Lima tahun lalu, Keira diusir dari keluarga Mulyono saat perutnya baru membesar.
Tidak ada yang tahu dia sedang mengandung tiga anak sekaligus — anak-anak dari pria paling berkuasa di Jakarta: Kevin Hartono, CEO Hartono Group.
Tanpa uang, tanpa keluarga, tanpa nama — dia membesarkan ketiga anaknya sendirian. Diam-diam, dia membangun kerajaan bisnisnya sendiri. Menjadi CEO SH Corporation. Menjadi dokter jenius yang dipanggil "Dr. Mira." Menjadi ahli chip SSS-level yang dicari seluruh dunia dengan nama "Ainara."
Sekarang, dia kembali ke Jakarta.
Bukan sebagai gadis yang pernah dibuang. Tapi sebagai wanita yang bisa menghancurkan siapa saja yang pernah menyakitinya.
Masalahnya? Kevin Hartono — mantan suami yang bahkan tidak tahu dia pernah hamil — baru saja menemukan bahwa putranya, Darren, punya saudara kembar yang identik.
Dan dia tidak akan berhenti sampai menemukan ibu mereka.
"Kei... kamu bisa membenciku. Kamu bisa memukulku. Tapi aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi."
Tapi Keira sudah bersumpah: *dia yang membuangku, sekarang harus berlutut untuk mendapatkanku kembali.*
Siapa bilang balas dendam terbaik bukan hidup bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Bab 008
Pagi di depan Jakarta International Preschool biasanya hanya berisi mobil mewah, pengasuh rapi, dan anak-anak kecil yang masih mengantuk.
Hari itu, Kevin datang sendiri.
Feng yang duduk di kursi depan beberapa kali melirik kaca spion. Boss-nya jarang mengantar Darren ke sekolah. Bukan karena tidak peduli, melainkan karena jadwal Kevin selalu padat seperti mesin yang tidak mengenal jeda. Namun setelah laporan Pak Hadi tentang perempuan di mal, Kevin membatalkan dua rapat pagi.
Darren duduk di kursi belakang, memegang tas kecilnya.
"Ren," kata Kevin, "hari ini Daddy antar sampai kelas."
Darren mengangguk.
Kevin tidak bertanya apakah anak itu masih memikirkan perempuan itu. Jawabannya terlalu jelas. Sejak pulang dari mal, Darren lebih sering berdiri di jendela. Ketika tidur, tangannya menggenggam ujung selimut seperti menggenggam gaun seseorang.
Mobil berhenti di depan gerbang JIP.
Di saat yang sama, sebuah mobil hitam berhenti beberapa meter di depan.
Sekolah itu punya aturan ketat: tidak boleh mengambil foto anak lain, tidak boleh ada pengawal masuk tanpa izin, dan semua orang tua harus turun di zona yang sudah ditentukan. Namun aturan hanya membuat pagi itu tampak lebih normal di permukaan. Di balik kaca mobil, sopir-sopir sudah saling melirik. Mereka mengenali mobil Hartono. Mereka juga mengenali mobil hitam baru yang beberapa hari terakhir sering dibicarakan karena pemiliknya membeli rumah PIK secara tunai.
Jakarta kecil untuk orang kaya.
Dan gosip bergerak lebih cepat daripada mobil sport.
Pintu belakang terbuka. Ethan melompat turun dengan ransel biru, rambutnya sedikit berantakan karena ia menolak disisir terlalu rapi. Keira turun setelahnya, membungkuk untuk merapikan kerah anak itu.
"Jangan masuk ke sistem sekolah," kata Keira.
Ethan memasang wajah tersinggung. "Mommy, aku punya etika."
"Kemarin kamu masuk sistem parkir mal."
"Itu bukan sekolah."
Keira menatapnya.
Ethan mengangkat tangan. "Baik, baik. Tidak masuk sistem sekolah. Kecuali darurat."
Keira baru akan menjawab ketika tubuhnya merasakan tatapan dari belakang.
Kevin berdiri di sisi mobilnya.
Matanya tidak tertuju kepada Keira dulu. Ia menatap Ethan.
Waktu seperti berhenti.
Kevin melihat Darren yang berdiri di sampingnya, lalu melihat anak laki-laki yang baru turun dari mobil Keira. Sama. Wajah yang sama. Tinggi hampir sama. Garis rahang kecil yang sama. Tetapi yang satu berdiri diam seperti air beku, yang satu lagi menggerakkan tangan sambil protes kepada ibunya.
Feng yang baru keluar mobil ikut membeku.
"Boss..."
Kevin tidak menjawab.
Ethan merasakan tatapan itu. Ia menoleh, lalu melihat Darren.
Untuk satu detik, dua anak laki-laki itu saling menatap.
Darren tampak seperti melihat cermin yang belajar tertawa.
Ethan tampak seperti melihat dirinya yang lupa cara menjadi anak kecil.
Keira menggenggam bahu Ethan. Insting pertamanya adalah menarik anaknya pergi, tetapi gerbang sekolah sudah ramai. Jika ia panik, Kevin akan semakin yakin.
Kevin berjalan mendekat.
"Nona Keira."
Keira menoleh dengan wajah tenang. "Pak Kevin."
Panggilan itu formal, dingin, dan sengaja memberi jarak.
Kevin berhenti dua langkah darinya. "Anak Anda?"
"Ya."
"Namanya?"
Ethan menjawab sendiri, "Ethan Mulyono."
Kevin menatap bocah itu lebih dalam. Nama Mulyono jatuh di telinganya seperti potongan puzzle yang kasar. Mulyono. Keluarga yang baru saja trending karena skandal pernikahan. Perempuan yang diusir lima tahun lalu. Dua anak berusia lima tahun. Satu anak yang wajahnya sama dengan Darren.
Kepala Kevin menyusun semua kemungkinan dengan kecepatan dingin.
Kemungkinan paling sederhana adalah kebohongan.
Kemungkinan paling menakutkan adalah darah.
Kevin menatapnya. "Berapa umurmu?"
"Lima. Hampir enam kalau Mommy setuju mempercepat ulang tahun."
Feng hampir tersedak. Dalam situasi setegang ini, anak itu masih sempat bercanda.
Kevin menoleh kepada Darren. "Ren."
Darren tidak bicara. Namun matanya tidak lepas dari Ethan.
Keira melihat itu. Dadanya sakit.
Kevin kembali menatap Keira. "Menarik."
"Anak-anak banyak yang mirip," kata Keira.
"Tidak seperti ini."
Di sekitar mereka, beberapa orang tua mulai memperhatikan. Dua anak dengan wajah sama di depan sekolah elite bukan pemandangan biasa. Seorang ibu bahkan sudah mengangkat ponsel, tetapi guru JIP cepat mengingatkan bahwa pengambilan foto anak lain dilarang.
Kepala sekolah, Pak Tao, bergegas keluar setelah menerima laporan staf.
"Selamat pagi, Pak Kevin. Nona Keira." Senyumnya kaku ketika melihat Ethan dan Darren berdiri berhadapan. "Ah... anak-anak sudah waktunya masuk kelas."
Keira memanfaatkan itu. Ia menunduk kepada Ethan. "Masuk."
Ethan menatap Darren sebentar. "Sampai nanti."
Darren tidak menjawab, tetapi jarinya bergerak sedikit, seperti ingin menahan.
Kevin melihat gerakan kecil itu.
Ia bukan pria yang melewatkan detail.
Setelah anak-anak dibawa masuk oleh guru, Kevin tetap berdiri di depan Keira.
"Saya ingin bicara."
"Saya tidak."
"Anak Anda memiliki wajah yang sama dengan anak saya."
"Jakarta besar, Pak Kevin."
"Tidak sebesar itu."
Keira tahu semakin banyak orang memperhatikan. Ia bisa merasakan kamera yang tertahan, rasa penasaran ibu-ibu sosialita, dan kepanikan kecil pihak sekolah. Jika Kevin menekannya di sini, ia tidak boleh terlihat takut. Sekali saja ia kehilangan kendali, rumor akan berubah menjadi senjata.
Maka ia tersenyum.
Senyum itu bukan ramah. Itu pagar.
Keira tersenyum tipis. "Kalau Anda ingin membahas genetika di depan gerbang sekolah, saya rasa itu kurang pantas."
Kevin menatapnya. Di bandara, ia hanya melihat perempuan misterius. Di mal, ia mendengar laporan. Hari ini, ia melihat sendiri bukti yang berdiri hidup di depan matanya.
Lima tahun.
Keira Mulyono. Dua anak usia lima tahun. Darren yang diadopsi lima tahun lalu.
Kebetulan tidak pernah serapi ini.
"Feng," kata Kevin tanpa menoleh.
"Ya, Boss."
"Cari semua data Keira Mulyono. Lima tahun terakhir, lima tahun sebelum itu, catatan medis, perjalanan, keluarga, anak-anaknya."
Keira mendengar setiap kata.
"Pak Kevin," suaranya turun, "Anda sedang membicarakan privasi saya."
"Saya sedang membicarakan anak saya."
"Dan saya sedang melindungi anak saya."
Keduanya saling menatap. Di antara mereka tidak ada teriakan, tetapi udara terasa berat.
Feng berdiri di belakang Kevin, diam-diam merasa pagi ini lebih berbahaya daripada rapat pemegang saham.
Keira akhirnya melangkah mundur. "Kalau ada urusan resmi, hubungi pengacara saya."
"Saya akan mencari kebenaran."
"Silakan. Tapi jangan menyentuh anak-anak saya."
Kevin mendekat setengah langkah. "Kalau anak-anak Anda ternyata berhubungan dengan Darren?"
Keira tidak mundur.
"Maka kita bicara dengan hukum, bukan ancaman."
Kalimat itu membuat mata Kevin berubah. Perempuan di depannya bukan orang yang bisa ditekan dengan nama Hartono. Ia berdiri tegak, dingin, dan siap menggigit siapa pun yang mendekati anaknya.
Aneh.
Kevin seharusnya marah.
Namun yang muncul justru rasa ingin tahu yang lebih dalam.
Siapa sebenarnya Keira Mulyono?
Di kelas JIP, Ethan duduk tidak jauh dari Darren. Tiffany masuk dari pintu lain bersama guru, membawa botol minum bergambar bintang. Begitu melihat dua wajah yang sama, matanya langsung membulat.
"Wah," bisiknya, "benar-benar ada dua Koko."
Darren menatap Tiffany.
Tiffany tersenyum sangat hati-hati. "Hai, Koko Ren."
Darren menunduk. Telinganya sedikit merah.
Guru kelas, Miss Laras, melihat daftar nama di tangannya lalu melihat dua bocah laki-laki itu. Ia sempat mengira ada kesalahan pendaftaran. Namun nama mereka berbeda, orang tua berbeda, dan berkas administrasi sama-sama lengkap. Sekolah elite terbiasa menghadapi anak keluarga rumit, tetapi dua wajah identik di satu kelas tetap membuatnya harus menarik napas.
"Anak-anak, hari ini kita belajar saling mengenal," katanya dengan senyum profesional. "Kalau ada yang terlihat mirip, berarti Tuhan sedang bercanda manis."
Tiffany terkikik. Ethan hampir menjawab bahwa ini bukan bercanda, ini genetika, tetapi ia ingat janji kepada Mommy dan menutup mulut.
Di luar, Kevin masuk kembali ke mobil. Feng menunggu instruksi.
"Boss?"
Kevin membuka file digital Darren di ponselnya. Catatan adopsi muncul. Tanggal. Nama panti. Kolom ibu kandung kosong.
Selama ini ia menerima kekosongan itu sebagai bagian dari masa lalu Darren. Banyak anak adopsi datang dengan berkas tidak lengkap. Banyak ibu melahirkan lalu menghilang. Kevin tidak pernah memaksa karena Darren lebih penting daripada asal-usulnya.
Namun hari ini kolom kosong itu terasa seperti sengaja dikosongkan.
Ia membuka lampiran lama. Ada tanda tangan dokter yang buram, nama perawat yang sudah tidak bekerja di panti, dan tanggal pemindahan bayi yang hanya terpaut beberapa hari dari jadwal persalinan Keira menurut data awal Feng.
Kevin mengingat wajah Keira saat ia berkata jangan menyentuh anak-anak saya.
Itu bukan kalimat perempuan yang menyembunyikan kesalahan.
Itu kalimat ibu yang pernah dirampas sesuatu.
"Dua anak usia lima tahun," gumamnya. "Satu perempuan. Satu laki-laki yang wajahnya sama dengan Darren."
Feng tidak berani menyela.
Kevin menutup ponsel.
"Cari dia," katanya dengan suara sangat dingin setelah jeda. "Cari tahu semuanya tentang Keira Mulyono. Terutama lima tahun lalu... anak siapa yang dia kandung."
Feng mengangguk. "Baik, Boss."
"Dan Feng."
"Ya?"
"Jangan sampai pihak luar tahu."
Feng menatap gerbang sekolah, lalu wajah Boss-nya yang lebih gelap dari biasanya.
"Kalau benar ada hubungan darah?"
Kevin memasukkan ponsel ke saku. "Maka selama lima tahun ada seseorang yang menyembunyikan kebenaran dariku."
Ia tidak mengatakan apa hukumannya.
Justru itu yang membuat Feng lebih takut.
Di dalam kelas, Darren menatap kertas gambarnya. Tanpa sadar ia menggambar tiga lingkaran kecil berdampingan. Ethan melihatnya, lalu menambahkan satu garis yang menghubungkan ketiganya.
Darren menatap garis itu.
"Apa itu?"
"Rahasia," bisik Ethan.
Tiffany menambahkan hati kecil di atasnya. "Keluarga."
Darren tidak mengatakan apa-apa, tetapi ia tidak menghapus gambar itu.