama proyek pelabuhan itu. Aku memercayainya seratus persen hingga aku menandatangani setiap dokumen yang dia sodorkan tanpa memeriksa detail hukumnya secara berlapis."

Riko menjeda kalimatnya, rahangnya mengencang menahan amarah yang kembali membakar ingatan. "Ternyata, Haris sudah dibeli oleh pihak luar. Dia memalsukan sertifikat tanah ulayat di lokasi proyek, memindahkan dana operasional sebesar dua ratus miliar ke rekening cangkang di luar negeri, dan meninggalkan aku dengan tumpukan utang tuntutan hukum dari pemerintah daerah karena pelanggaran izin wilayah. Dalam satu malam, aku tidak hanya kehilangan uang, tapi aku kehilangan reputasiku, kepercayaanku pada manusia, dan... aku kehilangan akal sehatku hingga aku melarikan diri dari Jakarta."

Riko menoleh menatap Rani, matanya berkilat emosional. "Itulah alasan kenapa aku menghilang, Rani. Aku tidak pergi karena ingin meninggalkanmu atau karena aku takut pada Hendra. Aku pergi karena aku tidak punya apa-apa lagi untuk ditunjukkan kepadamu. Harga diriku hancur berkeping-keping di atas lantai marmer."

Mendengar pengakuan jujur dan rapuh dari Riko, dada Rani terasa seperti dihantam oleh ombak yang sangat besar. Monolog batinnya bergolak hebat, menghancurkan seluruh sisa rasa benci yang selama tiga tahun ini dia pelihara. Rani tersadar, pria di hadapannya ini bukanlah penjahat yang dengan sengaja mengkhianatinya; Riko adalah korban dari pengkhianatan yang jauh lebih kejam, seorang elang yang sayapnya dipatahkan oleh orang kepercayaannya sendiri dari belakang.

Rasa bersalah dan rasa iba mendadak bercampur aduk di dalam hati Rani, menciptakan sebuah desakan emosional yang tidak bisa dia bendung lagi. Tanpa sadar, Rani menggeser posisi duduknya mendekati Riko. Dia mengulurkan tangan kanannya, meletakkannya di atas kepalan tangan Riko yang gemetar menahan amarah.

"Kenapa kamu tidak pernah mengatakannya padaku saat itu, Riko?" bisik Rani lembut, selembar air mata tipis hampir saja menetes dari sudut matanya yang sayu. "Jika kamu mengatakannya, kita bisa menghadapinya bersama. Aku tidak akan membiarkanmu pergi sendirian."

Riko menatap tangan Rani yang menggenggam jemarinya yang terkepal. Perlahan, Riko membuka kepalan tangannya, membalikkan telapak tangannya untuk membalas genggaman tangan Rani, mengunci jemari mereka dalam sebuah tautan yang sangat erat dan sarat akan emosi yang mendalam.

"Karena saat itu aku terlalu bodoh untuk menyadari bahwa seorang pria sejati tidak diukur dari seberapa banyak harta yang dia miliki, Rani, melainkan dari keberaniannya untuk tetap tinggal dan melindungi wanita yang dia cintai," bisik Riko dalam, matanya mengunci langsung ke dalam manik mata Rani dengan intensitas yang begitu kuat hingga membuat napas Rani terhenti. "Maafkan aku, Rani. Maafkan aku karena membuatmu harus menanggung beban sendirian selama tiga tahun ini."

Di bawah temaram lampu ruang kerja yang sunyi itu, di atas sofa tempat mereka berbagi seporsi martabak, dua hati yang selama ini terpisah oleh jurang kesalahpahaman dan benteng gengsi akhirnya menemukan jalan pulang. Malam itu, bukan lagi tentang kontrak atau pernikahan di atas kertas; di dalam keheningan yang intim itu, percikan romansa di antara sang elang dan sang Alpha Woman telah menyala sepenuhnya, membakar habis sisa-sisa dinding es yang selama ini memisahkan mereka.

1
Markario Putra
Mohon tinggalkan komentar kalian untuk karya baru ku ini gaiss,ini karya aku yg ke 3 gaiss,maklumm lah penulis baruu😄😄😄
Terimakasih untuk kalian yang mau mampir di karya kecil ini🙏
jangan lupa like,hadiah juga jgn lupa🤣🤣😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!