Kehidupan ala Barat ++
Bagaimana jadinya jika kau jatuh cinta pada seorang gadis yang bisa melihat masa depan?
Bertemu dengannya pertama kali langsung merubah hidup Ryuga. Ia begitu tertarik dengan penampilan Yumi, gadis yang sering membawa payung berwarna hitam kemanapun ia pergi meski hari terlihat begitu cerah.
Amanda Yumi, seorang gadis yang bisa melihat masa depan. Namun, ia sendiri tak bisa melihat masa depan akan berapa kali ia jatuh cinta. Termasuk dengan hadirnya cinta yang diberikan Ryuga Oliver kepadanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La-Rayya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Insiden
Hidup seorang diri untuk hampir seumur hidup dan khususnya saat Ryu berada di bangku kuliah mulai menjadi sesuatu hal yang normal untuknya. Tapi semuanya berubah saat Yumi hadir ke dalam hidupnya. Setiap hari yang dijalani Ryu dipenuhi dengan rasa bahagia, hanya dengan memikirkan tentang bagaimana dia bisa bertemu dengan Yumi di akhir hari.
Semuanya menjadi semakin indah saat Ryu bertemu dengan keluarga Yumi yang menerima dirinya dan hubungan mereka tanpa ada masalah sedikitpun.
Siang itu, saat Ryu tengah sibuk menyelesaikan sebuah tugasnya, dia mendengar beberapa rumor yang menyebar di seluruh kampus dari grup mahasiswa yang membicarakan tentang rumor itu yang merupakan teman sekelas Ryu.
"Iya, apakah kau tahu tentang mahasiswa baru yang dari fakultas bisnis itu?"
"Oh apa maksudmu cowok yang menggemaskan itu? Apakah rumah itu benar terjadi?"
"Iya, seseorang sebenarnya melihat dia dan petugas perpustakaan itu berjalan bersama."
"Petugas perpustakaan? Apakah kau membicarakan tentang Bu Hana, wanita dewasa yang cantik itu?"
"Iya benar sekali, dan seseorang melihat mereka berkencan di planetarium minggu lalu."
"Benarkah? Bagaimana mungkin pria yang masih begitu muda harus memiliki hubungan dengan wanita yang usianya jauh lebih dewasa darinya."
"Itulah yang aku maksud. Apa mereka tidak masalah berpacaran dengan usia yang terpaut begitu jauh. Jika dilihat Bu Hana usianya mungkin sudah lebih dari 30 tahun sedangkan si pria itu sekitar 20 tahun."
"Entahlah, apa mungkin hubungan mereka begitu bebas? Bagaimana mungkin pria yang begitu muda menyukai wanita yang terlalu dewasa darinya. Malah mereka lebih mirip keponakan dan tante, hahahahahaha...."
Obrolan mereka tentang hal itu terus berlanjut sampai Ryu memutuskan untuk tidak mendengar mereka lagi karena hal itu membuatnya merasa tidak nyaman. Sampai saat dimana mereka mengubah obrolan mereka ke topik yang sama dan saat itulah dunia Ryu menjadi kacau.
".... Tapi apakah kau juga mendengar tentang isu baru tentang seorang cowok dari fakultas kita?"
"Apa? Jangan bilang cowok dari fakultas kita juga menyukai tante-tante."
"Seseorang melihat seorang cowok yang mengenakan almamater fakultas kita berada di taman kemarin sore. Katanya dia terlihat begitu mesra dengan seorang wanita yang jauh lebih dewasa darinya secara terang-terangan di tempat umum."
"Eh, benarkah? Apakah kau tahu siapa pria itu?"
"Sayangnya foto itu begitu buram dilihat dari sudut lainnya. Tapi itu sudah tersebar di dalam grup percakapan kita."
"Biarkan aku melihatnya lebih dulu.... Ya aku sudah lihat, coba kau lihat ke sini."
"Hmmmmm...."
"Aku tidak bisa mengenali wajah dari mahasiswa ini. Tapi aku rasa aku mengenali wanita yang duduk di sampingnya ini."
"Iya, kau benar. Dia terlihat sangat familiar."
"Oh, aku rasa dia terlihat seperti wanita yang sering aku lihat beberapa waktu lalu di toko yang berada di dekat taman itu."
"Jujur saja, wanita itu memang cantik. Tapi yang aku dengar, dia itu sangat aneh. Mungkin itulah alasan kenapa dia sampai tidak kunjung mendapatkan jodoh, dan malah berakhir dengan mengencani cowok muda. Kasihan sekali."
Ryu langsung berdiri dan mengambil barang-barangnya dan berlari dari dalam kelas. Jantungnya berdegup dengan begitu kencang dan rasanya seperti ingin meledak kapanpun karena apa yang dia dengar itu.
Saat tiba di rumah Ryu langsung membuka ponselnya dan melihat grup percakapan kampusnya dan di sana dia melihat foto blur tentang yang dikatakan orang-orang tadi. Itulah yang dikhawatirkan oleh Ryu,gambar itu benar-benar gambar dirinya dan yummy kemarin saat Ryu tidur siang di bahu Yumi.
Wajah Ryu di foto itu begitu buram. Sementara wajah Yumi terlihat sedikit jelas. Ryu merasa begitu bodoh dan bersalah di waktu yang bersamaan. Ryu merasa itu semua adalah kesalahannya. Jika saja sebelumnya dia sudah memikirkan konsekuensi dari apa yang dia lakukan di tempat umum kemarin, mungkin insiden seperti ini tidak akan terjadi.
Setelah merasa begitu panik sepanjang siang hari Ryu akhirnya tertidur tanpa sadar dan bangun ketika sudah pagi hari keesokan harinya. Ryu mendapat panggilan tak terjawab dari Yumi dan sebuah pesan singkat yang menanyakan apakah dia sedang sakit atau tidak.
Ryu sebenarnya ingin mendengar suara Yumi dan melihat wajahnya untuk merasa lebih tenang. Tapi ketika dia mengingat apa yang dikatakan teman-temannya di kampus semuanya menjadi begitu sulit.
"Aku tidak punya waktu untuk hal ini. Ya, aku harus meredam semua isu ini lebih dulu dan melindungi Yumi dari semua orang yang menghakimi hubungan kami yang seperti ini." Ucap Ryu pada dirinya sendiri dan berdiri.
Ryu mulai mencari sumber dari foto yang tersebar itu dan memutuskan untuk menemui mereka dan meminta mereka untuk menghapus foto itu. Ryu pergi ke kampus lebih pagi dari biasanya. Jadi dia bisa melanjutkan pencariannya kepada orang yang telah menyebarkan foto itu.
Butuh waktu hampir 1 jam sebelum akhirnya Ryu menemukan akun asli yang meng-upload foto itu. Ryu tidak bisa mengetahui nama asli dari orang yang menggunakan akun itu. Tapi ketika dia melihat foto profil dari akun itu, kemarahan Ryu langsung memuncak dan dia akhirnya melihat siapa yang bertanggung jawab akan tersebar nya foto itu.
Itu semua ulah dari pria yang mengambil mantan kekasih Ryu.
'Aku seharusnya meninju wajahnya lebih dari sekali dan mengirim dia ke rumah sakit selama 1 bulan daripada hanya meninju dan membuatnya masuk rumah sakit hanya beberapa hari saja.'
Ryu mulai bertanya tentang pria itu kepada semua mahasiswa. Dan ternyata pria itu adalah pria yang terkenal di antara semua para gadis. Jadi Ryu tidak terlalu susah untuk menemukan keberadaannya. Ryu sudah berada di jalan untuk menemui pria itu ketika dia mendengar seseorang berbicara di dalam sebuah ruangan kosong.
"Apa kau serius tentang hal itu? Maksudmu foto itu benar-benar Ryuga?"
Suara gadis itu terdengar familiar di telinga Ryu.
"Iya, aku yakin karena aku melihatnya langsung. Tapi pria itu benar-benar beruntung karena foto itu malah begitu buram di wajahnya. Aku benar-benar ingin membalasnya karena dia telah meninju wajahku waktu itu."
Ryu langsung mendobrak pintu dan di sana dia melihat pria itu bersama Yuna. Kemarahan Ryu memuncak dan pandangannya menjadi menghitam. Ryu menendang pintu dan langsung mengambil ponsel pria itu kemudian membuangnya ke lantai sebelum menginjak nya kembali beberapa kali. Ryu kembali ke arah pria itu dan memegang kerah bajunya kemudian meninju wajahnya beberapa kali saat Ryu menyadari bahwa pria itu tidak bersama teman-temannya. Jadi dia akan sangat mudah memberikan pelajaran pada pria itu.
Dibutakan oleh amarah, Ryu nyaris tidak menyadari apa yang terjadi diantara mereka. Sampai dia akhirnya mendengar suara teriakan Yuna dan kedua tangan yang menarik Ryu dari belakang menjauh dari wajah pria itu yang sudah penuh darah.
"Hentikan, apa kau benar-benar ingin membunuh seseorang di sini, di kampus ini?"
Seorang dosen menarik Ryu kembali ke belakang dan menarik Ryu menuju ruang konseling. Sementara pria lainnya berlari kearah pria yang dihajar Ryu tadi dan membawanya menuju klinik.
"Tapi dia sudah begitu berlebihan." Ucap Ryu.
"Itu bukan alasan yang bisa dibenarkan untuk menyerang seseorang seperti itu. Kau mungkin akan mendapat hukuman ditangkap polisi, jika kami tidak menghentikan mu tepat waktu. Kau beruntung karena memiliki kami di sisimu karena kami mengerti bahwa kau adalah mahasiswa yang baik yang tidak akan menyerang seseorang tanpa alasan yang valid. Jadi bersikap lah dengan baik dan biarkan kami membantumu untuk melewati masalah ini." Ucap dosen itu kepada Ryu saat mereka memasuki ruangan dekan.
Dekan itu adalah seorang wanita yang usianya 50 tahun. Dia melihat kearah Ryu dengan mata yang memicing dan dia mendengar apa yang dosen itu katakan kepadanya tentang Ryu yang memukuli mahasiswa lainnya.
"Jadi, bisakah kalian membawa orang lainnya yang terlibat dalam perkelahian ini?" Tanya Dekan itu.
"Maafkan kami, tapi kami tidak bisa membawanya kemari bersama kami, karena Pak Andi tengah membawanya ke klinik.
"Jadi maksud anda bahwa mahasiswa lainnya yang terlibat perkelahian ini mendapat luka yang begitu serius hingga dia membutuhkan perawatan medis. Sementara mahasiswa lainnya yang kau katakan kepadaku adalah korban ini, disini tidak terluka." Ucap dengan suara yang tidak percaya tentang apa yang terjadi dan melihat rio dengan mata yang memicing. "Kau harus menelpon orang tuamu atau wali mu untuk datang ke sini hari ini juga."
"Saya rasa itu tidak dibutuhkan lagi. Mereka berdua sudah cukup dewasa untuk memikirkan masalah mereka sendiri." Ucap dosen Ryu menjawab.
"Pak Angga, saya rasa anda terlalu ikut campur dengan urusan ini. Sekarang anda bisa menyerahkan semuanya kepada saya. Saya berjanji bahwa saha akan adil dalam menyelesaikan masalah ini."
"Baiklah aku mengerti. Aku akan pergi sekarang. Ryuga tolong jelaskan apa yang terjadi sesuai apa yang kau alami..." Ucap dosen Ryu yang bernama Angga itu lalu pergi dari dalam ruangan.
Ryuga duduk terdiam sementara Bu Dekan itu mencari informasi tentang Ryu dan pria yang dihajar nya itu dari data kampus.
"Ryuga Oliver, berdasarkan laporan dari data kampus ini, kami semua melihat bahwa kau adalah siswa yang disiplin dengan nilai yang selalu memuaskan yang membuatmu diberikan beasiswa dari kampus ini. Kau tidak terlibat dalam masalah apapun, baik itu di dalam kampus ataupun di luar kampus jadi kenapa kau melakukannya kali ini?"
"........"
Ryu hanya melihat kearah lantai. Dia tidak mau memberitahukan kepada Dekan tentang hubungannya dengan seseorang yang menjadi alasan dibalik kekerasan yang dilakukannya.
"Tomi Andriano, seorang mahasiswa yang satu tingkat lebih atas darimu adalah orang yang kau pukuli bukan? Menurut laporan dari kampus dia adalah mahasiswa yang penuh dengan masalah. Ada beberapa laporan yang menunjukkan bahwa dia begitu sering bermasalah dengan mahasiswa lain tapi selalu tidak ada bukti dari perbuatan yang dilakukannya jadi dia selalu terbebas dari hukuman. Melihat dirimu yang sebagai mahasiswa terbaik, tidak akan ada yang percaya bahwa kau memelukku seperti itu. Jadi apa yang menjadi alasanmu sebenarnya, katakan kepadaku dan aku berjanji aku akan bersikap adil."
Tekan terus aja mengontrol grosir you tapi ryu tetap terdiam. Ryu ingin membuat semuanya menjadi rahasia dan ingin membuat Yumi tidak terlibat masalah ini.
"Maka aku tidak punya cara lain selain menghubungi orang tuamu. Hanya untuk untuk datang kemari berikan aku ponsel mu."
"Saya.... Tidak punya orang tua atau wali, jadi anda tidak bisa menelpon siapapun disini,"
Ryu dengan percaya diri menyerahkan ponselnya kepada dekan.
"Lalu bagaimana jika aku menelpon seseorang yang terakhir kali kau telepon di ponsel mu."
Mata Ryu mendadak membelalak saat dia menyadari siapa yang akan ditelepon oleh dekan.
"Hei hentikan itu... anda tidak bisa melakukan itu."
Ryu mencoba untuk mengambil ponselnya kembali. Tapi dekan dengan cepat memindahkan ponsel itu dan berjalan keluar dari ruangan seraya mengunci rio di dalam ruangan itu.
"Halo, saya Ibu Amara, dekan dari universitas x dan saya ingin menanyakan kepada anda apakah saya bisa meminta anda untuk datang kemari ke ruangan saya?"
"Tidak, tidak seperti itu. Saya hanya butuh bantuan anda untuk menjawab beberapa pertanyaan, karena Ryuga tidak memiliki orang tua atau wali dan ketika saya melihat kontak yang ada di ponsel nya, hanya nama anda yang saya lihat berada di sini dan sering dihubungi.
"Pemukul kayu Ryu selain dari kontak tempat dia bekerja paruh waktu jadi saya berasumsi bahwa hanya anda yang berhubungan dengannya."
"Baiklah, terima kasih. Kami akan menunggu kedatangan anda di sini."
Dekan kembali itu masuk ke dalam ruangan dan mengembalikan ponsel Ryu padanya. Ryu hanya tidak tahu harus berkata apa jika dia melihat Yumi yang datang ke kampusnya.
'Berakhir sudah, tidak ada cara lain lagi untuk melindungi Yumi dari isu yang ada. Dia terlibat masalah ini dan datang kemari.'
Ryu kembali duduk di kursinya dan melihat kearah Dekan. Ryu merasa dia harus menyelesaikan semua permasalahan yang ada sebelum Yumi datang.
" Bu Amara, apakah anda akan bersikap adil jika saya memberitahu anda semuanya?"
"Ya tentu saja. Katakan saja kepadaku semuanya dan itu semua akan menjadi rahasia di antara kita berdua."
"Baiklah, itu semua dimulai ketika......"
Bersambung.....