Ye Ning, putri sah Menteri Sayap Kiri, hanya ingin membangun kerajaan bisnis, mengumpulkan kekayaan, dan membawa kemakmuran bagi keluarganya. Namun semua menjadi berantakan ketika Tuan Muda Bai datang dan mengacaukan rencananya. Di saat yang sama, Putra Mahkota Li Yan, pria yang dahulu menolak perjodohan dengannya, tiba-tiba berkata bahwa ia akan menceraikan istrinya.
Di antara ambisi, cinta, dan pengkhianatan, Ye Ning harus memilih: tetap menjadi wanita pebisnis yang bebas atau terjerat dalam permainan politik yang mengancam keselamatan keluarganya.
Mampukah Ye Ning melindungi orang-orang yang dicintainya ketika dua pria paling berpengaruh di kekaisaran mulai menginginkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunga_Persik98, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 : Takdir yang tak terhindarkan
Zhilan langsung membawa Ye Ning dan berlari ke sebuah kamar terdekat, disusul oleh ketiga teman sekamarnya. Namun, setelah ia meletakkan Ye Ning di atas kasur, ia berlari keluar.
Sebelum sempat mencapai pintu, Ye Ning memanggilnya. Zhilan terkejut dan menoleh ke arah Ye Ning.
"Hehe. Tidak usah memanggil tabib, aku baik-baik saja."
Melihatnya tersenyum, napas Zhilan kini mulai teratur. Lalu Lu Wan, Ming Zi, dan Qing He menyerbu masuk sambil memanggil-manggil Ye Ning.
Lu Wan yang pertama kali mendekat langsung memegangi tubuh Ye Ning sambil memeriksa dahinya. Untunglah, saat ini Ye Ning tidak apa-apa.
"Kau membuat kami kena serangan jantung!" ucap Ming Zi sambil berkacak pinggang.
Ye Ning menggaruk telinganya dan berkata,
"Maafkan aku. Sebenarnya aku hanya syok karena keberanianku sendiri."
Semua yang mendengarnya menggelengkan kepala. Zhilan bernapas lega, lalu keluar dari ruangan dan kembali ke aula.
Ye Ning meringis dalam hati. Ia sudah berusaha semaksimal mungkin untuk membuatnya ditendang dari lokasi ujian, tetapi malah membuat Kanselir Agung tersenyum.
"Ahh..."
Ye Ning kembali menjatuhkan dirinya ke kasur. Setelah memastikan Ye Ning baik-baik saja, Lu Wan dan Ming Zi kembali untuk melaksanakan ujian. Kini hanya Qing He yang menemani dirinya. Qing He duduk diam dan tidak banyak bicara seperti biasanya.
Ye Ning berpikir jika dia lolos kali ini, maka mereka akan langsung pindah ke Istana Kunning, tempat kediaman Permaisuri berada. Saat masih asyik dengan pikirannya, suara Qing He memecahkan keheningan.
"Apakah kau tidak berniat menjadi Shizi Fei karena Sensor Pengawas itu?"
Ye Ning yang terkejut langsung terduduk. Mukanya memerah dan tergagap ingin menjawab tidak, tetapi tidak bisa. Qing He yang melihatnya hanya menunduk geli dan tersenyum.
"Kupikir kalian memang sangat serasi."
tambah Qing He, membuat wajah Ye Ning semakin memerah.
"Hei, tidak! Aku tidak bersamanya," balas Ye Ning dengan gugup.
Qing He hanya mengangguk, tetapi lebih seperti terpaksa agar Ye Ning tidak malu lagi dan tetap tidak percaya atas ucapannya. Ye Ning mengembungkan pipinya dan kembali merebahkan diri di kasur sambil menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
Qing He malah semakin tertawa keras melihat tingkahnya.
Setelah sekitar satu jam, Ming Zi dan Lu Wan kembali. Mereka menjemput Qing He dan Ye Ning untuk mendengar pengumuman peserta yang lolos pada ujian kali ini.
Ye Ning dan yang lainnya pergi menuju aula dengan perasaan gugup. Semua peserta kini telah bersiap menunggu hasil ujian yang akan dibacakan oleh Kanselir.
"Hari ini kami dibuat takjub oleh para peserta dengan jawaban mereka yang atraktif dan berani."
Kanselir Agung mengatakannya sambil tersenyum, lalu melanjutkan dengan mengumumkan sepuluh nama peserta yang lolos. Nama itu tentu saja termasuk Ye Ning dan empat teman sekamarnya.
"Kami mengucapkan selamat kepada kalian, peserta yang lolos. Dan bagi yang harus pulang hari ini, kalian bukan tidak pantas untuk keluarga kekaisaran, tetapi jalan kalian bukan untuk menjadi Shizi Fei."
Setelah itu, para Dewan Istana meninggalkan ruangan yang didahului oleh Kanselir Agung. Ye Ning mengejarnya dan memanggilnya dari kejauhan. Tanpa ia sadari, Zhilan juga memanggil Kanselir Agung, ayahnya sendiri.
Melihat putranya dan gadis itu mendatangi dirinya, Kanselir hanya mengangkat alis dengan ramah. Ye Ning maju dan langsung bertanya.
"Maafkan saya jika saya lancang, Tuan Kanselir. Tetapi kenapa saya juga lolos?"
"Oh, jadi kamu sengaja beraksi seperti tadi agar tidak lolos?"
Mendengar itu, Ye Ning menunduk malu, dan Zhilan menyelanya dengan memanggil ayahnya sambil protes. Kanselir kini menghadap ke arah Zhilan dan berkata,
"Gadis ini dapat maju ke tahap ini mungkin memang sudah seharusnya. Jika memang dia tidak ditakdirkan untuk menjadi Shizi Fei, maka meskipun dia cakap, dia akan gugur dengan sendirinya."
Lalu Kanselir menoleh ke arah Ye Ning.
"Mulai sekarang kau harus berhati-hati. Kepribadianmu itu menyenangkan untuk orang yang juga cerdas, tetapi tidak untuk orang yang hanya memikirkan dirinya sendiri."
Ye Ning menatapnya bingung, dan Kanselir langsung pergi meninggalkan mereka berdua tanpa mengucapkan apa pun lagi.
Ye Ning hanya menghela napas dan kembali menghampiri teman-temannya. Zhilan ingin memanggilnya, tetapi tidak jadi.
Setelah pengumuman itu, semua peserta kembali ke Istana Harem dan akan berkemas untuk pindah ke kediaman Permaisuri esok hari.
Ye Ning dan yang lainnya kembali ke kamar mereka dan mulai berkemas agar besok tinggal membawa barang yang sudah dibungkus rapi. Ming Zi memulai pembicaraan.
"Eh, apakah kalian merasa bahwa beberapa hari ini tingkah Jiu Lin sangat aneh?"
Lu Wan menoleh, namun tidak mengatakan apa pun. Ye Ning hanya mengendikkan bahu. Lalu Qing He memberi tahu apa yang dilihatnya ketika mereka keluar dari aula.
"Aku tadi tidak sengaja melihat Jiu Lin dijemput oleh seorang pelayan tua, lalu mereka pergi bersama."
Ye Ning berhenti dari kesibukannya ketika mendengar itu, lalu ia duduk di ranjang menatap Qing He dengan mimik serius.
"Qing He, bukankah semua orang di sini bilang kau kenalan Permaisuri?"
"Aku?" Qing He terkejut.
Ming Zi dan Lu Wan mengangguk bersamaan, lalu duduk merapat mendekati Ye Ning. Mereka bertiga melayangkan tatapan curiga kepada Qing He.
Qing He tertawa kecil lalu menjawab, "Oh, kebetulan aku berasal dari kampung halaman yang sama dengan Permaisuri. Jadi bisa dibilang kami saling mengenal, itu saja."
Lu Wan dan Ming Zi mengangguk menanggapinya, lalu kembali meneruskan pekerjaan masing-masing. Hanya Ye Ning yang memikirkan jawaban Qing He itu.
Halaman Putri Mahkota, Istana Timur
Sunling kini duduk di halamannya sambil menyaksikan seorang gadis disiksa dengan kepalanya didorong ke dalam tong air. Gadis itu memohon ampun berkali-kali, namun tetap tidak ada yang menolongnya.
Sunling menyesap tehnya dan berkata, "Aku sudah membantu ayahmu untuk naik jabatan meskipun kemampuannya tidak cukup. Tetapi kau, sebagai putrinya, malah membuatku kesal."
Wang Momo menaikkan wajah gadis itu. Itu Jiu Lin! Ia kini bersikap tidak berdaya, kontras dengan sikapnya saat bersama para peserta di Istana Harem. Ketika Wang Momo melepaskannya, Jiu Lin merangkak mendekati Sunling sambil menangis.
"Yang Mulia, ampuni aku. Aku... aku sudah berusaha, tetapi entah siapa yang melindunginya. Banyak orang yang mengawasinya."
Sunling menunduk menatap Jiu Lin dan menjambak rambutnya ke belakang.
"Aku tidak peduli. Besok di Istana Kunning itu adalah kesempatan terakhirmu. Jika kau gagal, maka keluargamu akan tamat."
Jiu Lin mengangguk cepat dan berjanji akan menuntaskan misinya. Setelah itu Sunling melepaskannya dan menyuruhnya berganti pakaian, lalu kembali ke Istana Harem.
Setelah Jiu Lin pergi, Wang Momo mengantarkan Sunling kembali ke dalam kamar. Ia bertanya bagaimana jika kali ini Jiu Lin juga gagal.
"Maka kita sendiri yang harus turun tangan," ucap Sunling sambil melemparkan sapu tangannya yang basah ke dalam tungku api.