Bianca Sabian adalah seorang siswi yang sering bermasalah di sekolahnya. Banyak kenakalan yang sudah ia lakukan. Mulai dari bolos sekolah, mengecat rambut, hingga membuat rusuh satu kelas saat guru mengajar.
Tapi hidupnya berubah saat ia harus menerima nasib dipaksa menikah dengan gurunya sendiri. Yang lebih menyebalkannya lagi ternyata sang guru adalah seorang duda beranak satu.
Bagaimanakah kelanjutan hidup Bianca setelah terpaksa menikah dengan gurunya sendiri??? Apakah sang guru mampu menerima Bianca sebagai istrinya???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ian_Zimanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode dua puluh empat
Begitu sampai di kamar hotel, Bianca langsung merebahkan tubuhnya di ranjang. Sedangkan Rava memilih untuk ke kamar mandi.
Bianca menghela napas, mata beningnya menatap pintu kamar mandi yang tertutup dengan pandangan kecewa.
Ya, Bianca kecewa.
Dia kecewa karena Rava yang menghentikan sentuhannya tadi. Jangan berpikir yang aneh-aneh tentang Bianca, bukankah dia adalah 'istri' sah Rava? Dan bukankah hal yang wajar jika dia mendapat sentuhan seperti tadi dari Rava yang notabene adalah suaminya?
Bianca menggulung tubuhnya dengan selimut. Kenapa Rava tidak pernah menyentuhnya hingga tuntas? Selalu saja berhenti ditengah-tengah. Apa Rava tidak menyukai tubuhnya? Apa Rava tidak menyukainya? Ataukah…
Karena Rava masih mencintai Mirai?
Bianca menggigit bibir bawahnya. Rasa perih itu datang lagi menghantam dadanya. Apa karena Rava begitu mencintai Mirai hingga Rava tidak mau menyentuh orang lain?
Gadis cantik itu memejamkan matanya erat. Ternyata cemburu itu menyakitkan ya? Kini Bianca yakin pada perasaannya. Dia mulai mencintai suaminya itu.
Dia mencintai Rava Pratama. Guru sekaligus suaminya. Orang yang sebelumnya sangat dibenci olehnya namun kini ia justru jatuh cinta pada orang itu.
Bianca membuka matanya perlahan dan sekejap saja titik-titik bening berjatuhan dari matanya. Pemandangan langit luas nan cerah yang terbentang di luar jendela kamar mereka, ternyata tidak mampu untuk menghilangkan kesedihannya.
Ia ingin memiliki Rava seutuhnya. Baik hati maupun tubuhnya. Egois memang, tapi bukankah ia adalah istri sah Rava sekarang. Wajar 'kan kalau dia ingin memiliki suaminya seutuhnya?
***
Rava menundukkan dirinya di lantai kamar mandi yang kering sambil menyenderkan tubuhnya. Tangannya meremas rambut hitamnya frustasi. Tadi itu hampir saja ia kehilangan kendali atas dirinya dan menyentuh Bianca lebih jauh.
Rava tahu kalau kini dirinya adalah suami yang sah dari Bianca. Dan jika dia menyentuh Bianca maka tidak akan ada seorang pun yang bisa menyalahkannya. Tapi tetap saja Rava belum sanggup melakukan 'itu' pada Bianca.
Bianca memang menikmati setiap ciuman dan sentuhan lembut yang Rava berikan padanya. Namun Rava ingat betul bagaimana reaksi Bianca ketika ia menyentuh tubuh bagian atasnya. Tubuh gadis cantik itu menegang dan agak gemetar. Bagaimana kalau yang diinginkan Bianca hanya sentuhan ringan? Bukannya sentuhan yang lebih jauh seperti itu.
Rava tidak mengerti kenapa dirinya selalu nyaris hilang kendali jika sudah berhadapan dengan Bianca. Dalam lubuk hatinya yang paling dasar tersimpan hasrat untuk memiliki Bianca seutuhnya.
Apa Rava mulai mencintai Bianca?
Rava menggelengkan kepalanya. Dia tidak tahu apakah dia mencintai gadis cantik itu. Satu hal yang diketahuinya adalah, bahwa ia tidak suka siapapun mendekati ataupun menyentuh Bianca.
Posesif.
Yah, Rava akui kalau kini dirinya posesif akan gadis cantik itu. Tepatnya sejak kemunculan pria bernama Alex. Namun apakah Rava benar-benar mulai mencintai Bianca? Jawabannya tetap tidak berubah. Dia tidak tahu.
***
Rava membuka pintu kamar mandi. Tubuhnya merasa lebih segar setelah mandi. Rava menyapukan pandangannya ke penjuru ruangan dan mendapati Bianca yang bergelung di kasur dengan posisi membelakanginya.
"Bi…" panggilnya.
Hening tidak ada jawaban. Sepertinya Bianca sudah tidur. Perlahan Rava lalu beranjak mendekati Bianca. Pria itu agak terkejut ketika mendapati Bianca tertidur dengan mata sembab.
"Bi, kenapa kamu nangis…?" bisik Rava lirih.
Rava lalu mengulurkan tangannya. Menyentuh poni Bianca dan menyibakkannya agar ia lebih leluasa menatap wajah cantik istrinya.
Pria berambut hitam itu menguap pelan. Ia lalu merebahkan tubuhnya disamping tubuh Bianca. Iseng, Rava membalikkan tubuh Bianca pelan agar berhadapan dengannya. Beruntung Bianca tidak terbangun dengan tindakannya itu. Begitu tubuhnya berhadapan dengan Bianca, Rava lalu menggeser badannya hingga kini ia berada di jarak yang terdekat dengan Bianca.
Rava tersenyum tipis. Wajah Bianca yang tertidur begini adalah hal terindah yang kedua yang pernah dilihatnya.
Yap, yang kedua.
Yang pertama adalah raut wajah Bianca ketika gadis cantik itu tersenyum atau tertawa.
Rava lalu memajukan wajahnya dan mencium bibir Bianca sekilas.
"Selamat tidur, istriku" bisiknya lalu memejamkan matanya.
***
"Uhhng~"
Rava menggerakkan kepalanya ketika merasakan seseorang yang berada dalam pelukannya menggeliat pelan.
Jangan kira Rava tidur, pria itu sama sekali tidak bisa tidur, tidak dengan Bianca yang berada dalam pelukannya dan balas merangkulnya seperti ini. Meski tadi sempat ingin tidur.
"Emm… Mas, jam berapa sekarang?" Bianca membuka matanya dan menggosoknya pelan. Bibirnya bergerak-gerak lucu.
"Jam tujuh malam, kita makan malam sekarang?"
"Umm~" Bianca bergumam pelan. Gadis cantik itu lalu menguap pelan dan kembali membenamkan wajahnya di ceruk leher Rava. Tangannya juga melingkar nyaman di pinggang suaminya itu.
"Jangan tidur lagi" ujar Rava sambil membangkitkan tubuhnya ke posisi duduk. Bianca tidak menjawab, hanya menatap Rava dengan tatapan kesal lalu membalikkan tubuhnya dan memeluk guling.
"Aish, aku mau mandi dulu. Nanti begitu aku selesai mandi kamu langsung mandi, ya?"
"Umm, umm"
Rava mengusap rambut Bianca sekilas lalu beranjak menuju kamar mandi. Tidak sampai lima belas menit Rava sudah keluar dari kamar mandi.
Hari ini Rava mengenakan kaus lengan panjang berwarna putih dan bawahan berupa celana selutut berwarna abu-abu tua. Pria tampan itu menghela napas ketika dilihatnya Bianca masih tidur.
"Bi, Bian…" gumam Rava sambil menggoyangkan bahu Bianca, "Sana mandi. Atau…" senyum jahil bermain di wajah tampan itu, "Aku yang mandikan, hm?"
Bianca membalikkan badannya menatap Rava dengan tatapan setengah mengantuk, "Huh, coba aja kalau bisa"
Rava tertegun mendengar Bianca yang seolah menantangnya. Pria itu kemudian menelantangkan tubuh Bianca dan duduk di atas paha Bianca. Tidak duduk sepenuhnya, tetapi menggunakan kedua lututnya untuk menyangga tubuhnya.
Bianca memandang Rava dengan tatapan menantang. Dia penasaran akan sejauh mana Rava berani menyentuhnya. Apakah akan berhenti di tengah-tengah seperti sebelumnya atau dilanjutkan.
"Kamu yakin, hm?" tanya Rava sambil merendahkan tubuhnya hingga hidungnya bersentuhan dengan hidung Bianca. Sebuah seringaian terpasang di wajah tampan itu.
Bianca balas menyeringai, "Emangnya kamu bisa, Pak~Gu~Ru~?"
Rava tersenyum tipis. Dia suka tantangan.
kalau kau Terima berarti novel tidak masalah
tapi kalau kau tidak Terima berarti pemikitan mu ada masalah saat kau tidak suka suamimu baik, sok manis, dan perhatian pada pria lai tapi novel malah Bianca seorang istri sok manis, dan sok perhatian pada pria lain dan kau benarkan kelakuan Bianca ini
renungkan lah, pakai otak untuk berfikir mana salah mana benar, salah ya salah benar ya benar
jangan jadi wanita egois kalau suami yang lakukan selalu salah tapi kalau istri (kalian) yang lakukan kalian benarkan
sadarlah