Memiliki suami tampan, kaya dan mapan, serta hidupnya diratukan, adalah impian semua perempuan. Seperti Elena yang tiba-tiba berubah menjadi Elea, istri dari Anres Alvaro Tanujaya, serta ibu dari si cantik Arabella. Hidup Elena pun berubah bak seorang ratu dari negeri dongeng.
Tapi, bagaimana jika semua itu hanya pinjaman. Bagaimana jika satu saat pemilik sahnya datang, dan meminta kembali semua yang sudah dipinjamkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Beberapa saat sebelumnya.
Sepeninggal dokter Hangga dan Damita, Anres kembali ke dalam kamar tanpa kata. Sedang Elena sendiri masih enggan beranjak dari posisi semula, wanita itu masih duduk diam, memikirkan semuanya. Ia merasa ada yang janggal, sangat janggal. Tapi tak bisa untuk menguraikannya secara terang dan benar. Mungkin karena minimnya pemahaman atau pengetahuan. Salah satunya karena tidak adanya bukti atau pun saksi. Hingga rasa haus menghinggapi kerongkongan wanita cantik itu.
Elena bangkit dan melangkah ke arah meja makan yang sudah dibersihkan oleh Art. Tatapannya mengarah pada kursi tempat duduk Damita tadi. Di mana kursi itu hampir terjengkang, saat Damita tiba-tiba kejang.
Jika nyonya Damita sudah tahu kalau saos foie gras itu ada taburan kacang macadamia, kenapa ia tetap memakannya juga. Sedangkan ia alergi makan kacang tersebut. Tidakkah ini sangat aneh. Ataukah, nyonya Damita memang sengaja melakukannya untuk menjebakku? Sial. batin Elena.
Elena segera berdiri, hilang sudah ha-s-ra-tnya untuk minum saat pemikiran itu mencuat dalam benaknya.
Jika ini memang faktor kesengajaan, lalu siapa yang telah menaburkan bubuk kacang macadamia itu. Apakah orang dapur atau nyonya Damita sendiri. Batin Elena lagi. Dan kali ini ia mondar-mandir karena pikirannya yang terus bekerja dan mencari-cari.
Tiba-tiba Elena teringat saat ia melihat Ranti keluar dari ruang makan itu dengan bergegas. Sesaat sebelum Anres dan Damita tiba di sana. Sedangkan semua hidangan sarapan sudah tersedia di atas meja. Dan Ranti, wanita yang menjadi asisten pribadi Elea itu memang tak tampak di ruang makan saat insiden kacang macadamia tersebut menimpa Damita. Sedangkan penghuni rumah Tanujaya yang lain, berkumpul di sana.
Ada di mana Ranti?
Elena segera bergegas untuk mencari Ranti. Langkahnya menuntun wanita tersebut ke halaman depan. Benar saja ia melihat sosok Ranti ada di sana, dan ia sedang tak sendiri. Asistennya itu sedang bicara dengan seseorang. Elena pun mendekati. Hingga ia mendengar pembicaraan Ranti dengan lawan bicaranya yang ternyata adalah nyonya Damita.
"Salah nyonya sendiri, kenapa berani bermain-main dengan makanan yang sudah jelas-jelas membuat, Nyonya alergi," ucap Ranti.
Mendengar hal itu, Elena segera menghentikan langkah dan segera memasang telinganya dengan tajam, untuk semakin jelas mendengar.
"Kau jangan menyalahkanku. Aku hanya menyuruhmu menaburkan bubuk kacang macadamia itu sedikit saja." Itu perkataan Damita yang membuat jantung Elena berdegup sangat kencang.
"Yang terpenting sekarang, Nyonya Damita tidak apa-apa." Terdengar Ranti berkilah.
"Memang aku tidak apa-apa. Tapi, rencanaku gagal. Anres malah mengusir bibi Sora. Padahal seharusnya ia mengusir Elea palsu itu dari rumah ini," kata Damita dengan wajah bersungut-sungut.
Elena merasa telinganya sangat panas saat mendengar semuanya. Amarahnya pun memuncak. Wanita itu segera menghampiri dan melabrak.
"Wah hebat ya, Nyonya Damita. Hanya karena ingin mengusir aku dari rumah ini, kau sampai berani bermain-main dengan keselamatanmu sendiri."
Ranti terlihat sangat kaget, ia sampai terpaku di tempat dan seakan tak bisa bergerak, mana kala melihat Elena datang dan pasti sudah mendengar pembicaraannya dengan Damita barusan.
Sedangkan Damita sendiri, ia juga tersentak. Namun, selayaknya aktris yang pandai bermain peran, wanita itu segera bisa menguasai keadaan, bahkan bertanya pada Elena dengan bentakan, "kau berani menguping pembicaraan kami?!"
"Tidak. Tapi telingaku ini mendengarnya sendiri. Ck ck, aku kagum pada aksimu, Ibu mertua. Sayang sekali, pengorbananmu yang sudah sebesar ini ternyata tak menghasilkan yang sesuai dengan keinginanmu." Elena mencibir dan melabuhkan tatap kemarahan pada Damita yang berusaha dipendam.
Damita tak mampu berkata lagi, ia bahkan segera memutar tumitnya dan berlalu pergi. Elena masih memandangi kepergian wanita itu sampai tubuhnya menghilang di balik pintu mobilnya. Wanita cantik itu menghela napas dan mengalihkan tatapannya pada Ranti.
"Apa kau punya kebutuhan mendadak, Ranti?"
Ranti yang sedari awal menundukkan wajah kini mulai mendongak, dan menatap tak paham atas pertanyaan sang nyonya. "Maksud, Nyonya?"
"Mungkin kau punya kebutuhan yang belum bisa dipenuhi dengan nominal gajimu di sini."
Ranti menggeleng, sejujurnya ia belum paham kemana arah pembicaraan Elena.
"Nyonya Damita pasti membayar mahal 'kan untuk kamu melakukan semuanya. Jika itu semua karena kau butuh uang mendadak, ok, aku bisa memaklumi." Elena menatap asisten pribadi Elea itu dengan tatapan datar.
"Tidak, Nyonya Elea. Gaji saya di sini cukup untuk membiayai kehidupan saya dan keluarga," kata Ranti dengan kepala yang kembali menunduk.
"Oh begitu. Ku pikir kita sama. Sama-sama menjadi orang jahat, hanya karena butuh uang," tukas Elena.
"Aku tidak paham maksud, Nyonya Elea," kata Ranti.
"Elena. Bukan Elea," ralat Elena tegas.
"Apa?!" Ranti berjengit kaget.
"Iya, namaku Elena. Dan aku bukan Elea." Elena kembali menegaskan.
"Jadi, jadi benar kalau kau bukan nyonya Elea?" Ranti sampai mundur dua langkah saat bertanya demikian.
"Bodoh, jika aku masih mengaku-ngaku sebagai Elea di depan orang yang sudah menyadari siapa aku yang sebenarnya, Seperti kamu Ranti."
Elena tetap tak mengalihkan tatap dari Ranti yang saat ini terlalu banyak kehilangan kosakata hingga tak bisa banyak berbicara.
"Jika kau yakin kalau aku adalah nyonya Elea, tentu kau tak akan pernah berpikir untuk menjebakku sesuai keinginan nyonya Damita. Tentu karena kau tau kalau aku bukan nyonya Elea, maka kau setuju melakukan itu. Apa aku benar dengan pemikiranku ini, Ranti? Karena menurutku, pekerjaan yang paling rendah adalah jongos yang mengkhianati majikannnya."
Ranti mendongak, ucapan Elena itu begitu dalam dan menohok, sindiran yang begitu tajam dan telak. Membuat Ranti terhempas dalam rasa malu dan sekaligus bersalah.
Wanita itu sebenarnya bukan wanita jahat, selama ini ia mengabdi pada Elea dengan setia. Meski banyak sikap dan cara Elea yang membuatnya tidak senang, Ranti tetap bungkam. Ia hanya terus menjalankan perannya sebagai asiaten pribadi dengan benar, sesuai dengan gaji yang diterima tiap bulan. Begitu pun saat Elena datang menjadi Elea. Meski merasakan adanya banyak kejanggalan, Ranti juga tetap diam.
Hingga kemarin, Damita mengusiknya dengan mengatakan kalau Elea yang ada sekarang, bukanlah Elea yang sebenarnya. Maka Ranti pun mengumpulkan segenap kejanggalan yang didapat perihal Elea hingga membentuk kepingan-kepingan puzle dalam kepalanya. Dan wanita itu menyusun kepingan puzle tersebut satu demi satu hingga hampir membuat bentuk yang utuh. Dan perintah nyonya Damita untuk menaburkan bubuk kacang macadamia di atas saos foie gras itu, dianggap oleh Ranti sebagai kepingan puzle terakhir yang akan membentuk sebuah pemahaman lengkap.
Ranti tidak pernah berniat untuk mencelakakan Elea. Dia hanya ingin mencari tahu nyonya Elea sekarang adalah asli atau palsu.
Tujuannya memang terlaksana, ia jadi tahu siapa wanita yang selama ini dianggapnya sebagai nyonya Elea. Akan tetapi Ranti tidak sadar bahwa dengan tindakannya itu, pasti akan ada pihak tidak bersalah, yang harus menjadi korban. Dan dalam hal ini adalah bibi Sora yang tidak tahu apa-apa. Ranti baru menyadari akibat dari tindakannya saat ia memberanikan diri bertanya pada Elena.
"Apa tujuanmu masuk ke rumah ini dan menyamar menjadi nyonya Elea?"
"Uang," sahut Elena cepat. "Ibu yang sangat kusayangi menderita penyakit berat, yang membuatnya harus dirawat intensif, dan membutuhkan biaya yang mahal. Aku berani melakoni ketidakbenaran ini demi untuk menyelamatkan nyawa ibuku. Karena itulah Ranti, kenapa barusan aku menyebut kalau kita sama. Sama-sama berperan jadi jahat hanya karena uang."
Ranti menunduk. Di bagian ini ia tak mampu menjawab. Ia tahu sendiri dan juga pernah mengalami, bagaimana seseorang itu akan melakukan apa pun jika sudah terhimpit masalah keuangan.
Orang bilang, uang bukan segalanya. Tapi, demi uang, orang rela melakukan segala, termasuk kehilangan kewarasannya.
"Aku tahu, akibat tindakanku ini, akan ada yang terluka dan menjadi korban. Meski aku tak berniat menyakiti siapa pun. Begitu juga denganmu Ranti. Ada seseorang yang menjadi korban atas tindakanmu ini, yaitu bibi Sora. Entah kau sudah memikirkan semuanya atau tidak."
"Bibi Sora?" Ranti kelihatan sangat terkejut mendengarnya. Ia baru menyadari akibat buruk atas apa yang telah ia perbuat.
"Gaji yang didapat oleh bibi Sora selama bekerja di sini, cukup untuk menghidupi keluarganya, termasuk merawat suaminya yang lumpuh. Entah setelah ini, bagaimana cara bibi Sora menyambung hidup keluarganya lagi." Setelah sampai pada titik akhir kalimatnya, Elena segera berlalu pergi. Ia sengaja membiarkan Ranti merasakan terpukul akibat dari tindakannya sendiri. Dengan itu Elena yakin kalau Ranti tak akan diam saja.
kalau dilihat dari crita awal ny si ada bawa2 bama Pramudya corp..
semangat ya...