Demi melunasi utang orang tuanya, Kinara rela mengorbankan dirinya daripada dipaksa menikah dengan pria tua. Dikhianati oleh pria yang dicintainya dan adik tirinya sendiri, ia memilih meninggalkan rumah untuk memulai hidup baru. Namun satu keputusan nekat mengubah segalanya, menyeretnya ke dalam takdir yang mengikatnya dengan pria paling berkuasa yang tak pernah ia bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nesakoto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hubungan Kita Berakhir
Kinara kembali mengingat jelas apa yang telah terjadi padanya semalam.
Semuanya sudah terlanjur. Ia tahu, itu pilihannya sendiri, dan penyesalan tak akan mengubah apapun. Yang tersisa hanyalah perasaan kosong yang menggerogoti dirinya dari dalam.
Dengan langkah lemah, ia memunguti pakaian miliknya yang berserakan di lantai satu per satu. Tangannya bergetar, tubuhnya seakan menolak setiap gerakan. Ia menyeret langkahnya menuju kamar mandi dengan pandangan kosong.
Perih yang menyiksa di inti tubuhnya berusaha ia tahan. Begitu air dingin menyentuh kulitnya, tubuhnya sedikit bergetar. Ia membasuh dirinya perlahan, berusaha menghapus noda darah tipis yang masih menempel di pahanya. Setiap tetes air terasa seperti pisau yang mengiris kembali harga dirinya.
Di ranjang, Renald Dirgantara membuka matanya sedikit. Ia melihat sekilas punggung Kinara yang berjalan menuju kamar mandi. Lalu ia cepat-cepat memejamkan mata, berpura-pura tidur. Tapi dalam hatinya, ada sesuatu yang bergolak.
Entah mengapa, kini ia merasa iba melihat wanita itu.
Awalnya, Kinara hanya sekadar hiburan baginya. Wanita yang bisa memuaskan keinginan sesaatnya. Tapi setelah malam itu, setelah ia mendapatkan apa yang ia mau, perasaan lain yang tak biasa justru muncul. Perasaan yang selama ini tidak pernah ia rasakan: nyaman.
Renald meraih ponsel, menekan nomor Feri, asisten pribadinya.
“Feri, transfer 10 milyar ke nomor rekening yang saya kirim. Sekarang.”
“Baik, Tuan,” jawab Feri di seberang sambungan.
Ia kini sedang berada di luar negeri. Meski penasaran mengapa bosnya menyuruh mentransfer uang sebanyak itu, namun ia tahu dirinya tak punya hak untuk bertanya lebih jauh. Baginya, perintah Renald adalah mutlak.
Tak lama, Kinara keluar dari kamar mandi. Tubuh mungilnya kembali dibalut pakaian semalam. Wajahnya pucat, rambutnya basah, tapi matanya tetap terlihat indah—meski menyimpan kesedihan.
Pandangan Kinara sempat terhenti. Renald sudah rapi, berdiri di balkon. Tubuh tinggi tegap itu membuatnya tampak begitu berwibawa. Bahkan hanya melihat punggungnya saja, sudah cukup untuk membuat hati wanita manapun bergetar.
Baru kali ini Kinara punya kesempatan untuk mengamati ruangan itu. Megah, mewah, dengan perabotan yang mungkin harganya tak sanggup ia bayangkan.
Semalam ia tak sempat memperhatikan, terlalu sibuk menutupi rasa takut. Kini, ia sadar: ia berada di kamar yang bahkan untuk bermimpi masuk pun ia tak pernah berani.
Renald berdehem kecil, menyadarkan Kinara dari lamunannya. Pandangan tajam pria itu kini terarah padanya.
“Uangnya sudah kutransfer,” ucapnya datar.
“Terima kasih, Pak,” balas Kinara pelan, menundukkan kepala.
Renald menatapnya dengan dingin. “Apa kau lupa perintahku semalam? Saat hanya ada kau dan aku, cukup panggil aku Renald..." Jedanya sesaat. Sekarang, kau boleh pergi.”
Kinara menggenggam erat tasnya yang sudah ia ambil. “Baik, Renald.” Tanpa banyak kata, ia pun melangkah keluar.
Tujuan selanjutnya kini jelas adalah pulang ke rumah. Ia sudah menyusun semua rencana apa yang akan ia lakukan selanjutnya.
Begitu memasuki rumah, suara Arbian langsung menyambutnya. Pria paruh baya itu berdiri di depan pintu dengan wajah penuh tanya.
“Darimana saja kamu? Kamu masih ingat kan perkataan Papa semalam? Kita akan menemui Arman hari ini. Papa tunggu kamu di—”
“Uangnya sudah aku transfer ke rekening Papa.” Potong Kinara langsung sebelum sempat Arbian melanjutkan kalimatnya. Ia hanya menatap Papanya sebentar dan menjawab dengan datar.
Tidak percaya dengan apa yang Kinara ucapkan, Arbian langsung menggulir layar ponselnya—hingga menampilkan notifikasi yang masuk ke M-banking miliknya.
Matanya membelalak tak percaya. “Da-da... ri mana kau dapatkan uang sebanyak ini?” Tanyanya terbata-bata, seolah tak percaya.
Kinara memilih diam, melangkah melewatinya tanpa menjawab. Namun suara Rani, ibu tirinya, terdengar pelan namun menusuk telinga.
“Kinara, apa kamu jual diri?"
Namun bagi Kinara itu bukan pertanyaan namun lebih ke pernyataan yang dituduhkan oleh Rani padanya.
“Kamu semalam dari mana?” Mata Rani melebar, seolah mulai merangkai potongan teka-teki di kepalanya. “Jangan-jangan Mama benar… uang sebanyak itu kamu dapat dari cara kotor?” Ucapannya tercekat, tangannya refleks menutup mulut sendiri.
Langkah Kinara terhenti sesaat. Ucapan itu seperti cambuk. Air matanya hampir pecah, tapi ia menahannya.
“KINARA!” Teriak Arbian membentak.
Namun Kinara tak lagi peduli. Ia berlari kecil menuju kamarnya, menutup pintu, dan tubuhnya langsung jatuh tersungkur di lantai. Tangis yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah.
“Cukup… ini yang terakhir.” Bisiknya pada diri sendiri.
Ia bertekad, ini kali terakhir ia menangisi semua perlakuan keluarganya. Mulai sekarang, ia ingin hidup mandiri. Ia ingin menghapus semua hal yang berhubungan dengan rumah itu.
Dengan air mata yang masih membasahi pipi, ia mulai memasukkan barang-barang penting ke dalam koper. Foto lama, buku harian, beberapa baju, dan benda-benda kecil yang menyimpan kenangan bersama Mama.
Ponselnya bergetar. Dua puluh tiga panggilan tak terjawab dari Bayu—pria yang kini sudah menjadi mantan kekasihnya. Kinara menatap layar itu lama, lalu meletakkannya kembali tanpa niat untuk membalas.
Sebaliknya, ia menghubungi Gisella, sahabat sekaligus rekan kerjanya. “Halo Gisel, ini aku. Aku izin hari ini, ya.”
“Kenapa Kinara? Kamu sakit?” Suara Gisella terdengar cemas.
“Nggak, cuma ada urusan. Nanti aku jelaskan.”
Setelah menutup telepon dan memastikan semua barang yang ia perlukan sudah masuk ke dalam kopernya, Kinara bergegas ke lantai bawah dengan menyeret dua koper besar.
Arbian yang melihat hal itu, langsung berdiri dan menatapnya dengan tatapan tajam. “Kamu mau ke mana?!”
"Pa jangan biarin dia pergi, kalau gini kita nggak bisa nikahin dia sama si Arman itu." Bisik Rani yang sudah berdiri di sebelah suaminya, setelah melihat Kinara tampaknya akan pergi dari rumah itu.
Sebelumnya, Arbian sudah merasa tidak terbebani lagi setelah sejumlah uang di transfer oleh Kinara ke rekeningnya.
Namun Rani yang merasa ini tidak sesuai dengan apa yang diinginkannya, mulai merayu suaminya, dengan iming-iming "Jika bisa menikahkan Kinara dengan Arman, pasti suatu saat jika perusahaannya kembali mengalami masalah maka mereka bisa meminta bantuan pada pria itu."
Kinara memilih untuk diam dan hanya terus melangkah kakinya menuju ke arah pintu keluar rumah.
Saat itulah suara lirih terdengar.
“Kinara…”
Kinara menoleh sekilas ke arah Bayu yang kini sudah berdiri di depan pintu dengan wajah sendu dan pandangan merasa bersalah. Namun Kinara segera memalingkan wajah dan melanjutkan langkahnya.
Melihat hal itu, Bayu mengejarnya, lalu berdiri menghadang di depan. “Kinara... maafin aku." Ucapnya.
Mata Kinara menatapnya dingin. “Semenjak kamu meniduri adikku, hubungan kita sudah berakhir. Jangan ganggu aku lagi, sesuai dengan apa yang aku katakan kemarin!”
Bayu terdiam, wajahnya memucat. Sementara Kinara melangkah pergi tanpa menoleh lagi ke arah pria itu.
Kini tujuan Kinara ialah mencari tempat tinggal baru untuk dirinya. Sejak lama ia memang sudah merencanakan ini semua, tapi selalu tertahan oleh harapan semu pada kasih sayang Papanya. Kini ia sadar, harapan itu hanya ilusi.
Dengan bantuan informasi dari Gisella, ia akhirnya menyewa apartemen kecil. Tidak luas, tapi cukup untuk dirinya sendiri. Ada satu tempat tidur, lemari sederhana, dan ruang kecil yang membuatnya merasa aman.
Begitu masuk, ia duduk di lantai, menarik napas panjang. “Ini rumahku sekarang.” Gumamnya menatap sekeliling ruangan.
Setelah membersihkan diri, ia tersadar belum makan sejak semalam. Segera, ia pun memesan makanan online—semua yang pedas. Iga bumbu pedas, tumis sapi pedas, sup szechuan asam pedas. Membayangkannya saja membuat perutnya keroncongan.
Tiga puluh menit kemudian, makanannya akhirnya datang. Ia menyantapnya lahap. Pedas yang membakar lidah justru sangat menenangkan hatinya.
Kinara memiliki tubuh proporsional, tinggi 160 cm dan berat 52 kg. Berapa banyak pun ia makan, tubuhnya tetap ramping dan ideal.
Selesai makan, ia langsung berbaring di kasur. “Oke, Kinara… ini awal baru. Semangat.” Ucapnya dengan pandangan mengarah pada langit-langit ruangan.
Selesai kalimat itu terucap, mata indahnya perlahan terpejam dan pada akhirnya membawanya ke dunia mimpi.
Yang tak ia ketahui ialah, Renald mengetahui segalanya. Ia tahu di mana Kinara tinggal sekarang, tahu apartemen kecil yang ia sewa, dan tahu setiap detail pergerakannya.
Tepat saat Kinara sudah larut dalam mimpinya, seorang pria masuk ke kamar itu diam-diam. Lampu redup membuat wajah Kinara tampak lebih lembut. Melihat gadis itu tidur di tempat sederhana seperti ini, ia merasa sedikit iba.
Perlahan, ia duduk di tepi ranjang. Tangannya terulur, mengelus pipi halus Kinara.
"Kenapa kau harus membuatku peduli?” bisiknya lirih.
Kinara mengerutkan dahi dalam tidur, seolah merasakan sesuatu. Tapi kantuk terlalu kuat. Ia kembali tenggelam dalam mimpi.
Renald menatapnya lama. Setelahnya, ia pun bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah pintu. Saat ini, ada rapat penting yang harus ia hadiri.
Kalau bukan karena itu, mungkin ia akan memilih tinggal di sini dan menunggu wanita itu terbangun. Tentu saja untuk kembali menuntaskan hasratnya yang menggebu.