Hidup mati seseorang tidak ada yang tahu.
Begitupun dengan jodoh.
Hawa yang memberontak karena dijodohkan dengan kakak kelasnya akhirnya mencoba menerimanya, dengan perjanjian agar di rahasiakan. mengingat mereka masih duduk di bangku sekolah, tapi qodarullah ibu Hawa sakit dan meminta Hasby mengucap ijab kabul secara rahasia di tempat ibu Hawa dirawat. ibunya meninggal dengan tenang karena Hawa tidak sendiri lagi, sudah ada Hasby dan keluarga barunya.
Dengan berat hati Hawa menerima status barunya itu serta mencoba menjalaninya. Entah mampu bertahan atau berhenti ditengah jalan, Hawa tak tahu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wulan Antya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 9
...Sinar matahari menyoroti teras rumah menembus tirai, angin bertiup lembut menyibaknya. Suasana yang tenang dan damai. Tapi tidak dengan hati dan pikiran Hawa. Hawa mencoba mengalihkan pikirannya....
...Hawa menyibukkan diri di rumah, mulai dari ruang tamu, karena nanti malam masih digunakan untuk acara tahlilan. Hawa sendirian dirumah, karena Hasby sudah berangkat sejak pagi. Sebagai ketua Osis harus bisa menjadi contoh yang baik bagi semuanya. Surat izin Hawa sudah diurus Hasby sebelumnya, jadi Hawa tenang....
...•••...
Warga dan Rt selalu datang membantu. Acara tahlilan berjalan dengan lancar dan teratur. Selama 7 harian semua berpartisipasi dalam acara itu. Papa dan Mama juga tidak pernah absen. Beliau selalu memperhatikan, menyayangi dan mencukupi kebutuhannya.
...Selama tujuh hari itu Hasby senantiasa menemaninya. Mereka tinggal bersama....
...Hawa terlihat duduk bersila diruang tamu, mengobrol dengan Mama. Papa duduk dengan Hasby dan tengah membicarakan sesuatu. Tak lama Papa melangkahkan kaki kedalam rumah, diikuti Hasby dibelakangnya dengan muka datarnya....
Netra Papa menyorot teduh dan duduk disamping Mama. Hasby mengambil tempat didekat Hawa tapi tetap berjarak.
"Malam ini sudah selesai tujuh hari tahlilan Ibu. Papa ingin Hawa ikut tinggal bersama kami" ucap Papa dengan tegas. Melihat Hawa dengan lembut.
...Hawa mendongak tertegun memandang Papa. Tengah memikirkan sesuatu....
"Tapi hawa ingin disini Pah, ... Rumah ini peninggalan bapak ibu yang penuh kenangan,, aku nggak bisa ninggalin ini semua pah" cicitnya pelan, air menggenang dipelupuk mata, siap akan meluncur bila sekali matanya berkedip.
"kami bukan mau menyuruhmu meninggalkan rumah ini selamanya nak, kamu boleh kesini. Kapan saja kalau kamu rindu semua kenangan dirumah ini. Tapi sekarang kan kamu punya Hasby, suami kamu. Jadi ikutlah kemana suamimu tinggal. Melangkahlah atas izinnya. Karena Hasby yang bertanggung jawab atas dirimu" nasihat mama dengan senyum hangatnya. Mengelus punggung tangan menantu kecilnya dengan lembut.
...Hawa mencoba memahami apa yang diucapkan mama. Memandang mama dengan mata berkaca-kaca....
"Iya mah,, Hawa paham, Hawa ngerti. Sekarang Hawa bukan anak SMA saja tapi merangkap seorang istri." menghela nafas perlahan "Bismillah,, Hawa akan ikut kemana kak Hasby tinggal. Mohon do'anya ya Papa dan Mama" ucap Hawa pelan penuh ketegasan.
"Alhamdulillah" serempak Papa dan Mama.
"Pasti kami do'akan nak, pasti" lanjut Mama meraih Hawa kepelukannya. Air mata meleleh pelan dipipi keduanya. Tangisan haru diselingi senyum hangat.
Papa dan Hasby saling lirik, tersenyum singkat. Mereka senantiasa menjadi penonton.
Beliau terharu, dibalik pernikahan yang mendadak ini, ada keikhlasan, kedewasaan dalam pemikiran anak-anaknya itu. Mereka mau menerima pernikahan ini saja sudah sangat melegakan orang tuanya. Mama dan Papa selalu berdo'a demi kelanjutan hubungan mereka dan cita-cita yang akan mereka wujudkan.
"Ehem,, Hawa, tapi kalau kamu belum bisa pindah, ya nggak apa-apa. aku bisa menunggu sampai kamu bisa" sela Hasby menatap netra Hawa.
Melepas pelukan Mama dan memandang suaminya sekilas sebelum menundukkan pandangannya. "Aku bisa kak, insyaa allah ikhlas untuk pindah. Tapi, sesekali aku boleh menginap disini kan kak?" tanya Hawa pelan.
"Tentu boleh, tapi harus sama aku"
" Terimakasih kak"
" Besok pulang sekolah kita pindah kerumah Mama Papa, siapkan barang pentingmu"
"Iya kak, nanti aku siap-siap"
Mama mengamati anaknya dan menantunya itu dengan senyum terharu. Ternyata mereka bisa saling menerima dan bisa akrab. perbincangan itu berlangsung lama dan hangat.
Kruucuuukk
...Perbincangan terhenti sesaat karena bunyi perut tersebut. Mereka saling pandang dan tertawa. Sungguh malunya Hawa. Perutnya berbunyi dengan nyaring. Ia teringat belum mengisi perutnya dari tadi siang....
"Maaf mah, pah" cengiran Hawa menambah gemas mereka semua. Hasby tersenyum menggelengkan kepalanya.
"kamu belum makan nak?" tanya Papa tersenyum melihat kelucuan menantunya itu.
"kelupaan pah, dari tadi sibuk membantu warga menyiapkan tahlilan" jujurnya dengan senyum tipis.
"Ya sudah kalau begitu, ayo kita makan bersama, Mama tadi bawa makanan banyak" ajak mama bangkit dari duduknya menuju ruang makan. Hawa mengekori mama mertuanya itu.
Papa dan Hasby juga beranjak dari ruang tamu. Padahal mereka juga lapar, tapi nggak sampai berbunyi perutnya.
Mereka duduk melingkar dimeja ruang makan kecil itu. Dengan menu makanan yang dibawakan oleh mertuanya itu, Hawa menikmati makan malamnya. Disela-sela makan mereka kadang bercerita singkat, menambah hangatnya suasana makan kali ini.
Tak terasa Hawa menghabiskan makanannya dengan cepat. Merasa perutnya penuh. Hawa meminum air putih dinginnya sampai tandas. Setelah semua selesai dengan makannya, Hawa dengan cekatan membersihkan meja, mengangkut piring-piring kotor dan menaruhnya di tempat cuci piring.
Hawa meminta Mama dan Papa untuk beristirahat saja. Malam yang semakin larut, angin menyusup melewati celah- celah genteng dan pintu jendela, menambah dinginnya malam.
Mama dan Papa istirahat dikamar almarhum ibu, aku tetap dikamarku. Diruang tamu Hasby terlelap meringkuk diatas tikar tipis.
Hawa melangkahkan kakinya kedalam kamar, membuka lemari mengambil selimut bersih. Membawanya keluar berjalan mendekati Hasby.
"kak, pakai selimut ini!" gumamnya pelan, tangannya mengulurkan selimut yang masih terlipat rapi kearah Hasby. Mengerjapkan mata perlahan, mendongak menatap selimut beralih ke Hawa. Tangannya terulur menerima dengan anggukan kepala pelan. "makasih" Hasby kembali memejamkan matanya setelah memakai selimut pemberian Hawa.
Hawa memutar kaki melangkah kembali ke kamar tidur. Ia menghampiri ranjang yang seakan-akan memanggilnya. perlahan naik keranjang, merebahkan badannya pelan. menghela nafas panjang. matanya mulai terpejam dan akhirnya tertidur lelap.
Mengisi tenaga untuk menyongsong hari esok. Hari dimana ia akan pindah kerumah mertuanya. Mengikuti suaminya. Hasby.