NovelToon NovelToon
Sultan KW Super

Sultan KW Super

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengganti / Dendam Kesumat
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Novi Artikasari

Dia dibesarkan dalam kehidupan keluarga sederhana, namun tekadnya untuk menjadi orang sukses sangatlah besar. Sayangnya, orang-orang di sekitar selalu meremehkan dan menganggapnya sampah hanya karena profesinya yang hanya tukang gorengan.

Suatu hari, ia berhasil menyelamatkan seseorang yang wajahnya sangat mirip dengannya. Setelah itu, kehidupannya berubah dalam sekejap mata.

Bagaimana bisa?

Simak kisah selengkapnya dalam novel yang berjudul SULTAN KW SUPER👉

Selamat membaca🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi Artikasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tuan Gesang

"Tadi pagi aku cek tempat itu, tubuh Firyanda sudah tidak ada di sana," celetuk salah satu dari preman itu seraya mengunyah tempe goreng setelah dicocoli sambal.

DEG

Liem tidak sengaja mendengar percakapan orang-orang itu.

Firyanda? Apa mereka pelakunya?

Diam-diam Liem terus mencuri dengar perbincangan mereka bertiga.

"Ah, biarkan saja. Palingan juga kondisinya gak jauh-jauh dari koma, atau gak, ya amnesia," respon lelaki satunya lagi sambil mencubit satu per satu pisang molen mini, lalu melahapnya berulang kali.

"Betul itu. Coba bayangkan, Tuan Gesang membantai kepalanya seperti bola golf gitu. Ah, membayangkannya saja kepalaku terasa berputar-putar," sahut yang satunya lagi seraya bergidik ngeri. Tahu mercon yang baru saja disabetnya dari piring gagal memasuki mulut karena bergidik.

Liem masih mendengarkan dengan saksama sambil terus menggoreng. Satu nama yang digarisbawahi olehnya; Tuan Gesang.

Percakapan tentang siapa dalang dari musibah yang menimpa Firyanda, masih saja terngiang di benak Liem. Walaupun kantuk sudah menyerangnya sedari tadi hingga menguap berkali-kali pun tetap tidak bisa membuatnya lena dalam mimpi.

Liem berbaring di atas kasur tunggalnya seraya melipat lengan ke belakang kepala. Pandangannya lurus menatap langit-langit kamar yang berwarna kuning air, senada dengan lampu tidur yang terpasang di sana.

Saat pikirannya sedang melanglang buana, terlintas sedikit kelebat surat kontrak yang tadi ditinggalkan oleh Kozi.

Liem menoleh ke arah meja yang terdapat di samping kasur. Lalu, bangkit dari tidurnya, kemudian menarik laci yang terdapat pada meja itu. Tampak sebuah map berwarna cokelat lebar dirogohnya dari perut laci.

Sebelum membuka map tersebut, Liem sejenak bergeming. Entah, apa yang ada di pikirannya. Yang jelas saat ini ia sedang dilanda dilema. Bagaimana tidak?

Haruskah ia menerima tawaran Kozi? Jika dia menolaknya, kentara sekali jika ia menolak untuk membantu sesama. Namun, jika ia menerima tawaran tersebut, apakah memang itu yang terbaik?

Sebelum memutuskan Liem cepat menarik tiga lembar kertas putih yang ada di dalam map, lalu membaca isinya.

Baris pertama dan seterusnya, cukup membuat Liem menganggukkan kepala pelan. Namun, di baris ketiga belas, dahinya langsung berkerut dalam, saat poin yang ia baca menyatakan bahwa Liem harus siap jika ada tawaran pekerjaan di luar negeri.

"Bagaimana dengan kuliahku? Apa aku harus memberitahu ibu tentang hal ini?" gumamnya pelan. "Tidak!" tolaknya pada diri sendiri sambil menggelengkan kepala.

Diletakkannya kembali kertas itu di atas meja, lalu kembali berbaring.

Lama bertatapan dengan langit-langit, mata pun turut terpejam setelah keputusan sudah dibulatkan.

Keesokan harinya, seperti biasa pagi-pagi buta Liem sudah berangkat ke pasar untuk berbelanja bahan-bahan yang dibutuhkan untuk dagangannya. Setelah itu, lanjut bebersih, kemudian berangkat ke kampus.

Di luar dugaan, ternyata Kozi sudah menunggunya di depan gerbang kampus. Hal yang sampai saat ini selalu sukses membuat Liem geleng-geleng kepala adalah Kozi terlalu gigih dalam menguntitnya.

Bagaimana tidak?

Dalam waktu satu hari saja, pria itu sudah bisa mengantongi identitas Liem. Alamat rumah, alamat kampus, entah, setelah ini kejutan apa lagi yang akan ditunjukkan oleh pria itu.

"Bagaimana?" tanya Kozi ketika keduanya sudah berada di kantin kampus.

Liem tak langsung menjawab, dirogohnya perut ransel yang bertengger di punggung, lalu mengeluarkan map cokelat yang berisi surat kontrak.

Kozi masih mengamati pergerakan pria culun di depannya, seraya menyesap hangat dan manisnya kopi susu gula aren yang baru saja diantar oleh pelayan kantin berbadan semok, berstatus janda anak satu.

"Jika aku menerima kontrak kerjasama ini, apa aku masih bisa bertemu dengan keluargaku?" tanya Liem kemudian.

Kozi meletakkan kembali cangkir berwarna hijau lumut itu di atas piring kecil, lalu duduk tegak seraya menatap Liem.

"Tidak boleh, karena hal itu akan banyak mengundang asumsi," jawab Kozi dengan pangkal alis yang berkerut.

Liem terdengar menghela napas kasar. Kentara sekali jika ia sangat keberatan dengan syarat tersebut.

"Lalu bagaimana dengan kuliahku?" Liem kembali bertanya. Tentu saja, ia ingin membantu Firyanda, namun bukan berarti ia harus menghancurkan hidupnya sendiri, bukan?

"Aku akan mengaturnya," jawab Kozi lagi. "Asalkan semua pekerjaan Firyanda aman, maka kau pun bisa menyelesaikan urusanmu," lanjut pria itu.

Baiklah, aku hanya perlu menahan rindu pada ibu.

"Baik, aku terima tawaran kerjasama ini," cetus Liem setelah sejenak terdiam.

Senyuman tipis terbit di kedua sudut bibir Kozi.

"Sekarang kau bisa membubuhkan tanda tanganmu pada surat itu," ucap Kozi seraya menatap map cokelat yang masih berada di tangan Liem. Senyuman di wajahnya masih terus bersemayam.

Pria culun itu langsung mengeluarkan bolpoin dan membubuhkan tanda tangannya di atas materai yang tertera pada surat kontrak. Kemudian menyerahkannya pada Kozi, lalu menyimpan salinannya untuk diri sendiri.

"Oya, ada hal penting yang ingin aku sampaikan," ucap Liem setelah meletakkan kembali cangkir kopi yang baru saja diserap airnya.

"Apa?" Kozi tampak antusias.

"Aku tahu siapa dalang dari musibah yang menimpa Firyanda," jawab Liem dengan tatapan penuh keyakinan.

Kozi terlihat mengepalkan sebelah tangannya kuat-kuat setelah mendengar satu nama yang disebutkan oleh Liem. Satu nama yang memang sangat tenar dengan segala kebaikan, kewibawaan, kekuasaan, dan kebijaksanaan di mata masyarakat.

***

Sebuah perkampungan padat penduduk yang terletak di tepian sungai, tampak tertata apik dengan model bangunan serupa. Anak-anak dan remaja terlihat berseliweran asik dengan agenda masing-masing. Begitu pun dengan orang dewasa.

Beberapa wanita dewasa juga terlihat duduk santai di teras rumah mereka, menghabiskan waktu bersama sambil bercengkerama. Camilan kesukaan menjadi selingan kunyahan di antara puluhan kata yang keluar dari mulut masing-masing. Namun, obrolan mereka harus berpotong setelah melihat sebuah mobil Ferrari melintas di jalan. Semuanya berdiri serentak seraya membungkuk hormat ke arah mobil tersebut.

Sebegitu hormatkah mereka pada pemilik mobil tersebut?

Setelah mobil itu melintas, mereka kembali asik bergunjing tentang banyak hal.

Seorang pria paruh baya, namun masih tampak sangat bugar, sedang menghisap asap kematian dari tembakau linting yang terselip di antara jari telunjuk dan jari tengahnya.

Rambut setengah gondrongnya terlihat disisir ke belakang dengan penampakan begitu mengkilat bak diolesi satu lusin minyak rambut. Sangking glowingnya.

"Tuan!"

Seorang pria bertubuh tinggi dan besar membungkuk ke arah pria baya yang baru saja keluar dari mobil Ferrari. Diekori oleh satu orang lagi yang juga berpenampilan sama.

Lelaki paruh baya itu menganggukkan kepala sebagai tanggapan, lalu berjalan memasuki bangunan beton berlantai tiga.

"Kami menerima laporan kalau pengiriman barang di jalur B mengalami penundaan, karena--"

BRAAAK

Lelaki paruh baya yang tak lain adalah Tuan Gesang itu sontak menggebrak meja seraya berdiri tegak. Tatapan nyalang dilayangkannya pada kedua pria bertubuh tinggi itu.

"Kenapa kalian masih saja membawa kabar tidak berguna, hah?!" bentak Tuan Gesang. Beliau paling tidak suka mendengar kabar yang tidak mengenakkan. Apalagi hal tersebut berkaitan dengan bisnis-bisnisnya. Bisnis ilegal tentunya.

1
Ami yana
kenapa nakutin/Sob//Sob/
NA_SaRi: apanya?
total 1 replies
Putri Minwa
Siip,cerita yang menarik thor
Putri Minwa
semangat
nur lizha
keren
💞 Lily Biru 💞
dsarrrr
𝕹𝖚𝖗𝖚𝖘𝖞𝖘𝖞𝖎𝖋𝖆
mengeri 🤧🤧🤧
𝕹𝖚𝖗𝖚𝖘𝖞𝖘𝖞𝖎𝖋𝖆
ikut deg-degan bacanya
Putri Minwa
Widih sadis nya
Putri Minwa
tetap semangat thor
Ghiie-nae
terus lanjut karyanya kak👍👍👍
Ganesha Amb
lanjut thor
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐
oh anak ibu.
jangan jadi malin kunang kau, Nak🚴
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐
Jirrr.
yg ini lebih jelas inponya🤣
NA_SaRi: Masih dsni, Kun
Haha, kelakuan gw
total 1 replies
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐
Gosah treak2 kali, Bang...Liem kagak disetting budeg juga sama otornya.🙄
NA_SaRi: Kwkwkwkwkw
total 1 replies
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐
Tar kena kolestrol, Bu..🥴
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐
Ngakak.
Gorengan dibayangin terosssss
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐
Awalnya jual mahal dulu, yak, Liem.
nanti mao tidak mao.
Mak Thor maksa lho bawa cerulit.😁
NA_SaRi: Author Terajana gitulah
total 1 replies
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐
sempit kali duniamu, Anak mudah🤣
Najwa Aini
Ternyata Liem aktor nya ya..
Najwa Aini
seriusan nih..Shabira mati?
kejam banget ihh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!