NovelToon NovelToon
Poison Eve

Poison Eve

Status: tamat
Genre:Spiritual / Akademi Sihir / Elf / Roh Supernatural / Chicklit / Tamat
Popularitas:116.4k
Nilai: 5
Nama Author: Jibril Ibrahim

Di Negeri Peri....

Kekuatan spiritual dan peri pelindung adalah modal utama untuk mencapai puncak dunia. Kekuatan spiritual penuh, tapi peri pelindung tak berguna... apakah Evelyn bisa mencapai puncak dunia?

Ah, tapi itu tak penting!

Selama guardian tampan itu berada di sisinya, dunia hanya milik berdua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jibril Ibrahim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter-25

Pria itu membungkuk ke arah Evelyn dan menyeringai. "Jika dia tak bisa mengontrolnya dengan baik, maka… akan terkena serangan balik!" desisnya dengan mata terpicing.

Evelyn memekik tertahan seraya membekap mulutnya dengan jemari tangannya, tapi lalu mengerjap dan melotot ke arah pria itu. "Untuk apa kau memberitahuku hal ini?" Ia bertanya curiga.

"Ah—ha ha ha!" Pria itu menarik wajahnya dan meluruskan tubuhnya. "Hanya mencoba berbincang-bincang saja," katanya. "Kenapa kau begitu serius?"

Evelyn mengerutkan keningnya.

"Tapi aku serius mengenai retakan itu!" Pria itu menambahkan sambil mengerling ke arah Migi Vox.

Evelyn kembali bergeming. Mencoba menebak-nebak tujuan pria ini mendatanginya.

Seolah bisa membaca pikiran Evelyn, pria itu kemudian berkata, "Aku hanya peri monster level sepuluh," selorohnya. "Mana berani aku menantangmu!"

"Tapi—" Evelyn semakin bingung.

"Sebenarnya…" pria itu tiba-tiba tercenung. Raut wajahnya berubah muram. "Kau tak harus membunuh monster untuk naik tingkat," katanya bernada pahit.

Evelyn semakin tidak mengerti. Semakin tidak bisa menebak tujuan kedatangan pria asing yang—dia yakini---merupakan manipestasi dari peri vampir itu.

Pria itu mendesah pendek dan melemaskan bahunya dengan ekspresi tak berdaya. "Aku datang untuk menjemput saudara kami," katanya seraya mengedar pandang.

Lalu sejumlah kelelawar lainnya mengendap turun dan berputar-putar.

Evelyn mengedar pandang dan terkesiap.

Sejumlah pria dan wanita berjubah gelap seperti pria di depan Evelyn bermunculan dari pusaran kabut gelap yang mendarat di sekeliling hutan.

Mereka semua membungkuk sekilas pada Evelyn. Wajah-wajah mereka tersembunyi di bawah tudung jubah mereka. Lalu mereka mulai berjongkok di sekitar bangkai-bangkai kelelawar yang berserak di lantai hutan, masing-masing mereka membawa satu kelelawar.

Sejurus kemudian, mereka semua menghentak dan beterbangan membawa bangkai-bangkai kelelawar raksasa itu.

Evelyn mendongak melihat mereka semua lenyap. Lalu kembali menatap pria di depannya.

"Suatu saat, kau juga akan diburu seperti kami!" kata pria itu mengandung peringatan. Lalu berputar-putar seperti ketika ia datang.

Angin kencang menentang sayapnya yang terkembang, melambungkannya cukup tinggi ke dalam kegelapan hingga tak nampak.

Lengkingan tawa menyebar di langit malam ketika makhluk itu membubung tinggi dan terbang menjauh. Tawanya yang kering dan parau menggetarkan, menembus kekosongan yang gelap di antara gerumbul bebatuan di puncak gunung.

Evelyn tercengang memandangi kekosongan. Apa maksudnya akan diburu seperti kami? pikirnya.

Suara batuk di belakangnya menyentakkan Evelyn dari lamunan.

Ia menoleh dan mendapati Migi Vox menggelinding turun dari pangkuan Nazareth. Lalu mendarat dan terhuyung-huyung.

"Vox!" pekik Evelyn gembira. Ia melompat ke arah boneka itu dan mengangkatnya. "Kau sudah sadar?"

Boneka itu mengerjap menatap Evelyn dengan raut wajah linglung seperti balita yang bangun tidur.

Evelyn tersenyum dan memeluknya.

"Heh!" Boneka itu melenguh dan menyeringai.

"Vox…" Nazareth mendesis lemah dan terbatuk-batuk.

Evelyn menghambur ke arah pria itu dan berjongkok di sampingnya. "Master!" panggilnya bersemangat.

Nazareth membungkuk menekuk perutnya dan kembali terbatuk-batuk memuntahkan segumpal darah berwarna gelap.

Evelyn menaruh Migi Vox di pangkuan Nazareth dan mengambil kantong air yang ditemukannya dalam kalung penyimpanan, kemudian menyodorkannya pada Nazareth dan membantu pria itu minum.

Nazareth menyandarkan kembali kepalanya ke dahan pohon dan menghela napas berat. Lalu melirik Evelyn dan tersenyum lemah. "Kau yang menyelamatkanku, kan?" ia bertanya dengan suara lirih.

Evelyn terkekeh tipis sambil memalingkan wajahnya dengan tersipu. "Mendiang Ayah… pernah mengajariku sedikit cara menetralisir racun," katanya. "Aku melihatmu pingsan. Jadi kupikir tak ada salahnya mencoba. Lagi pula situasinya sangat darurat."

"How dare you!" sembur Nazareth pura-pura memarahinya. "Kau menjadikanku sebagai kelinci percobaanmu? Bagaimana kalau ternyata aku bukan keracunan?"

Evelyn menyeringai sembari menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya yang tidak terasa gatal.

Nazareth mengawasinya dengan tatapan lembut. Senyumnya menghangat. "Apa kau berhasil?" ia bertanya sambil tetap bersandar di batang pohon.

Evelyn mengulum senyumnya sambil mengangguk. Lalu beranjak dan berjalan menjauh, mengambil jarak beberapa meter untuk mendemonstrasikan teknik barunya.

Nazareth memperhatikannya dengan tatapan haru. Kau adalah orang pertama yang akan mengharumkan namaku setelah ini, katanya dalam hati. Mungkin juga satu-satunya!

Evelyn menghela napas dalam-dalam dan menautkan pergelangan tangannya di depan dada, menutup matanya dan berkonsentrasi.

Cahaya kuning terang berpendar dari telapak tangan Evelyn.

Gadis itu memutar kedua telapak tangannya ke arah yang berlawanan, kemudian menarik sebelah kakinya ke belakang dalam sikap kuda-kuda. Bersamaan dengan itu ia juga menggerak-gerakkan telapak tangan dan jemarinya begitu rupa membentuk simbol-simbol khas para ahli bela diri spiritual.

Tunas-tunas ivy bermunculan di permukaan tanah di sekelilingnya dalam tujuh warna berbeda-beda, kemudian memanjang dalam sekejap, membentuk sulur dan merambat cepat ke kakinya dan melilit ke seluruh tubuhnya.

Evelyn merentangkan kedua tangannya di sisi tubuhnya dan sulur-sulur tanaman itu merambat ke tangannya. Ia membuka matanya, dan tersenyum pada guardiannya.

Nazareth tersenyum lembut, namun sorot matanya berkilat-kilat penuh kepuasan.

Migi Vox melompat dari pangkuan Nazareth dan mendongak menatap Evelyn dengan terperangah.

"Bagaimana ketangguhannya?" tanya Nazareth. "Apa teknik perinya?"

Evelyn memutar telapak tangannya seperti sedang menari, kemudian mengayunkannya ke depan.

SLASH!

Cahaya putih dan kuning berkeredap seperti garis petir dari telapak tangannya, kemudian merambat membentuk sulur-sulur besar berwarna putih bersisik seperti ular seukuran pergelangan tangan Evelyn yang terus bercabang dan kian memanjang melilit sebatang pohon seperti tanaman rambat raksasa. Bisa dikatakan setengah tanaman setengah ular putih tanpa kepala.

"Dalam jarak lima puluh meter, aku bisa menyerang ke posisi mana pun," jelas Evelyn.

"Menjerat?" gumam Nazareth sambil menautkan keningnya.

Migi Vox melesat dan melompat-lompat di atas jalinan sulur itu seakan sedang menyeberang di atas jembatan.

"Kelebihan tipe pengendali. Ketangguhan juga cukup," gumam Nazareth sambil menarik punggungnya dari batang pohon.

"Tidak!" pekik Evelyn sambil menarik kembali sulur-sulurnya dan melompat ke arah Nazareth.

Migi Vox terpelanting dan berguling-guling di tanah.

Evelyn terpekik dan membekap mulutnya, merasa bersalah.

Nazareth mengayunkan jemari tangannya dan merenggut Migi Vox dan menariknya.

"Kau baru saja sadarkan diri," Evelyn mengingatkan guardiannya dan menyandarkan kembali pria itu ke batang pohon. "Beristirahatlah sebentar lagi!"

"Aku sudah baikan," kata Nazareth sambil menarik bangkit tubuhnya.

Evelyn ikut beranjak sambil menggamit lengan Nazareth, menjaga supaya pria itu tidak terhuyung.

"Kalau aku tak salah tebak…" Nazareth mengernyit sambil memijat-mijat tengkuknya. "Pasti juga ada sifat racun dari naga pengeluh?" ia bertanya lagi.

"Benar," jawab Evelyn. "Tapi hanya memberi efek mati rasa. Efek racun naga pengeluh tidak mematikan."

"Menjerat digabung dengan mati rasa juga sudah cukup," kata Nazareth. "Kecuali jika musuh memiliki dua cakra lebih banyak darimu. Kalau tidak, tak mungkin bisa terlepas dari teknik menjerat ini."

Migi Vox melompat dari pangkuan Nazareth dan menggelayut di leher Evelyn.

Evelyn mengusap-usap punggung boneka itu sambil tertawa. Lalu menggendongnya sambil menuntun guardiannya.

"Kita kembali ke Akademi," kata Nazareth cepat-cepat.

"Bagaimana dengan lukamu?" tanya Evelyn khawatir.

"Akan lebih aman kalau kita segera keluar dari hutan ini!" sanggah Nazareth sambil menepuk-nepuk lembut punggung tangan Evelyn yang menggamit tangannya dengan tangan lainnya.

Evelyn tertunduk mengulum senyumnya. Tergetar oleh sentuhan guardiannya.

1
wakwau@manisq
Iya aku jg berpikir sama. Semua masih menggantung.
adi_nata
terlepas dari endingnya yang menggantung, aku ucapkan terima kasih atas karya yang luar biasa.

tetap semangat menulis, author Jibril Ibrahim
adi_nata: ya wajar saja kalau hal seperti itu terjadi.
total 2 replies
adi_nata
temanku sudah menamatkan novel ini terlebih dulu dan katanya novel ini ditamatkan prematur. kurasa memang benar.

sayang sekali ...
adi_nata
sayang sekali Salazar Lotz tumbang, padahal aku berharap dialah yang menjadi wakil akademi.
adi_nata
Cleon maju terus pantang mundur 😅
adi_nata
aku rasa kuat saja tidak cukup. terkadang yang menang belum tentu yang terkuat.
adi_nata
tidak ada ceremony penyerahan hadiah kompetisi ?
adi_nata
Altairnya mana ? tidak ada yang tertarik buat jadi Altair Nano ?
adi_nata
Ketua tim Peringkat Atas Shangri La.
adi_nata
apakah maksudnya anggota tim jalur juara dari Shangri La, sebagian sudah mencapai level angelos ?
adi_nata
sebenarnya Evelyn dalam keadaan pingsan atau tidur ?
adi_nata
memang ... cara terbaik untuk menenangkan cewek yang lagi bad mood adalah dengan memeluknya.
adi_nata
apa kabar Damon bersaudara dan para pejabat yang mengincar cakra Apollo Evelyn ?
Handoko
apakah karya ini ditamatkan prematur ? atau akan ada season duanya ? aku merasa di beberapa bab terakhir, ceritanya ditulis secara terburu-buru.

terlepas dari itu, ini adalah karya yang nyaris sempurna. good job author dan terima kasih banyak atas karyanya.
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐: Novelnya belum selesai, Kak!
Authornya keburu kehilangan mood karena waktu itu pembacanya hampir-hampir gak ada. Di-tag tamat karena jenis kontraknya masih yang lama, kalo Hiatus, levelnya merosot. Jadi, saya tag tamat dulu sampe saya dapet mood lagi buat lanjutin
total 1 replies
Handoko
bakalan epic kalau dea proka menang dan menjadi wakil akademi 😅
Handoko
ternyata naga merah adalah cakra apollo. berarti apollo menautkan cakra dari jenis yang berbeda dari peri pelindungnya ? 🤔
adi_nata: wah kau jeli sekali, bro
total 1 replies
Handoko
perempuan kalau sudah cemburu ...
Handoko
kekalahan bukanlah akhir dari segalanya.
Handoko
dengan kata lain, jika kaisar terpaksa bertarung dengan evelyn, kemungkinan besar dia akan kalah.
Handoko
hahahaha ..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!