Judul : Fighter System/I Can Fight Better than You
Author : Miku
****
Budi yang telah lelah dirundung oleh teman-temannya, mulai berani unjuk gigi. Ia menantang preman di sekolahnya untuk bertarung. Semua tertawa saat mendengarnya, tentu saja, mana bisa Budi menang dengan tubuh krempeng seperti itu.
Ding!
[Apa Anda ingin menjadi lebih kuat?]
Sebuah panel transparan tiba-tiba muncul di depan Budi saat dia merasa putus asa. Tulisan dengan font futuristik ini memberikan dua pilihan kepadanya. Ya atau Tidak!
Ya!
Siapa sangka, sejak hari itu kehidupan Budi mulai berubah.
Balas dendam kepada para pembully untuk menaikkan status di sekolah! Memukul dan menendang demi menyelesaikan misi yang ada! Bertambah kuat setiap harinya demi memperoleh kepercayaan!
Persetan dengan Taekwondo, Muaythai, Tinju, atau apalah itu!
Budi bertekad menjadi master pertarungan jalanan yang disegani semua orang!
Fighter System.
Kategori Urban - Tag 3 : Sistem
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 25 : Pertemuan Antar Pemimpin SMA Taran (Part 3)
...*****...
"Oh, jadi ini yang namanya Budi? Keliatan kurus banget, tuh," sindir Theo dengan senyuman seringai yang menyiratkan ejekan menyebalkan. "Aku denger-denger, kamu ngebuat Reza babak belur, ya? Uhh ... rasanya kayak nggak mungkin deh." Ia semakin menyudutkan posisi laki-laki itu, berniat untuk menyulut emosinya.
Enggan terlibat cek-cok lebih lama, Budi pun hanya terdiam. Ia tidak melawan sama sekali, sebab dirinya tau. Mungkin hidupnya akan berakhir jika ia membuka mulut. Bagus dan kawan-kawan juga sepemikiran dengannya.
Alvaro melirik sedikit dari arah belakang. Ia lantas tersenyum miring. "Oi, kita mulai aja rapatnya! Toh, si pelaku sudah datang," ucap berandal itu kemudian.
Abian selaku pemimpin rapat pun mengangguk. "Baiklah, mari kita mulai rapat Pemimpin SMA Taran pagi ini," tutur pria berkacamata tersebut.
Budi mengernyitkan kening. Ia mendengar sepintas sebuah kata ambigu yang disematkan oleh Alvaro. Kata 'pelaku' yang diucapkan oleh orang yang tengah merokok itu sangat mengganggunya. Meski, Alvaro tidak menyebut subjek siapa yang dimaksud, tapi entah kenapa Budi merasa bahwa dialah yang ditunjuk oleh kalimat itu.
"Bud, ayo!" Bagas berbisik di dekat telinga ketuanya.
Lamunan Budi pun membuyar. Ia sadar dan segera merespons. "Ba-Baik." Dia berjalan mendekat ke mereka.
Awalnya suasana sepi nan canggung tercipta di sana. Tidak, sampai Abian membuka pembicaraan ini. "Baiklah, singkat saja. Alasan kita mengadakan pertemuan ini sekali lagi adalah karena permintaan Alvaro. Dia mengatakan bahwa ada sedikit masalah antara SMA Taran Timur dan SMA Taran Barat yang harus diselesaikan secepat mungkin."
"Dipersilakan, Alvaro untuk menjelaskan."
Alvaro membuang puntung rokoknya, hendak angkat bicara. Namun, Theo menyela, "Ck! Padahal yang punya masalah mereka! Kenapa aku juga harus diundang, hah?!"
"Seperti kesepakatan, Theo." Abian menjawab.
Alvaro menyahut, "Tenanglah, Bajing*n. Alasanku memanggil kalian ke sini hanya untuk mengumpulkan saksi."
"Saksi?" Budi bertanya-tanya.
"Jangan. Jangan lagi ...." Namun, di sisi lain, para anggota Geng Tarantim justru gemetar ketakutan.
Budi semakin bingunh saat menatap rekan-rekannya itu.
Apa yang dimaksud dengan saksi?
"Oh, kau ingin mencoba hal itu lagi, hah?" Theo menunjukkan ekspresi mengerikan. "Cih, Dasar Kepar*t!"
Berbanding terbalik, Abian justru menunjukkan ekspresi gelisah. "Apa kau yakin? Jika hal itu terjadi lagi, maka mungkin saja kita semua tidak akan bisa bertemu seperti ini."
"Siapa peduli! Lagi pula, aku sudah memiliki rencana untuk menguasai wilayah Taran sejak dulu. Kalian semua, tunggu saja! Setelah Taran Timur, aku akan menghabisi kalian!"
"Dasar Sialan!" Theo melepaskan tendangan ke arah Alvaro.
Namun, sebelum tendangan itu benar-benar mengenainya, Alvaro berhasil menangkisnga. "Hei, hanya karena begitu saja kau sudah terpancing? Dasar pemarah!"
"Grhhhh!"
Pertikaian besar nyaris terjadi. Abian dengan sekuat tenaga berusaha melerai mereka berdua. Dan, dalam keriuhan yang terjadi, Budi dengan polosnya justru mengangkat tangan. "Permisi, apa yang kalian maksud dengan 'Saksi'?" tanya laki-laki itu.
Alvaro, Abian, dan Theo terhenti seketika. Mereka kompak menatap orang yang melontarkan pertanyaan.
"Ah, itu. Alvaro dari SMA Taran Barat mengajukan penyelesaian masalah dengan cara tawuran." Abian juga menambahkan, "Dengan kata lain, Budi, selaku pemimpin SMA Taran Timur harus menerima tantangannya untuk bertarung bersama demi memperebutkan batas wilayah."
Selepas mendengar pernyataan Abian, Alvaro berjalan mendekati Budi. "Hei, Cecung*k! Ayo kita bertarung sekarang! Yang mati duluan harus menyerahkan wilayahnya. Jadi, ku peringatkan, lebih baik kau tunduk saja kepadaku sekarang dan aku akan membunuhmu cepat, hahaha!"
"Tentukan saja."
"Hah?!"
Budi memicingkan mata kepada Alvaro. "Tentukan kapan dan di mana, kita akan bertarung. Dan saat itu juga, aku akan membunuhmu."
"Sialan, anak ini!" Alvaro meremas rambutnya. "Baiklah."
"Terserah kau mau bertarung kapan dan di mana. Pada saat itu, kita akan bertarung. Bersiaplah!"
"Kalau begitu satu bulan." Budi meminta, "Satu bulan dari sekarang. Aku akan menemuimu."
"Cih!" Meski kesal karena waktu yang ditentukan sangat lama, tapi pada akhirnya Alvaro tak lagi bisa untuk menolak. "Terserah!"
Budi pun sedikit merasa lega. Sebab, dirinya masih memiliki waktu untuk bisa berani berhadapan dengannya.
Namun, apakah hidupnya akan setenang itu? Satu bulan.
Satu bulan, apakah itu cukup untuk membuat Alvaro bertekuk lutut?
~Bersambung~
One-Way
Hanazawa Ryuki, seorang berandal yang kini menjadi murid di salah satu SMA bergengsi demi menepati janjinya di masa lalu. Akan tetapi, satu kejadian membawanya ke kejadian lainnya, perlahan menarik Ryuki ke dalam sisi gelap dimana setiap pilihan tidak memiliki jalan kembali. Ini adalah perjalanan satu arah. Apakah Ryuki dapat menemukan ending yang tepat di ujung jalan satu arah ini?
Semangat Thor....💪💪💪💪💪
Alvaro