Hidup Evelina Lim hancur seketika saat ia menangkap kekasihnya Rangga berselingkuh dengan adik tirinya, Jesslyn Lim.
Di titik terendah, Eve berpapasan dengan Edric Kho, mantan prajurit TNI baru pulang dari misi Afrika Selatan.
“Kamu kurang apa sih, Mas?”
“Tidak kurang apa-apa. Cuma kurang istri.”
Dipicu amarah, Eve menerima tawaran itu dan menikah kilat.
Eve mengira suaminya hanya mantan tentara sederhana, tanpa tahu Edric adalah Direktur Utama Kho Group, pewaris konglomerat raksasa Jakarta. Ia merahasiakan identitasnya, ingin dicintai sebagai Edric, bukan pewaris keluarga Kho.
Rahasia besar itu akhirnya terbongkar. Ia berhadapan dengan saingan kekuasaan Valen Kho, pesaing cinta Calista Sia, serta misteri kematian ibu Eve.
Eve harus memilih: kabur, atau bertahan di samping pria misterius ini.
Edric Kho siap mempertaruhkan segalanya demi wanita yang dinikahinya dalam sekejap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
Bab 4: Kamar 606
Eve memegang gagang pintu, lalu berkedip pelan.
Ruangan VIP itu bukan toilet.
Ada sofa kulit gelap, meja rendah dengan botol wiski, dan tiga laki-laki yang sekarang menatapnya. Yang di tengah paling dikenalnya, meskipun otaknya yang mabuk butuh dua detik untuk menyambungkan wajah itu dengan kejadian pagi tadi.
"Kamu..." Eve menunjuknya dengan ragu. "Pak Kolonel?"
Brandon Ho, yang duduk di sisi kiri, langsung melirik Edric. Vincent Tan di sisi kanan menurunkan gelasnya dengan sangat hati-hati.
Edric berdiri. "Eve."
"Kok kamu di sini sih..." Eve masuk seolah ruangan itu memang disiapkan untuknya. "Dunia sempit ya."
Ia berjalan tiga langkah, hampir tersandung karpet, lalu jatuh duduk di sebelah Edric. Bukan hanya duduk. Kepalanya langsung bersandar di bahu pria itu, seolah tubuhnya sudah memutuskan tempat paling aman tanpa meminta izin akal sehat.
Brandon membuka mulut. "Ric, siapa ini?"
Edric menaruh gelasnya. Tangannya bergerak sangat alami ke bahu Eve, menahan agar ia tidak merosot.
"Istriku."
Hening.
Lalu Brandon tersedak. "Istri?! Kapan?! Bagaimana bisa?!"
Vincent, dengan wajah seorang dokter yang menghadapi kasus aneh, bertanya, "Akta Perkawinan-nya ada?"
"Ada."
"Hari ini?"
"Pagi tadi."
Brandon menatap Vincent, lalu menatap Edric lagi. "Aku cuma telat datang lima menit ke hidupmu, atau kamu memang gila?"
Eve tidak peduli. Ia memainkan ujung lengan kemeja Edric, matanya setengah terpejam.
"Rangga brengsek," gumamnya. "Tiga tahun... satu miliar... mawar putih buat Jess..."
Suara Brandon berhenti.
Eve tertawa kecil, lalu air matanya jatuh tiba-tiba. "Mama, aku bodoh ya?"
Edric menunduk. Wajah Eve basah, tetapi ia tidak benar-benar sadar sedang menangis. Bahunya kecil di balik gaun putih yang sudah kusut. Semua keberanian di bandara seperti meleleh, menyisakan perempuan muda yang terlalu lama menahan sakit sendirian.
Edric melepas jaketnya dan menyelimutkannya ke tubuh Eve.
"Ceritanya panjang," katanya kepada Brandon dan Vincent. "Nanti saya jelaskan."
"Kamu yakin dia tidak perlu diperiksa?" tanya Vincent.
"Dia mabuk."
"Mabuk dan menangis bukan diagnosis lengkap."
"Vin."
Vincent mengangkat kedua tangan. "Baik. Tapi beri dia air."
Brandon sudah menuangkan air mineral ke gelas. Untuk sekali ini ia tidak bercanda.
Eve menolak gelas itu. Ia malah meraih kerah Edric, mencengkeramnya dengan kuat untuk ukuran orang mabuk.
"Jangan pergi," bisiknya.
Edric membeku.
"Semua orang pergi. Papa pergi. Mama meninggal. Rangga juga..." Napas Eve patah. "Jangan pergi."
Brandon menunduk. Vincent memalingkan wajah, memberi ruang pada sesuatu yang terlalu pribadi.
Edric menatap perempuan di pelukannya. Di bandara ia melihat amarahnya. Di Catatan Sipil ia melihat keberaniannya. Malam ini ia melihat luka yang selama ini mungkin ditutup dengan pekerjaan, senyum tipis, dan kalimat "aku baik-baik saja".
Ia menunduk sedikit.
"Saya tidak akan pergi."
Eve tidak menjawab. Mungkin tidak mendengar. Namun genggamannya di kerah Edric perlahan mengendur.
Edric mengangkatnya.
Brandon cepat membuka pintu. Vincent mengambil tas Eve yang jatuh di dekat sofa.
"Ric," Brandon berbisik saat mereka keluar. "Kamu benar-benar menikah?"
"Kamu mau lihat akta sekarang?"
"Aku mau duduk dulu sebelum pingsan."
Di koridor, seorang laki-laki berlari dari arah ruang biasa. Daniel Tjioe berhenti mendadak ketika melihat Eve dalam pelukan orang asing.
"Woi!" Dan maju dengan wajah siap memukul. "Kamu siapa? Turunkan dia!"
Edric berhenti. "Saya suaminya."
"Suami? Eve nggak punya suami! Dia baru putus sama..."
Kata-kata Dan terhenti saat melihat cincin di jari Eve. Cincin sederhana, baru, dan terlalu nyata untuk dijadikan lelucon.
Dan menatap Eve. Sahabatnya tidur dengan pipi basah, tetapi tubuhnya tidak menegang di pelukan Edric. Justru ia menempel seperti orang yang akhirnya berhenti berlari.
"Eve," Dan memanggil pelan.
Eve hanya menggumam, "Dan, jangan berisik..."
Brandon, di belakang Edric, nyaris tertawa. Vincent menyikutnya.
Dan mengulurkan tangan pada Vincent. "Tasnya."
Vincent menyerahkan tas Eve tanpa protes. Dan memeriksa ponsel, dompet, dan keadaan Eve dengan cepat. Ia bukan keluarga, bukan pacar, tetapi ia jelas orang yang terbiasa memastikan Eve pulang utuh.
"Dia minum banyak," kata Dan.
"Saya tahu," jawab Edric.
"Kalau sampai ada apa-apa dengan dia, saya pastikan kamu menyesal."
Brandon mengangkat alis. "Berani juga."
Edric tidak tersinggung. "Bagus. Dia butuh teman seperti itu."
Dan tidak terlihat luluh, tetapi amarahnya turun sedikit. "Nama kamu siapa?"
"Edric Kho."
Perubahan kecil lewat di wajah Dan. Ia tahu nama Kho. Siapa pun yang hidup di lingkaran Jakarta cukup lama tahu bahwa beberapa nama keluarga tidak pernah sekadar nama.
"Kho yang mana?"
"Yang akan kamu cari di internet setelah ini."
Dan menyipit. "Aku makin tidak suka kamu."
"Nanti saja. Sekarang dia butuh tidur."
Dan menatap Eve sekali lagi. Ia ingin merebutnya, membawa pulang sendiri, tetapi ia juga tahu Eve tinggal sendirian di kos kecil tanpa orang yang bisa menjaganya malam ini. Pria bernama Edric itu terlalu tenang untuk ukuran penculik, dan cincin di tangan Eve terlalu mengganggu untuk diabaikan.
"Kirim alamat," kata Dan akhirnya. "Dan kabari kalau dia sudah bangun."
"Baik."
"Aku serius."
"Saya juga."
Di parkiran, Fajar sudah menunggu di samping Toyota Alphard hitam. Wajahnya tidak berubah ketika melihat Edric menggendong seorang perempuan.
"Ke mana, Pak?"
"Apartemen Menteng Park."
"Siap, Pak."
Brandon membuka pintu mobil. Vincent menyerahkan tas Eve ke Edric.
"Ric," kata Vincent pelan, "dia rapuh malam ini. Jangan jadikan ini permainan."
Edric menatapnya. "Saya tidak pernah bermain."
Mobil bergerak keluar dari basement Velvet Lounge. Lampu Jakarta lewat di kaca seperti garis-garis panjang. Eve tidur dengan kepala di bahu Edric, napasnya mulai teratur.
Edric menatap wajahnya yang lelah.
Di balik kelopak mata itu ada seorang perempuan yang baru dikhianati, baru menikah, dan belum tahu ia menikah dengan siapa.
Fajar melirik dari kaca spion, lalu cepat-cepat kembali menatap jalan.
"Pak?"
"Besok pagi," kata Edric, tanpa mengalihkan mata dari Eve, "minta Jerry cari semua informasi tentang Evelina Lim."
"Siap."
Eve bergerak sedikit dalam tidurnya. Jarinya mencari sesuatu, lalu menggenggam ujung kemeja Edric.
Edric membiarkannya.