NovelToon NovelToon
Love Me Back

Love Me Back

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:413
Nilai: 5
Nama Author: Aan Iman

Zhao Ryn, gadis manis dua puluh tahun menganggap Sian Lee penerus Lee Group adalah cahaya terang dalam gelapnya hidup.

"Bawa dia pergi!" Perintah dingin seorang Sian berhasil meruntuhkan benteng kokoh Ryn.

"Sian, kumohon tolong aku." Ryn memohon belas kasih Sian agar bisa membantunya namun kembali mendapat penolakan darinya.

"Nona Ryn, mohon kerja samanya." Asisten Jun memberi isyarat agar Ryn bergegas meninggalkan klub nomer satu di kota Jasata.

Bisakah Ryn menemukan kebahagiaan hidupnya? Atau dia benar-benar harus bertahan sendirian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aan Iman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

lmb15

Ryn memilih pergi tanpa pamit pada Sian setelah menyaksikan pria itu mendorong kasar Tami hingga terjatuh. Entah kenapa dia merasa ikut tersakiti mendengar hinaan Sian pada Tami. Kali ini Ryn rendah diri berada di samping Sian. Apalagi statusnya sebagai anak madam yang tak tahu siapa ayah kandungnya.

Di dekat gerbang Ryn berpapasan dengan mobil yang Jun kendarai. Pria berstelan hitam itu segera turun menghampiri Ryn.

"Nona anda mau kemana? Seharusnya kita pergi bersama tuan muda." Jun yakin telah terjadi sesuatu di dalam jika melihat dari ekspresi Ryn.

"Asisten Jun jangan memanggilku nona! Aku sama sepertimu, pekerja tuan muda Lee." Koreksi Ryn membetulkan panggilan Jun untuknya. Wanita muda itu selalu mengingatkan status dirinya sendiri.

"Sebaiknya nona kembali atau tuan muda akan marah." Pinta Jun mengajak Ryn masuk lagi.

"Tidak, biarkan aku pergi sendiri asisten Jun kumohon." Ryn memelas membuat Jun serba salah hingga akhirnya memutuskan mengantar Ryn lebih dulu.

"Naiklah, aku akan mengantarmu." Putus Jun. Urusan Sian bisa diatur, dia malah khawatir Ryn akan berbuat sesuatu diluar dugaan mereka.

"Terima kasih." Ucap Ryn saat keduanya duduk berdampingan di dalam mobil.

Jun langsung menghubungi Sian selagi mengendarai mobil menuju tempat kerja Ryn. Dia mengatakan Ryn buru-buru karena ada tugas mendadak dan meminta Sian menghabiskan sarapan yang ia buat.

"Ada apa?" Jun mencoba mencari tahu apa yang terjadi sehingga Ryn pergi begitu saja bahkan meninggalkan Sian di meja makan.

"Tidak ada, aku hanya terkejut melihat Sian marah." Jawab Ryn jujur. Meski sedikit berbohong karena sebenarnya dia juga bukan seseorang yang patut Sian banggakan. Ucapan Sian untuk Tami seakan tertuju padanya juga.

"Bukan tanpa alasan dia marah. Tami selalu mencoba merayunya dan tuan muda tidak suka itu. Asal nona tahu, meski tuan sering bermain tapi dia tidak pernah benar-benar melakukannya. Hanya sebatas kebutuhan pelepasan." Jun merasa perlu menjelaskan bagaimana kehidupan Sian agar Ryn tidak salah paham padanya.

"Aku tidak mempermasalahkan masa lalu Sian sebelum dia memutuskan bersamaku. Tapi asisten Jun, aku hanya seorang anak madam. Reputasi Sian bisa buruk jika orang-orang tahu hubungan terlarang kami." Ungkap Ryn apa adanya, setidaknya Jun bisa menjadi pendengar yang baik. Mungkin respon Sian akan berbeda saat mendengar ucapan Ryn. Maka dari itu Ryn tidak berani bicara jujur.

"Secara statistik hubungan kalian terbilang sah karena tuan muda belum meresmikan pertunangannya dengan nona Chen. Jangan khawatir, dia pasti akan melindungimu nona Ryn." Jun kemudian membelokkan mobilnya masuk ke Le Star Hotel, Ryn turun setelah mengucapkan terimakasih.

Ke kantor Sian terpaksa menyetir sendiri mengendarai Bentley hitamnya. Tak lupa Sian menikmati sarapan buatan Ryn meski sempat emosi akibat ulah Tami. Setibanya Sian di hotel dia langsung menuju restoran tempat Ryn bekerja tanpa memikirkan banyaknya tugas Sian pagi itu. Dia merasa perlu bertemu Ryn, jelas Ryn mengetahui keributan tadi.

Sian melihat Ryn sedang mengobrol ringan bersama salah satu tamu, usianya tidak lagi muda kira-kira seusia ayah Ryn. Sian emosi saat Ryn di elus kepalanya oleh pria paruh baya itu, dia berjalan cepat menghampiri mereka lalu menarik Ryn ke sisinya.

"Jangan sentuh dia tanpa izinku." Sian memperingati secara tegas dan otomatis menjadi pusat perhatian beberapa tamu lain.

"Tuan, tolong jaga sikap anda. Dia tuan Zhu Ma tamu presidential suite Le Star ." Ryn memperkenalkan Zhu Ma, ternyata selain menginap di hotel dialah orang yang telah membawa Ryn ke rumah sakit ketika dirinya pingsan di jalan.

Namun Ryn belum sempat menjelaskan hal itu pada Sian. Zhu Ma sendiri tampak tenang menghadapi Sian yang terlihat siap meledak.

"Oh, aku lupa kau sedang menyenangkan tamu. Itu memang tugas dan keahlianmu, tidak salah aku menempatkanmu di bagian service." Ucapan Sian akhirnya tanpa sadar keluar begitu saja menjadi sebuah penghinaan untuk Ryn.

Perih, sakit dan kecewa sedang Ryn rasakan pada Sian. Apa yang Ryn bayangkan terjadi juga, Sian memandang rendah dirinya meski dia tahu bagaimana hidup Ryn sebenarnya.

Ryn hanya diam menatap Sian tak percaya. Sementara Sian masih mencoba menahan amarah sebisa mungkin. Dia sadar telah melakukan kesalahan fatal.

Ryn berbalik memandang Zhu Ma kemudian berkata, "Maaf membuat anda tidak nyaman tuan Zhu. Sekali lagi terima kasih sudah membawaku ke rumah sakit. Aku permisi." Ryn berjalan meninggalkan restoran tak perduli akan tugas sialan yang sejujurnya tidak ia sukai namun sangat membutuhkannya.

Bass mencekal lengan Ryn di depan pintu masuk heran melihatnya hendak pergi. "Kau kenapa Ryn?" Tanya Bass khawatir melihat Ryn menangis.

"Aku tidak enak badan kak, maaf aku pulang lebih awal." Ryn kembali melangkah cepat.

"Tuan muda Lee anda sudah sangat salah paham. Aku memperlakukan nona Ryn selayaknya anak perempuanku. Semoga kau bisa mendapat maaf darinya." Zhu Ma menasehati Sian sebelum pergi dari sana.

Sian mengepalkan kedua tangannya erat hingga buku-buku jarinya memucat. Lebih baik dia memenangkan diri atau semua akan berantakan. Sejak kejadian Tami Sian benar-benar tidak bisa mengontrol emosinya yang teredam, padahal setelah mengenal Ryn dia sedikit lebih kalem.

Pekerjaannya menyita waktu sehari penuh sehingga Sian belum sempat mencari kabar Ryn. Beberapa staf juga mau tak mau terkena imbas suasana hati Sian. Mereka di tegur langsung hanya karena hal sepele.

"Sebaiknya anda istirahat, anda melewatkan makan siang tuan." Asisten Jun mengingatkan Sian, pria itu menenggak wiski di penghujung jam kerja demi memenangkan pikiran.

"Dimana dia?" Sian menanyakan keberadaan Ryn, tentu Asisten Jun selalu menempatkan anak buahnya tak jauh dari Ryn meski Sian tidak memerintah langsung.

"Nona masih bersama dokter Lea. Mereka baru saja keluar dari pusat perbelanjaan." Mendengar jawaban Jun membuat Sian bernafas lega. Pilihan Ryn dalam melarikan diri darinya adalah hal yang benar. Ryn pasti membutuhkan seorang teman saat ini.

"Aku akan menjemputnya." Ucap Sian memberitahu agar Jun bersiap-siap.

"Baik tuan. Untuk pencarian ayah nona Ryn, kami menemukan orang terdekat nyonya Yuni. Dia tidak mengetahui identitas lengkapnya sama sekali, namun pernah bertemu dan masih ingat wajahnya. Kabar baiknya pria itu sedang berkunjung ke Jasata." Informasi yang Jun dapat cukup berguna bagi Siam meski mereka harus mengobrak-abrik bandara tentunya.

"Cek setiap kedatangan dari luar negeri ke kota ini. Kita akan memeriksa satu-persatu secara langsung." Perintah Sian, dia harus turun tangan demi mengetahui siapa ayah kandung Ryn sebenarnya.

***

Ryn senang bisa bertemu Lea di dekat halte bus. Mereka memutuskan jalan-jalan di pusat perbelanjaan, makan siang, melakukan perawatan rambut hingga berbelanja pakaian.

"Ryn, kau bisa bercerita apapun padaku. Kau orang istimewa bagi Sian, aku juga menganggap kau teman." Keduanya berjalan menuju parkiran, merasa sudah cukup berkeliling dan Lea berniat mengantar Ryn ke apartemennya.

"Terima kasih dokter Lea, senang sekali bisa mengenalmu. Mungkin suatu saat nanti aku akan membutuhkan pertolonganmu." Ryn bersungguh-sungguh mengatakannya, Lea hanya mampu tersenyum kecut mengingat kelicikan Sian terhadap Ryn. Lea tidak bisa membayangkan reaksi wanita muda di sampingnya jika suatu hari nanti tahu apa yang telah Sian lakukan.

"Apapun yang terjadi, ku harap kau tetap bersama Sian nona kecil..."

"Dokter.... " Ryn berteriak histeris saat Lea mendorongnya demi menghindari motor yang melaju sangat kencang ke arah mereka. Lea yang tubuhnya terserempet seketika terjatuh.

Ryn bereaksi dengan menghampirinya, membantu Lea berdiri. Dokter cantik itu terluka dibagian siku dan lutut akibat mencium aspal.

"Ryn kau tidak apa-apa?" Mengabaikan rasa perih, Lea malah sibuk menelisik keadaan Ryn.

"Dokter kau terluka, kau menyelamatkan aku. Bisakah kau mengkhawatirkan dirimu sendiri?" Ryn memegangi lengan Lea hati-hati, dia bahkan meniup bagian yang lecet.

"Ini luka kecil, tenanglah." Lea berusaha menenangkan Ryn.

Sian dan Jun turun dari mobil melihat kedua wanita beda usia itu tengah berdebat entah karena apa.

"Dokter Lea apa yang terjadi?" Jun khawatir mengetahui Lea mengalami luka.

"Asisten Jun tolong cepat  bawa dia ke rumah sakit. Tadi ada motor yang menyerempet dokter Lea." Mengabaikan kehadiran Sian tanpa sengaja, Ryn menjelaskan kronologi hanya pada Jun. Jelas Sian cukup kesal olehnya.

"Jun, antar Alea ke rumah sakit dan cek CCTV." Asisten Jun mengangguk lalu menuntun Lea menuju mobil milik sang dokter.

"Aku ikut."

"Aku baik-baik saja Ryn. Pulanglah bersama Sian." Lea segera menghentikan Ryn yang ingin menyusul.

"Tapi,,, "

"Menurutlah." Putus Sian datar, dia berjalan ke arah mobilnya.

Dia berbalik ketika menyadari Ryn tidak mengikutinya. Ryn malah memilih arah berlawanan. Karena kesal Sian bergegas membopong Ryn layaknya karung beras bahkan memukul pinggulnya.

"Sian!" Teriak Ryn tak terima.

"Diam atau aku akan menghukummu." Sian membuka pintu mobil, mendudukkan Ryn hingga memasangkan sabuk pengaman.

Cup..

"Maafkan aku." Sian meminta maaf usai mengecup singkat bibir Ryn, mencari-cari kesempatan.

"Masih marah? Baik, kita lanjutkan di ranjang saja." Sian memberi ancaman sebelum mengitari mobil.

Selama perjalanan menuju rumah keduanya saling diam enggan membuka percakapan. Sian membiarkan Ryn mengekspresikan perasaannya, dia tidak ingin menuntut karena dirinya memang salah.

"Sian, kita sudahi semua ini." Ucapan Ryn bukan hal yang ingin pria matang itu dengar.

Sian mencengkram erat kemudi, berusaha untuk tidak lagi menurunkan Ryn di tengah jalan.

"Jangan menguji kesabaranku Zhao Ryn!" Geram Sian menatap lurus ke depan.

"Kau akan selalu mengingat bahwa aku pernah menjadi wanita penghibur Sian. Dan masa lalu tidak pernah bisa dihapus." Ryn menghela nafas disela mencari kata yang tepat untuk disampaikan.

"Aku menyukai dapur tapi kau kembali menjadikan aku pelayan. Sian aku ingin berhenti bekerja." Tutur Ryn.

Di sisa perjalanan mereka benar-benar memilih diam. Ryn maupun Sian tidak mampu berkata apa-apa lagi. Sibuk menyelami perasaan masing-masing.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!